<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627</id><updated>2011-11-27T16:48:16.974-08:00</updated><category term='Pemilu'/><category term='mie ayam'/><category term='Tragedi'/><category term='liburan'/><category term='Pilpres'/><category term='Gaya hidup'/><title type='text'>Situsindi</title><subtitle type='html'>This blog contains my thoughts about everything. I like absorbing events, problems, situations and share them to everyone.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>82</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5152103080344643080</id><published>2010-10-16T04:30:00.000-07:00</published><updated>2010-10-19T04:43:15.994-07:00</updated><title type='text'>Eksotisme Tana Toraja (3) Kepercayaan</title><content type='html'>Walau hanya dua hari tinggal di sebuah keluarga besar di Tana Toraja, saya mendapat begitu banyak informasi yang begitu banyak. Saya memerlukan waktu cukup banyak untuk memilah apa yang ingin saya bagikan kepada Anda dari informasi dan pengalaman itu.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya batasi tulisan ini pada hal-hal yang dipercayai keluarga yang saya tinggali. Tampaknya keluarga ini memiliki sejarah panjang di Tana Toraja. Salah satunya tercatat lewat usia salah satu dari selusin lumbung yang ada, yang diklaim dibangun pada abad 18. Kayunya kasar, keras, tapi tampak sudah termakan cuaca, sehingga warna aslinya memudar. Demikian juga atapnya yang terbuat dari susunan bambu dan bukan rumbia atau sirap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Keluarga besar ini memang sudah menganut agama Kristen, tetapi masih ada warna adat dan sisa kepercayaan lama dalam aktifitas kesehariannya. Sekali lagi tulisan ini tidak menilai benar salah sebuah aktifitas, tetapi hanya mencatat fakta yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kawasan tempat saya menginap bernama Batu Kianak, 10 km dari Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara dengan perjalanan mendaki. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nama tempat ini memiliki sejarah yang berbau kepercayaan tertentu. Saya diperlihatkan sepetak tanah berpagar besi berukuran 3x3 m. Di dalam pagar terdapat sesemakan dan sebatang pohon beringin berukuran sedang. Namun bukan benda itu yang menjadi pusat perhatian. Berjajar di bawah beringin itu ada beberapa baru seperti tonggak atau sisa batang cor untuk pondasi bangunan. Warnanya memperlihatkan kalau batu-batu itu berusia tua. Ada bekas lumut dan jamur serta aus oleh cuaca.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang jelas terlihat ada lima tunggul batu yang berukuran berbeda-beda. Batu tertinggi sekitar setengah meter, Tertinggi kedua beberapa centimeter lebih rendah dan tiga lainnya hanya belasan centimeter. Karena ukuran inilah disebutkan batu ini merupakan keluarga. Yang tinggi adalah pasangan ayah ibu dan tiga anak-anaknya. Disebutkan pada hari-hari tertentu, terutama pada bulan purnama, batu baru akan muncul berukuran kecil, yang disebut sebagai anak baru. Oleh sebab itu namanya adalah batu kianak atau batu beranak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak hanya itu, pada hari-hari tertentu pula, terutama menjelang adanya upacara entah kelahiran atau kematian, akan muncul ular-ular berukuran besar di sekitar batu dan pohon beringin itu. Masyarakat di sekitar itu masih memercayai kehadiran ular dan batu-batu tersebut memiliki arti penting untuk keselamatan mereka. Sehingga mereka tidak berani mengganggu ular atau merusak situs tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kepercayaan masyarakat setempat terhadap hal-hal magis juga tercermin pada rumah adat atau tongkonan dan lumbung mereka. Salah satunya adalah pembangunan lumbung yang harus menghadap ke Selatan dan adanya ukiran-ukiran tertentu yang boleh dan tidak boleh ada di dinding bangunan. Sayang sekali saya tidak berkesempatan menggali lebih dalam tentang makna arah dan ukir2an itu, karena narasumber saya yang juga tidak memiliki informasi cukup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua hari benar-benar tidak cukup untuk menggali keeksotisan Tana Toraja. Padahal saya juga ingin berbagi informasi tentang hal-hal itu. Sebutkan saja kubur dari batu serta sistem sosial di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semoga suatu hari saya berkesempatan kembali ke tanah yang penuh keindahan dan misteri itu.   &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5152103080344643080?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5152103080344643080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5152103080344643080&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5152103080344643080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5152103080344643080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/10/eksotisme-tana-toraja-3-kepercayaan.html' title='Eksotisme Tana Toraja (3) Kepercayaan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6205164786846815066</id><published>2010-10-12T23:46:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T04:40:20.874-07:00</updated><title type='text'>Eksotisme Tana Toraja (2) Nilai Kerbau</title><content type='html'>Tubuh itu besar. Berkilat. Kuat. Sorot matanya tajam. Seolah tidak percaya akan maksud siapapun yang mendekat. Namun ia tidak mampu bergerak. Tak berdaya. Hidungnya terikat oleh seutas tambang yang tertambat di sebuah pohon.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hewan itu adalah seekor kerbau dengan berat sedikitnya 150 kg. Ia dipersiapkan untuk upacara adat di Tana Toraja. Dikorbankan entah untuk upacara pernikahan, pindah rumah atau kematian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bagi masyarakat Tana Toraja, ini yang saya tangkap, kerbau memiliki tempat tertentu jika tidak dapat dibilang istimewa. Upacara adat seakan tidak lengkap tanpa korban kerbau. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun kerbau untuk korban berbeda dengan kerbau biasa.   Tidak semua kerbau dapat dijadikan korban. Pertama-tama ia harus berkelamin jantan. Tanpa cacat. ukuran ekornya lebih panjang dari lutut belakang. Itu kriteria umum. Ada yang lebih berharga dari sekedar kerbau seperti itu. Kira-kira demikian; kerbau berciri di atas harganya beberapa puluh juta rupiah. Nah yang kelas istimewa bisa mencapai ratusan juta rupiah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nah ini ciri yang mahal. Kerbau belang, yaitu berwarna kulit hitam dan putih kemerahan, dan kerbau yang dikebiri (ini berarti sang kerbau tidak mampu membuahi kerbau betina). Kerbau kebiri memiliki ciri bertanduk besar dan melengkung indah). Kerbau jenis ini sekali lagi bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bayangkan harga sebuah mobil niaga kelas menengah di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perhatian saya tertuju pada seorang penggembala kerbau belang yang kami temui di sebuah sungai di belakang tempat tinggal kami di Tana Toraja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pria itu berusia 40an. Bertubuh sedang cenderung kurus. Ia menuntun seekor kerbau belang yang beratnya kira-kira 3 kali tubuhnya, ke air yang mengalir dengan batu-batuan di dasarnya. Setelah melepas sang kerbau berendam, ia melepaskan seluruh pakaiannya. Ya, ia telanjang bulat. Perlahan ia mendekati sang hewan dan mandi bersama!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Air itu tidak keruh, tetapi tidak juga jernih. Sisa-sisa hujan semalam membawa lumpur dan tumbuhan atau sampah menuju hilir. Namun hal itu tidak merisaukan sang pria. Diambilnya sikat yang telah dipersiapkan dan dengan teliti ia menyikat tubuh gembalaannya. Setiap centimeter hewan besar itu ia bersihkan, seolah membersihkan benda antik yang tidak boleh ternoda sebutir kotoran pun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penghormatan masyarakat Tana Toraja kepada leluhur dan kedisiplinan mereka pada adat membuat saya tertunduk takzim. Saya tidak menggugat besarnya biaya yang harus ditanggung oleh mereka yang hidup saat upacara kematian digelar dan belasan atau puluhan ekor kerbau dikorbankan untuk mengantar orang yang meninggal, tetapi saya kagum oleh ketaatan itu sendiri turun temurun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sampai saat ini, beberapa minggu pascakunjungan ke Tana Toraja itu, saya masih tak dapat berhenti mengagumi cara hidup tersebut. Wow, luar biasa keberagaman adat di negeri saya tercinta ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6205164786846815066?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6205164786846815066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6205164786846815066&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6205164786846815066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6205164786846815066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/10/eksotisme-tana-toraja-2.html' title='Eksotisme Tana Toraja (2) Nilai Kerbau'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2131005710773527407</id><published>2010-10-04T02:27:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T04:40:59.604-07:00</updated><title type='text'>Eksotisme Tana Toraja (1) Sabung Ayam</title><content type='html'>Beke...beke...songkok...songkok...&lt;div&gt;Itulah seruan yang terdengar mendengung di arena sabung ayam di sebuah kecamatan di Kab. Toraja Utara. Mereka menawarkan taruhan bagi para penggemar adu ayam yang segera berlaga.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beke (saya tidak tahu tulisan sebenarnya) adalah sebutan untuk pemegang ayam yang menggunakan ikat kepala dari kayu. Sedangkan songkok untuk lawannya yang menggunakan topi caping petani.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para petaruh itu menawarkan uang untuk menjagokan ayam yang dianggap kuat. Tidak ada uang kecil di sana. Minimal Rp. 50.000 hingga entah berapa. Ketika pertarungan dimulai, kesenyapan datang di arena. Sesekali seruan kagum terdengar: aaahhhh, saat tendangan telak seekor ayam mengenai lawannya. Kurang dari satu menit, pertarungan selesai. Taji logam yang terpasang di kaki masing-masing ayam, salah satunya melesak ke dada lawannya. Uang taruhan berpindah tangan.  Ayam yang kalah dibawa ke pejagalan. Ya pejagalan, karena ayam yang belum tentu mati itu dipotong kakinya (yang bertaji) dan diserahkan kepada pemenang. Catat: si ayam itu masih hidup saat kakinya dipotong. Baru kemudian lehernya disembelih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak ada kata kesempatan kedua kepada ayam yang kalah. Bahkan bila ia hanya melarikan diri tanpa luka, dan tidak mau melakukan pertarungan lagi, tetap kakinya akan dipotong baru lehernya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menonton adu ayam di Tana Toraja (foto-foto dapat dilihat di FB saya) membuat bulu kuduk ini merinding. Betapa tidak, saya rasa kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan ikutan yang dianggap penting dari sekian banyak upacara di Tana Toraja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Walaupun banyak orang menuding sabung ayam ini sebagai judi dan pasti ilegal, tidak menyurutkan minat penggemarnya. Biasanya adu ayam ini mengikuti upacara kematian salah seorang warga setempat. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menempati sebuah tanah lapang, adu ayam ini bisa digelar sejak pagi hingga malam selama 7 hari sampai sebulan. Ratusan orang duduk di bawah pondok2 darurat yang dibangun sekeliling arena sabung. Semua (kecuali turis, anak-anak dan ibu-ibu) memegang uang taruhan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berbeda dari judi yang umum ditemui, taruhan pada sabung ayam di Toraja ini (saya tidak tahu tempat lain) hanya melibatkan dua orang; pemegang beke atau songkok). Mereka saling memercayai untuk transaksi itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menurut perhitungan kasar, dalam sehari perhelatan adu ayam, sedikitnya Rp. 30 juta beredar di sana. Asumsinya: ada 300 pengunjung yang masing-masing memegang uang Rp. 100.000.  Sensasional kan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2131005710773527407?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2131005710773527407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2131005710773527407&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2131005710773527407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2131005710773527407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/10/eksotisme-tana-toraja-1.html' title='Eksotisme Tana Toraja (1) Sabung Ayam'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1618617250200069306</id><published>2010-09-22T19:27:00.000-07:00</published><updated>2010-09-22T19:29:14.506-07:00</updated><title type='text'>pagi di mall</title><content type='html'>My thought&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1618617250200069306?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1618617250200069306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1618617250200069306&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1618617250200069306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1618617250200069306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/09/pagi-di-mall.html' title='pagi di mall'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-9099572598036102563</id><published>2010-09-17T07:50:00.000-07:00</published><updated>2010-09-17T08:36:09.830-07:00</updated><title type='text'>Mada, Gadis Kecil di Ambon</title><content type='html'>Wajah itu enak dilihat. Matanya penuh semangat. Senyumnya selalu mengembang, walau tak ada pembeli kue yang ia tawarkan. Itulah perhatian saya terhadap Mada. Ya, itulah namanya setelah kami berkenalan beberapa saat di sebuah restoran cepat saji di kota Ambon petang ini. &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perkenalan kami penuh warna. Saat itu hari sudah gelap. Tak ada sisa sinar mentari, walau jam tangan saya baru pukul 6 Waktu Indonesia Timur. Awan menggayut sejak pagi di langit kota. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perut yang baru terisi kerapu bakar masih belum terpuaskan. Sehingga bersama empat kawan sekerja yang habis membuat program Suara Keadilan, saya ajak mereka makan es krim di sebuah restoran cepat saji di sebelah hotel tempat kami menginap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sambil bersendagurau menikmati perbincangan ngalor ngidul itu, saya melihat ke tangga masuk restoran. Di sana ada seorang gadis kecil berjualan roti goreng di dalam sebuah toples besar. Bajunya lusuh. Rambut diikat seperti ekor kuda hanya dengan karet gelang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia tidak menjajakan dagangannya secara agresif, laiknya seorang pedagang. Tetapi tatapan dan senyumannya mengiringi setiap pengunjung restoranyang keluar atau masuk, seolah  berkata belilah kue ini, atau saya akan mati kelaparan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejurus saya perhatikan tak ada orang yang tertarik untuk menghampiri dan membeli kuenya. Tetapi rasanya senyum itu tak lepas dari wajahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mungkin ia sadar atas perhatian saya, karena tatapan kami beberapa kali bertemu dan ia pun tersenyum. Sampai satu saat, ia mendatangi meja kami.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Om, mau beli roti? Tawarannya membuat kami menggeleng, karena toh kami baru makan ikan bakar dan sedang menikmati kudapan restoran cepat saji itu. Tapi sekali lagi, yang membuat saya lebih tertarik adalah senyuman manisnya yang tidak hilang atas penolakan kami.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah atas dorongan apa, saya bertanya: kamu sudah makan? Ia hanya menggeleng perlahan. Kamu mau saya belikan makanan? Tawaran saya berlanjut. Ia mengangguk juga dengan perlahan, plus senyum manisnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah mengangsurkan uang agar ia bisa memilih sendiri makanan yang dikehendaki, ia tinggalkan kami ke pemesanan. Sepeninggalnya, sempat terpikir bahwa ia akan berlalu dan tak kembali. Saya sudah siap dengan kemungkinan itu, walau pasti akan membuat kecewa. Obrolan pun kami teruskan dan tak memedulikannya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun hampir 10 menit kemudian, ia kembali dengan nampan makanannya, dan mengembalikan sisa uang kembalian. Wow, saya kagum dan tersenyum menyambutnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sambil menikmati setiap suapan ayam gorengnya, ia tak henti2nya berterima kasih. Dalam perbincangan itu, saya kian mengaguminya. Mada, demikian panggilannya. Walaupun ia mengatakan marganya, saya memilih untuk merahasiakannya dari Anda. Ia berjualan roti goreng buatan ibunya, selepas bersekolah sore hari di kelas 5 sebuah SD negeri di Ambon.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu untuk apa uangnya, tanya saya penuh rasa ingin tahu. Membeli buku, jawabnya sambil mengunyah nasi pulen yang mungkin jarang ia temui. Bagaimana dengan pekerjaan ayahmu, tanya salah seorang teman.  Ia bekerja di sebuah restoran tidak jauh dari tempat kami makan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari perbincangan itu mengalirlah sebuah kisah yang menggugah hati. Seharusnya kisah itu sedih tentang perjuangan anak kecil membantu perekonomian keluarga. Sebuah pengingkaran atas hak anak-anak, yaitu belajar dan bermain. Namun dari mulut Mada, kisah itu begitu ringan dan indah; seperti sebuah kisah perjuangan seorang pahlawan dalam mengatasi masalah remeh temeh. Tak ada kesedihan atau penyesalan, hanya semangat dan kegembiraan. Padahal ia harus berjualan hingga tengah malam, sebelum dijemput pulang salah seorang kakaknya, yang juga seorang pekerja di sebuah restoran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perbincangan setengah serius itu diselingi keberanian Mada menebak daerah asal kami. Ada yang asal Manado, Cina dan Jawa sebutnya sambil menunjuk kami satu persatu. Ia bahkan menyebut saya parlente (ya ia menyebut saya parlente bukan perlente) dan orang kaya karena melihat foto istri dan anak-anak saya di ponsel. Dengan berani ia menyebut pernah melihat saya sebelumnya (ini membuat heran, apakah ia juga menonton berita). Ketika saya tanya di mana ia melihat saya, jawabannya mengejutkan sekaligus menggelikan: sopir oto (baca: angkot). Meledaklah tertawa kami, hingga membuat seisi restoran itu melihat ke meja kami. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kami pun berpisah, karena tubuh telah lelah untuk melanjutkan perbincangan. Mada kami tinggalkan dengan ayam gorengnya yang belum juga habis dan setoples besar roti goreng di bawah kakinya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pertemuan dengan Mada di sebuah petang di kota Ambon mengajarkan sesuatu, minimal untuk saya, yaitu berkekurangan tidak harus ditanggapi dengan berat hati. Walaupun Mada masih berusia sekitar 10 atau 11 tahun, yang berarti belum banyak mengalami kepahitan hidup, setidaknya ia menunjukkan semangat dalam menjalankan hari-harinya walau tanpa fasilitas dan keistimewaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tuhan berilah Mada kesempatan untuk menggapai mimpinya suatu saat.   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-9099572598036102563?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/9099572598036102563/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=9099572598036102563&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9099572598036102563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9099572598036102563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/09/gadis-kecil.html' title='Mada, Gadis Kecil di Ambon'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-9107127620838451005</id><published>2010-08-26T02:23:00.000-07:00</published><updated>2010-08-26T03:30:04.852-07:00</updated><title type='text'>Pengalaman Suara Keadilan</title><content type='html'>Ada beberapa keuntungan besar setelah saya pegang program Suara Keadilan, yang tayang setiap Selasa pk 19.30-20.30 WIB (jangan lupa tvOne ya).&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pertama: Saya berhadapan dan berbincang dengan orang-orang yang tersisih. Merasakan kesulitan dan beban mereka, saya  diingatkan untuk dapat berbuat lebih pada sekeliling. Terutama yang berkekurangan dan tidak beruntung. lebih dari itu, saya terpanggil untuk membantu melalui profesi ini. Sebut saja ibu Lely, yang 12 tahun tak berhasil mengurus pensiun suaminya sejak ia wafat tahun 1998. Perempuan sepuh itu harus menghidupi tiga putranya seorang diri, tanpa pemasukan lain. Usahanya mengurus pensiun itu selalu gagal dengan berbagai alasan. Surat yang dikirimkan ke atasan suaminya, menteri di departemennya, bahkan presiden tak berjawab. Untunglah setelah tayangan tersebut, sebuah jawaban dari PT Taspen datang. Semoga pekerjaan Suara Keadilan bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kedua: Banyak kasus terjadi di luar Jakarta. Akibatnya saya berkeliling terus. Setidaknya seminggu 2 atau 3 hari keluar kota. Perjalanan itu membawa pengalaman luar biasa. Salah satunya adalah mengetahui betapa luasnya, beragamnya dan jauhnya perbedaan kota yang saya kunjungi dengan Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengalaman menarik pertama di kota Sukabumi. Kota yang hanya berjarak sekitar 100 kilo meter dari Jakarta itu menunjukkan betapa tidak meratanya pembangunan di Indonesia. Jalanan sempit, macet, berlubang. Apalagi yang menuju tempat liputan. Hanya bertatahkan batu2an besar, berlumpur, minim penerangan, menanjak  dan berliku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengalaman menarik kedua adalah kota Purwokerto. Saya menemukan kedamaian di kota ini. Walaupun perjalanan ke kota itu melalui jalur selatan melelahkan dan menjemukan, praktis semua itu hilang saat merasakan hawa sejuk dan ketenangan kota. Ramai tapi tidak terlalu macet, dan banyak makanan yang enak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kota ketiga adalah Kendari, ibu kota  Sulawesi Tenggara. Saya membayangkan yang namanya ibu kota provinsi pasti tumbuh besar penuh fasilitas dan keramaian, karena tingkat perekonomian baik. Tapi saya lupa. Ini bukan di Jawa. Kendari sudah lebih jauh dari Jakarta. Akibatnya akses menuju kemodernan kian sulit. Kota ini indah. Di kota tua ada sebuah dataran tinggi yang langsung berhadapan dengan pelabuhan. Tapi ada daya, keindahan itu tak tersingkap sepenuhnya. Bahkan ada permukiman di tengah kota, yang aksesnya harus melalui jalan setapak, licin, dan mendaki. Sulit ditempuh. Motor pun tidak mudah memasukinya. Padahal di tempat itu sedikitnya ada beberapa belas rumah. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekali lagi, saya pikir inilah sebuah bentuk ketidakadilan.  Saya yang tinggal di ibu kota negara dengan mudah melakukan banyak hal. Begitu mudah pergi ke banyak tempat. Namun kemudahan itu tak didapat saudara-saudara saya di luar Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Salam keadilan  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-9107127620838451005?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/9107127620838451005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=9107127620838451005&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9107127620838451005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9107127620838451005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/08/pengalaman-suara-keadilan.html' title='Pengalaman Suara Keadilan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4256829971405170162</id><published>2010-08-04T04:48:00.001-07:00</published><updated>2010-08-04T04:52:25.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mie ayam'/><title type='text'>Tempat Berkesan</title><content type='html'>Dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, ada dua lokasi yang paling saya ingat. Memori saya terisi penuh dengan hal-hal khas dari kedua tempat itu. Yang pertama adalah Seattle, AS dan kedua Sindangraja di Sukabumi, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena di luar negeri atau di Amerika, kota Seattle menjadi pilihan pertama tempat favorit saya. Rasanya ada banyak alasan yang bisa saya kemukakan untuk mendukung pilihan itu. Setiap mengunjungi sebuah daerah asing, terutama untuk jangka panjang, saya menyempatkan diri berkeliling, baik dengan kendaraan umum atau berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun hampir 4 tahun lalu, rasanya seperti baru kemarin saya mengunjungi kota Seattle. Setiap sudut kota mudah terbayang di benak. Cuacanya yang sejuk (walaupun masuk musim gugur yang biasanya dapat menggigilkan saya jika di negara empat musim lainnya) memudahkan saya berjalan di waktu malam atau dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya senang menelusuri jalan-jalannya yang berbukit. Kota itu tidak besar (dibanding Surabaya bahkan), sehingga dengan berjalan kaki pun dengan mudah sudut-sudut kota terjangkau. Dalam satu pandangan, kita bisa melihat pegunungan, laut (tepatnya teluk) dan dataran. Three in one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu tujuan favorit saya adalah pasar ikan. Hoho, jangan pikir ini seperti pasar ikan atau tempat pelelangan ikan di Indonesia. Jauh! Bersih lorong-lorongnya, tanpa bau amis pula. Bahkan yang paling seru, beberapa pedagang menawarkan dagangan berupa ikan segar atau hewan laut lainnya dengan gaya yang atraktif. Baik dengan gerak tubuh ataupun dengan teriakan-teriakan yang mengundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi ada obyek wisata yang mengingatkan saya pada film romantik Sleepless in Seattle yang dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan; namanya The Needle. Bentuknya seperti menara TVRI di Senayan, tetapi lebih tinggi dan cara melihatnya adalah dari perbukitan. Indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga tak terlupakan adalah desa Indian bernama Tilicum Village. Tempat ini dicapai dengan menggunakan ferry penyeberangan selama sekitar 30 menit. Sebetulnya yang tersisa hanyalah karya masa lalu berupa barang-barang lawas dan diorama, tetapi pengunjung dapat membayangkan kejadian masa lalu itu melalui sebuah sandiwara di panggung dengan tata cahaya dan suara yang lumayan untuk kelas pertunjukan biasa. Hebatnya turis menikmati itu sambil makan-makanan khas Indian dan salmon panggang yang nikmat dan all you can eat. Saya sampai tambah dua kali makan salmon itu, karena endang bambang (enak banget).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan tempat di Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tempat bagus di tanah air beta. Namun untuk terbilang berkesan harus ada yang menyentuh perasaan. Nah yang itu baru saja saya rasakan ketika saya dan teman-teman menggarap program Suara Keadilan akhir Juli 2010. Tempatnya relatif dekat saja dengan Jakarta, yaitu Sukabumi. Namun jangan salah, ini bukan kota Sukabumi, tetapi di sebuah desa bernama Sindangraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, produser saya hanya menyatakan tempatnya 15 km dari Sukabumi. Tidak jauh saya pikir. Tetapi ia menambahkan, bahwa perjalanan itu menggunakan mobil berpenggerak empat roda. Lho. Hati ini jadi bertanya-tanya atas informasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya: buseettt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sukabumi setelah makan mie ayam sehat buatan istri saya, kami berkendara dulu sekitar 30 km dengan jalan menanjak dan berkelok. Jalan itu sempit dengan aspal yang sudah mengelupas di sana-sini. Setiap berpapasan dengan mobil lain semuanya harus melambatkan kendaraan dan berhati-hati melintas jika tidak ingin senggolan atau masuk jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah di sebuah kawasan kebun teh, pergantian kendaraan dilakukan. Kami tinggalkan mobil yang kami gunakan dari Jakarta dengan sebuah LandRover tahun 1980. Kokoh. Tangguh. Pengendaranya adalah kontributor kami di Sukabumi. Di situlah ia membuka alasan mengapa kendaraan berpenggerak 4 roda diperlukan. Yaitu berbatu, menanjak dengan kemiringan tajam, sempit dan kadang berlumpur. Dari tempat itu hingga Sindangraja tujuan kami jaraknya 15 km. Itulah jarak yang disampaikan rekan saya. Wah bonus yang 30 km tadi itu, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimulailah perjalanan yang mengesankan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik matahari siang kalah oleh sejuknya udara. Namun hati ini deg-degan ketika mobil mulai bergerak. Bahkan pada 100 meter pertama. Lebar jalan hanya untuk 1 mobil, batu-batu sebagai landasan jalan berukuran minimal sebesar bola kaki menikung ke kiri dan ke kanan. Di beberapa bagian, sang pilot LandRover harus berhenti untuk berancang-ancang sebelum melintasi kubangan lumpur atau tanjakan berkemiringan sekitar 45 derajat (atau kurang ya? Pokoknya miring banget deh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis keindahan kebun teh milik Goal Para (kata pak kades setempat pada suatu kesempatan) terabaikan. Kami semua harus berpegangan di dinding mobil jika tidak ingin terjatuh dari tempat duduk akibat guncangan mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu jam perjalanan itu kami tempuh dengan gerakan tak keruan tanpa henti. Hingga akhirnya kami sampai tujuan di desa yang dimaksud. Anda bisa bayangkan perjalanan kami turun dari tempat itu setelah urusan liputan selesai. Mungkin analoginya seperti naik rodeo di atas seekor kuda gila yang mabuk dan seorang kejam melecuti kuda itu dengan semena-mena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang mengesankan, karena itu adalah bagian negara saya. Warga desa Sindangraja pasti harus bersusahpayah jika harus mengurus kegiatan mereka ke kota besar; ke rumah sakit, berbelanja atau sekolah. Di sana baru ada sebuah sekolah dasar, sehingga untuk pendidikan lanjut para remaja harus memiliki punggung, pinggang dan pantat baja melawan guncangan di jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan, betapa dua tempat seperti kutub itulah yang saya ingat. Pertama karena kenyamanannya dan kedua karena ketidaknyamanannya. Yang pertama saya ingin kunjungi atau bahkan saya tinggali, tetapi yang kedua, di negara sendiri, saya tidak ingin ke sana lagi selama infrastrukturnya masih seperti itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4256829971405170162?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4256829971405170162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4256829971405170162&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4256829971405170162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4256829971405170162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/08/tempat-berkesan.html' title='Tempat Berkesan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3377743666174762713</id><published>2010-01-27T01:16:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T01:51:39.385-08:00</updated><title type='text'>Mie Ayam dan Semangat</title><content type='html'>Terletak di sudut sebuah ruko di dekat Pasar Modern Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, sebuah warung mie ayam berdiri. Belum dua minggu sang pemiliknya menjalankan bisnisnya. Dari hari ke hari sang pemilik beserta dua pegawainya menunggu pembeli. Namun yang datang masih dapat dihitung dengan jari. Harapan untuk menangguk untung belum terlihat, karena harga jualnya di bawah rata-rata para pesaingnya yang sudah tersebar di sekelilingnya. Keberanian menekan harga itu tak lepas dari harapannya untuk segera meraih perhatian, padahal harga-harga bahan baku mie seperti ayam, bumbu dan mie itu sendiri merangkak naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Business is not easy, however it is challenging. Berusaha memang tidak mudah, tetapi layak untuk diusahakan dengan seluruh daya upaya, kreatifitas, tenaga, air mata bahkan darah (lebay dotcom). Sementara persaingan adalah bumbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang (termasuk saya) seringkali terpana melihat keberhasilan seseorang atau sebuah lembaga bisnis. Dengan sedikit rasa iri saya memuji dan menelan ludah membayangkan betapa nikmatnya orang itu dalam menjalani hidup. Rumah indah, mobil mewah, makanan enak, berwisata ke tempat-tempat jauh dan eksotis dan sebagainya. Namun orang seperti saya sering lupa, bahwa ia pun tidak serta merta mendapatkan semua itu. Tidak tahu kalau kekayaan dan keberhasilan itu merupakan warisan atau hasil undian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kekaguman saya seringkali bertambah setelah mendengar kisah sukses orang-orang itu diraih melalui perjuangan berat, berliku penuh onak dan berbatu. Kisah kegagaln yang terjadi berulang-ulang merupakan warna utama dari banyak kisah keberhasilan. Semuanya itu menegaskan bahwa berusaha merupakan nafas manusia itu sendiri jika ia ingin hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhenti berusaha, berhenti mencoba, berhenti berkreasi dan menyerah adalah penutup episode seorang manusia. Yang hasilnya berupa kematian atau penyesalan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya adalah pemilik mie ayam yang saya kisahkan di awal tulisan ini, saya tidak akan berhenti berinovasi, berkreasi dan memperbaiki penampilan warung saya, rasa mie ayam saya serta mendahulukan kepuasan pelanggan. Jika masih gagal, saya akan tetap berusaha di hal lain, di tempat lain dengan etos serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMANGAT!!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3377743666174762713?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3377743666174762713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3377743666174762713&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3377743666174762713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3377743666174762713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2010/01/mie-ayam-dan-semangat.html' title='Mie Ayam dan Semangat'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7461666865943375732</id><published>2009-12-22T18:32:00.000-08:00</published><updated>2009-12-22T19:16:02.982-08:00</updated><title type='text'>Tahun Baru Tahun Berinvestasi</title><content type='html'>Ada pertanyaan penting, namun terdengar klise di setiap penghujung tahun, yaitu: Apa yang akan Anda buat di tahun depan? Klise, karena banyak orang menanyakan dan membicarakannya di sekitar bulan November dan Desember.  Keluarga, teman, kekasih, bisa muncul dengan pertanyaan itu. Penting, karena itulah gambaran atau mungkin resolusi yang akan kita kerjakan di tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jawabannya? Saya bayangkan jawabannya bisa berlembar-lembar kertas folio atau bahkan berhari-hari bicara. Tergantung Anda ingin melakukan apa. Namun saya membayangkan ada hal spesifik yang bisa saya sarankan. Melihat apa yang terjadi di tahun-tahun belakangan, tantangan mendatang dan kecenderungan untuk selalu bergerak maju, maka saya mengusulkan INVESTASI sebagai rencana di tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi=uang? Ya dan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena hampir semua kegiatan kita berhubungan dengan atau membutuhkan uang. Pakaian yang baik untuk bekerja atau bersosialisasi perlu dibeli. Kendaraan untuk memperlancar bisnis perlu uang untuk dibeli atau diservis. Itu semua investasi agar kegiatan kita terkelola dengan lebih baik. Ya, investasi butuh uang. Tentu saja uang untuk ditanamkan di pengembangan bisnis, pasar saham, pasar uang dsb. Itu pasti juga investasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada investasi yang tidak butuh uang, yaitu kesehatan. Seberarapun kemampuan finansial Anda, tak akan mampu berkembang atau dinikmati tanpa tubuh yang sehat. Penyakit adalah salah satu momok dalam kehidupan manusia. Ribuan tahun manusia memerangi penyakit, mencari obat, vaksin, dan penawar agar kehidupan lebih bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, penyakit tak juga hilang, bahkan kalau dapat saya sebut berkembang baik jenis maupun kualitasnya. Sebut saja flu babi, TBC, dan AIDS. Belum termasuk penyakit yang timbul akibat pola hidup dan penuaan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Investasi di bidang kesehatan sesungguhnya hampir tidak membutuhkan uang. Anda cukup menerapkan pola hidup yang seimbang. Bangun pagi-pagi, hiruplah udara segar, berolahraga, minum air putih (beli juga sih, tapi murah kan?), makan-makanan bergizi (boleh sederhana, tetapi gak perlu yang mahal), bekerja tanpa stress, dan tidur yang cukup (jangan begadang kata Rhoma Irama jika tidak penting banget). Apalagi kalau tidak pakai rokok dan alkohol. Hmmmm.&lt;br /&gt;Investasi murah, tetapi menjadi landasan investasi lanjutan maupun beraktifitas di tahun baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keduanya digabungkan, maka yang kita dapatkan adalah hidup senang, sehat dan panjang umur. Bagaimana?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7461666865943375732?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7461666865943375732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7461666865943375732&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7461666865943375732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7461666865943375732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/12/tahun-baru-tahun-berinvestasi.html' title='Tahun Baru Tahun Berinvestasi'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4598076693047910740</id><published>2009-11-16T04:08:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T05:10:01.469-08:00</updated><title type='text'>Iklim</title><content type='html'>Hujan deras bertubi-tubi mengguyur Jakarta dan sekitarnya dalam seminggu terakhir. Kawasan tempat kami tinggal di Barat Jakarta sedikitnya sudah tiga kali diterpa angin kencang dan hujan lebat. Sejumlah pohon dan papan reklame bertumbangan. Untung saja (mudah-mudahan betul-betul untung) belum ada laporan rumah yang roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak seperti Filipina atau Meksiko yang diguncang badai pada sebulan lalu hingga menyebabkan seratusan orang meninggal dunia dan kerugian material triliunan rupiah. Setidaknya kondisi di Jakarta banyak orang was-was. Apalagi pada Jumat malam lalu hujan di penghujung minggu, seolah menghentikan aktifitas di ibukota. Jalan-jalan protokol macet akibat genangan air di mana-mana. Banyak orang kehilangan waktu saat menembus jalan dan hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak membicarakan manajemen lalu lintas dan drainase Jakarta, karena toh banyak orang sudah memprotesnya. Saya hanya ingin berbagai informasi tentang iklim, karena hal itulah yang saya peroleh dalam lawatan saya ke Brasil dua pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan iklim, itulah yang ditakui para pemerhati lingkungan menyusul meningkatnya suhu dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat efek rumah kaca. Berbicara dengan penggiat lingkungan, seperti Greenpeace yang bersifat internasional, maupun lokal seperti Imap dan Imazon, saya seperti digugah dari ketidakpedulian terhadap bumi yang sekarat. Saya menggunakan istilah itu untuk menggambarkan betapa planet biru yang kita diami ini dieksploitasi besar-besaran tanpa waktu yang cukup untuk memperbaiki diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika manusia berhasil secara ekonomi, maka ia akan cenderung membutuhkan sumber daya yang kian besar. Makanan, air, bahan bakar dan ruang. Untuk memenuhinya ia akan mengusahakan baik legal maupun ilegal. Secara individual ataupun kelompok. Ketika kondisi di sekitarnya sudah tidak mampu lagi mendukung, ia akan bergerak lebih jauh hingga akhirnya mencari di tempat-tempat yang belum terjamah seperti kawasan hutan. Belum lagi dengan pertambahan penduduk yang nyaris tidak terkontrol di negara-negara miskin dan berkembang, alam kian lelah memberikan apa yang dimilikinya dalam bentuk tanah, air, mineral dan tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, manusia yang egois dan serakah hanya bisa meminta dan mengambil. Mereka tidak pernah berpikir bagaimana mengembalikan atau berbagi dengan makhluk hidup yang lain. Hasilnya lingkungan hidup tereksploitasi, terdegradasi, tergerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek rumah kaca adalah salah satu konsekuensinya. Penggunaan secara masif bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) ditambah dengan berkurangnya jumlah tumbuhan yang mengolah gas karbon hasil pembuangan bahan bakar itu dituding menjadi penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas karbon yang kelewat banyak di atmosfir mencegah panas dari matahari dibuang ke luar angkasa. Akibatnya panas berputaran di atas kita menghangatkan udara. Kalau cuma di atas Jakarta bisa kita tangani dengan penyejuk udara. Sialnya lagi, udara panas sampai pula di kutub Selatan tempat es abadi berada. Es itu pun mencair. Jika yang mencair dalam jumlah besar permukaan laut pun meningkat dan pantai-pantai serta pulau-pulau tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak itu saja. Panas di atmosfir kita menyebabkan perubahan cuaca secara drastis. Para peneliti lingkungan yang berbincang dengan saya dan teman-teman di Brasil menyatakan betapa hujan bisa meningkat drastis, tetapi musim kering menjadi panjang. Badai mudah terbentuk. Banjir dan gurun pasir bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu boleh jadi terdengar seperti kisah di film. Belum terjadi. Masih jauh mungkin. Tetapi pencitraan satelit yang saya lihat rasanya bukan main-main. Gambaran itu sangat nyata. Dan saya khawatir karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal Desember 2009, sebuah konferensi iklim digelar di Kopenhagen, Denmark. Masa depan dunia akan dibicarakan di sana. Secara pribadi saya harap-harap cemas akan hasil yang ditelurkan, karena banyak orang yang bersikap skeptis tentang ramalan para pemerhati dan peneliti lingkungan. Yang saya tahu, anak dan cucu saya berhak melihat orang utan, komodo dan berjalan-jalan di hutan dengan udara yang bersih. Harapan itu mungkin bisa saya gantungkan pada para pejabat pemerintahan yang berkumpul di kota itu termasuk pejabat dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Jakarta, dada saya kembali terasa sesak. Padahal paru-paru ini dengan mudah menghirup udara segar di Sao Paulo, Brasilia ataupun Belem, yang terletak di muara sungai Amazon. Namun saya tetap mencintai kota ini, Surabaya tempat lahir saya dan Indonesia, tanah tumpah darah saya. Betapapun buruknya kondisi alamnya. Dan saya berjanji akan mengubahnya dari hidup saya, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4598076693047910740?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4598076693047910740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4598076693047910740&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4598076693047910740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4598076693047910740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/11/iklim.html' title='Iklim'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7708216785213747446</id><published>2009-11-12T19:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T20:21:38.741-08:00</updated><title type='text'>Sao Paulo</title><content type='html'>Matahari terik, tetapi suhu udara tak lebih dari 25 derajat Celcius. Mobil ber-CC kecil dan sedang bergerak teratur, dengan kecepatan sedang dalam rangkaian panjang. Di sebelah kiri jalan, dalam jalur yang tetap bis kota berjalan rapi. Tak ada asap hitam mengepul dari knalpot. Orang-orang bergerombol di halte, bukan di perempatan jalan. Tertib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran sekilas kondisi lalu lintas kota Sao Paulo, salah satu kota besar di Brasil, selain Rio de Janeiro dan Brasilia ibukota negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpenduduk sekitar 11 juta jiwa, membuat kota itu berpotensi pada berbagai masalah sosial seperti Jakarta, terutama kemacetan. Tetapi empat hari di kota itu pada awal November, tidak membuat saya risau dengan transportasi. Bahkan pada jam-jam sibuk, yaitu pagi dan sore hari, lalu lintas yang padat tidak membuat kota itu terisi kemacetan. Kendaraan yang saya tumpangi masih dapat berjalan di antrian. Tidak berhenti kecuali di lampu merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya mungkin terlalu cepat, karena hanya empat hari mengamati. Namun demikian, praktis saya tidak menemui hambatan bergerak di jalan-jalan di kota itu, walaupun harus menempuh perjalanan dari ujung kota ke ujung lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengamatan singkat itu saya menyimpulkan juga beberapa hal yang membuat kemacetan menjadi barang langka.&lt;br /&gt;Pertama: manajemen kota yang tidak meletakkan pusat perdagangan dan aktifitas massal lainnya di satu atau dua titik. Saya menemukan paling tidak ada 5 titik aktifitas utama berupa perkantoran, mal, pusat perdagangan dan hiburan yang tersebar di berbagai sudut kota. Dengan itu berarti warga Sao Paulo tidak perlu berbondong-bondong ke satu titik untuk beraktifitas. Bandingkan dengan Jl. Sudirman, dan Thamrin di Jkt atau Jalan Basuki Rahmat di Surabaya. Terbayang kan macetnya bila jam-jam sibuk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: manajemen transportasi, yang mengandalkan angkutan massal berupa bis dan metro. Jalur bis dan metro yang tersedia ke berbagai penjuru kota memudahkan warga kota hilir mudik.  Tanpa angkot dan metro mini yang bikin macet plus menyebarkan gas buangan dengan semena-mena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: sikap dan tingkah laku pengemudi. Rasanya saya harus belajar kesabaran dan disiplin pada kota Sao Paulo. Saya tidak pernah melihat satupun kendaraan yang saling serobot atau keluar jalur yang tersedia. Tidak ada jalan yang diciptakan hanya dua jalur, kemudian menjadi tiga jalur kendaraan saat jam-jam sibuk. Teratur orang bergerak pada jalurnya, walau kondisi padat sekalipun. Klakson pun jarang terdengar dari kendaraan yang meminta jalan. Kebetulan pula, sepeda motor, dapat dihitung dengan jari. Alhasil, semua pasti bergerak walau perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Jakarta, saya tetap mencintai negeri ini. Hanya saja, saya membayangkan kapankah waktunya ibukota ini ramah tidak hanya lingkungan tetapi juga pengguna jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MRT atau mass rapid transport atau alat transportasi massal memang sudah didengang-dengungkan bertahun-tahun lalu oleh otoritas Jakarta. Tetapi baru bus trans-Jakarta yang berjalan. Itupun belum semua koridor terlayani. Kereta atau metro dalam kota pun baru tiang-tiangnya yang berdiri dan kini besinya berkarat termakan cuaca. Jumlah kendaraan terutama sepeda motor bertambah dengan cepat tidak sebanding dengan panjang dan jumlah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemmmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan kota ini seperti Sao Paulo, mungkin saja penduduknya akan lebih hebat bermain sepakbola dari tim  Samba dan lebih cantik dan ganteng daripada pemain sinetron telenovela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7708216785213747446?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7708216785213747446/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7708216785213747446&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7708216785213747446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7708216785213747446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/11/sao-paulo.html' title='Sao Paulo'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4822087767242522581</id><published>2009-09-29T00:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T01:45:50.768-07:00</updated><title type='text'>Menghargai Hidup</title><content type='html'>Kisah ini sebenarnya terjadi sebelum Lebaran lalu, tetapi rasanya baru kemarin saya alami dan ingin saya bagikan pada semua orang. Pengalaman ini semoga membuat saya lebih bijaksana dan menghargai betapa berharganya hidup itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu Rabu malam, sepulang siaran Debat saya mengalami kejadian ini. Bermobil di jalan yang hampir lengang di Jakarta, saat sebagian besar umat Muslim bertarawih, adalah saat yang menyenangkan bagi penggemar kecepatan. Hampir sepanjang jalan dari kawasan Cawang, Jaktim hingga Tangerang, saya bisa menekan gas mobil 1500 cc hingga speedometer berkisar di angka 140 km/jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan angka itu bisa lebih besar lagi bila yang saya kendarai adalah mobil bertenaga besar. Apalagi udara malam terasa sangat segar menyeruak dari jendela mobil yang saya buka separuh. Mata yang lelah seharian diajak melek dan membaca ikut berkonsentrasi menyerap informasi di jalanan yang berganti dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu kurang dari 30 menit, saya hampir tiba di kawasan BSD (biasanya saya tempuh hampir 1 jam). Keluar dari jalan tol Pondok Aren-BSD, saya tidak juga mengurangi kecepatan. Bahkan saat ada sebuah sepeda motor "memberi perlawanan" saya salip dengan gagah perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya tak menyadari bahaya yang menunggu di muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan itu sepi, menikung, dan agak gelap. Di kiri-kanannya terdapat beberapa warung makan yang sudah tutup, karena hari telah malam. Hanya sebuah restoran Padang yang buka 24 jam, yang masih beroperasi. Itu pun dengan penerangan yang tidak cukup untuk menerangi seluruh kawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi ini membuat saya tetap menekan pedal gas dalam-dalam, walau rumah hanya berjarak kurang dari 1 kilometer.  Apalagi perasaan hangat masih terasa, saat meninggalkan sang motor yang tidak juga mau mengalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lacur, dengan kecepatan sekitar 100 km per jam, saya harus menghadapi sebuah sepeda motor, yang memotong jalan. Dalam hitungan detik, saya melihat ada tiga orang di atas motor tersebut. Tanpa lampu, dan tanpa helm, melintas pelan mengabaikan kondisi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar konsekuensinya bila saya tidak segera mengambil keputusan drastis. Nyawa adalah taruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu besar saya mainkan. Tidak ada perubahan laju motor tersebut. Klakson saya tekan keras-keras menandai sebuah kendaraan berlalu dengan cepat memohon jalan. Tak ada reaksi. Refleks, saya membuang kemudi ke kanan menghindari benturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya putaran kemudi saya begitu ekstrim untuk menghindari tabrakan, tetapi laju mobil yang kencang membuat bagian belakang masih memiliki momentum dan...brak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan. Gesekan. Suara keras. Sambil berusaha menguasai olengnya mobil, saya berpikir. Mati! Ketiga orang itu mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mobil stabil, saya segera menepikan mobil. Orang-orang berdatangan, karena mereka pasti mendengar suara klakson, decitan rem dan ban, serta suara benturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, saya merasa tenang. Tidak gugup, tetapi juga tidak khawatir, walaupun saya merasa pasti ada korban akibat tabrakan tadi. Di sana-sini saya mendengar teriakan orang menghujat saya dan mobil yang telah menyebabkan kecelakaan. Puluhan orang mengelilingi mobil dan pengemudi sepeda motor. Tanpa mengetahui permasalahannya, saya mendengar teriakan meminta pertanggungjawaban atas tabrakan itu. Beruntunglah ada sejumlah orang yang mengenal saya dan menjamin keselamatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan saya mendekati kerumunan orang yang mengelilingi sepeda motor dan ketiga orang tadi. Saya bersiap melihat orang berlumuran darah, luka parah bahkan meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Tuhan! Tidak ada yang terluka, bahkan segores pun tidak. Ketiga orang yang baru saja keluar dari masjid bertarawih itu sehat wal afiat. Selain ban motor yang hampir tak berbentuk, praktis tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu mengajar satu hal pada saya. Berkendaralah dengan baik. Tidak hanya bermobil, tetapi juga bersepeda motor. Pada kasus saya pribadi, mengemudi dengan kecepatan tinggi meningkatkan kemungkinan kecelakaan. Seberapapun hebatnya Anda di belakang setir, tetap tidak dapat mengontrol sepenuhnya kendaraan yang melaju di jalan raya bukan lintasan balap. Setiap orang memang berhak memperlakukan kendaraannya sesuka hati, namun ketika kita menggunakan fasilitas publik, kita harus menghormati pengguna lain dan mematuhi peraturan. Dengan itu, kita menghargai nyawa yang Tuhan telah titipkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, persoalan tabrakan sudah kami selesaikan baik-baik. Selain mengganti kerusakan di motor itu (pemiliknya adalah penjaga rel kereta di Serpong, Tangerang), kami saling meminta maaf dan memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Tuhan, atas hidup yang Kau berikan.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4822087767242522581?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4822087767242522581/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4822087767242522581&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4822087767242522581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4822087767242522581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/09/menghargai-hidup.html' title='Menghargai Hidup'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1208911748115074939</id><published>2009-09-25T02:15:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T04:43:57.188-07:00</updated><title type='text'>Monas</title><content type='html'>Harapan untuk mengunjungi salah satu bangunan ciri khas Indonesia, yaitu Monumen Nasional akhirnya kesampaian. Seumur-umur saya belum pernah ke monumen hebat itu, walau sudah sering melewati, melihat dan mengedit beritanya. Hanya saja kunjungan itu menyisakan duka di batin, karena menyaksikan kondisi di lingkungan Monas yang sulit untuk dijadikan kebanggaan karena berbagai kekurangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan para jagoan(baca: isteri dan anak-anak) saya, akhirnya ada waktu untuk berkeliling Jakarta beberapa hari lalu. Mumpung ibukota masih lengang karena ditinggal mudik jutaan penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat pagi-pagi dari gubuk kami di BSD (sekitar 20 km di selatan Jakarta), praktis tidak ada halangan selama di perjalanan. Lengang, udara segar dan sedikit berkabut. Itulah gambaran jalan tol BSD-Bintaro dan jalan di Kebayoran Lama. Hanya 30 menit, yang kami butuhkan untuk sampai di Bundaran HI dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Bisa dibayangkan betapa nikmatnya lalu lintas Jakarta saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat menggoda rekan-rekan yang siaran Apa Kabar Indonesia di Bundaran HI, kami melaju ke Monas. Inilah tujuan utama libur hari itu. Betapa tidak. Hampir semua teman saya dan teman anak-anak saya sudah mencicipi kunjungan ke monumen yang didirikan atas perintah Presiden Soekarno tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca belum lagi panas, ketika mobil kami parkir di pelataran parkir resmi Monas di IRTI (berhadapan dengan Balai Kota). Calon pengunjung relatif bisa dihitung dengan jari, yang bergerak menuju monumen berkepala emas itu. Tak banyak mobil yang parkir dan hanya sebuah bus pariwisata di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri pelataran udara menyapa segar, dengan matahari mengintip di balik rerimbunan daun di taman. Mestinya saya puas dengan kondisi ini, tetapi apa daya mata ini tertumbuk pada sampah yang berserakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tempat sampah terguling dan isinya berupa sisa-sisa makanan menyebar. Bungkus mie siap saji teronggok bersama puntung rokok dan plastik minuman. Tidak ada petugas kebersihan saat itu. Saya berpikir sampah belum dibersihkan karena saat itu belum jam kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian dekat ke bangunan luar biasa itu, cuaca kian cerah (baca: panas). Pepohonan hanya tersedia di taman, yang berjarak 100 meter lebih dari tugu raksasa itu. Di sana hanya ada beberapa tanaman yang kami gunakan untuk berteduh sementara. Taman di pelataran Monas sebenarnya indah, tetapi yang ada hanyalah rerumputan yang menguning dan tanaman hias yang meranggas. Ada memang banyak bunga bangkai (Raflesia Arnoldii), tetapi itu terbuat dari semen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu hampir 20 menit, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Bersama beberapa keluarga lain kami di pintu Selatan tak tahu harus menunggu berapa lama, karena penjaga parkir menyebutkan Monas dibuka pukul 8.30 WIB. Saat itu jam tangan sudah 8.20 WIB. Tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Tidak ada tanda-tanda bagian informasi atau petunjuk arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kebingungan dan keheranan karena tidak adanya bantuan, seorang penjual air minum yang kebetulan pernah melihat wajah saya sebelumnya, menunjukkan pintu masuk. Tempatnya di seberang, katanya. Jadi kami harus berjalan memutari Monas ke pintu utara dan masuk dari terowongan. Atau bisa menunggu mobil gandeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, informasi terakhir membuat saya bingung (jawabannya saya dapatkan setelah meninggalkan Monas beberapa jam sesudahnya). Sebagai kepala rombongan, saya putuskan kami berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuihhh!!! Masih pukul 8.30 tetapi matahari mamancar dengan kekuatan penuh. Mateng neh muka. Tidak ada awan, peneduh, pepohonan atau apapun yang dapat dijadikan perlindungan dari kehangatan sang raja siang. Kami berjalan mengelilingi sisi Barat sekitar 500 meter. Lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai pintu utara, rasanya tidak ada lagi petunjuk. Di atas tangga Monas tampak sejumlah pekerja mengepel, tetapi terlalu jauh untuk ditanya bagaimana kami bisa masuk. Tidak hanya rombongan BSD ini, tetapi ada pula kelompok lain yang terpaku di pinggir pagar. Sekali lagi tak ada petugas di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca kian panas. Tidak ada penghalang sinarnya ke bumi. Kelompok orang mulai menyemut ke obyek wisata di jantung kota Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah di sana! ada papan kecil yang berjumlah dua buah kalau saya tidak salah. Ukurannya kenapa sih tidak dibikin besar? Apa ruginya kalau bisa 1 m X 1,5m? Rasanya tidak akan mengganggu keindahan taman raksasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki lorong menuju Monas. Saya melihat sudah banyak orang di sana. Anak-anak dan kaum perempuan mendominasi. Saya yakin tidak ada yang berpakaian perlente atau wangi. Panas dan pengap membuat bau keringat menguar memenuhi terowongan yang kurang cukup dingin, walau sudah terdengar deru pendingin ruangan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antrean tiket masuk sudah mengular. Dari 4 loket yang tersedia, hanya dua yang buka. Dalam hati saya mencari alasan mengapa dua loket lain tidak digunakan: masih banyak petugas yang cuti, toh masih suasana Lebaran. Beberapa kali saya mendengar petugas menolak uang dengan pecahan besar Rp. 100.000 dan Rp. 50.000. Mereka beralasan belum ada kembalian. Ckckck. Tak ada persiapan ya? Akibat penolakan itu antrean tersendat, karena calon pengunjung mencari pecahan lebih kecil tetapi tidak mau meninggalkan antrean. Huaaahhhh!!! Beruntung uang pecahan Rp. 50.000 saya tidak ditolak, mungkin karena petugas mengenal wajah saya (hehehe ada untungnya juga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi lebih nyaman saat kami masuk ruang diorama, karena lega dan udara yang dingin. Berbeda dengan suhu di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas berkeliling di ruang sejara itu, dan mengenalkan sejarah kepada para punggawa, saya mengajak mereka ke puncak. Nah, ini perjuangan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantre tiket dan mengantre lift naik adalah dua hal berbeda, tetapi sama-sama melelahkan. Dari dua loket penjual tiket lift, hanya satu yang beroperasi. Antrean kembali mengular. Demikian juga antrean ke lift. Lebih panjang lagi. 25 menit untuk mendapat tiket. 1 jam untuk sampai ke lift. Itu adalah perjuangan yang luar biasa. Saya pandang barisan di belakang, wah, ternyata terus memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki lift adalah sebuah kenyamanan yang lain. Bisa dibilang itu adalah langkah terakhir sebelum menikmati Jakarta dari puncak tertinggi di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas melihat-lihat, termasuk menggunakan teropong berharga Rp. 2000 per 90 detik, kami turun kembali. Tidak terlalu lama menunggu lift yang sama yang akan membawa kami ke bawah. Sekeluarnya dari cawan Monas, saya menyaksikan antrean itu bahkan kian panjang. Kalau sebelumnya hanya sekitar 25 meter, maka kini lebih panjang lagi. Bisa 100 meter (dua baris). Berapa jam antrean paling belakang dapat sampai ke puncak. Saat itu waktu baru menunjukkan pk. 11.00 WIB. Waktu buka Monas tinggal 4 jam lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai kembali perjalanan yang sama. Melewati terowongan yang masih belum cukup dingin di tengah aliran manusia. Di sana-sini saya melihat penjual cindera mata miniatur Monas dari bambu dengan harga antara Rp. 5000 sampai Rp. 25.000 per buah. Namun saya tidak tertarik untuk membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas yang kian menyengat kembali menyapa sekeluarnya kami dari terowongan. Antrean lain tampak di sana. Antrean apa? Ooooh itu dia. Dua buah mobil gandeng beriringan menepi. Dibatasi rantai-rantai, ada tiga lajur antrean yang memudahkan pengunjung naik ke mobil. Di atas mobil, kami menunjukkan karcis naik ke puncak yang berwarna hijau untuk dewasa dan putih untuk anak-anak. Dan kami pun meluncur ke tempat masuk, di tempat kami parkir mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpandang-pandangan dengan isteri, tanpa suara kami bersepakat untuk tidak akan lagi ke Monas. Cukup sudah petualangan hari itu. Panas, lelah, berkeringat, bau, tanpa tambahan informasi yang berarti membuat Monas tidak cukup untuk menarik kami kembali di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah jika pemerintah DKI atau pusat memperbaiki fasilitas monumen kebangsaan negara, yang ada di depan hidung Istana Negara dan Balai Kota di tahun-tahun mendatang, hal itu bisa saja kami pertimbangkan lagi. Tapi jika tidak, maaf deh, TIDAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1208911748115074939?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1208911748115074939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1208911748115074939&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1208911748115074939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1208911748115074939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/09/monas.html' title='Monas'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1666681394042593506</id><published>2009-09-25T02:13:00.000-07:00</published><updated>2009-09-25T02:15:27.325-07:00</updated><title type='text'>Maaf Lahir Batin</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#ff0000;"&gt;Ijinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1666681394042593506?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1666681394042593506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1666681394042593506&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1666681394042593506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1666681394042593506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/09/maaf-lahir-batin.html' title='Maaf Lahir Batin'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5044702350700660088</id><published>2009-07-21T23:44:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T01:38:17.427-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tragedi'/><title type='text'>Tragedi</title><content type='html'>Dunia ini panggung sandiwara&lt;br /&gt;Ceritanya mudah berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua baris lirik lagi Panggung Sandiwara-nya God Bless mengisi batok kepala saya berulangkali, saat saya melihat peristiwa-peristiwa besar dalam sebulan terakhir. Tidak tahu kenapa justru lagu itu yang terngiang bukan lagu Ebiet G Ade atau Mbah Surip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kampanye pemilihan presiden diikuti dengan pencontrengan dan perhitungan suara, saya menangkap nuansa yang berwarna-warni dari aktifitas politik saat itu. Belum selesai haru biru protes tim sukses capres 1 dan 3, bom mengguncang Jakarta. Korban tewas dan luka terserak tak berdaya dengan wajah-wajah panik mereka yang selamat menghiasi layar kaca dan koran-koran. Terakhir saya melihat sendiri beberapa korban bom Marriott dan Kedubes Australia 6 dan lima tahun lalu. Terselip di antaranya kisah si Tegar dari Caruban Madiun.  Bocah 4 tahun itu kakinya putus terlindas kereta api ulah bapak tirinya. Sang bapak tiri, yang tidak puas atas penolakan isterinya (ibu Tegar) untuk bersetubuh membawa Tegar ke rel kereta api dan hingga kereta mnghancurkan kaki kanan Tegar. Trenyuh hati ini menyaksikan tubuh-tubuh yang cacat, termasuk ketakutan yang tak juga pupus akibat trauma saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya bumi kita tercinta ini seperti panggung sandiwara yang nyata. Cerita itu mudah berubah untuk setiap aktor dan aktrisnya di skala mikro dan terlebih di skala makro yang mengubah nasib banyak orang. Satu demi satu peristiwa bermunculan menjadi perhatian publik internasional berubah secara cepat dan drastis dalam hitungan hari, sehingga menafikan arti kisah sebelumnya. Media segera mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak karena adanya persitiwa baru yang lebih dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai produser (yang kadang-kadang mengarahkan aktor di panggung siaran tv) saya merasa puas dengan sandiwara (baca: peristiwa) yang tengah berlangsung. Seru, dramatis, penuh emosi, masif dan penuh kejutan. Bahkan kalau bicara komersial, saya ingin hal seperti ini terjadi setiap hari, karena rating berita akan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa daya saya masih orang biasa yang cenderung sentimentil bila lihat penderitaan orang. Para korban bom, keluarga mereka dan mereka yang membawa cacat seumur hidup akibat bom bertahun-tahun lalu menimbulkan pertanyaan besar untuk sang sutradara panggung sandiwara besar bernama hidup di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tujuan ia menciptakan kisah yang penuh tragedi bagi sekelompok orang bahkan kelompok yang besar bernama negara? Mengapa ia membuat peran dengan aktor-aktris yang berada di kutub berbeda dalam hal ideologi, nasib dan tindakan? Berapa lama kisah ini akan dimainkan? Bagaimana akhir dari kisah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukurlah orang yang beriman, yang tetap tabah menahan cobaan tanpa harus kritis terhadap pembuat kisah. Hanya saja tidak semua orang mampu menanggung efek kejadian itu. Tidak sedikit yang patah dan kehilangan semangat menghadapi kisah yang dramatis dan tragis tersebut. Apa yang harus mereka perbuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang tidak tahu harus berbicara apa terhadap para aktor-aktris tersebut. Saat saya bertemu dengan korban Marriott 6 tahun lalu, yang tubuhnya penuh luka parut akibat luka bakar mayor, lidah ini terlipat dan mulut terkunci. Tapi mudah-mudahan mereka bisa membaca keprihatinan saya atas penderitaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai aktor lain di panggung sandiwara di bumi ini, saya memang tidak terlibat langsung dengan kisah bom Jakarta. Namun saya sadar kisah tragis itu bisa saja terjadi pada saya dan keluarga, pada Anda dan keluarga dalam bentuk lain, setiap saat, di mana saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be prepared!&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5044702350700660088?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5044702350700660088/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5044702350700660088&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5044702350700660088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5044702350700660088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/07/tragedi.html' title='Tragedi'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3528041727480368862</id><published>2009-07-14T00:35:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T02:44:53.313-07:00</updated><title type='text'>Kutagih Janjimu</title><content type='html'>Bahasanya tentu tidak seperti itu, tetapi dengan gaya yang berbeda; yaitu ketika anak bungsu saya Diva Josephina menagih janji saya untuk memasang internet. Bulan lalu sambungan Speedy di rumah saya putus, karena lambat dan tagihannya kurang masuk akal. Sejak itu, anak-anak tidak lagi dapat mengakses mainan, obrolan atau mengerjakan tugas yang menggunakan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun saya berjanji pada anak-anak untuk memasang sambungan baru segera setelah saya memperoleh provider internet terbaik. Sialnya, hehehe, sampai hari ini belum ada tanda-tanda pilihan itu jatuh pada siapa. Akhirnya muncullah kalimat yang baik itu: Kutagih janjimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang bilang janji adalah utang, jadi harus dibayar atau janji harus ditepati. Namun sialnya bagi banyak orang lainnya janji bisa hanya sekedar janji. Janji adalah kata-kata tanpa makna yang keluar dari mulut untuk menyenangkan orang untuk sesaat saja dan kemudian terlupakan seiring perjalanan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang pemilu legislatif dan presiden, kita dijejali janji-janji setiap hari. media cetak dan elektronik penuh kampanye berisi rencana-rencana yang akan dikerjakan bila si calon duduk di kursi yang diinginkan. Bahkan ada pula yang bersedia membuat kontrak politik berisi hal-hal yang akan dilakukan kemudian ditandatangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang pemili sudah selesai. Orang-orang yang akan duduk di kursi legislatif dan eksekutif sudah diketahui. Artinya, kita masyarakat baik yang memilih atau tidak memilih berhak menagih janji yang sudah disampaikan saat mereka berkampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, apakah rakyat masih ingat apa yang dijanjikan itu? Adakah dari kita yang mencatat butir-butir yang akan dikerjakan calon pemimpin kita? Saya, terus terang tidak. Andaikan semua masyarakat Indonesia tidak ada yang ingat atau mencatat, bagaimana mereka bisa ditagih? Hehehe apalagi bila mereka tipe pelupa alias tidak ingat akan janji-janji yang sudah digembar-gemborkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah Cina menyebutkan: sekali kata terucap tujuh ekor kuda tak dapat menariknya kembali. Artinya, setiap janji yang keluar memiliki konsekuensi berat yang tidak dapat dilupakan dan diabaikan. Hanya orang yang tidak memiliki harga diri saja yang akan mencederai janji yang pernah terucap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah para pemimpin dan calon pemimpin kita orang-orang yang memiliki harga diri yang akan merealisasikan janji mereka tanpa harus ditagih. Yah minimal jangan kayak saya yang harus selalu ditagih anak-anak saya untuk memasang internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3528041727480368862?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3528041727480368862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3528041727480368862&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3528041727480368862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3528041727480368862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/07/kutagih-janjimu.html' title='Kutagih Janjimu'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8804138952600565554</id><published>2009-07-09T04:51:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T05:14:50.706-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pilpres'/><title type='text'>Contreng (Centang)</title><content type='html'>Sudah dua hari ini kuku saya tidak indah (hehehe...emangnye pernah?). Warna ungu akibat tinta itu belum hilang. Walaupun begitu saya tetap bangga menggunakan hak pilih. Jujur saja, belum pernah saya sebangga ini saat memberikan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jago saya memang kalah. Tetapi saya puas melihat ia bertarung dengan segenap tenaga, hati dan kemampuan. Tidak banyak orang yang berani menghadapi lawan di gelanggang, walau ia tahu betapa kuatnya pesaing. Hanya sedikit orang yang mau berusaha, walau secara matematis kecil kemungkinan ia akan keluar sebagai pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pertandingan, seorang pemenang pasti memperoleh kemuliaan di atas pecundang. Tetapi bagi orang sportif, hasil akhir hanyalah bonus, karena proses memiliki peran penting untuk mengukur gagah tidaknya seorang kontestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan presiden memang bukan pertandingan sepakbola, catur atau tinju. Intelektualitas, gaya kepemimpinan dan program yang baik adalah modal untuk meraih kepercayaan publik. Di sinilah letak keandalan para kontestan beradu strategi dalam mengampanyekan citra dan kehebatan mereka masing-masing. Jika publik percaya terhadap komoditas yang ditawarkan, itulah yang mereka "beli" (baca: contreng) pada 8 Juli lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang saya lakukan. Saya puas dengan gaya, program, retorika seorang capres, sehingga saya mencontreng fotonya dan pasangannya. Setttt.... Tutup... Cemplung...Celup. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mempedulikan jago saya akan menang atau tidak. Tidak penting menurut saya. Saya juga tidak kecewa ketika hitung cepat semua lembaga survei memenangkan calon lainnya. Bahkan pada setiap perbincangan dengan teman (tidak di blog ini) saya mengumumkan siapa yang saya pilih sambil mengangkat kelingking saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun saya siaran dengan membicarakan ketiga pasang capres cawapres, mengumumkan, mengkritisi, membuat lelucon tentang aktifitas kampanye itu hanya sebuah pekerjaan. Pilihan saya tidak mempengaruhi pemilihan kata dan kerangka berpikir saya. Kepuasan saya adalah ketika saya memberikan suara pada orang yang saya percayai dapat memimpin negeri ini lima tahun lagi. Pilihan dan pekerjaan adalah dua hal berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saya menunggu lima tahun lagi adakah orang yang seperti jago saya. Saya rindu pribadi seperti itu muncul dan memimpin negeri ini. Bukan berarti saya tidak suka warga negara yang sedang memimpin sekarang, tetapi lebih karena saya merasa cocok dengan jago saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang juga tidak ada jaminan jago saya akan dapat memimpin negeri ini seperti Superman dan menyelesaikan semua masalah dengan lebih cepat dan lebih baik, tetapi sekali lagi saya nyaman dengan apa yang ia tawarkan pada saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, pencontrengan (yang tepat pencentangan) sudah selesai. Perhitungan di KPU sedang berlangsung. Hasilnya rasanya akan sama dengan hasil perhitungan cepat (quick count) seperti yang lalu-lalu. Selamat untuk yang menang dan selamat pula untuk yang kalah karena Anda telah menjadi kontestan dan negarawan yang luar biasa bagi negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8804138952600565554?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8804138952600565554/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8804138952600565554&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8804138952600565554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8804138952600565554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/07/contreng-centang.html' title='Contreng (Centang)'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4908881980028869123</id><published>2009-06-29T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-06-29T07:48:33.301-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gaya hidup'/><title type='text'>Killing Time</title><content type='html'>Membunuh waktu. Itulah yang saya kerjakan sekarang. Saya harus menunggu adik istri saya untuk bersama-sama pulang kampung ke Madiun. Tiga jam di Citos sejak pukul 16. Pegel! Mau nonton Transformers 2 sudah kehabisan tiket. Mau tidur nggak ada tempat enak. Jadilah saya tersandera di Burger King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya kerjakan? Ah! Untung di laptop ada permainan catur. Lumayan untuk killing time alias membunuh waktu. Setelah setengah jam, permainan ini menjadi tidak menarik. Ya, kalah terus sih! Padahal masih level cecere alias kelas bawah. Memang otak tumpul nggak bisa diajak berpikir keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu pula (the most invaluable thing to do) saya berkesempatan mengedarkan mata ke sekeliling. Rupanya ini kegiatan yang lumayan menarik. Citos di waktu malam ternyata lebih menarik daripada yang dikisikkan beberapa teman. Maklumlah, saya kan orang rumahan yang jarang dugem malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, penampilan pengunjung pusat makan di kawasan selatan Jakarta ini begitu bervariasi. Tidak hanya yang kaum muda, tetapi remaja hingga yang berumur. Mulai dari yang pulang kantoran berseragam seperti saya, sampai yang dandan abizz. Dari yang bau keringat, karena biasa berjemur di bawah matahari hingga wangi Chanel no 5. Bagi pria normal seperti saya, haum hawa tentunya lebih menarik untuk diperhatikan lebih seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil minum minuman ringan, saya mencoba menghitung (ini bener-bener gak ada kerjaan) rata-rata pengunjung yang datang dalam waktu satu menit. Setelah lima kali penghitungan rata-rata 10 orang dari segala usia dan gaya pakaian. Bagi saya aliran manusia ini relatif banyak. Dengan mengabaikan orang yang meninggalkan Citos, maka dalam lima menit saja sudah 50 orang yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat jumlah pengunjung di cafe-cafe dan restoran yang ada, tampaknya jumlah yang datang terus meningkat. Wah, ini cocok betul dengan catatan para ekonom hebat negeri ini, yaitu kelas menengah Indonesia banyak yang tidak peduli dengan krisis. Acara akhir minggu mulai dari Jumat hingga Minggu harus jalan terus. Makan-makan, minum-minum, nonton-nonton dan belanja-belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan saya melintas seorang wanita berbalut busana terusan motif polkadot dengan bagian bawah lumayan tinggi di atas lutut. Legging (celana ketat biasanya berbahan katun) membungkus kakinya yang jenjang. Tubuhnya menguarkan bau wangi lembut. Ia berjalan dengan langkah pasti penuh percaya diri menuju kasir Burger King dan memesan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar restoran ini beberapa wanita paruh baya dengan dandanan menor membawa belanjaan di seluruh tangan mereka. Ceria, penuh canda dan asik menikmati waktu mereka menyusuri lorong Citos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip seorang petinggi Indosat (entah datanya dari mana) hanya ada tiga negara yang mengalami pertumbuhan positif pascakrisis finansial akhir tahun lalu. Negara-negara tersebut adalah Cina, India dan Indonesia. Keberhasilan Indonesia mencatat pertumbuhan itu adalah karena konsumsi domestik yang tinggi. Ekspor kita yang kecil praktis tidak terpengaruh penciutan pasar Amerika dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri saya adalah tipikal wanita yang gemar belanja. Hanya sayangnya kegemaran itu kurang tersalurkan karena dukungan keuangan suaminya yang lemah. Alhasil ia hanya puas menikmati iklan obral (sale) dan potongan harga (discount) dari koran. Setiap saya membaca koran di pagi hari sebelum berangkat, ia seringkali nimbrung ikut membaca, tetapi bukan berita melainkan mengajak suaminya berkomentar tentang harga khusus dan iming-iming kemudahan belanja di iklan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama saya terganggu dengan aktifitasnya. Tetapi lama-kelamaan saya pun turut menikmati ritual itu. Saya menemukan adanya kenikmatan melihat iklan-iklan yang menampilkan warna, tulisan dan tawaran yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menghubungkan aktifitas membaca iklan itu dengan kondisi di Citos ini. Korelasinya memang terlihat nyata. Iklan yang menarik menantang pemilik uang berbelanja baik secara tunai maupun kredit. Tak ada uang kertas uang plastik pun jadi. Gesek sana gesek sini. Tak bisa lunas sekaligus cicilan pun jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang jam tangan sudah  menunjukkan pukul 19.30 WIB. Tidak ada tanda-tanda kedatangan orang yang saya tunggu. Saya pun malas pula untuk meneruskan aktifitas cuci mata. Balik main catur lagi deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indi&lt;br /&gt;Jkt, 26 Jun. 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4908881980028869123?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4908881980028869123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4908881980028869123&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4908881980028869123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4908881980028869123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/06/killing-time.html' title='Killing Time'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3860450915743744355</id><published>2009-06-11T04:31:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T04:38:09.453-07:00</updated><title type='text'>Inspirasi</title><content type='html'>Rasanya daftar berikut cukup menarik untuk diikuti. Saya sih berjanji untuk mencobanya. Mungkin Anda sependapat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; LIFEBOOK 2009&lt;br /&gt;Health:&lt;br /&gt;1.    Drink plenty of water.&lt;br /&gt;2.    Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a beggar.&lt;br /&gt;3.    Eat more foods that grow on trees and plants, and eat less  food that is manufactured in plants.&lt;br /&gt;4.    Live with the 3 E's -- Energy,  Enthusiasm, and Empathy.&lt;br /&gt;5.    Make time for prayer.&lt;br /&gt;6.    Play more games.&lt;br /&gt;7.    Read more books than you did in 2008.&lt;br /&gt;8.    Sit in silence for at least 10 minutes each day.&lt;br /&gt;9.    Sleep for 7 hours.&lt;br /&gt;10.  Take a 10-30 minutes walk every day ---- and while you walk,  smile.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personality:&lt;br /&gt;11.  Don't compare your life to others'. You have no idea what  their journey is all about.&lt;br /&gt;12.  Don't have negative thoughts or things you cannot control.  Instead invest your energy in the positive present moment.&lt;br /&gt;13.  Don't over do ; keep your limits.&lt;br /&gt;14.  Don't take yourself so seriously ; no one else does.&lt;br /&gt;15.  Don't waste your precious energy on gossip.&lt;br /&gt;16.  Dream more while you are awake.&lt;br /&gt;17.  Envy is a waste of time.  You already have all you need.&lt;br /&gt;18.  Forget issues of the past. Don't remind your partner with  his/her mistakes of the past. That will ruin your present happiness.&lt;br /&gt;19.  Life is too short to waste time hating anyone. Don't hate  others.&lt;br /&gt;20.  Make peace with your past so it won't spoil the present.&lt;br /&gt;21.  No one is in charge of your happiness except you.&lt;br /&gt;22.  Realize that life is a school and you are here to learn.  Problems are simply part of the curriculum that appear and fade away like algebra class but the lessons you learn will last a lifetime.&lt;br /&gt;23.  Smile and laugh more.&lt;br /&gt;24.  You don't have to win every argument. Agree to disagree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Community:&lt;br /&gt;25.  Call your family often.&lt;br /&gt;26.  Each day give something good to others.&lt;br /&gt;27.  Forgive everyone for everything.&lt;br /&gt;28.  Spend time with people over the age of 70 &amp;amp;under the  age of 6.&lt;br /&gt;29.  Try to make at least three people smile each day.&lt;br /&gt;30.  What other people think of you is none of your business.&lt;br /&gt;31.  Your job won't take care of you when you are sick. Your family and friends will. Stay in touch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life:&lt;br /&gt;32.  Do the right things.&lt;br /&gt;33.  Get rid of anything that isn't useful, beautiful or joyful.&lt;br /&gt;34.  GOD heals everything.&lt;br /&gt;35.  However good or bad a situation is, it will change.&lt;br /&gt;36.  No matter how you feel, get up, dress up and show up.&lt;br /&gt;37.  The best is yet to come.&lt;br /&gt;38.  When you awake alive in the morning, thank GOD for it.&lt;br /&gt;39.  Your Inner most is always happy. So, be happy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Last but not the least :&lt;br /&gt;40.  Do forward this to everyone you care about.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3860450915743744355?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3860450915743744355/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3860450915743744355&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3860450915743744355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3860450915743744355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/06/inspirasi.html' title='Inspirasi'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6272361286271525746</id><published>2009-06-11T04:08:00.000-07:00</published><updated>2009-06-11T04:26:12.867-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemilu'/><title type='text'>Menjadi Presiden</title><content type='html'>Andaikan menjadi presiden seperti melamar pekerjaan, mungkinkah KPU akan menerima lamaran hingga berlemari-lemari? Pertanyaan ini muncul karena melihat aktifitas kampanye ketiga pasang calon presiden dan calon wakil presiden dalam beberapa bulan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ini kok kayaknya getol banget sih untuk jadi pemimpin negeri. Kalau gitu enak kali ya? Jalan-jalan, makan-makan, merintah-merintah, ngresmikan ini itu, mitang-miting dan apa lagi. Tapi apa memang begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia memiliki lebih dari 200 juta yang memiliki banyak keinginan. Sekian juta yang harus diayomi agar bebas dari kemiskinan dan ketakutan.  Mereka bukan sekedar kelompok suku, bahasa, agama dan status sosial. Artinya pemimpin bangsa harus bekerja keras. Semakin banyak yang kaya semakin baik. Semakin maju semakin baik. Semakin sejahtera apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hutang negeri yang ratusan triliun, pengangguran yang jutaan orang (menyusul peningkatan pengangguran karena krisis), dan kemiskinan yang puluhan juta artinya pekerjaan rumah presiden dan wakil presiden sangat banyak. Harga sembako yang terus terbang. Minyak mentah dunia (yang harus kita beli) melambung dan kemampuan ekspor yang rendah memaksa penguasa negeri mengurangi tidur untuk terus berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa ya enak menjadi presiden? Tapi kok ya masih ada yang mau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin seperti ini: bayangkan telunjuk Anda bisa membuat banyak orang bertekuk lutut; atau kedikan mata Anda menggetarkan lutut orang-orang di sekeliling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu alasannya, berarti kekuasaanlah yang membuat beberapa orang mau berlelah-lelah menjadi presiden atau wakil presiden. Mengatur ini itu dan memerintah sana sini  bisa menjadi bonus yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kalau menjadi presiden adalah sebuah pekerjaan, apakah Anda tertarik?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6272361286271525746?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6272361286271525746/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6272361286271525746&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6272361286271525746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6272361286271525746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/06/menjadi-presiden.html' title='Menjadi Presiden'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-309760800202215311</id><published>2009-04-17T03:20:00.001-07:00</published><updated>2009-04-17T04:07:32.872-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Berwisata atau Off Road?</title><content type='html'>Memang agak basi saya pengalaman saya ini, karena dua hal yang saya kerjakan yang akan saya ceritakan berikut sudah berlangsung seminggu dan dua minggu sebelumnya. hanya saja kalau tidak saya ceritakan, kok ada yang ngganjel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu lalu, usai membanting tulang, begadang dan memeras otak untuk menjalankan program Pemilu Indonesia selama dua hari, saya sekeluarga ikut berkemah bersama rekan-rekan segereja di kawasan wisata Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak sulung saya sudah jalan lebih dahulu, jadi kami hanya berangkat bertiga: saya, istri dan si bungsu. Memulai perjalanan dengan kepala sakit, karena kurang tidur selama beberapa hari membuat perjalanan tidak cukup nyaman. Lalu lintas pagi itu yang relatif lengang tidak menolong mencerahkan "mood" saya. Menurut hitung-hitungan kilometer jarak antara BSD dan Gunung Bunder yang hanya sekitar 50 kilometer seharusnya membuat ringan "beban" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lacur, yang kami temui selama perjalanan adalah betapa buruknya infrastruktur jalan kita. Selepas BSD yang relatif nyaman, kami harus berhadapan dengan jalan rusak di Ciseeng (pasti jarang Anda dengar nama itu). Jalan itu seharusnya menjadi jalan pintas ke daerah Parung. Namun nyatanya, lubang berdiameter sekitar 1 meter sedalam lebih dari 10 cm membentang berkilometer. Guna menutupnya, batu dan kerikil disebar, tetapi terkesan seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan perlahan adalah sebuah keterpaksaan untuk mencegah ketidaknyamanan dan kerusakan kendaraan kami. Akibatnya kami beringsut perlahan. Kondisi Parung jauh lebih baik. Jalan-jalan mulus dan lebar memudahkan kami bergerak hingga selepas Kampus IPB di Dramaga. Kemudian beberapa kilometer sesudahnya kami bergerak ke kiri menuju Gunung Bunder melalui Cibatok. Mungkin karena sesama ci, seperti Ciseeng, daerah ini pun serupa. Jalan sempit,  berlubang, dan bersaing dengan angkot itulah kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total kami harus menempuh sekitar 3 (tiga) jam untuk ke kawasan Gunung Bunder. Rasanya  kepala saya bertambah sakit setelah menyetir sekian lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman dengan jalan rusak juga saya alami dua minggu sebelumnya. Dengan alasan baru perlu penyegaran setelah ujian tengah semester, saya mengajak keluarga berlibur ke pantai. Tujuan kami adalah Pantai Carita untuk bermain ombak laut. Hmmm, terbayang segarnya udara pantai, makan ikan bakar, berenang dan berselancar. Endang bambang gulindang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu petang, kami meluncur. Hati senang membuat lalu lintas jalan tol Tangerang-Cilegon yang padat truk tak terasa. Justru kedongkolan timbul setelah melewati Cilegon memasuki Anyer. Jalan rusak membentang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya pada kunjungan sebelum itu beberapa bulan sebelumnya, jalan di kawasan itu memang berlubang, tetapi masih dapat ditolerir. Kali ini tidak. Puluhan kilometer jarak dari kawasan industri Cilegon sampai pantai Carita, hampir tidak ada jalan mulus. Mungkin saya membesar-besarkan hal itu, tetapi itu ekspresi kedongkolan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kenyataan itu membuat saya "gumun", heran. Saya heran dengan petinggi negara ini. Antara ucapan dan tindakan di lapangan hampir tidak ada kesesuaian. Pejabat Departemen Pariwisata sudah mencanangkan Visit Indonesia Year 2009. Pejabat Daerah menyatakan sudah menjual potensi wisata di daerah masing-masing. para petinggi negeri mengakui wisata adalah sumber devisa potensial bagi negara. Tapi mana? Bagaimana mungkin menjual obyek wisata tanpa membenahi infrastruktur. Apakah wisatawan mau berkunjung bila perjalanan menuju daerah itu tidak nyaman? Mana jalan yang baik, yang katanya akan dibuat dari uang pajak masyarakat. Mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat  bencana Situ Gintung Tangerang, Banten akhir bulan lalu. Nyata-nyata persoalan infrastruktur bendungan terlibat di sana. Saling lempar tanggung jawab. Departemen Pekerjaan Umum, Pemerintah Kabupaten, dan Pemerintah Provinsi tidak membuat infrastruktur yang baik, aman dan nyaman bagi penduduk negeri yang sudah membayar pajak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang berhubungan langsung dengan nyawa manusia saja pemerintah ini lalai, bagaimana pula yang tidak secara langsung seperti pembuatan dan perbaikan jalan? Sampai kapan kita memiliki pejabat yang memerhatikan kebutuhan hajat hidup orang banyak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari tanyakan pada rumput yang bergoyang (kata Ebiet G. Ade).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-309760800202215311?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/309760800202215311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=309760800202215311&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/309760800202215311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/309760800202215311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/04/berwisata-atau-off-road.html' title='Berwisata atau Off Road?'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3591140053861823104</id><published>2009-04-09T12:14:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T12:37:37.214-07:00</updated><title type='text'>Pusingggg!!!!</title><content type='html'>Arti kata ini menyerang saya begitu saya membuka lembaran-lembaran kertas suara. Setelah berangkat ke TPS di sebelah rumah menjadi sebuah perjuangan tersendiri bagi saya, memberikan hak suara ternyata adalah sebuah masalah baru. Alhasil bisa saja pilihan atau contrengan saya bukanlah hasil pemikiran terbaik. Mengapa begitu? Begini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menjalankan tugas di Wisma Nusantara selama dua setengah jam pagi itu 9 April, dengan gagah berani saya memutuskan untuk pulang dan memenuhi imbauan KPU. Padahal jarak rumah saya di BSD, Tangerang ke Wisma Nusantara di Bundaran HI, Jakarta sekitar 30 km. Lumayan membuat pegal kaki dan pinggang selama perjalanan. Jadi pagi itu saja, saya sudah menempuh 60 km dan empat jam total di luar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya hanya satu saat itu; begitu banyak orang kehilangan hak pilih mereka karena tidak terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Jadi, saya yang beruntung ini berpikir mengapa tidak ikut memberikan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap kesempatan kami membicarakan betapa mudahnya mencontreng. Tinggal buka, pilih nama, contreng, lipat, dan celup jari ke tinta. Beres. Di bilik suara, ternyata saya menemukan kenyataan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat saya seketika luluh, saat membuka lembar demi lembar surat suara. Deretan nama partai dan nama caleg membuat saya pusing. Siapa mereka? Apa janji mereka untuk saya? Bagaimana menguji integritas mereka? Bagaimana menagih janji mereka? Itu adalah daftar pertanyaan saya, yang tidak bisa saya tanyakan. Selain mereka tidak di depan saya, saya pun tidak pernah mendengar atau melihat langsung wajah, ucapan dan tindak tanduk mereka. Pusing!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa saat, saya hanya membolak-balik kertas tanpa dapat memutuskan nama yang akan saya contreng. Sebelumnya sempat terlintas keinginan untuk golput alias tidak ingin memilih, tetapi rasanya kok tidak enak. Tapi masalahnya, saya tidak tahu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tahukah Anda apa yang saya lakukan? Saya memilih nama seorang artis untuk caleg DPR RI, nama yang terkesan akrab untuk DPRD provinsi dan kota, serta nama seorang mantan pejabat pemberantas korupsi untuk DPD. Seperti saya sampaikan sebelumnya, itu bukanlah pilihan terbaik, tetapi daripada saya menghabiskan waktu berlama-lama di bilik suara rasanya itu adalah pilihan terbaik di antara yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, beban saya terasa lebih ringan, karena saya melaksanakan aktifitas yang saya dengungkan berulang-ulang. Saya tidak ingin terkesan berkhianat dengan menyatakan Pemilu adalah sebuah pesta demokrasi, tetapi tidak memberikan suara. Buktinya di jari kelingking saya ada warna ungu tinta yang sudah memudar hanya dalam waktu 24 jam (sepertinya lebih cepat daripada tinta pemilu tahun 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3591140053861823104?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3591140053861823104/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3591140053861823104&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3591140053861823104'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3591140053861823104'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/04/pusingggg.html' title='Pusingggg!!!!'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5850350127546350071</id><published>2009-03-05T22:19:00.000-08:00</published><updated>2009-03-05T23:08:47.703-08:00</updated><title type='text'>2 X 1</title><content type='html'>Dalam seminggu terakhir saya menghadiri dua pemakaman. Pertama, pada Senin lalu, dan pengalaman itu sudah saya tuangkan di salah satu tulisan saya. Kedua, hari ini. Seorang kerabat wafat semalam di usia spektakuler untuk ukuran kita: hampir 86 tahun! Namun bukan panjangnya umur beliau itu yang ingin saya perbincangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan saya terbaring tubuh tua. Kebaya putih membalut tubuhnya yang mungil. Tangannya tak lagi hangat. Wajah-wajah kuyu, mata sembab dan paras yang pucat berkeliling di seputar jenazah yang membujur kaku. Mulut mereka terkunci dengan isakan yang sesekali terdengar. Tidak ada canda tawa yang biasanya muncul saat berkumpul bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika saya teringat sebuah kata bijaksana, yang saya lupa siapa yang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SEHARI DI RUMAH DUKA LEBIH BAIK DARIPADA SERIBU HARI DI TEMPAT PESTA PORA"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya tidak peduli pada usia tua atau kematian, tetapi sampai kemarin saya merasa hidup ini indah pada hari ini, dan akan semakin membahagiakan bila berada di tengah keriaan dan pesta pora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah suasana seperti ini baik? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya terbaring seperti ini 18 tahun lalu. Hampir satu dekade sebelumnya, bapak saya dalam keadaan serupa. Menyusul kemudian dua kakak saya menghadap Khalik Sang Pencipta dalam hitungan tahun sebelum tahun 2009. Orang-orang yang saya cintai tak lagi bersama. Hanya kenangan yang tersisa. Pukulan gesper bapak masih terasa di punggung, bila saya melompat pagar untuk bermain, walau sudah ada larangan sebelumnya. Belaian sayang ibu di punggung sebagai pengganti rasa sakit itu seolah tetap lekang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua akan ke tempat itu. Ya, ke tempat yang tak seorang pun dapat menolaknya. Seberapapun kuat seorang pria, secantik apapun seorang wanita, sebanyak apapun kekayaan seorang pengusaha, cepat atau lambat kematian akan menjemput. Saat di mana tak ada lagi tawa, harapan untuk bercinta, ataupun keinginan untuk menghibur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti setelah ini saya menjadi antihiburan. rasanya naif sekali untuk meniadakan sama sekali hiburan dari berbagai aktifitas kemanusiaan kita. Karena saya yakin Dia Yang Maha Kuasa pasti bergembira bila kita umat-Nya menghargai ciptaan-Nya dengan penuh sukacita. Hanya saja kegembiraan yang hakiki tidak terletak di tempat pesta pora; tempat nafsu diumbar dan kegelojohan timbul tanpa batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghargai setiap detik nafas kehidupan dan aliran darah di dalam nadi dengan mengucap syukur rasanya menjadi penting bagi saya. Tanda-tanda vital itu menandai kesempatan untuk berbuat yang lebih baik pada diri, sesama dan pujian untuk Yang Maha Esa.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada lagi hak untuk melakukan sesuatu bagi yang sudah berada di tempat masa depan itu: 2 X 1. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5850350127546350071?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5850350127546350071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5850350127546350071&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5850350127546350071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5850350127546350071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/03/2-x-1.html' title='2 X 1'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-9215980468150271194</id><published>2009-03-03T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-03-03T03:46:18.208-08:00</updated><title type='text'>Pekuburan untuk Semua</title><content type='html'>Sudah pasti untuk semua, karena setiap orang akan meninggal. Itulah makna harafiah dari kubur dan pekuburan. Namun yang saya maksud bukan itu. Selain perlambang kesedihan, karena membawa arti perpisahan yang sebenarnya, makam justru menyediakan hidup untuk sekelompok orang. Itulah pengalaman yang saya temui hari ini. Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin malam selepas membawakan program rutin, saya mendapat pesan singkat. Isinya: ibunda salah seorang rekan saya meninggal dunia. Karena letak rumahnya terlalu jauh dari perjalanan pulang, saya memutuskan untuk mengikuti pemakaman esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10 kurang saya tiba di Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Rombongan keluarga yang berduka dengan jenazah yang akan dikubur belum tiba, sehingga saya berkesempatan memandang sekeliling. Ini adalah saat pertama saya dapat mengamati situasi sebuah kompleks "rumah masa depan". Hasilnya cukup mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran muram sebuah makam yang sepi jauh dari aktifitas manusia jauh sama sekali. TPU Karet Bivak cukup ramai. Bukan! Mereka bukanlah keluarga yang berduka, yang mengantar seorang kerabat ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Mereka adalah orang-orang yang hidup justru dari pemakaman itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita hitung bersama. Pertama sudah tentu para penggali kubur (rasanya tidak mungkin kita menggali kubur sendiri). Kemudian para penyabit rumput makam dan penjaja minuman (kehadiran mereka penting untuk mereka yang lelah berjemur setelah menghadiri pemakaman atau berziara). Tak ketinggalan (ini menurut saya yang menarik) sekelompok orang yang saya sebut para pendoa dan sejumlah anak-anak (terutaman perempuan berusia antara 8 sampai 12 tahun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kelompok terakhir itulah yang menjadi obyek pengamatan singkat saya. Kelompok para pendoa rata-rata berusia setengah baya. Mereka memiliki kostum khusus: berkopiah dan bersarung. Saya tidak pernah menyadari kehadiran mereka sampai aktifitas penguburan jenazah dimulai. Entah darimana sekonyong-konyong ada tiga orang ikut nimbrung di depan kubur yang baru saja ditimbun. Karena posisi saya cukup dekat dengan makam, saya mendengar jelas ajakan salah satu anggota kelompok kepada rekannya untuk segera maju ikut dalam ritual pembacaan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf bukannya saya mengabaikan doa dan kekhidmatan upacara, tetapi saya telanjur tertarik dengan kelompok ini. Apalagi saat doa dilantunkan, suara mereka paling keras dan mengatasi suara yang lain. Setelah doa selesai tanpa memedulikan seorang wakil keluarga yang berduka yang menyampaikan sambutan atas nama keluarga, mereka (tak ada yang mempersilakan lho) menyerbu sekotak makanan kecil yang tersedia. Tidak tanggung-tanggung, satu orang membawa lebih dari satu jenis makanan dan dibawa menyingkir dari tempat tersebut. Di bawah kerimbunan pohon, mereka menikmati bolu kukus dan kue lapis serta air mineral. Rasanya mereka puas menikmati imbalan atas jerih payah mendoakan sang jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saat kelompok pendoa mengambil kudapan itu, sekelompok anak-anak ikut berpartisipasi. Rasanya saat itu tidak kurang dari lima orang yang saya hitung. Kelompok anak-anak ini pun turut saya perhatikan sebelumnya, karena saya sempat berbincang dengan salah seorang di antaranya yang duduk di belakang saya (sebelumnya ia bertanya pukul berapa saat itu). Saya kemudian menanyakan sekolah (ia menjawab masih bersekolah di kelas lima) dan jam masuk sekolahnya (dijawabnya pukul 1 siang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak itu hanya duduk-duduk hingga doa selesai dipanjatkan. Mereka kemudian menyerbu kotak mekanan dengan penuh semangat (lha wong setiap orang mengambil lebih dari satu buah) dan segera menyingkir. Oh ya, mereka sempat diusir, karena dinilai mengganggu prosesi yang belum selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin menilai benar salah dari aktifitas tersebut. Saya hanya terkejut melihat fungsi pekuburan yang jauh dari sekedar tempat peristirahatan terakhir kita umat manusia. Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak mungkin bisa mewakili pemakaman umum di seluruh Indonesia, yaitu tempat yang dapat memberi hidup bagi sekelompok orang. Dalam kondisi yang ekstrim, saya pun menyaksikan tempat pemakaman umum yang dijadikan tempat mesum, tempat mencari penghidupan pelacur kelas bawah, yaitu Pemakaman Kembang Kuning Surabaya, Jawa Timur. Di antara nisan-nisan Cina yang besar, banyak perempuan menyediakan diri mereka bagi kaum hidung belang, dengan hanya Rp. 50 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh sebuah pengalaman yang membuat saya miris sekaligus takjub. Betapa kuburan dan kompleks pemakaman memiliki makna sosial yang sangat penting bagi sekelompok masyarakat marjinal (jangan-jangan kelompok ini tidak pernah terhitung di Badan Pusat Statistik). Inilah salah satu potret kehidupan di sekitar kita. Sebuah realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-9215980468150271194?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/9215980468150271194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=9215980468150271194&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9215980468150271194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/9215980468150271194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/03/pekuburan-untuk-semua.html' title='Pekuburan untuk Semua'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3266081061127449172</id><published>2009-02-25T02:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-25T03:15:26.952-08:00</updated><title type='text'>Clinton dan Acara Musik</title><content type='html'>Tulisan ini mungkin sudah out of date. Tetapi saya tidak tahan untuk tidak menulisnya, karena ini mungkin saja bentuk kedongkolan saya atas kejadian di sekitar kedatangan Menlu AS Hillary Rodham Clinton ke Indonesia pertengahan bulan ini. Subyektif, tak berdasar, emosional, atau tidak dewasa adalah label yang bisa Anda sematkan untuk saya setelah membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya: Hillary Clinton tampil di sebuah acara musik di dua stasiun televisi swasta nasional. Ckckck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara musik! Terus terang saya sulit mencari justifikasi arti pemilihan acara musik untuk penampilan seorang mantan ibu negara, mantan calon presiden yang bersaing ketat dengan Obama untuk Konvensi Partai Demokrat dan yang kini menjadi menteri luar negeri sebuah negara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hyperpower&lt;/span&gt; (meminjam istilah menlu Hassan Wirajuda di acara Atas Nama Rakyat TVOne yang berarti lebih dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superpower&lt;/span&gt;). Satu-satunya pembenar alasan adalah betapa acara itu memiliki rating tinggi di pagi hari, karena itulah waktu kosong beliau saat waktu kunjungan ke Indonesia dan acara itu ditonton banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sah-sah saja staf pemerintahan AS atau bahkan Hillary sendiri untuk memilih acara tv mana yang akan diisi. Hampir semua pemilik dan pengelola tv membuka programnya untuk menjadi tuan rumahnya. Namun manakala ada persoalan hubungan yang krusial, rasanya sangat masuk akal bagi seorang pejabat publik untuk hadir di tengah program yang mengusung talkshow serius di stasiun tv mana saja. Apalagi untuk hubungan sekelas AS-Indonesia yang diwarnai berbagai isu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat betul saat kampanye konvensi Partai Demokrat Agustus tahun lalu. Di mata saya, citra yang melekat pada diri Hillary Clinton adalah wanita tangguh, yang berani menghadapi siapa saja, serbuan argumentasi apa saja demi menyampaikan pemikirannya. Sosok Hillary Clinton betul-betul lepas dari bayang-bayang suaminya Bill Clinton yang sukses menjabat presiden AS dua periode. Ia giat "bertempur" melawan Barack Obama. Ketika menjelang konvensi dan semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;polling &lt;/span&gt;menunjukkan keunggulan Obama, tak sepatah kata pun terucap dari mulut Hillary yang menyatakan menyerah kalah. Dengan lantang ia menyatakan akan terus berjuang sebagai penghargaan untuk mereka yang telah mendukungnya. Akibat persaingan itu, kubu Demokrat sempat khawatir terjadi pelemahan pascakonvensi, karena posisi internal yang terbelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini saya tidak lagi memandangnya seperti itu setelah ia tampil di sebuah acara musik dengan perbincangan ringan seperti selebriti Indonesia dan bukan sekelas menlu negara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hyperpower&lt;/span&gt;! Saya tidak menilai rendah pembawa acara program musik. Tetapi logikanya menjadi sangat tidak mungkin atmosfir program musik akan menggiring narasumber pada perbincangan yang serius, tajam dan mendalam. Pembawa acara yang serius pun menurut saya, dapat terbawa oleh atmosfir yang ringan itu dan sulit untuk menghadirkan perbincangan berbobot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa saja dituding iri, karena gagal menghadirkan perbincangan dengan Hillary Clinton. Saya akui, saya iri dan merasa gagal. Namun dengan besar hati saya terima kekalahan itu bila datang dari sesama jurnalis yang biasa berkecimpung di dunia jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Clinton yang Dahsyat! Bagaimana kalau di Bukan Empat Mata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3266081061127449172?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3266081061127449172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3266081061127449172&amp;isPopup=true' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3266081061127449172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3266081061127449172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/02/clinton-dan-acara-musik.html' title='Clinton dan Acara Musik'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-14456803321054240</id><published>2009-02-22T23:23:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T23:25:03.805-08:00</updated><title type='text'>Lelucon Madura</title><content type='html'>Saya dapat lagi lelucon. Tapi mohon maaf kalau menyinggung rekan-rekan saya dari Pulau Madura.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah cerita tentang seorang madura yang kaya raya pergi ke suatu tempat dan menginap di sebuah hotel yang mewah. Sebelum tidur malam ia memanggil pelayan hotel untuk pesan sarapan agar besok pagi dia tidak perlu repot. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;Orang Madura ( OM  ): “Pelayan saya mau pesan sarapan untuk besok pagi ya, tolong dicatat, saya minta diantar di kamar saya jam 6 pagi, jangan telat ya sebab saya ada rapat.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;Pelayan (P): Mau pesan apa Tuan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Saya mau pesan bret jembret.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: &lt;span id="lw_1220675593_0"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1235373651_0"&gt;Apa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Tuan???&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Bret jembret!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: &lt;span id="lw_1220675593_1"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1235373651_1"&gt;Maaf&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Tuan apa itu bret jembret???&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Sampeyan ini gimana sih, jadi pelayan hotel terkenal kok bego. Anda bisa &lt;span style="background-attachment: scroll;" id="lw_1220675593_2"&gt;&lt;span class="yshortcuts"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 0%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1235373651_2"&gt;bahasa inggris&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; nggak ?? Bahasa inggrisnya roti apa??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: Bread (bret) Tuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Nah sekarang bahasa inggrisnya selai apa???&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: Jam (Jem) Tuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Lah itu kalau roti dikasih selai terus atasnya dikasih roti lagi apa nggak bread jam bread tak iye… doh sampeyan ini gimana sih!!! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: Ooooooooooh itu Tuan. Lalu minumnya apa Tuan??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; color: navy;"&gt;: Susu soda!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: Pakai es Tuan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="normal1"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:navy;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: navy;"&gt;OM: Lho lha iya pakai es dong, kalo nggak pake es kan  jadi “u u oda” tak iye, dok re mak sampeyan ini!!!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Century Gothic;color:maroon;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Century Gothic&amp;quot;; color: maroon;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-family:Verdana;font-size:100%;color:#339966;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Verdana; color: rgb(51, 153, 102);"&gt;P: ???!!! @@@&amp;amp;&amp;amp;^%%%$###))** *))&amp;amp;&amp;amp;&amp;amp;&amp;amp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-14456803321054240?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/14456803321054240/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=14456803321054240&amp;isPopup=true' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/14456803321054240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/14456803321054240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/02/lelucon-madura.html' title='Lelucon Madura'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1300895500151360212</id><published>2009-02-09T20:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-09T21:42:51.371-08:00</updated><title type='text'>Harga Sebuah Kegiatan</title><content type='html'>Di hadapan kami (saya dan rekan siaran) sepasang suami istri paruh baya duduk dengan wajah muram. Mereka dalam suasana berkabung. Anak kedua mereka baru saja dipanggil pulang Yang Maha Kuasa dalam sebuah kegiatan unit pecinta alam di kampus Institut Teknologi Bandung. Sang anak digambarkan sebagai pemuda yang sehat, walau berat badannya di atas rata-rata. Namun saat kegiatan, ia dan 81 rekannya harus berjalan di malam hari di kawasan perbukitan di Lembang, dengan jarak relatif jauh. Kembali menurut orang tuanya, Wisnu demikian nama panggilan almarhum sempat menyatakan kelelahan. Hanya saja panitia acara tidak memiliki rencana dan fasilitas untuk mengatasi keadaan darurat. Wisnu hanya diminta berjalan pelan-pelan. Akhirnya saat tengah malam, ia terjatuh dan tak dapat meneruskan perjalanan. Kesulitan mendapatkan alat transpor, panitia akhirnya baru dapat membawanya ke RS Boromeus Bandung, itupun dengan bantuan warga setempat pada pukul 2 pagi dan meninggal dunia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak dapat menyalahkan kedua orang tua itu yang tidak ingin mempermasalahkan kematian anak mereka. Visum pun tidak ada, sehingga berkembang isu Wisnu meninggal karena ia mengidap kelainan jantung. Sejauh ini tidak ada pihak yang menyatakan rasa bersalah dan meminta maaf. Rektorat (entah dekanat dan panitia) hanya datang untuk menyatakan bela sungkawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca hujan, tengah malam, dan semangat rasanya menjadi bahan bakar bagi sejumlah orang untuk unjuk kemampuan diri dan disiplin. Situasi itu pernah saya rasakan belasan tahun lalu. Dalam suatu kesempatan, pengurus Senat Mahasiswa di FakultasFarmasi Universitas Airlangga Surabaya merencanakan kegiatan untuk mempererat persaudaraan. Acara perkemahan disiapkan di kawasan perkemahan Trawas, Mojokerto. Saya ingat betul, saat itu musim penghujan (bayangkan musim hujan di pegunungan tinggi, pasti deh identik dengan hujan setiap hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa Fakultas Farmasi dikenal sebagai mahasiswa penggemar belajar dan kuper (saat itu, nggak tahu sekarang). Sehari-hari urusannya kuliah, laboratorium dan perpustakaan. Akibatnya yang ikut saat itu kurang dari 30 orang. Angkatan yang dituju dan pengurus senat pun agaknya enggan keluar rumah. Padahal satu angkatan bisa 100 orang dan pengurus senat sekitar 25 orang, Bayangkan betapa sedikitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah terpikirkan di benak kami bahwa berkemah di musim hujan membutuhkan usaha yang luar biasa (maklum bukan pecinta alam). Bekal seadanya, kemah seadanya, pakaian pun seadanya (karena maksudnya cuma nginep dua malam). Setibanya di lokasi, seingat saya siang hari, kami langsung disambut hujan rintik-rintik. Kian gelap cuaca hujan kian lebat. sebagai kaum amatiran kami tidak berhasil mendirikan tenda yang baik di tengah curah hujan. Kalau tidak bocor ya tenda tidak berdiri. Akibatnya sepanjang malam kami hanya bisa berteduh di tenda seadanya, asal tidak basah (dan itu tidak berhasil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedinginan, kelaparan dan kelelahan adalah musuh bersama. Gelap, tidak ada tempat kering, baju hangat, dan makanan.  Sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masa kini saat saya membayangkan situasi itu, saya membandingkannya dengan kondisi almarhum Wisnu; betapa hampir sama. Perbedaannya, saya tidak berjalan dengan jarak tertentu, sementara Wisnu mendapat tekanan dari lingkungan untuk menempuh jarak tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatasnamakan kegiatan Senat Mahasiswa, saya dan teman-teman menyelenggarakan acara temu dan kenal mahasiswa baru. Rasanya saat itu kami tidak pernah meminta ijin dari dekanat atau rektorat. Kami merasa sudah cukup dewasa mengelola adik-adik kami saat itu. Saya yakin hal yang sama pula yang dilakukan panitia acara almarhum Wisnu. Mana mau rektorat atau dekanat bertanggungjawab kalau ada apa-apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar panggung dan materi dialog kami tentang kasus kematian mahasiswa Fakultas Geodesi ITB, ada banyak perguruan tinggi, banyak fakultas dengan unit kegiatan masing-masing. Mereka memiliki banyak kegiatan mengatasnamakan persaudaraan, pengetahuan atau kedisiplinan. Namun mungkin tidak banyak yang mengingat, bahwa keselamatan dan masa depan para mahasiswa di atas segala-galanya. saya pikir akan lebih bijaksana bila penyelenggara kegiatan menyiapkan rencana dengan bertanggungjawab dan bertanggungjawab pula bila ada sesuatu yang terjadi pada setiap peserta kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah ada yang mau bersikap sejantan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1300895500151360212?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1300895500151360212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1300895500151360212&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1300895500151360212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1300895500151360212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/02/harga-sebuah-kegiatan.html' title='Harga Sebuah Kegiatan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-799141987905647318</id><published>2009-02-05T19:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T20:06:17.581-08:00</updated><title type='text'>Iseng</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Times New Roman;font-size:100%;color:black;"   &gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;  &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai orang Jawa terutama kelahiran Surabaya, rasanya tidak sreg kalau tidak berbicara bahasa ibu serta menggunakan istilah-istilah kota kelahiran saya. Bahasa dan istilah Jawa 'Suroboyoan' berbeda dengan bahasa Jawa Jawa Tengah, karena lebih kasar, egaliter atau mengabaikan perbedaan status. Bahkan kata makian pun bisa menjadi berbeda makna sesuai konteksnya. Kata jan*** adalah makian yang kasar, tetapi menjadi sapaan yang hangat bila diucapkan bengan hangat kepada sahabat yang lama tak dijumpai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Nah, saya mendapat surat elektronik (email) dari teman tentang kisah-kisah lucu berlatarbelakang budaya Suroboyoan. Saya sengaja menambahkan ke blog ini karena mungkin ini bisa menjadi penambah gambaran tentang gaya hodip orang Surabaya. Maaf kalau Anda tidak mengerti. Tetapi jika Anda ingin bertanya atau berkomentar saya persilakan---monggo---.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASMUNI&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Bunali lagi kulak sandal nang pasar.&lt;br /&gt;Moro-moro onok arek marani Bunali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho sampeyan iki Asmuni Srimulat yo?"takok arek mau.&lt;br /&gt;"Dhudhuk! Ngawur ae!" jarene Bunali.&lt;br /&gt;"Ojo mbujuki aku tah. Sampeyan mesti Asmuni!" jarene arek mau ngeyel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolak-balik Bunali negesno lek dheke dhudhuk Asmuni Srimulat, tapi arek mau tetep ae ngotot gak percoyo.&lt;br /&gt;Ndhik endi ae Bunali ditututi ambek arek iku mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mergo mangkel, akhire bunali ngiyakno, cik arek iku ndang ngalih.&lt;br /&gt;"Yo wis  tak akoni aku pancene Asmuni Srimulat!. Kate lapo kon!"&lt;br /&gt;"Tapi kok gak mirip blas yo?" jare arek mau ambek nginclik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEMONGKO&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunali lagi pusing soale kebon semongkone ben bengi dijarahi wong, padahal lagi wayahe panen.&lt;br /&gt;Wis diakali macem-macem sik pancet ae akeh sing ilang.&lt;br /&gt;Jarene wong sing nyolong iku Wonokairun, tapi Bunali gak wani nangkep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhire Bunali nemokno cara cik malinge kapok.&lt;br /&gt;Sore-sore sak durunge mulih, bunali masang papan peringatan sing ono tulisane ngene,"Awas!!! ati-ati nek arep nyolong, salah siji semongkoku iki  wis tak suntik racun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari ngitung semongkone sing mateng, kabeh onok limolas, bunali mulih.&lt;br /&gt;Sisuke Bunali nyambangi kebone maneh, pas di ijir semongkone sik pancet limolas.&lt;br /&gt;"Wah tibake malinge gocik, tak bujuki ambek pengumuman ae  wis wedhi" pikire Bunali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari ngono Bunali ndhelok papan pengumuman ambruk, wah paling ketiup angin, pikire Bunali maneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas diwalik, tibake papan pengumuman ditambahi tulisan ambek malinge,&lt;br /&gt;"Awas!!! Saiki onok loro".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wedhus &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunali pethuk Wonokairun lagi angon wedhus.&lt;br /&gt;"Mbah, waduh wedhuse sampeyan akeh yo?" jare Bunali.&lt;br /&gt;"Yo lumayan" jare si Mbah.&lt;br /&gt;"Piro kabehe , mbah?" takon Bunali maneh.&lt;br /&gt;"Sing putih opo sing ireng? "&lt;br /&gt;"Sing putih, wis "&lt;br /&gt;"Selawe"&lt;br /&gt;"Wik, cik akehe. Lha sing ireng? "&lt;br /&gt;"Podho.... " jare Wonokairun ambek ngarit suket.&lt;br /&gt;Bunali takon maneh.&lt;br /&gt;"Mangan sukete yo akeh pisan, mbah.. "&lt;br /&gt;"Yo... "&lt;br /&gt;"Pirang kilo mangane sakdino? "&lt;br /&gt;"Sing putih opo sing ireng? "&lt;br /&gt;"Sing ireng, wis "&lt;br /&gt;"Yo kiro-kiro limang kiloan"&lt;br /&gt;"Lha sing putih? "&lt;br /&gt;"Podho.... "&lt;br /&gt;Bunali bingung, laopo lek ditakoki kok kudu mbedakno sing putih tah ireng, wong jawabane yo podho ae.&lt;br /&gt;"Mbah, opoko lek tak takoni perkoro wedhusmu, sampeyan mesti leren takon sing putih tah sing ireng barang. Padahal masiyo putih utawa ireng, jawabanmu podho terus. Sakjane ngono onok opo? "&lt;br /&gt;"Ngene lho, sing putih iku wedhusku.... "&lt;br /&gt;"Lha sing ireng? "&lt;br /&gt;"Podho.......... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Njegur&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Onok juragan tambak jenenge Sablah, ngadakno sayembara.&lt;br /&gt;"Sopo ae sing wani njegur nang tambakku, bakal oleh hadiah Sepeda Motor " jare Sablah.&lt;br /&gt;Akeh wong sing ngumpul ndhelok sayembarane, tapi gak onok sing wani njegur Nang tambak.&lt;br /&gt;Masalae tambake isine dhudhuk Iwak, tapi boyo, nyambik, bajul lan sak panunggalane.&lt;br /&gt;Mergo gak onok sing wani njegur, hadiae digenti dhadhi montor kijang anyar.&lt;br /&gt;Tapi tetep ae gak onok sing wani njegor mergo merinding ndhelok boyone guedhe-guedhe mangap kabeh.&lt;br /&gt;Akhire ambek Sablah hadiae ditambah maneh, montor kijang anyar ambek omah sak isine.&lt;br /&gt;Tapi tetep ae gak onok sing wani njegur. Mari sepi meneng kuabeh, moro-moro Muntiyadi njegur nang tambak.&lt;br /&gt;Penontone keplok-keplok kuabeh ndhelok Muntiyadi gelut ambek boyo.&lt;br /&gt;Kiro-kiro wis  sak jam, akhire Muntiyadi tampil sebagai pemenang.&lt;br /&gt;Cumak yo ngono, awake dhedhel kuabeh.&lt;br /&gt;Wis mari ambekan, Sablah marani arep nyerahno hadiae, tapi Muntiyadi nolak.&lt;br /&gt;"Yo wis  tak tambahi duit limangatus juta" jare Sablah, tapi Muntiyadi tetep nolak.&lt;br /&gt;"Tak tambahi mas-masan sak kilo" jare Sablah maneh, Muntiyadi tetep gak gelem.&lt;br /&gt;" Wis  ngene ae, awakmu njaluk opo ae, tak turuti" jare Sablah gak gelem kalah.&lt;br /&gt;"Aku njaluk arek sing njungkrakno aku mau digowo mrene" jare Muntiyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASI   &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Yuk Jah lungo nang dokter anak ambek nggendong bayek.&lt;br /&gt;Gak sui yuk Jah diceluk mlebu, tibake doktere guanteng.&lt;br /&gt;Mari merikso bayeke, doktere takok nang yuk Jah, "Ning, arek iki ngombe ASI opo susu botol? "&lt;br /&gt;"ASI pak dokter..... " jare yuk Jah.&lt;br /&gt;"Wah lek ngono tulung aku perlu merikso susu sampeyan, " jare doktere.&lt;br /&gt;Yuk Jah nurut, klambine di bukak.&lt;br /&gt;Mari ngono ambek doktere diperikso alon-alon.&lt;br /&gt;Yuk Jah seneng ae, soale enak ambek doktere  kan ganteng pisan.&lt;br /&gt;Wis mari merikso, doktere ngomomg ngene, "Waduh ning, yo pantes bayek sampeyan kuru, wong sampeyan iku gak ndhuwe susu. "&lt;br /&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1233892045_0"&gt;Jare&lt;/span&gt; yuk Jah, "dhudhuk aku sing nyusoni pak dokter".&lt;br /&gt;"Lha sopo maneh lho? " doktere bingung&lt;br /&gt;"Aku iki ewange....... "&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kebon Semongko&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bunali pusing soale ben isuk ndhik kebon semongkone onok tembelek.&lt;br /&gt;Sak jane Bunali weruh lek sing ndhodhok Nang kebone ben isuk iku Wonokairun, Cuma gak wani nyeneni.&lt;br /&gt;Akhire Bunali Madang pengumuman sing tulisane ngene "ini kebunku, bukan WC mu!! "&lt;br /&gt;Dhadhak tulisane onok sing ngganti ngene "Ini pupukku, untuk kebun mu!!!!!! "&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ngelindur&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Muntiyadi turu ngeloni Romlah, bojone. Pas enak-enak turu, Romlah dhadhak ngelindur celuk-celuk pacare.&lt;br /&gt;"Mas Gembil....aku kangen mas. Mas Gembil peluklah aku...... "&lt;br /&gt;Krungu ngono Muntiyadi malih cemburu ngamuk-ngamuk gak karuan, Romlah langsung diseret nang jedhing.&lt;br /&gt;"Hayo ngomongo!!!! Awakmu pengen pethuk ambek Gempil tah???!!, " jare Muntiyadi mbentak bojone.&lt;br /&gt;"Iyo cak...... " jare Romlah.&lt;br /&gt;Langsung sirahe Romlah didelepno nang banyune bak mandi, cik kapok pikire Muntiyadi.&lt;br /&gt;Mari oleh sak menit Romlah gelagepen, ambek Muntiyadi sirahe diangkat terus ditakoni maneh.&lt;br /&gt;" Wis  saiki ngomongo maneh!!!awakmu sik pengen pethuk ambek Gempil tah???!!, "jare Muntiyadi maneh.&lt;br /&gt;"Iyo cak..... " jare Romlah.&lt;br /&gt;Langsung sirahe Romlah didelepno nang bak mandi luwih sui maneh, sik gak kapok ae arek iki pikire Muntiyadi.&lt;br /&gt;Mari oleh rong menit Romlah gelagepen, ambek Muntiyadi sirahe diangkat terus ditakoni maneh.&lt;br /&gt;"Hayo ngomongo maneh!!!awakmu sik pengen pethuk ambek Gempil tah???!!, " jare Muntiyadi maneh.&lt;br /&gt;"Iyo cak........ " jare Romlah.&lt;br /&gt;Muntiyadi tambah muntab. Pas arep didelepno nang banyu maneh, Romlah berontak terus takon nang Muntiyadi.&lt;br /&gt;"Sik tah cak, sampeyan yakin tah lek mas Gempil onok nang jero banyu? "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Putus Asa&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore-sore Muntiyadi jagongan ngelamun nang warung, pandangane kosong ambek tangane ngudek es teh.&lt;br /&gt;Moro-moro Paidi, koncone, teko ngageti terus nyaut ngombene Muntiyadi diglogok sampek enthek, karepe ngejak guyon.&lt;br /&gt;Muntiyadi nuangis gerung-gerung, koncone malih gupuh kabeh.&lt;br /&gt;"Wok!!Kon iku jarene tentara tapi kok cik gembenge, ngombemu tak saut ae nangis, " jare Paidi.&lt;br /&gt;"Sak dino iki apes thok uripku, " jare Muntiyadi.&lt;br /&gt;"Lho opoko, mbok menowo aku isok nulungi, " jare Paidi.&lt;br /&gt;"Isuk mau, aku dipecat mergo ngilangno bedhile komandan, " jare Muntiyadi.&lt;br /&gt;"Walah ngono ae lho, laopo se dipikir. Awakmu lak dhempal tah, dadi bodyguard utowo preman pasar sik payu, " jare Paidi.&lt;br /&gt;"Iku sik gak sepiro, mari dipecat, aku mulih gasik, pas sampek omah ndhadhak aku mergoki bojoku lahi indehoi ambek koncoku, " jare Muntiyadi.&lt;br /&gt;" Wis gak usah dipikir. Bojomu lak pancen ngono kelakuane, pegaten ae, wong wedhok sik uakeh sing tahes komes, " jare Paidi.&lt;br /&gt;"Iku sik gak sepiro. Aku wis  putus asa, katene &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1233892045_1"&gt;bunuh diri&lt;/span&gt; ae. Mari ngono aku tuku potas terus tak cambur es teh, bareng arep tak ombe dhadhak kon saut pisan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1233892045_2"&gt;Malam Pertama&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cak Mar sik tas rabi, lenger-lenger nang pos hansip koyok wong liwung. Gak sui Cak So liwat.&lt;br /&gt;"Mar, kon iku manten anyar gak tambah seger lha kok malah lungset nyaprut. Opoko kon iku Mar? "&lt;br /&gt;"Iyo Cak, aku kepikiran bojoku. " are Cak Mar.&lt;br /&gt;"Opoko bojomu iku, wong tak dhelok bojomu iku tahes ngono lho. " jare Cak So.&lt;br /&gt;"Ngene lho Cak. Aku iki biasa 'njajan'. Lha pas mari main malam pertama wingi, aku ngetokno duit seketan. Pikirku, arek wedhok sing bodine koyok ngene paling banter taripe seket ewu. Aku luali pol tibake iku bojoku dhewe. "jare Cak Mar.&lt;br /&gt;"Kon yo ngawur ae. Tapi wis  gak usah dipikir nemen-nemen, paling bojomu tersinggung sedhiluk terus mari ngono yo kangen ambek peno maneh. "&lt;br /&gt;"Aku kepikiran gak perkoro wedhi bojoku tersinggung" jare Cak Mar.&lt;br /&gt;"Lha opo lho masalae? " Cak So malih bingung.&lt;br /&gt;"Mari tak ke'i seket ewu, dhadhak aku disusuki selawe." &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-799141987905647318?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/799141987905647318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=799141987905647318&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/799141987905647318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/799141987905647318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/02/iseng.html' title='Iseng'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7196862687102769852</id><published>2009-02-04T22:55:00.000-08:00</published><updated>2009-02-04T23:40:49.042-08:00</updated><title type='text'>Anarkisme</title><content type='html'>Lakon Rama dan Sinta adalah salah satu kisah yang saya ingat betul waktu kecil, sejak bapak memperkenalkan epos Mahabharata di kisah pewayangan. Demikian pula kisah peperangan antara Pandawa dan Kurawa di Bharatayuda. Bagi saya, kedua kisah itu tidak hanya berbicara tentang yang bathil dan yang adil, tetapi juga menggambarkan kondisi abu-abu psikologis para tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Sang Rama yang tidak memercayai kesucian Sang Sinta sehingga harus repot-repot membakar isterinya guna mencari pembuktian. Kesetiaan sang isteri dipertanyakan, dan pernyataan Trijata diabaikan karena alam pikiran sang raja diamuk kecemburuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian halnya suasana hati Adipati Karna menjelang perang Bharatayuda di Padang Kurusetra. Sang Adipati merasa perlu tetap membela Kurawa yang ia ketahui bermandikan dusta, licik dan picik, hanya karena ia ingin menunjukkan betapa ia juga layak disebut ksatria keturunan Kunti, ibu para Pandawa, yang berani, teguh, percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua kisah itu pula saya mendapat gambaran penting bagaimana bersikap di tengah konflik. Ada Kumbakarna adik Rahwana, yang tidak mau membantu sang abang berbuat nista, tetapi ia rela mempertahankan negara saat diserbu pasukan kera. Lalu juga sikap Resi Bhisma, yang rela berjuang untuk Kurawa, karena terikat harga diri. Keduanya gugur dengan julukan pahlawan oleh kelompok 'putih', walau mereka membela kelompok yang bersalah. Keduanya menonjolkan sikap ksatria yaitu berani berbuat, berani pula bertanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan tentang kisah pewayangan dari tanah India itu seolah melekat pada kejadian di Sumatera Utara beberapa hari lalu. Saya tidak bisa membayangkan betapa ratusan orang memaksakan diri masuk ke dalam sidang paripurna DPRD memorakporandakan gedung yang dibangun dari uang pajak rakyat agar anggota dewan mendengar aspirasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, atas nama nafsu dan amarah sekelompok orang memaksa ketua dewan yang terhormat, memukuli hingga akhirnya ia meninggal dunia. Saya membayangkan orang-orang itu bermata merah bak raksasa, gigi berkeriut, dan ludah memburai saat meneriakkan makian, sumpah serapah. Seolah Abdul Aziz Langkat, Ketua DPRD TK I Sumut bertanggung jawab sepenuhnya atas belum tuntasnya pembicaraan pembentukan Provinsi Tapanuli. Massa mungkin lupa, bahwa sang ketua dewan baru dua bulan menjabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di tengah massa yang beringas, walau beberapa orang berusaha melindungi (hanya ada satu atau dua anggota polisi), Abdul Aziz Langkat menjadi bulan-bulanan pukulan. Gambar televisi dan foto menunjukkan sedikitnya dua pukulan mengenai wajahnya. Entah berapa lagi yang bersarang di tubuhnya. Entah pula apa yang ia alami saat ia ditarik dari dalam ruangan ke halaman gedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Massa bisa saja merasa benar saat beralasan mereka tengah memperjuangkan aspirasi masyarakat Tapanuli. Dapat dimengerti pula bila mereka mempertanyakan kelanjutan pembicaraan proses pemekaran itu, karena sudah dilakukan lebih dari setahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun peristiwa itu menjadi jauh bedanya dengan kisah kepahlawanan Kumbakarna, Resi Bhisma yang berjuang tanpa niat apapun selain membela diri. Massa yang bertindak anarkis layak dipertanyakan alasan dan tujuannya. Mereka juga tidak ksatria karena tidak berada dalam posisi diserang, bahkan mereka menyerang orang yang tidak bisa membela diri atau bersenjata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era reformasi rakyat Indonesia mendapat anugerah berupa kebebasan menyampaikan pendapat. Tidak ada Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) yang begitu berkuasa di era Soeharto, yang dapat menangkap dan menahan orang tanpa perintah pengadilan. Atau intel yang selalu memata-matai orang yang berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan ini diartikan sebagai sebuah hak yang bebas diekspresikan untuk apa saja, kepada siapa saja dan di mana saja (terutama di gedung dewan atau rumah para wakil rakyat). Itu sebabnya sering dijumpai aksi massa yang berujung pada anarkisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan saya Indy Rahmawaty bertanya ketika kamera sedang "on" kepada saya, dapatkah tindakan brutal massa propemekaran Provinsi Tapanuli disebut sebagai tindakan barbar? Saya langsung menjawab, ya. Itu tindakan barbar. Tanpa ada pustaka yang mendukung definisi apa itu tindakan barbar, saya merasa benar menyatakan hal tersebut. Alasan saya, orang berpendidikan (ada di antara massa yang mantan anggota dewan serta mahasiswa) akan mengedepankan akal bukan 'okol' atau otot dan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahwana adalah wakil citra orang yang menggunakan otot dan nafsu tanpa akal sehat. Demikian pula wangsa Kurawa yang ngiler melihat daerah kekuasaan Pandawa serta Burisrawa yang bernafsu melihat kecantikan Dewi Drupadi istri para Pandawa. Seluruh citra itu seolah melekat pada massa propemekaran Provinsi Tapanuli. Padahal saya yakin, masih ada di antara mereka  yang bisa berpikir jernih dan bersikap demokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah cederai demokrasi dengan anarkisme, karena terlalu mahal harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7196862687102769852?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7196862687102769852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7196862687102769852&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7196862687102769852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7196862687102769852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/02/anarkisme.html' title='Anarkisme'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-847116337706288110</id><published>2009-01-11T21:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-12T23:00:12.476-08:00</updated><title type='text'>Biopori</title><content type='html'>Dingin bangeeettt. Itulah yang saya rasakan dalam seminggu terakhir. Jakarta yang biasanya panas, lengket, berdebu dan polutif kali ini terasa segar, bahkan kelewat dingin. Badan Meteorologi dan Geofisika menyebutkan bulan-bulan ini adalah puncak musim penghujan di Indonesia terutama di Kawasan Barat. Artinya bersiap-siaplah kita menghadapi banjir dan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kawasan langganan banjir, Jakarta seharusnya sudah siap menghadapi penyakit menahun ini. Tidak boleh ada lagi kumpulan air yang menggenang berhari-hari seperti yang terjadi pada banjir besar Februari 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat ada dua langkah utama yang sudah dibuat aparat negara. Pertama pembangunan banjir kalan timur dan kedua peninggian jalan tol bandara Soekarno Hatta. Yang kedua memang tidak 'an sich' negara, karena pembuatnya adalah Jasa Marga, sebuah perusahaan/ BUMN yang berorientasi keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus yang pertama, saya melihat pembangunan yang tengah berlangsung di kawasan Jakarta Timur (dekat Pondok Kopi). Setiap lewat jalan tol lingkar luar Jakarta ke arah Cakung, saya menyaksikan penggalian saluran sebesar anak sungai. Rasanya ini adalah sepotong saluran penampung air limpahan hujan di Jakarta. Sayang sekali saya belum pernah mengonfirmasi status saluran itu ke otoritas banjir kanal timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun anehnya di tengah-tengah calon sungai/ kanal itu ada sebentuk bangunan yang tersisa. Bangunan itu berdiri sendiri karena samping-sampingnya sudah digerus. Kembali melalui pengamatan, saya merasa bangunan itu adalah mushala atau masjid kecil yang tidak segera dirobohkan untuk menyelesaikan saluran air. Kembali saya tidak berani berspekulasi tentang penyebab tersisanya bangunan soliter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika banjir kanal timur selesai dibangun, Pemerintah DKI berani menantang hujan dan banjir dengan jurus baru itu. Namun demikian, mengatasi banjir hanya dengan banjir kanal timur rasanya kok naif sekali. Apa iya saluran yang mengelilingi Jakarta itu dapat menampung air hujan dan buangan limbah lainnya. Masalahnya, masyarakat Jakarta menghadapi persoalan lingkungan yang pelik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jakarta masih menarik kaum pendatang. Artinya mereka membutuhkan tempat untuk tinggal dan menjadi beban tambahan bagi tanah Jakarta. Belum lagi pembangunan terus menerus baik di Jakarta maupun daerah penyangganya. Masih baik bila para pembangun menyediakan saluran pembuang atau drainase; kenyataannya lebih banyak yang mengabaikan dan air pun mengalir di jalan-jalan tak terarahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, kami mengundang seorang pencipta. Kamir Brata namanya. Dari tangannya tercipta benda sederhana berbentuk tongkat dengan ujung terbuat dari logam lancip dan tangkai seperti kemudi sepeda. Alat inilah yang dijadikan pengebor tanah untuk membuat lubang resapan bernama biopori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin membahas biopori secara teknis, tetapi betapa saya terkagum-kagum oleh sumbangsihnya/ Pak Kamir mengklaim, alat tersebut dapat membangun ekosistem tanah yang meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mencegah banjir. Memang terdengar utopis bila satu biopori akan menciptakan kondisi ideal itu. Tetapi, menurut beliau bila semua rumah tangga menyiapkan satu atau dua lubang resapan, maka betapa banyak lubang penampung air yang akan menjadi rumah bagi makhluk-makhluk kecil penyubur tanah seperti cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya yang memiliki sepetak tanah kecil untuk rumah bagi keluarga, saya sadar pentingnya ketersediaan ruang untuk ekosistem. Cacing, tanaman, kumbang, dan kotoran adalah lingkungan yang baik bagi dunia ini, kendati hanya berukuran kecil. Itu sebabnya kehadiran biopori saya pikir dapat membantu saya pribadi membantu pulihnya ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itu kan kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-847116337706288110?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/847116337706288110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=847116337706288110&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/847116337706288110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/847116337706288110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/01/biopori.html' title='Biopori'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6714363647776391519</id><published>2009-01-06T20:40:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T21:48:49.697-08:00</updated><title type='text'>Terkutuklah Perang</title><content type='html'>Dua kelompok anak berpakaian layaknya tentara bermain perang-perangan. Di kepala mereka terikat serumpun daun dan wajah coret hitam dari arang untuk kamuflase. Di tangan terlihat senapan dan pistol mainan dari pelepah pisang atau kayu. Mereka memperebutkan bendera di tengah kampung di sebuah kecamatan di Tangerang, Banten sebagai tanda kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan polah mereka, saya teringat masa lalu saat memainkan perang-perangan bersama teman-teman. Pelepah pisang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dibunyikan menyerupai suara tembakan. Yang lebih maju, kami membuat senjata dari semacam rumut yang kaku dengan amunisi kacang hijau. Jika ditiup, kacang hijau itu bisa membuat sakit siapa saja yang terkena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan perang-perangan selalu menarik untuk dimainkan. Selain melibatkan jumlah yang banyak sehingga terasa seru, kami juga merasa menjadi pahlawan karena membayangkan berhasil mengalahkan lawan bahkan penjajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tahun 1970-an, salah satu kegemaran saya adalah menonton film perang di telvisi. TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang ada saat itu seringkali memutar film perang antara Amerika /sekutu dan Jerman. salah satunya adalah film Baa baa Black Sheep (betul nggak, ya tulisannya?). Menyaksikan film perang saat itu membuat saya menghargai  pihak  Amerika yang selalu menang karena membela kebenaran dan membenci tentara Jerman yang menjadi penjahat dan menjajah dunia (baca Eropa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu perang jaman saat saya masih anak-anak. Perang dari kaca mata saya sebagai orang dewasa bahkan setua sekarang memiliki arti yang berbeda. Perang identik  dengan  kehancuran sebuah peradaban, lumatnya kemanusiaan dan  menyakitkan karena  kematian dan  penderitaan.  Mari kita lihat dampak itu mulai dari perang Teluk tahun 1990-an, saat Irak menginvasi Kuwait. Dilanjutkan dengan serbuan Amerika ke Irak sengan alasan untuk menumbangkan Saddam Hussein sekitar sepuluh tahun kemudian. Perang ini tidak bisa dikatakan selesai, karena menyisakan berbagai aktifitas bom bunuh diri yang menelan jiwa tidak sedikit. Dan kini kita disajikan peristiwa serangan Israel ke Jalur Gaza. Dalam waktu dua minggu sampai tulisan ini saya buat, hampir seribu orang tewas dalam pertempuran itu. Korban terbanyak tentu di pihak  Palestina, karena persenjataan kaum Yahudi begitu modern dan berskala besar. Ini yang paling menyedihkan, yaitu anak-anak yang tidak berdosa juga menjadi korban dengan jumlah seratur lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya jangan lupakan mereka yang luka-luka akibat bom, peluru, atau tertimpa reruntuhan. Tercatat jumlah itu 3000 lebih. Nyawa mereka terancam, karena Israel mencegati bantuan kemanusiaan. Dokter dilarang masuk, walau obat-obatan boleh. Cuaca dingin dan fasilitas medis yang minim adalah faktor pemberat situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang berani memastikan kapan penderitaan itu akan berakhir. Usaha-usaha dunia internasional menghentikan peperangan belum membuahkan hasil. Dewan Keamanan  PBB bak  singa ompong, karena resolusi yang diharapkan dapat menekan Tel Aviv diveto  Amerika  Serikat. Dunia Arab  juga terbelah sikapnya. Suriah nyata-nyata marah terhadap Israel, tetapi Mesir bersikap lunak dengan menyalahkan Hamas karena sengaja memprovokasi Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap pemerintah Indonesia yang berada di seberang lautan jauh lebih tegas daripada dunia Arab. Bahkan kalau bisa dibilang lebih luas daripada sekedar menyalahkan Israel. Dengan berunjukrasa di Kedubes AS dan permintaan boikot terhadap produk-produk seperti KFC, Mc Donald dan Coca Cola, sekelompok masyarakat Indonesia menjadikan perang Palestina sebagai bagian dari bentuk keprihatinan sendiri. Pemerintah AS dianggap melindungi Israel, kaum Zionis, yang perlu ditekan. Untunglah Presiden SBY mengingatkan kita bahwa pertempuran di Tanah Perjanjian itu bukan perang agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari alasan peperangan (dua pihak yang berperang pasti selalu menyalahkan lawannya), umat manusia kini tengah diuji. Dimanakah letak kemanusiaan? Perang memang selalu membawa korban, tetapi korban yang tidak perlu seperti anak-anak, orang tua dan wanita (kecuali yang jadi tentara) seharusnya diminimalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat lagu karya John Lennon: Imagine. Lagu yang sarat harapan tentang keindahan dunia bila tanpa perang; sesuatu yang rasanya musykil di saat-saat ini ataupun mendatang. Namun demikian harapan rasanya perlu selalu ditumbuhkan, dijaga dan disebarkan, harapan untuk dunia yang lebih baik. Ingat kata pepatah: Menang jadi arang, kalah jadi abu. Perang  tidak pernah mendatangkan keuntungan bahkan kerugian di kedua belah pihak. Jadi lebih baik damai. Atau paling jauh perang-perangan menggunakan senapan pelepah pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor, dor, dor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6714363647776391519?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6714363647776391519/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6714363647776391519&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6714363647776391519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6714363647776391519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/01/terkutuklah-perang.html' title='Terkutuklah Perang'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1522429860457768842</id><published>2009-01-01T22:07:00.001-08:00</published><updated>2009-01-02T03:00:59.554-08:00</updated><title type='text'>Met Taon Baru</title><content type='html'>Saya kagum, terpana, tercengang dan kemudian geleng-geleng saat melihat pesta kembang api pada perayaan tahun baru 2009. Di Serpong, Tangerang dekat rumah kami dan di televisi pada hasil penayangan liputan teman-teman. Indah,  gemerlap , seru  dan ...  mahal!  Angkasa malam yang gelap, menjadi bercahaya dengan warna beraneka ragam. Merah, kuning, hijau. Bentuknya pun bermacam-macam dengan suara khas ledakan petasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah hitung-hitungan yang muncul saat laporan (dari luar negeri, saya lupa negaranya) itu disampaikan  adalah  sekitar  Rp 50 miliar.  Di Indonesia menurut laporan yang saya dengar dan saya baca tidak  ada hitung-hitungan  serupa . Mungkin karena reporternya males cari data, tanya atau nggak pengen tahu, sehingga info yang seru itu tidak terekspos.  Atau penyelenggara enggan membuka diri dan memaparkan nilai uang yang dibakar di angkasa. Namun kalau dengan hitung-hitungan kasar di sebuah mal di Tangerang yang menyelenggarakan pesta kembang api dan menyediakan 17 satu bokor kembang api seharga 1 juta rupiah berarti 17 juta rupiah untuk menghibur warga Tangerang saja. Sebuah angka yang relatif kecil jika dibandingkan dengan biaya pesta di luar negeri yang saya singgung di atas. Hanya saja kemudian saya menjadi bertanya-tanya betulkah kita membutuhkan biaya sebesar itu untuk terhibur saat malam pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya saat kecil dulu, malam pergantian tahun bukan sesuatu hal urgent untuk dirayakan secara besar-besaran. Paling-paling kami berkumpul makan-makan, menonton televisi (saat itu hanya TVRI) dan praktis tidak ada ajakan untuk ke tempat keramaian atau begadang semalaman. Namun seiring waktu perubahan bergerak menuju  ke hedonisme  dan pemuasan  nafsu.  Mengapa  saya menyatakan itu, karena saya tidak pernah membayangkan betapa pergantian tahun dirayakan salah satunya dengan belanja. Betapa serunya sejumlah pusat perbelanjaan membanting harga barang-barang dagangannya di tengah malam sesaat sebelum pk 00.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa pentingkah kita merayakan tahun baru? Itu juga pertanyaan saya. Toh harinya sama saja. Matahari terbenam di ufuk Barat dan terbit di Timur. Jumlah jamnya pun tetap sama 24 jam dengan sedikit variasi pada cuaca berupa hujan atau tidak di daerah khatulistiwa atau salju di belahan utara. Mengapa sebagian orang perlu berhura-hura merayakan pergantian tahun? Kalaupun perlu diperhatikan tidakkah lebih baik dengan  berintrospeksi, merenung, mengevaluasi  diri  terhadap apa yang sudah kita kerjakan 12  bulan  sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang senang akan  tahun yang baru, ia dapat  menyatakan  penyebabnya adalah harapan  di masa  mendatang.  Hari esok selalu membawa harapan jika kita melihatnya dengan rasa optimistis. Namun kembali muncul pertanyaan: setiap hari kan juga membawa hari esok, jadi apa bedanya dengan tahun baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waahhhh, apa sih maksudmu, Indi?  Kok repot ngurusin perlu tidaknya perayaan tahun baru? Biarin dong kalau orang mau hepi. Toh tidak salah dengan membuat orang hepi dengan cara masing-masing atau ada orang mau hepi dengan cara sendiri, baik belanja, makan-makan, atau merenung. Iya toh iya toh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat berita saat penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 30 Desember 2008. Saat itu para pialang, staf dan orang yang bekerja di BEI di Jl. Sudirman Jakarta berpesta tanpa terompet, sebuah gambaran betapa suasana muram karena krisis global masih terasa. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang selalu meriah, karena BEI saat masih bernama BEJ termasuk bursa terbaik di Asia bahkan dunia. Tetapi kini BEI nomor tiga terburuk di dunia, karena Indeksnya jatuh lebih dari 50%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah kita melihat tahun baru selain penuh harapan juga penuh kehati-hatian. Tidak ada yang bisa memastikan tahun depan mendatangkan harapan yang lebih baik dari tahun ini. Oleh sebab itu mengapa kita tidak lebih bijaksana membelanjakan uang, membakar berjuta-juta rupiah di udara hanya untuk kesenangan sesaat. Atau belanja barang-barang berdiskon untuk memuaskan impuls kesenangan beberapa jam saja. Pernahkah kita berpikir lebih panjang untuk bersikap hati-hati menghadapi ketidakpastian esok hari? Yang pasti saya melakukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun baru 2009&lt;br /&gt;indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1522429860457768842?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1522429860457768842/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1522429860457768842&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1522429860457768842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1522429860457768842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2009/01/met-taon-baru.html' title='Met Taon Baru'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2769416567825195741</id><published>2008-12-29T15:47:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T16:59:48.704-08:00</updated><title type='text'>Pulang Kampung</title><content type='html'>Penyakit menahun adalah salah satu masalah kami keluarga asli Jawa ini, yaitu mudik. Alasan pertama kebutuhan mengisi liburan anak-anak, kedua, yang paling penting mencari makanan kampung hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama sih bisa dilakukan tanpa pikir panjang, karena ... ya sekedar jalan-jalan mengisi liburan para precil yang sudah mulai gampang protes kalau bapak mereka kelamaan kerja. Nah yang kedua ini harus dipikirkan masak-masak. Maklum tempatnya kan banyak jadi harus ada pengaturan waktu, tempat yang harus dikunjungi, bujet dab perut (maklum usia bertambah sehingga jenis dan jumlah yang dapat ditolerir menjadi terbatas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena belum bisa cuti, saya manfaatkan hutang libur yang sebelumnya sehingga ada cukup waktu untuk melesat ke Madiun. Lho kok Madiun? Ya namanya sudah nggak punya orang tua kandung, akhirnya keluarga mertualah yang jadi sasaran tujuan. Oh ya jangan salah, cukup waktu artinya bukan seminggu apalagi dua minggu; itu hanya empat hari ya empat hari. Pokoke cukup untuk memenuhi dua hal itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan alasan yang pertama, karena kewajiban suddah dipenuhi dengan pemenuhan yang kedua hehehe. Makanan kampung bagi saya  lebih sophisticated daripada makanan modern alias yang banyak ditemui di rumah makan, restoran dan mal. Walaupun sudah banyak makanan kampung yang masuk mal, dijual di restoran dan hotel, rasanya kok ya lebih afdhol makan makanan kampung di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa bayangkan dijual di pinggir jalan, dalam bentuk kaki lima atau rumah makan dengan dinding gedek (bambu yang dianyam), dan masak mungkin jarang cuci tangan. Tapi rasanya dan atmosfernya itu lho....hmm...irreplaceable. Tapi kalau dipikir-pikir ini bukan sekedar rasa di lidah, tetapi juga di hati dan memori. Ada relung-relung benak yang terisi oleh ingatan betapa menyenangkannya menikmati makanan kampung di tempat asalnya. Yaaach...romantisme masa lalu kira-kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan yang saya incar adalah jajanan pasar di Pasar Kawak Madiun, Pecel Madiun Edi dan Bakso 77. Sekali lagi makanan-makanan itu bisa ditemui dengan mudah di Jakarta atau kota besar lainnya, tetapi kok ya masih lebih enak kalau menikmatinya dari tempat asalnya. Misalnya Pecel Edi yang berisi nasi, sayur, siraman saus kacang, rempeyek yang disajikan (nah ini mungkin bedanya) di pincukan daun pisang. Pelengkapnya ada telur mata sapi, daging empal, telur balado atau jerohan goreng. Sama kan? Terus baksonya ya sama, wong cuma glundungan bakso sebesar telur ayam dan somay. Demikian pula jajanan pasarnya: kue bugis, nagasari, pastel, dsb. Sama lagi kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kok rasanya menurut saya (mungkin bertambah dengan romantisme masa lalu) kok ya lebih enak. Tak percaya? Coba deh, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa makanan menurut saya sangat subyektif. Ada pengaruh-pengaruh internal dan eksternal, budaya bahkan pengetahuan. Contohnya makanan Jawa Tengah yang bernuansa manis tentu dianggap tidak enak oleh penduduk non-Jawa Tengah. Alhasil saya tidak pernah percaya pada acara-acara wisata makanan yang disajikan oleh banyak tv dan dilabeli mak nyusss. Bagi saya itu hanya sekedar pengetahuan. Pengalaman menikmati makanan dan rasa makanan adalah dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu pulang kampung bagi saya tetap menjadi ritual menarik, karena ada perjalanan nostalgia dan menjelajah masa lalu melalui makanan-makanan kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2769416567825195741?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2769416567825195741/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2769416567825195741&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2769416567825195741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2769416567825195741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/12/pulang-kampung.html' title='Pulang Kampung'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7256717532375081168</id><published>2008-12-21T21:21:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:15:15.507-08:00</updated><title type='text'>Kisah Sedih di Hari Ibu</title><content type='html'>Seorang anak menangis di pelukan ayahnya, sementara ibunya berusaha menarik sang anak. Sejurus kemudian sang anak menjambak rambut ibunya dan berseru: Tidak mau, tidak mau! Aku lebih suka bersama papa. Mama jahat! Itulah tayangan yang mengawali program kami di Senin pagi ini tepat pada Hari Ibu. Disaksikan puluhan pasang mata, sepasang suami isteri (kabarnya sudah bercerai) memperebutkan anak ketiga mereka di sekolah sang anak di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan saya menerawang jauh ke masa kecil saya. Sebagai anak kolong (sebutan bagi anak anggota ABRI sekarang TNI), saya tidak memiliki kemewahan bertemu alm. bapak dalam waktu yang cukup. Selain kerap berpindah tugas, beliau pun wafat saat saya masih berusia 13 tahun. Waktu yang cukup lama untuk membongkar kembali ingatan itu. Salah satu yang saya ingat adalah betapa bapak yang fotonya gagah terbaring lunglai akibat stroke karena darah tinggi. Saya membayangkan betapa beliau pasti kehilangan kebanggaan menjadi kepala rumah tangga yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan keluarga. Kemudian tampillah ibu saya mengurusi kami semua berenam sebelum beliau terbaring sakit dan wafat 17 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang dan jerih payah mereka berdua membuat saya merasa tidak berguna karena saya tidak sempat membahagiakan mereka saat ini. Saya bisa membayangkan betapa mereka bahu membahu untuk memastikan anak-anak mereka mendapat makanan yang cukup, pakaian yang baik, sekolah yang lancar dan masa depan terjamin. Walau bapak tidak sampai membangun dinding keberhasilan anak-anaknya secara tuntas, minimal ia telah memastikan dinding itu berdiri secara kokoh dan ke arah yang tepat. Sementara ibu membuat dinding itu penuh dekorasi keindahan dalam budi pekerti dan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke tayangan tadi, saya kemudian mengasihani sang anak yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak. Sedikitnya Rafael demikian nama nak itu mengalami dua kerugian. Pertama ia mengalami trauma batin akibat menjadi bahan rebutan kedua orang tua kandungnya. Alih-alih harus melindungi sang anak dari buruknya dunia, keduanya justru menunjukkan bahwa mereka adalah sumber bencana bagi sang anak. Bahkan diperlukan dua&lt;br /&gt;ibu guru untuk membuat sang anak merasa aman. Kedua sang anak secara tidak langsung tertekan oleh lingkungan yang menyaksikan betapa kedua orang tuanya bukan orang tua yang bijaksana dalam menyelesaikan persoalan. Ia akan menjadi bahan gunjingan lingkungan baik yang simpati maupun yang menyakiti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya saya mengetahui dua rumah tangga yang tercabik dan berujung pada perceraian serta perebutan hak asuh anak. Satu yang menjadi tamu dialog program kami dan satu lagi rekan sejawat saya di kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu dialog kami seorang bintang sinetron menyatakan sudah enam tahun mengusahakan agar anaknya jatuh ke pangkuannya. Dua hasil pengadilan baik di tingkat awal maupun banding memenangkannya. Suaminya tidak puas mengajukan kasasi dan hasilnya masih menunggu. "Hebatnya", walau putusan bersifat serta merta, yang artinya sang anak harus dikembalikan kepada sang ibu, eksekusi tetap tak dapat dilakukan. Sang suami dan keluarganya menghilangkan jejak sang anak agar ibunya tak dapat memeluknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kasus lagi serupa tapi tak sama. Rekan saya harus menempuh ratusan kilometer untuk dapat bertemu buah hatinya dan menemukan sang putri yang berusia 6 tahun menyebutnya sebagai tante. Teman saya itu tak dapat berbuat banyak, walau pengadilan memutuskan hak asuh anak ia menangkan. Penyebabnya ia tak dapat melawan kekuatan mantan suami yang seorang aparat negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kasus itu memiliki latar belakang dan proses yang sama sebelum bermuara pada perceraian dan rebutan anak; yaitu kekerasan dalam rumah tangga. Suami kerap berlaku ringan tangan dan kaki terhadap isteri. Perlakuan sebagai sansak hidup ini perlahan membuat isteri yang dipercaya berasal dari tulang rusuk kaum pria tidak lagi merasa terlindungi dan percaya pada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sialnya di hampir sebagian besar kasus perebutan anak menyebabkan sang anak menjadi korban atau obyek. Seorang psikolog menyatakan kemampuan verbal yang belum sempurna menyebabkan anak tidak dapat menyuarakan kata hati yang layak diperhitungkan. Pertanyaan berikutnya, di mana hak anak dalam kasus ini? Seorang pejabat Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak memiliki hak di antaranya untuk merasa aman, mendapat pendidikan untuk masa depannya dan hak bermain. Di antara ketiga hak itu anak-anak korban perceraian mungkin hanya memperoleh satu atau paling banyak dua. Yang pasti ia  akan tidak aman karena kedua orang tuanya berseteru dan mengabaikan rasa amannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya kembali menerawang  puluhan tahun  lalu. Pernah saya  melihat bapak ibu saya bertengkar di hadapan kami anak-anak, karena masalah orang ketiga. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah saya merasa betapa rumah saat itu kehilangan kenyamanan.  Untunglah pertengkaran itu tidak sampai berlanjut ke tingkat yang lebih buruk, namun tetap saja saya bisa merasakan betapa anak-anak kehilangan kepercayaan bila sesuatu terjadi pada orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mau hal itu terulang pada anak-anak saya sekarang. I promise.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7256717532375081168?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7256717532375081168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7256717532375081168&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7256717532375081168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7256717532375081168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/12/kisah-sedih-di-hari-ibu.html' title='Kisah Sedih di Hari Ibu'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8494870836266932113</id><published>2008-12-01T00:06:00.000-08:00</published><updated>2008-12-01T00:37:36.099-08:00</updated><title type='text'>Shabu-shabu vs Bogana</title><content type='html'>Ini adalah istilah yang bisa bikin orang merinding atau kenyang. Yang pertama adalah karena barang haram alias narkotika. Sedang yang kedua adalah makanan khas Jepang. Itulah yang kami nikmati saat akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah untuk memutuskan makan di rumah makan Jepang bersama keluarga. Masalahnya, saya terbiasa untuk makan karya nyonya rumah untuk shabu-shabu. Ya, saya rasa, shabu-shabu karya isteri saya patut diacungi jempol (hehehe Anda yidak boleh ngiri atau protes, lagu pula siapa lagi yang bisa memuji kalau bukan suaminya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir pekan lalu, saya anggap keluarga kami sudah biasa makan di kawasan BSD, Tangerang; jadi saatnya untuk menjelajah kawasan kuliner lainnya. Jadilah kami mengarah ke Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tujuannya restoran Jepang. Sumpah, saya belum punya referensi restoran Jepang kecuali di Mal Kelapa Gading, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rada ngeri juga kalau saya diprotes para precil dan ibunya jika saya gagal memuaskan mereka. Maklum saya berpromosi gencar untuk membawa mereka makan siang dengan gaya berbeda.&lt;br /&gt;Dimulai dengan kesulitan mendapatkan parkir. Kami berputar-putar untuk mendapatkan ruang. Setelah hampir satu jam, ada tempat di Basement 3. Jauuuh di bawah tanah. Fiuuuh, saya masih bisa menyelamatkan muka, karena para pengikut setia hampir putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keliling punya keliling, kami temukan Shabu-Tei di lantai 3. Tapi...ini yang repot. Antreee...padahal waktu sudah menunjukkan pk 14 WIB. Perut sudah teriak-teriak, kaki sudah gemetar dan kerongkongan sudah mengering. Rapat singkat menyepakati untuk mencari tempat lain. Eh, ketika kami mau beranjak, satu demi satu mereka yang berbaris di depan kami beranjak pergi. Saya beranikan untuk maju ke kasir. Ada seorang pria paruh baya menemui kami. Akhirnya, horeee... kami diminta menunggu sekitar 5 menit untuk menyiapkan dan membersihkan meja untuk kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shabu-shabu untuk dua orang, seporsi tempura sayuran, dua porsi sushi ayam dan salmon serta minuman adalah makanan yang rasanya begitu banyak dan belum pernah kami pesan sebelumnya.  Tapi  apa yang terjadi, semua tandas.  Konstituen saya sukses menandaskan semua makanan itu. Bahkan si kecil minta lagi seporsi Banana Split. Ckckck...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak, tapi kantung juga mengurus dengan segera. Tapi karena diniati ya sudahlah. Untungnya ada diskon, karena pakai kartu kredit, ada potongan 25%. Lumayanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih soal makanan, rapat rutin saya awal minggu di kantor kami buka dengan makan siang. Wah, menunya berbeda dan boleh juga. Biasanya, kalau tidak masakan Padang, ya Gado-gado. Kali  ini  yang tersedia adalah Nasi Bogana . Nasi campur dari Tegal Jawa Tengah ini dibungkus dengan  daun pisang tersembunyi di balik kotak  berukuran sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi perut saya yang tidak besar, ukuran nasi Bogana ini sangat tepat. Pas untuk menghalau rasa lapar, namun tidak sampai kekenyangan. Kasihan buat rekan-rekan saya yang biasa gembul. Jadinya mereka harus menambah beberapa gelas air minum untuk mengenyangkan perut. Masalahnya mereka tidak bisa tambah, karena jumlah nasi yang sesuai peserta rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesamaan dari kedua jenis makanan itu adalah sama-sama memuaskan lidah dan perut saya. Akhirnya saya teringat kriteria makan enak karya saya sendiri. Saya simpulkan ada 3 kriteria makan enak, yaitu:&lt;br /&gt;1. Makanlah saat lapar. Seorang bijak menyebutkan, lauk terbaik saat makan adalah rasa lapar itu sendiri. Makanan pasti jadi sangat nikmat. Namun rasa makanan seberapapun mahalnya akan tidak memuaskan bila perut Anda sudah kenyang dan perut mulai menolak tambahan lagi.&lt;br /&gt;2. Makanlah bersama teman, kerabat, orang yang Anda cintai. Amsal Salomo menulis, betapa enaknya makan bersama saudara tanpa disertai perbantahan. Bayangkan betapa tidak enaknya makan sendirian atau bersama musuh.&lt;br /&gt;3. Nah, ini yang paling penting. Makan bila dibayari alias gratis. Hehehe. 2 hal di atas tambah gratisa. Hmmmmm. Endang bambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju?&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8494870836266932113?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8494870836266932113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8494870836266932113&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8494870836266932113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8494870836266932113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/12/shabu-shabu-vs-bogana.html' title='Shabu-shabu vs Bogana'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5367967935355893725</id><published>2008-11-26T22:12:00.000-08:00</published><updated>2008-11-26T23:48:23.129-08:00</updated><title type='text'>Melindungi Anak-anak</title><content type='html'>Dalam dua hari, berturut-turut program Apa Kabar Indonesia Pagi menghadirkan persoalan anak-anak; walaupun bukan semua narasumbernya anak-anak. Pertama soal majunya jam sekolah SD, SMP dan SMA di Jakarta mulai awal tahun 2009, peristiwa penculikan dua siswi SD kelas 6 dan pelatihan merakit robot untuk anak-anak. Materi perbincangan saat itu saya nilai begitu dekat dengan kehidupan keseharian orang tua dan anak-anak, walau dalam ruang lingkup yang lebih sempit yaitu Jakarta dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pengumuman menyentak warga Jakarta. Wakil Gubernur DKI Prijanto menyatakan mulai 2 Januari 2009 jam sekolah dimajukan 30 menit dari pukul 07.00 menjadi 06.30 WIB. Alasannya, jam keberangkatan anak-anak ke sekolah menyumbang kemacetan di Jakarta. Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah DKI menyebutkan sumbangan kemacetan itu mencapai 14 persen, sehingga dinilai adalah penting untuk mengurangi kemacetan melalui jam masuk sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak adalah alat atau barang atau benda mati yang sekedar angka statistik mungkin saja mengatur jam masuk sekolah menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Faktanya anak-anak adalah manusia yang mengenal lapar, haus, mengantuk, marah dan kondisi emosional lainnya. Mereka bukan sekedar obyek yang dapat dengan mudah diatur tanpa memperhitungkan kondisi psikologis dan petumbuhan fisik dan mental. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasan penting birokrat pemerintah Jakarta tentang keuntungan berangkat lebih pagi adalah anak-anak yang beragama Islam akan dapat melaksanakan ibadah sholat subuh yang akan meingkatkan keimanan mereka. Selain itu mereka juga dapat menghirup udara segar yang belum terpolusi jika kendaraan belum banyak berlalu lalang di jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun alasan indah dan cita-cita itu terdengar terlalu muluk. Pertama, birokrat rasanya tidak memperhitungkan beban yang akan ditanggung para pelajar, ketika mereka harus bangun lebih pagi. Mungkin saja (memang masih menggunakan kata mungkin) mereka belum cukup istirahat, karena saat mereka pulang toh mereka akan berhadapan dengan dengan kemacetan sehingga belum tentu cepat sampai ke rumah dan beristirahat. Kemudian, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pelajar sekarang mendapat beban pelajaran yang banyak sehingga secara psikologis keharusan bangun pagi bisa mmebuat mereka lebih lelah (lagi-lagi ini masih kemungkinan). Namun yang ini pasti bukan mungkin, yaitu ketika seorang anak tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk sekolah ia harus berhadapan dengan ketidakpastian memperoleh angkutan umum di jalan raya. Seorang anak dari keluarga mampu dapat beristirahat atau bahkan tidur lagi di mobil, tetapi jika ia dari keluarga tidak mampu, ia harus menunggu angkot atau metromini atau bajaj yang balum tentu dapat dipastikan jadwalnya. Alhasil ia bisa menjadi 'korban' kondisi yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kedua adalah tentang penculikan anak kelas 6 SD di Tamansari Jakarta Barat. Dengan iming-iming akan diikutkan lomba menulis indah, seorang wanita paruh baya berhasil membawa Egi dan Nanda. Keduanya sempat mempertanyakan keabsahan ajakan itu, tetapi dengan alasan telah memperoleh ijin dari kepala sekolah sang wanita berhasil memperdaya kedua bocah. Dari Jakarta Barat mereka dibawa ke Mal Kalibata, Jakarta Selatan dan ditinggal di sana setelah kalung emas salah seorang di antaranya diambil. Masih beruntung anak-anak itu hanya diambil perhiasannya, hal yang lebih buruk lagi, mereka dapat diculik dan dijadikan budak, atau pengemis atau pekerja seks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orangtua mengajar anak mereka untuk  berhati-hati terhadap orang asing. Langkah itu sudah benar, sayangnya belum cukup. Keluguan anak-anak sering dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Seperti kisah di atas, sang penculik menggunakan nama kepala sekolah sebagai alasan yang kemudian dipercaya anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak rasanya perlu diajak lebih kritis, diperjatikan lebih mendalam dan dilindungi di setiap zona. Mulai dari rumah, jalan hingga sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir tentang pelatihan merancang robot. Begitu saya melihat beberapa unit robot mainan yang digelar di panggung. Mata saya berbinar (kalau Anda menyaksikan lebih seksama, hehehe. Pati tidak ya). Terus terang di dalam diri saya keinginan menjadi anak-anak terus membara. Itu sebabnya saya senang membaca buku fiksi, komik, melihat dan kadang bermain games. Kembali pada robot tadi, betapa saya menyaksikan betapa dua anak, masing-masing Michael 5 tahun dan Anastasia 9 tahun memiliki keinginan luar biasa untuk menciptakan benda yang lebih dari sekedar mainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael membuat mainan mobil-mobilan yang rumit dan berbentuk bat-mobile, yaitu mobil Batman sang jagoan. Kemudian Anastasia membuat miniatur portal yang bisa naik turun dengan menggunakan sensor gerak. Anda bisa bayangkan dengan usia semuda itu mereka berhasil menciptakan benda-benda yang sepertinya di luar kemampuan normal anak-anak berusia sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah bersyukurnya kedua bocah itu memperoleh lingkungan yang begitu kondusif sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan seluas-luasnya. Orangtua yang mendukung secara moral dan material. Tempat latihan membuat robot yang berisi tenaga-tenaga muda yang sabar namun mumpuni dalam membimbing. Alhasil kita boleh berharap Michael dan Anastasian akan menjadi dua dari sekian banyak anak-anak yang akan mengharumkan nama bangsa dengan karya-karya yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak identik dengan bersenang-senang dan bermain. Namun di usia merekalah orang tua mendapatkan waktu yang tepat untuk membimbing, membentuk dan mengasah kemampuan mereka hingga sempurna. Namun juga menjadi kewajiban orang tua dan lingkungan untuk melindungi mereka dari pedang jahat orang-orang yang tak bertanggungjawab yang hendak memisahkan mereka dari masa depan dan kehangatan keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5367967935355893725?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5367967935355893725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5367967935355893725&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5367967935355893725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5367967935355893725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/melindungi-anak-anak.html' title='Melindungi Anak-anak'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3006411207985176107</id><published>2008-11-23T05:55:00.000-08:00</published><updated>2008-11-23T06:31:19.509-08:00</updated><title type='text'>Mal-ku sayang, mal-ku gemilang</title><content type='html'>Siapa bilang hari-hari ini adalah saat-saat kelabu di dunia finansial? Bursa dunia boleh jatuh dan nilai tukar Rupiah nyungsep terhadap Dollar AS ke hampir Rp 13.000 per Dollar. Angka pengangguran dikhawatirkan meningkat tahun depan dan para buruh menolak Surat Peraturan Bersama 4 Menteri yang menyatakan kenaikan Upah Minimum Provinsi tidak boleh lebih dari pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6 persen; padahal inflasi sudah sampai ke angka 12 persen. Nyatanya masyarakat masih bisa bergembira ria dan membuang uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan dan pernyataan saya itu bisa membuat banyak orang berang. Boleh saja, tetapi saya punya data empiris yang begitu kasat mata. Inilah pengalaman saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung Sabtu kemarin anak sulung saya, Jojo berulangtahun ke 12, kami sekeluarga merayakannya secara sederhana dengan makan bersama. Siang hari sekitar pukul 13, kami menuju Summarecon Mal Square (SMS) di Gading Serpong, Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju tempat parkir adalah sebuah perjuangan tersendiri. Padat. Hampir tidak ada ruang  kosong untuk memasukkan mobil kecil kami. Mobil berbagai merek dan ukuran memenuhi lahan parkir dai dalam dan luar gedung. Setelah berputar-putar hampir 15 menit, tempat pun terbuka karena sebuah mobil meninggalkan parkiran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tujuan lain kecuali makan, namun yang terpampang di mal itu adalah lautan (mungkin saya berlebihan menggunakan istilah ini) manusia, karena begitu banyaknya pengunjung mal siang itu. Di ruang tengan mal juga ada obralan sepatu dan sandal yang padat calon pembeli atau yang hanya sekedar "window shopping". Wow, seru saya dalam hati. Mana nih krisis yang katanya bikin dunia panas dingin. Kayaknya semua berjalan mulus, karena bisnis di SMS jalan lancar dan orang masih berjubel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, mal saat ini adalah salah satu ruang publik, yaitu tempat publik berkumpul dan menikmati hari. Nyatanya mal adalah tempat bisnis yang berubah tujuan wisata masyarakat. Hampir di setiap akhir pekan, mal penuh sesak manusia. Mereka bisa berbelanja, cuci mata, makan-makan atau sekedar "see or to be seen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya dengan angin krisis  yang menerpa seperti sekarang, logikanya akan semakin banyak orang mengurangi konsumsi. Kalau makan, ya "downgrade" jenis makanan dan harganya. Belanja, ya mengurangi jumlahnya, atau memprioritaskan hanya yang sangat penting dan mendesak. Itu berarti kunjungan ke mal berkurang, korelasinya dalah jumlah pengunjung menurun. Betul? Nah, ini. Faktanya? Saya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa mendesak saya untuk membuktikan angka penurunan itu. Sialnya saya memang hanya memandang dan tidak menghitung angka dan membandingkannya mulai dari awal sebelum krisis hingga sekarang. Namun (saya nggak mau kalah) selain pengunjung di selasar, di toko-toko yang penuh, tempat makan menjadi salah satu acuan saya. Penuh. Ckckck. Memang luar biasa. Tempat makan yang menurut saya kualitas makanannya biasa-biasa saja laku keras. Jadi siapa bilang orang mengurangi ongkos atau biaya "entertain" diri dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah makan di Jia Noodle, yang menurut kami not bad dan  menguras dompet, kami langsung pulang. Hujan menerpa keras kawasan Tangerang. Angin bertiup nyaris menerbangkan payung yang menudungi kami ke tempat parkir kendaraan. Saya teringat sebuah lagu lawas yang juga judul sebuah film "Badai Pasti Berlalu". Yah, badai pasti berlalu. Be optimistic-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3006411207985176107?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3006411207985176107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3006411207985176107&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3006411207985176107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3006411207985176107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/mal-ku-sayang-mal-ku-gemilang.html' title='Mal-ku sayang, mal-ku gemilang'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8988942280227678297</id><published>2008-11-19T23:41:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T00:25:23.447-08:00</updated><title type='text'>Grafologi</title><content type='html'>Mulai saat ini saya berjanji (ini sebetulnya salah satu beban, karena yang lama pun belum terpenuhi) untuk selalu menuliskan kesan saya terhadap tamu-tamu dialog saya di Apa Kabar Indonesia Pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah terpikir untuk menyelesaikan persoalan kejiwaan dengan hal-hal di luar diskusi berupa curhat atau dialog. Hari ini salah satu tamu dialognya adalah seorang psikolog yang khusus menangani para kliennya dengan tulisan. Artinya klien ia suruh menulis, tulisannya dianalisa dan diberi saran atau terapi juga dengan cara menulis. Aneh kan? Minimal bagi saya hal itu tidak masuk diakal. Ini adalah lanjutan dari dialog sehari sebelumnya, yang kami anggap kurang cukup waktu walau menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbak Shinta, Sang psikolog itu bertutur kata lembut yang rasanya tipikal wanita penyabar. Jilbab yang digunakannya menambah kesan anggun. Yang menarik kalimat-kalimatnya meluncur dengan lugas seperti berbicara pada anak-anak sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama seorang anak autis berusia 14 tahun dan ibunya, sang psikolog menggambarkan betapa grafologi berhasil menyelesaikan banyak masalah psikologi. Irsyad demikian nama sang anak di masa kecilnya digambarkan tidak dapat menulis, berbicara dan tidak mau menatap mata lawan bicara. Dari tulisannya, menurut Mbak Shinta tidak menggambarkan kepribadian yang bertumbuh. Setiap kata berukuran sama, tidak berjarak, dan seperti cakar ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui terapi selama hampir setahun, lewat perbandingan jenis tulisan sebanyak tiga buah, Irsyad mengalami kemajuan. Ia mau menatap lawan bicara lebih lama, berbicara lebih panjang dan dapat duduk tenang. Tulisan-tulisannya sudah berbeda. Ukuran, jarak dan kejelasan tulisannya sudah terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grafologi, menurut psikolog lulusan Amerika itu digunakan untuk meyelami kepribadian seseorang. Hal ini terlihat dari bentuk tulisan, ukuran, kejelasan huruf dan kata-katanya serta cara penulisannya. Secara umum area menulis dibagi menjadi tiga zona, yaitu atas, tengah dan bawah. Bagian atas, contohnya  huruf k, l, h dan d seperti halnya bagian kepala menunjukkan imajinasi. Zona tengah, contoh huruf a, c yaitu badan adalah kawasan materialistik dan bagian bawah. Sedangkan daerah bawah seperti untuk huruf g, j, dan y menggambarkan kekokohan diri dan nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki keseimbangan diri haruslah mampu mengekspresikan dirinya dalam bentuk tulisan yang mencakup ketiga area. Jika tidak, salah satu area tidak akan terlingkupi dalam setiap huruf yang digoreskan. Di situlah masalahnya, sehingga cara penyelesaiannya pun diarahkan dengan menulis secara tepat sesuai zona-zona yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat mengkritisi ilmu itu, dengan mempertanyakan penerapannya pada bentuk tulisan yang dibuat-buat terutama pada tulisan indah. Shinta menyatakan tulisan boleh dibuat-buat, tetapi ada goresan-goresan yang menjadi ciri yang tidak bisa dibohongi. Ya untuk itu perlu sekolah khusus. Itu bedanya dengan sekolah psikologi biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shinta mmpersilakan teman-teman yang bersedia tilisannya dianalisa, termasuk saya. Yang membuat saya bangga, tulisan saya dikomentari sebagai gambaran orang yang tegas, detil dan to the point alias nggak mau bertele-tele (Asyiiik, kayaknya emang sih, hehehe). Beramai-ramailah kami mengantre tulisan untuk dikomentari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selesai acara, saya meminta nomor telepon sang psikolog, karena saya pikir boleh juga nih anak-anak saya diteliti kondisi emosionalnya. Maklum anak-anak itu tidak pernah dalam kondisi seperti saya kecil yang penuh perjuangan. Apalagi si perempuan kecil buah hati saya, yang keras kepribadiannya, maunya menang sendiri dan sering menantang orang tuanya, tetapi cengeng dan kolokan. Mungkin berguna pula untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8988942280227678297?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8988942280227678297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8988942280227678297&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8988942280227678297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8988942280227678297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/grafologi.html' title='Grafologi'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3022156039038790258</id><published>2008-11-08T05:54:00.000-08:00</published><updated>2008-11-08T08:12:23.135-08:00</updated><title type='text'>Durian Medan</title><content type='html'>Saat itu tidak ada yang lebih menyebalkan daripada tidak bisa berlibur setelah seminggu penuh bekerja ekstra padat. Itulah yang terjadi pekan ini. Lima hari penuh saya harus bekerja pagi-pagi buta hingga malam tiba atau lebih dari dua belas jam. Jumat kemarin saya sudah berencana untuk tidur nikmat selepas pulang sore hari. Namun apa lacur menjelang sore perintah itu datang (sebetulnya salah sendiri). Saya bertanya pada atasan tentang wakil kantor yang akan dikirim menghadiri pernikahan rekan kami di Medan Minggu siang. Saya menanyakan hal itu, karena tidak ada tanda-tanda pengiriman orang dan semua perhatian tertuju pada siaran langsung rencana eksekusi pelaku Bom Bali I Amrozi cs. Ups, I am wrong. Perintah itu langsung turun kepada saya saat itu juga. You, he said, go!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata yang saat itu separuh menutup karena serangan kantuk segera membuka lebar. Gua? Tanya diri dalam hati. Wah sial neh (lagi-lagi dalam hati). Langsung saya bayangkan kapan mata ini enak terpejam di atas bantal dan kasur nan empuk dilingkari lengan-lengan halus isteri dan anak-anak. Harapan pulang agak siang pun batal. Saya harus mengurus tiket dan berkas-berkas wawancara, karena ada beberapa pelamar yang akan mengisi sebuah posisi di biro Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wait wait wait, saya langsung teringat satu hal yang membuat pikiran saya lebih tenang menyambut tugas itu. Medan, bung. Ada yang sulit ditemukan di Jakarta pada hari-hari ini, yang banyak dan berharga murah dan pasti enak. Bukan bika ambon, bukan bolu meranti yang berlemak itu. Yesss dureeeennnn!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terbayang protes belahan jiwa saya saat ia mendengar suaminya akan pergi lagi akhir minggu. Bayangkan untuk yang ketiga ia tak ada di rumah karena keluar kota. Ckckckc. Suami macam apa saya ini. Apa mau dikata, lha wong suaminya masih orang gajian dan bawahan. Belum termasuk protes precil-precil yang sudah mulai tahu minta jatah jalan-jalan akhir minggu. Ya terpaksa ada janji-janji manis sepulang dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu dinihari, saya meluncur ke bandara. Usaha untuk mendapatkan pesawat yang lebih siang tidak berhasil. dengan Batavia air di penerbangan pertama saya meninggalkan Jakarta.  Praktis tidak ada masalah selama penerbangan. Atau saya mungkin tidak sadar, karena begitu duduk saya tidak lagi merasakan apa-apa alias tidur pulas sampai pesawat hampir mendarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendarat dan beristirahat dua jam di hotel saya dijemput untuk mewawancarai empat pelamar. Di tengah-tengah wawancara itu, tawaran yang paling saya tunggu pun datang. Salah seorang staf di biro menanyakan makanan untuk saya. Langsung saya jawab: durian. Loh, kok makan durian? Bukannya makan nasi dulu? No way, kalau makan nasi dulu pasti saya tak mampu menghabiskan durian yang akan dibelikan. Lalu kalau makan durian dulu, kasihan nasinya yang akan dibeli. Jadi hanya durian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah wawancara selesai, saya digiring ke belakang kantor. Pertama yang tercium adalah bau khas durian yang menyengat. Langsung saya yakin pasti mantap rasanya. Kemudian yang terlihat adalah setumpuk duren seukuran bola kaki. Ckckck. Ini namanya luarrr biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai hitungan detik, saya ambil sebuah durian untuk saya injak. Beberapa teman kaget dengan perilaku saya. Kenapa tidak pakai pisau. Saya yakinkan mereka, jika durian ini baik ia akan mudah terbuka saat diinjak. Benar, dalam dua hentakan terbukalah durian itu. Terpampang rangkaian daging putih yang kering, harum, dan ketika saya cukil sedikit, hmmm manissss rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah penggemar durian. Dalam setiap kesempatan pulang kampung ke Madiun di akhir tahun, saya akan menyempatkan diri berburu durian sampai ke Ponorogo. Bagi saya durian kampung jauh lebih eksotis daripada durian monthong yang sebesar semangka. Durian yang katanya dari Thailand itu walaupun berbiji kecil dan berdaging tebal,  bagi saya telalu kering, manisnya kurang tajam dan tak cukup menggugah selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian Medan disebut-sebut selalu tersedia sepanjang tahun. Kemudahannya ditemui di kota Medan membuat banyak penggemar durian akan selalu menyempatkan diri menikmati buah tropis ini setiap berkunjung ke Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya menyesal tidak memiliki pengetahuan untuk mengenali jenis-jenis durian yang saya nikmati. Hanya ada rasa manis, ngarak (jika sudah muncul rasa pahit akibat daging buahnya mengalami fermentasi), dan hambar. Akibatnya saya tidak bisa menunjukkan durian macam apa yang paling baik dikonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kita bisa berbagi informasi bila membicarakan buah yang satu ini guna menambah pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3022156039038790258?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3022156039038790258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3022156039038790258&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3022156039038790258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3022156039038790258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/durian-medan.html' title='Durian Medan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2759740300878853604</id><published>2008-11-06T19:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T22:06:40.172-08:00</updated><title type='text'>O....bama</title><content type='html'>Selain rencana eksekusi pelaku peledakan bom Bali I Amrozi cs. gegap gempita pemberitaan juga terjadi menjelang pemilihan umum Amerika Serikat. Sejak akhir Oktober sampai pascapengumuman pemenang pemilu, media cetak dan elektronik mengarahkan pemberitaan mereka ke negeri adidata yang sedang sakit flu ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak minggu ketiga Oktober, tempat saya bekerja  mengirimkan dua tim peliput ke Amerika. Mereka adalah juga tim yang sama yang meliput kegiatan konvensi partai Republik dan Demokrat 2 bulan sebelumnya. Saya rasa, kami adalah televisi yang paling ambisius dan berani mengirimkan dua tim untuk mengetahui aktifitas dan aksi kedua pasangan kandidat pemimpin negeri AS. Yang kami inginkan adalah penonton mendapat gambaran sejernih dan seadil-adilnya dari kedua sisi. Maklimlah, seorang Obama yang hitam, bukan dari kelas pengusaha cukup seksi untuk dapat perhatian. Kebetulan juga jajak pendapat di berbagai negeri menunjukkan keunggulannya dari Mc Cain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasak-kusuk melihat televisi tetangga yang hanya mengirimkan tim peliput ke sisi Obama membuat kami yakin, bahwa keputusan kami mengirim dua peliput menunjukkan kredibilitas kami yang tida memihak adalah benar. Walaupun begitu soal biaya memang sangat besar untuk ukuran tv yang baru lahir seperti kami (baru 8 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tim peliput dari Indonesia yang berbondong-bondong ke Chicago, masyarakat nusantara juga seperti kena euforia Obama. Ini yang saya khawatirkan kita terlalu ke-ge er-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Obama yang pernah empat tahun tinggal di Indonesia diulang-ulang. Sebuah media cetak menulis judul "Anak Menteng Jadi Presiden AS" menunjukkan suasana hati itu. Memang adalah fakta ia pernah tinggal di Jakarta Pusat dan bersekolah di SDN 04 Besuki Menteng. Namun itu kan hanya setahun. Namun benarkah seorang Obama masih mengingatnya? Jangan-jangan ia hendah melupakan sekelumit kisah sejarahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perhitungan suara Selasa malam atau Rabu pagi waktu Indonesia, saya mengikuti sebuah acara resmi Kedutaan Besar AS di sebuah hotel di Jakarta. Banyak tokoh diundang. Politisi, birokrat, akademisi hingga jurnalis. Saat itu terasa sekali betapa banyak orang yang memperbincangkan kans Obama memenangkan pemilu. Mereka rasanya begitu tersihir oleh kharisma sang "Anak Menteng". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situasi cemas menanti itu pecah, ketika Obama-Biden dinyatakan memenangkan pemilu karena unggul mutlak dari McCain-Palin. Penonton bertepuktangan dan bersorak gembira. Mereka seolah yakin Obama akan menghargai sorakan itu dari seberang samudra Pasifik. Bahkan saat Obama menyampaikan pidato kemenangan, saya melihat beberapa perempuan menitikkan air mata mendengar pidato dan suara Obama (menurutku bagus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, semua media cetak menampilkan kemenangan Obama baik  sebagai head line atau pun sekadar di halaman muka. Namun semuanya menampilkan wajah yang selama beberapa bulan terakhir membuat Amerika terkenal tidak hanya karena krisis finansial tetapi juga karena capres kulit hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah Obama terpilih, seorang narasumber acara kami menyebutkan, Indonesia jangan ke-ge er-an atas terpilihnya "Anak Menteng" itu. Ia yakin Obama memiliki pola pikir seperti halnya orang Demokrat yang anti perang, pro-HAM dan ekonomi dalam negeri. Hal-hal itu membuat Indonesia masuk daftar ke sekian dari prioritas pemerintahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu mmebuat saya termangu. Benarkah tidak ada artinya terpilihnya Obama bagi Indonesia? salahkah harapan dunia yang berharap dunia akan lebih baik jika AS dipimpin orang yang pernah tersia-sia akibat warna kulitnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time will reveal the answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2759740300878853604?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2759740300878853604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2759740300878853604&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2759740300878853604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2759740300878853604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/obama.html' title='O....bama'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2501732119755169340</id><published>2008-11-06T19:09:00.000-08:00</published><updated>2008-11-06T19:33:24.986-08:00</updated><title type='text'>Raker 2</title><content type='html'>Saya merasa tidak cukup nikmat menceritakan hotel tempat kami raker minggu lalu. Gambaran yang muncul karena iklan ternyata cukup berbeda dengan fakta di lapangan. Mungkin juga hal itu karena saya kurang cukup mengeksplorasi fasilitas hotel tempat raker kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore hari selepas sesi pertama, panitia raker mengundang kami untuk berolahraga. Menurut panitia fasilitas di hotel itu cukup banyak dan bagus. Boleh juga nih saya pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sepintas halaman belakang hotel tampak luas dan hijau. Terlihat pula lapangan tenis, futsal, kolam renang dan lapangan basket. Oh ya ada gym di sebelah fasilitas olah raga itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja saya melihat fasilitas-fasilitas itu terkesan dipaksakan (maaf ya penggunaan kata yang subyektif). Kolam renang kecil dengan area berjemur yang sempit. Area futsal lumayan untuk bersepakbola dan sebuah lapangan tenis yang tergenang air. Juga ada sebuah meja tenis meja yang ujungnya bolong sehingga sulit untuk tempat mengikat net. Belum lagi hanya tersedia dua bet untuk main. Akibatnya kami harus mengantre untuk bermain tenis meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya untuk menemukan lokasi campingnya dan main tembak-tembakan dengan cat, seperti yang tertera di lobi hotel tidak ketemu. Memang sih saya belum sempat berkeliling. Namun keengganan saya melakukan pencarian itu tak lepas dari kondisi halaman belakang yang seperti hutan. Tanaman dengan sesemakan rimbun menghalangi pandang. Oh ya selama waktu week end itu saya hanya melihat seorang anak kecil yang menggunakan fasilitas hotel. Apakah itu berarti tidak banyak keluarga yang memanfaatkan hotel itu untuk berlibur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya harus mengacungkan jempol untuk makanannya. Sekali sarapan, dua kali makan siang dan sekali makan malam memuaskan lidah saya dan cocok dengan selera. Beragam sup, roti, nas putih, nasi kuning dan nasi lemak, lauk ikan, ayam dan daging dimasak dengan berbeda, serta dessert yang lumayan variatif. Memang tidak dua jempol, tapi saya hampir tidak dapat menahan pola diet saya (takut gendut sih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulasan ini (kalau bisa disebut ulasan) sangat tidak obyektif dan kompeten. Maklum saya hanya mengenal kata gratis dalam menciptakan dan mengelola pengalaman seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat mempertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2501732119755169340?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2501732119755169340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2501732119755169340&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2501732119755169340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2501732119755169340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/11/raker-2.html' title='Raker 2'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7188581907089778752</id><published>2008-10-31T01:26:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T02:08:21.759-07:00</updated><title type='text'>Raker</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya menyebut kepanjangannya Rapat Kera. Hehehe. Maksud saya adalah Raker itu rapat kerja lho. Habisnya, isinya membicarakan dengan serius hal-hal yang luar biasa penting. Disambut oleh pihak lain "cowat cowet". Alhasil sepintas seperti itu tuh....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Anyway, selama dua hari saya ikut raker perusahaan, yang membicarakan masa depan perusahaan. Maklumlah tipi baru. Kami harus bersaing dengan mereka yang sudah mapan. Baik rating, program maupun citranya. Alhasil kami harus memeras isi kepala guna mencari celah untuk menyelip di tengah persaingan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bersama-sama menginap di sebuah hotel resort di kawasan Cikarang, Jawa Barat, saya melihat hotel ini cukup menarik. Lingkungannya hampir mirip kawasan Sukabumi, hanya lebih panas. Sejauh mata memandang terlihat kehijauan, mulai dari persawahan, perkebunan dan taman. Padahal Bukit Indah Plaza Hotel terletak di tengah-tengah kawasan pabrik dan perkantoran. Oh ya bedanya, kawasan ini tidak seburuk Kawasan Berikat Pulo Gadung, Jakarta Timur atau Tanjung Priok, Jakarta Utara.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;Sekarang saya memang masih di tengah raker. Tetapi nanti jika sesi ini selesai, saya berjanji akan mengeksplorasi tempat ini. Katanya sih ada kolam renang, area outbound, kawasan olah raga, dll. Mudah-mudahan nanti saya memiliki catatan positif, sehingga tempat ini bisa menjadi pilihan Anda yang ingin berlibur akhir pekan. Janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7188581907089778752?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7188581907089778752/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7188581907089778752&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7188581907089778752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7188581907089778752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/10/raker.html' title='Raker'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7126491406211175993</id><published>2008-10-20T21:58:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T22:20:55.957-07:00</updated><title type='text'>Kunjungan Mahasiswa</title><content type='html'>Untuk kesekian kalinya, tv tempat saya mencangkul kedatangan tamu istimewa. Bukan para tamu untuk dialog, tetapi para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, kunjungan ini selalu membawa makna penting. Berbeda dengan para tamu dialog yang akan kami wawancarai sehubungan dengan topik-topik yang tengah hangat. Para mahasiwa ini saya pandang sebagai wakil pemikiran kritis sekaligus calon penerus aktifitas kami saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frekuensi kunjungan para mahasiswa ke tempat saya bekerja sekarang jauh lebih rendah daripada di tempat kerja saya yang lama. Saya menilainya karena stasiun tv ini masih relatif baru. Belum lagi karena luas cakupan siaran yang lebih rendah, juga karena rating secara umum di bawah tv lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang mengejutkan, dari beberapa tanya jawab informal dengan beberapa mahasiswa dengan pertanyaan mengapa tidak ke tv tetangga yang memiliki ruang redaksi indah (maklum kelihatan di tv), mereka menjawab tidak. Wahhh! Alasannya, penampilan fisik tidak berkorelasi dengan substansi program. Tv ini sesuai dengan cara pandang kami, kata mereka. Wahh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah begitu? saya mencoba menganalisa dengan merendah, bisa saja itu karena mereka tidak ingin melukai hati saya yang sudah berlelah-lelah menerangkan apa yang ingin mereka ketahui. Atau mereka hanya bisa berkunjung ke tv ini (hehehe, yang ini sih nggak usah dibahas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, those conversations made proud that some people, especially students gitu loh, appreciated what I have done, what we have achieved. We, especially me, will always do the best to satisfy public with our programs and acts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This writing is an expression of my gratitude for those who have criticised and support us. You all have strengthened me no matter what you've said and done. Thank you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7126491406211175993?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7126491406211175993/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7126491406211175993&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7126491406211175993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7126491406211175993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/10/kunjungan-mahasiswa.html' title='Kunjungan Mahasiswa'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3154664841429733680</id><published>2008-10-17T03:19:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T03:36:53.509-07:00</updated><title type='text'>Sepuluh Kota Mati Yang Mengerikan di Dunia</title><content type='html'>Saya mendapat email yang berisi tentang kota-kota mati akibat tingkah laku manusia. Mengerikan sekaligus membuat saya menganga. Rasanya bisa untuk introspeksi diri. Sayang fotonya tidak bisa dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah 10 kota yang tidak berpenduduk sama sekali karena berbagai bencana sehingga kota tersebut ditinggalkan penduduknya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. KOLMANSKOP ( Namibia ) : Dikubur dalam Pasir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolmanskop adalah sebuah kota mati di selatan Namibia , beberapa kilometer dari pelabuhan Luderitz. Di tahun 1908 Luderitz mengalami demam berlian, dan orang-orang kemudian menuju ke padang pasir Namib untuk mendapatkan kekayaan dengan mudah. Dalam dua tahun terciptalah sebuah kota yang megah lengkap dengan segala prasarananya seperti kasino, sekolah, rumah sakit, juga dengan bangunan tempat tinggal yang eksklusif yang berdiri di lahan yang dulunya tandus dan merupakan padang pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi setelah perang dunia pertama, jual beli berlian menjadi terhenti, ini merupakan permulaan berakhirnya semuanya. Sepanjang tahun 1950 kota mulai ditinggalkan, pasir mulai meminta kembali apa yang menjadi miliknya. Papan metal yang kokoh roboh, kebun yang cantik dan jalanan yang rapi dikubur dibawah pasir, jendela dan pintu bergeretak pada setiap engselnya, kaca-kaca jendela terpecah membelalak seperti menunjukan kehancuran pada hamparan pasir yang menjulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kota mati baru telah dilahirkan, sampai saat ini masih nampak sepasang banguna yang berdiri, juga terdapat bangunan seperti sebuah teater masih dalam kondisi yang sangat baik, dan sisanya, rumah-rumah tersebut hancur digerus pasir dan menjadi deretan rumah-rumah hantu yang menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. PRYPIAT ( Ukraine ): Rumah para pekerja Chernobyl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prypiat adalah sebuah kota besar di daerah terasing di Ukraina Utara, merupakan daerah perumahan para pekerja kawasan nuklir Chernobyl . Kawasan ini mati sejak terjadinya bencana nuklir Chernobyl yang menelan hamper 50.000 jiwa. Setelah kejadian, lokasi ini praktis seperti sebuah museum, menjadi bagian dari sejarah Soviet. Bangunan apartement (empat merupakan bangunan yang belum sempat ditempati), kolam renang, rumah sakit, dan banyak bangunan yang lain hancur. Dan semua isi yang terdapat dalam bangunan tersebut dibiarkan ada di dalamnya, seperti arsip, TV, mainan anak-anak, meubel, barang berharga, pakaian dan lain-lain semua seperti kebanyakan milik keluarga-keluarga pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk hanya boleh mengambil dokumen penting, buku dan pakaian yang tidak terkontaminasi oleh nuklir. Namun sejak abad 21, tidak lagi ada barang berharga yang tertinggal, bahkan tempat duduk dikamar kecilpun dibawa oleh para penjarah, banyak dari bangunan yang isinya dirampok dari tahun ke tahun. Bangunan yang tidak lagi terawat, dengan atap yang bocor, dan bagian dalam bangunan yang tergenang air di musim hujan, semakin membuat kota tersebut benar-benar menjadi kota mati. Kita bisa melihat pohon yang tumbuh di atap rumah, pohon yang tumbuh di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. SAN ZHI ( Taiwan ): Tempat peristirahatan yang futuristik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebelah Utara Taiwan , terdapat sebuah kampong yang futuristic, pada awalnya dibangun sebagai sebuah tempat peristirahatan yang mewah bagi kaum kaya. Bagaimanapun, setelah terjadi banyak kecelakaan yang fatal pada masa pembangunannya akhirnya proyek tersebut dihentikan. Setelah mengalami kesulitan dana dan kesulitan para pekerja yang mau mengerjakan proyek tersebut akhirnya pembangunan resort tersebut benar-benar dihentikan ditengah jalan. Desas-desus kemudian bermunculan, banyak yang bilang kawasan kampung tersebut menjadi tempat tinggal para hantu, dari mereka yang sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. CRACO ( Italy ): Kota pertengahan yang mempesona&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Craco terletak didaerah Basilicata dan provinsi Matera sekitar 25 mil dari teluk Taranto . Kota pertengahan ini mempunyai area yang khas dengan dipenuhi bukit yang berombak-ombak dan hamparan pertanian gandum serta tanaman pertanian lainnya. Ditahun 1060 ketika kepemilikan lahan Craco dimiliki oleh uskup Arnaldo pimpinan keuskupan Tricarico. Hubungan yang berjalan lama dengan gereja membawa pengaruh yang banyak kepada seluruh penduduk. Di tahun 1891 populasi penduduk Craco lebih dari 2000 orang, waktu itu mereka banyak dilanda permasalahan social dan kemiskinan yang banyak membuat mereka putus asa, antara tahun 1892 dan 1922 sekitar 1300 orang pindah ke Amerika Utara. Kondisi pertanian yang buruk ditambah dengan bencana alam gempa bumi, tanah longsor serta peperangan inilah yang menyebabkan mereka bermigrasi massal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara tahun 1959 dan 1972 Craco kembali diguncang gempa dan tanah longsor. Di tahun 1963 sisa penduduk sekitar 1300 orang akhirnya dipindahkan ke suatu lembah dekat Craco Peschiera, dan sampai sekarang Craco yang asli masih tertinggal dalam keadaan hancur dan menyisakan kebusukan sisa-sisa peninggalan penduduknya.&lt;br /&gt;5. ORADOUR-SUR-GLANE ( France ): the horror of WWII&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkampungan kecil Oradour Sul Glane di Perancis menunjukan sebuah kondisi keadaan yang sangat mengerikan. Selama perang dunia ke II, 642 penduduk dibantai oleh tentara Jerman sebagai bentuk pembalasan atas terhadap perlakuan Perancis waktu itu. Jerman yang waktu itu sebenarnya berniat menyerang daerah di dekat Oradour Sul Glane tapi akhirnya mereka menyerang perkampungan kecil tersebut pada tanggal 10 Juni 1944. menurut kesaksian orang-orang yang selamat, penduduk laki-laki dimasukan kedalam sebuah gudang dan tentara jerman menembaki kaki mereka sehingga akhirnya mereka mati secara pelan-pelan. Wanita dan anak-anak yang dimasukan ke dalam gereja, akhirnya semua mati tertembak ketika mereka berusaha keluar dari dalam gereja. Kampung tersebut benar-benar dihancurkan tentara Jerman waktu itu. Dan sampai saat ini reruntuhan kampung tersebut masih berdiri dan menjadi saksi betapa kejamnya peristiwa yang terjadi saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. GUNKANJIMA ( Japan ): the forbidden island&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau ini adalah salah satu dari 505 pulau tak berpenghuni di Nagasaki Daerah Administratsi Jepang, sekitar 15 kilometer dari Nagasaki . Pulau ini juga dikenal sebagai “Gunkan Jima” atau pulau kapal perang. Pada tahun 1890 ketika suatu perusahaan (Mitsubishi) membeli pulau tersebut dan memulai proyek untuk mendapatkan batubara dari dasar laut di sekitar pulau tersebut. Di tahun 1916 mereka membangun beton besar yang pertama di pulau tersebut, sebuah blok apartemen dibangun untuk para pekerja dan juga berfungsi untuk melindungi mereka dari angin topan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1959, populasi penduduk pulau tersebut membengkak, kepadatan penduduk waktu itu mencapai 835 orang per hektar untuk keseluruhan pulau (1.391 per hektar untuk daerah pusat pemukiman), sebuah populasi penduduk terpadat yang pernah terjadi di seluruh dunia.&lt;br /&gt;Ketika minyak tanah menggantikan batubara tahun 1960, tambang batu bara mulai ditutup, tidak terkecuali di Gunkan Jima, di tahun 1974 Mitsubishi secara resmi mengumumkan penutupan tambang tersebut, dan akhirnya mengosongkan pulau tersebut. Pada tahun 2003 pulau ini dimbil sebagai setting film “Battle Royal II” dan mengilhami sebuah game popular “Killer7”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. KADYKCHAN ( Russia ): memories of the Soviet Union&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadykchan merupakan salah satu kota kecil di Rusia yang hancur saat runtuhnya Uni Soviet. Penduduk terpaksa berjuang untuk mendapatkan akses untuk memperoleh air, pelayanan kesehatan dan juga sekolah. Mereka harus keluar dari kota itu dalam jangka waktu 2 minggu, untuk menempati kota lain dan menempati rumah baru. Kota dengan penduduk sekitar 12.000 orang yang rata-rata sebagai penambang timah ini dikosongkan. Mereka meninggalkan rumah mereka dengan segala perabotannya. Jadi anda dapat menemukan mainan, buku, pakaian dan berbagai barang didalam kota yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KOWLOON WALLED CITY ( China ): A lawless city&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota besar Kowloon yang terletak di luar Hongkong , China . Dulunya diduduki oleh Jepang selama perang dunia II, yang kemudian diambil alih oleh penduduk liar setelah Jepang menyerah. Pemerintahan Inggris ingin China bertanggung jawab terhadap kota ini, karena kota tersebut menjadi kota yang tidak beraturan dan tidak taat pada hukum pemerintah. Populasi tidak terkendali, penduduk membangun koridor lybirint yang setinggi jalan yang penuh tersumbat oleh sampah, bangunan yang sangat tinggi sehingga membuat cahaya matahari tidak bisa menyinari. Seluruh kota disinari dengan neon. Kota tersebut penuh dengan rumah pelacuran, kasino, rumah madat dan obat bius dan kokain, banyak terdapat makanan-makanan dari daging anjing dan juga terdapat pabrik-pabrik rahasia yang tidak terganggu oleh otoritas.Keadaan ini akhirnya berakhir ketika di tahun 1993, diambil keputusan oleh pemerintah Inggris dan otoritas China untuk menghentikan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. FAMAGUSTA ( Cyprus ): once a top tourist destination, now a ghost town&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varosha adalah sebuah daerah yang tidak diakui oleh republic Cyprus Utara. Sebelum tahun 1974 Turki menginvasi Cyprus , daerah ini merupakan daerah wisata modern di kota Famagusta . Pada tiga dekade terakhir, kota ini ditinggalkan dan menjadi kota mati. Di tahun 1970-an, kota ini menjadi kota tujuan wisata utama di Cyprus . Untuk memberikan pelayanan yang memuaskan kepada para wisatawan, kota ini membangun berbagai bangunan mewah dan hotel.&lt;br /&gt;Ketika tentara Turki menguasai daerah tersebut, mereka menjaga dan memagari daerah tersebut, tidak boleh ada yang keluar masuk kota tersebut tanpa seijin dari tentara Turki dan tentara PBB. Rencana untuk kembali mengembalikan Varosha ke tangan kendali Yunani, namun rencana tersebut tidak pernah terwujud. Hampir selama 34 tahun kota tersebut dibiarkan dan tidak ada perbaikan. Perlahan bangunan-bangunan tersebut hancur, metal mulai berkarat, jedela pecah, dan akar-akar tumbuhan menembus dinding dan trotoar. Kura-kura bersarang di pantai yang ditinggalkan. Di tahun 2010 Pemerintahan Turki bermaksud untuk membuka kembali Varosha untuk para turis dan kota kembali bisa didiami dan akan menjadi salah satu kota yang paling berpengaruh di uatara pulau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. AGDAM ( Azerbaijan ): once a 150,000 city of people, now lost&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota besar Agdam di Azerbaijan adalah salah satu kota besar yang populasi penduduknya mencapai 150.000 orang. Namun kemudian hilang setelah pada tahun 1993 sepanjang perang Nagorno Karabakh. Walaupun kota ini tidak secara langsung menjadi basis peperangan, namun kota ini tetap mendapatkan efek dari perang tersebut, dengan menjadi korban dari sikap para Armenians yang merusak kota tersebut. Bangunan-bangunan dirusak dan akhirnya ditinggalkan penghuninya, hanya menyisakan masjid-masjid yang masih utuh berdiri. Penduduk Agdam sendiri sudah berpindah ke area lain, seperti ke Iran .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3154664841429733680?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3154664841429733680/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3154664841429733680&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3154664841429733680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3154664841429733680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/10/sepuluh-kota-mati-yang-mengerikan-di.html' title='Sepuluh Kota Mati Yang Mengerikan di Dunia'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3093272462618262360</id><published>2008-09-30T21:16:00.000-07:00</published><updated>2008-09-30T22:43:50.911-07:00</updated><title type='text'>Budaya Lebaran</title><content type='html'>Yang enak saat Lebaran adalah makan ketupat dan opor ayam. Pernak-perniknya adalah sayur labu siam bersantan, sambal goreng ati dan rendang. Kuenya ada nastar, kastengel dan biskuit lainnya. Nyam nyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir tidak ada keharusan untuk membuat itu, tetapi setahu saya, itulah yang selalu saya temui di setiap Lebaran. Mulai dari orang tua yang walaupun tidak berlebaran ikut membikin hingga kiriman para tetangga sejak di Surabaya, Madiun hingga sekarang di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa perilaku dan kebiasaan yang saya catat merupakan aktifitas khas Indonesia atau kalau dipersempit aktifitas Suku Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama adalah makanan yang saya sebut pertama. Kedua adalah mudik menjelang Lebaran. Tentang hal itu sudah saya tulis sebelum ini. Berikutnya bagi-bagi duit (bukan sedekah atau amal atau zakat). Yang terakhir adalah takbiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat waktu kecil di pelosok Jakarta Utara, saya sering ikut keliling bersama teman-teman mengetuk rumah-rumah saat Lebaran. Walaupun tidak berlebaran apalagi puasa, tidak ada rasa malu yang terasa (namanya anak-anak, cuek bebek) saat mengacungkan tangan meminta jatah uang Rp. 5 atau Rp. 10 (baca: lima rupiah dan sepuluh rupiah). Jangan salah pada sekitar tahun 70-an, uang itu sudah bisa untuk jajan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah kebiasan-kebiasaan itu khas Indonesia? Rasanya memang tidak ada literatur pendukung yang menyebutkan ada budaya sejenis di negeri lain. Entah kalau saya ketelingsut(atau terlewatkan). Walaupun harga ekonomi dan sosialnya cukup tinggi (ya iyalah untuk masak kan pake uang, untuk bagi uang butuh banyak uang, untuk mudik pake bensin dan uang, untuk takbiran pun pake uang dan tenaga alias nasi) kebiasaan itu selalu terulang dengan bangganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa manifestasi kebersamaan dan silaturahim bangsa kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup Indonesia.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3093272462618262360?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3093272462618262360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3093272462618262360&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3093272462618262360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3093272462618262360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/09/budaya-lebaran.html' title='Budaya Lebaran'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4880032005211686492</id><published>2008-09-29T20:38:00.000-07:00</published><updated>2008-09-29T22:46:37.320-07:00</updated><title type='text'>Mudik</title><content type='html'>Seorang penelpon acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TVOne hari Selasa, 30 September 2008 menyatakan, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang aneh. Pernyataan mengejutkan itu merujuk dari kebiasaan yang timbul di seputar hari Idul Fitri, yaitu mudik. Saya kira pemikiran beliau bisa membuat kuping merah beberapa orang, tetapi juga bisa tidak jika ia setuju dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dipikir-pikir memang ada harga sosial dan ekonomis yang mahal untuk membuat mudik menjadi sebuah peristiwa rutin tahunan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mulai dari skala kecil, yaitu seorang manusia yang akan pulang kampung baik di sekitar Jawa maupun ke luar Jawa dan sebaliknya, ia harus menyiapkan pernak-pernik yang tidak sedikit bahkan bisa dibilang banyak dan mahal. Ada seorang kenalan saya pulang kampung bersama keluarga (seorang isteri dan dua anak berusia 7 dan 5 tahun) menggunakan motor. Ia menyatakan motor menjadi pilihan utama karena biayanya yang murah. Untuk menuju Cirebon, ia cukup mengeluarkan uang bensin kurang dari Rp. 100.000 pulang pergi. Bandingkan bila ia sekeluarga naik kereta yanfg bisa mencapai 5 kali lipatnya. Dengan tambahan kayu yang diikat di belakang, kenalan saya itu memperoleh ruang tambahan berupa "bagasi darurat". Segala pernak-pernik perlengkapan perjalanan dan oleh-oleh dapat diletakkan di sana. Anak sulungnya duduk paling depan menantang angin dan si bungsu diapit ayah bundanya. Jika situasi macet di perjalanan, hal terburuk, ia akan tiba di Cirebon tengah malam, bila ia berangkat dini hari. Murah secara matematis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seorang psikolog mengingatkan besarnya harga kejiwaan yang diterima seseorang terutama anak-anak yang mudik; apalagi menggunakan motor. Berada di jalanan macet bahkan sampai berjam-jam membawa perubahan besar pada emosi seseorang. Susah buang air, kepanasan bila tidak ada pendingin udara, kelaparan, atau hanya sekedar dongkol saat melihat orang lain menyalip adalah hal-hal penekan keseimbangan kejiwaan seseorang yang timbul saat terjebak kemacetan parah.  Akibatnya muncul makian, kata-kata kasar dan kemarahan. Bagi anak-anak semua itu bisa menjadi pengalaman buruk yang terekam saat menghadapi persoalan serupa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anak-anak yang diajak mudik bermotor disebutkan sang psikolog, akan mendapat tekanan yang jauh lebih besar lagi. Posisi tubuh yang tidak bebas, kepanasan, terkena terpaan angin kencang dan ancaman dari kendaraan lain adalah tambahan resiko yang diterima dibandingkan mudik bermobil. Dan hal itu terjadi dua kali yaitu saat mudik dan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu harga skala besar. Setiap menjelang Lebaran, pemerintah pusat dan daerah pasti berteriak-teriak menyatakan sarana jalan, fasilitas lalu lintas dan keamanan sudah siap untuk menyambut para pemudik. Proses perbaikan jalan dikebut. Penerangan jalan ditambah. Pos-pos baru dibuat. Pertanyaannya, kemana saja para pejabat dan programnya saat sebelum Ramadhan? Sudahkah semua itu dibuat dengan perencanaan dan pelaksanaan yang baik? Jangan-jangan semuanya dikebut dengan istilah pokoknya jadi sebelum mudik berlangsung. Kualitas? Ntar deh, pokoknya jadi dulu. Soal nanti rusak, ya bikin lagi. Kan proyek seperti itu penting untuk melancarkan roda ekonomi. Ya toh? Ya toh? Praktis semua energi para pejabat &lt;br /&gt;negeri ini tercurah untuk mengamankan pemudik. Presidennya, menterinya, polisinya, berlomba-lomba membuat program untuk menyelamatkan para pemudik pulang kampung. Terus bagaimana dengan harga-harga melambung, rupiah yang melorot, dan para koruptor yang belum tertangkap?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau dua hal itu saja yang kita lihat, memang tampak betapa mudik menyedot energi kelewat besar, walau hanya terjadi dalam hitungan hari saja. Namun jangan sampai diabaikan nilai-nilai lain yang muncul karena peirstiwa fenomenal khas Indonesia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama nilai keakraban dan silaturahim. Rasanya jarang ada negara yang begitu mengagungkan kebersamaan sebesar Indonesia. Bayangkan, kebersamaan itu sudah dimulai dari sejak persiapan keberangkatan pemudik. Kenalan saya ketika akan berangkat mendapat perhatian dari para tetangga. Mulai dari ucapan selamat, bantuan sekedar uang, hingga doa. Selama di jalan pun ada persahabatan yang begitu kasat mata, yaitu pertolongan bila ada yang mengalami kerusakan kecil, kecelakaan, ataupun sekedar menyapa. Lalu yang lebih penting yaitu silaturahim dengan keluarga di kampung. Merajut kasih dengan keluarga dan kerabat yang mungkin sudah lama tak berjumpa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua nilai ekonomi. Saya belum membaca ada hitung-hitungan nilai uang yang beredar pada menjelang dan selama Lebaran. Secara kasar saya rasa angka itu meningkat. Mungkin Anda bertanya apa dasar saya mengatakan itu. Begini, harga  barang yang meningkat pasti menyebabkan peredaran uang meningkat, contohnya harga daging sapi yang melonjak hingga Rp 100 ribu per kg. Lalu kebutuhan tampil baru saat Idul Fitri membuat banyak departement store banting harga dan antrean orang di kasir sambil menenteng bawaan. Lalu adanya tunjangan hari raya yang rata-rata sebulan gaji membuat orang mudah menghamburkan uang untuk memenuhi kebutuhan primer hingga tersier. Yang terakhir adalah meningkatnya iklan di media massa terutama televisi. Yang ini berhubungan dengan perhatian media terhadap arus mudik, sehingga banyak perusahaan berlomba-loma memasang iklan di semua televisi. Jadi salahkah saya bila menyatakan ada nilai ekonomi tinggi di peristiwa mudik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah salah satu dari sekian banyak fenomena khas Indonesia. Suka atau tidak, bermasalah atau tidak, mudik jalan terus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Idul Fitri, minal aidin wal faidzin maaf lahir batin.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4880032005211686492?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4880032005211686492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4880032005211686492&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4880032005211686492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4880032005211686492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/09/mudik.html' title='Mudik'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7953462176661424546</id><published>2008-09-01T20:10:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T21:14:32.299-07:00</updated><title type='text'>Kartu Kredit</title><content type='html'>Seorang perencana keuangan, Ligwina Hananto mengecam keras penggunaan kartu kredit yang didasarkan pada emosi belaka. Saat berbicara di Apa Kabar Indonesia pagi tadi, ia mengatakan betapa banyak orang terjebak dalam hutang yang bertumpuk akibat tidak dapat menggunakan kartu kredit secara bijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat dari wanita mungil berjilbab itu membuat saya terenyak. Memang saya termasuk orang yang cukup berhati-hati dalam memiliki dan menggunakan kartu sakti itu (Sampai  saat ini saya hanya punya 1 kartu kredit dengan pengeluaran yang sangat saya batasi). Namun kalimat kerasnya itu menunjukkan bahwa banyak orang merasa kartu kredit bukan kartu untuk kredit tetapi kartu sakti yang dapat memebrikan uang tambahan. Akibatnya muncullah istilah gali lobang tutup lobang. Mencari hutang dari kartu kredit lain untuk menutup hutang dari kartu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering mendapat telpon dari suara-suara ramah, mendayu dan seksi yang menawarkan utang sampai ratusan juta rupiah karena saya menjadi nasabah bank yang mengeluarkan kartu kredit saya. Iming-imingnya menggiurkan, yaitu proses cepat tidak ribet dan langsung transfer. Namun masalahnya saya kadang lupa menanyakan berapa bunga. Nah ini yang sering jadi masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para marketer atau penjual kredit tanpa agunan kartu kredit tampaknya selalu menyembunyikan berapa bunga yang dikenakan pada calon peminjam. Jika si penjual tidak ditanya informasi itu pasti tak akan dimunculkan. Berhubung saya berpendirian berhutanglah seminimal mungkin, saya tidak menanggapi tawaran-tawaran tersebut. Namun pada satu kesempatan saya menanyakan besaran bunga kredit itu dan kemudian saya terkaget-kaget mengetahuinya. 3-4 persen per bulan. Ck ck ck. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemirsa menyampaikan pengalamannya tentang kartu kredit yang telah menghancurkan hidupnya sehingga ia menyatakan jangan ada lagi orang yang terjebak sepertinya. Dikisahkan, ia pernah memiliki sampai 12 kartu kredit. Dan ia menggunakannya untuk membiayai usahanya. Namun karena satu sebab usahanya gagal dan ia menanggung hutang sampai sekarang. Dengan emosional ia meminta jangan sampai orang mengalami masalah sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ligwina dengan bijak menyatakan kartu kredit tetap dapat diperlakukan dengan baik selama kita tetap mengukur kemampuan kita membayar. Seberapapun jumlah kartu kredit itu. Ia menyebutkan 30 persen penghasilan kita dapat digunakan untuk berhutang termasuk untuk membayar kartu kredit. Toh ada keuntungan-keuntungan yang bisa kita dapatkan di antaranya potongan untuk pembelian-pembelian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir memang yang disalahkan bukanlah kartu kreditnya karena ia tetap benda mati. Kitalah yang bersalah karena otak dan kemauan kitalah yang menyebabkan berbagai masalah datang melalui benda seperti kartu kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7953462176661424546?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7953462176661424546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7953462176661424546&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7953462176661424546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7953462176661424546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/09/kartu-kredit.html' title='Kartu Kredit'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3071999572814835980</id><published>2008-09-01T20:01:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T20:08:49.787-07:00</updated><title type='text'>Aduh</title><content type='html'>Hari ini tepat sebulan lebih satu hari saya tidak membuka Blog tercinta saya ini. Artinya saya mengkhianati janji yang pernah terucap yaitu saya akan membuat tulisan sebulan sekali demi menjalankan talenta dan kemampuan yang Tuhan telah berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit yang selalu menghinggapi orang seperti saya adalah kemalasan. Alasannya selalu beragam, mulai dari keluar kota, rekaman program, pelatihan, hingga ngantuk. Padahal kalau dipikir-pikir di antara waktu-waktu itu pasti ada selang waktu yang bisa digunakan untuk membuat dan mengirim tulisan walaupun hanya singkat. Oh ya adalagi alasan lain yaitu internet yang "lambretta lamborghini" atau lambat dan lamaaa sekali. Maklum kantor saya yang ini belum mantap infrastrukturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, here I am back to my beloved blog. Tuhan sudah mengaruniakan banyak berkatnya; talenta, waktu, pekerjaan, fasilitas and so on and so on, so I have to use all of my abilities to do the best of me including this site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3071999572814835980?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3071999572814835980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3071999572814835980&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3071999572814835980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3071999572814835980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/09/aduh.html' title='Aduh'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-480256453982490724</id><published>2008-08-01T08:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-01T08:49:30.131-07:00</updated><title type='text'>Stuck in Bandung</title><content type='html'>Dear friends,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's been 3 weeks I haven't updated my blog since I wrote my last experience. I found so much fun and problems in living my life. However, I believe all of those experiences gave me huge spirit in facing the world.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wrote this letter while I was in Bandung to participate a meeting with local election commission (KPU Bandung).  Though  it was late at night and my body was struggle with fatigue, the meeting was fruitfully succeed. Unfortunately I couldn't taste all the famous magically blended and cooked Bandung food. I had to return to Jakarta in the middle of the night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooh I'm glad that tomorrow is Saturday. I can wake up late and not to worry for the busy day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alright, see you soon, because I have something in mind about the serial killer from Jombang, Ryan.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-480256453982490724?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/480256453982490724/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=480256453982490724&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/480256453982490724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/480256453982490724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/08/stuck-in-bandung.html' title='Stuck in Bandung'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2528155096355809496</id><published>2008-07-16T00:35:00.000-07:00</published><updated>2008-07-16T03:38:04.141-07:00</updated><title type='text'>Ke Laut (bag-2)</title><content type='html'>Gambaran tentang Pantai Carita yang hitam dan kumuh lenyap. Hamparan pasir putih dengan gelombang relatif bersahabat dan dasar laut yang dangkal adalah sebuah bonus atas perjalanan yang lumayan melelahkan selama sekitar 3 jam dari Jakarta. Mungkin pantai yang langsung berada di belakang hotel Wira Carita membuat kawasan itu relatif aman, bersih dan nyaman. Pohon-pohin besar bertumbuhan di tepi pantai tidak hanya kelapa tetapi juga ketapang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari telah petang saat kami menjejakkan kaki ke pantai. Harapan untuk melihat matahari terbenam gagal sudah. Tetapi angin yang lembut dan udara sejuk cukup untuk menyegarkan tubuh dan mental yang penat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penggemar makan seperti saya, kawasan Carita bukanlah tempat yang elok untuk berburu makanan khas. Selain sulit mendapatkan tempat makan yang layak, jenis makanan yang dijual pun tidak ada yang spesifik. Alhasil, kami cukup menggunakan insting untuk mengembalikan energi tubuh; yaitu makan untuk kenyang dan hidup. Cukup nasi goreng dengan telur dan sayur daun singkong bersantan. Biasa saja kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sasaran kami selanjutnya adalah first ray of light. Memang tidak mungkin mendapatkan 'sunrise' di Carita, karena posisi pantai yang membelakangi matahari. Tetapi menikmati pagi yang segar tentu cita-cita yang menarik. Untuk itu kami segera tidur cepat. Tidak ada tv dan baca buku sebelum tidur. Apalagi memang tubuh cukup penat untuk beraktifitas yang lain malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada kokok ayam saat mata terbuka. Lagi pula mana mungkin penduduk atau petugas hotel memelihara ayam di sekitar pantai. Bisa-bisa sang ayam kecemplung laut atau bikin kotor pantai yang indah itu. Matahari secara perlahan memecah kegelapan, ketika jam menunjukkan pukul 5.50 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung semua sudah sepakat untuk bangun pagi (sebetulnya perintah sang jenderal ini), kedua precil yang masih terlihat nyaman di balik selimut dan bantal segera kami bangunkan. Herannya, mereka pun tidak protes. Berbeda kalau di rumah, rasanya banyak alasan yang bisa dijadikan penahan untuk tidak segera bangun dari kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mandi dan gosok gigi (bayangkan joroknya, hiiii) kami segera ke pantai. Nggak peduli ah, yang penting asiik. Toh kami tidak perlu repot-repot ngeceng atau mencium orang hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi pantai rasanya masuk akal kalau saya bertanya minimal kepada diri sendiri dan isteri saya, dengan pantai seindah ini, kenapa sih banyak orang harus berbondong-bondong ke Bali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijinkan saya menggambarkan keindahan pantai Carita lebih detil dari perspektif saya yang subyektif ini. Pertama, hingga seratus meter ke arah laut kedalaman kurang dari satu meter. Kedua ombak relatif besar cocok untuk bermain papan seluncur. Ketiga pasir putih yang bersih terhampar hingga lebih dari tiga kilometer. Tampaknya anak-anak saya (lagi-lagi subyektif) setuju dengan saya; mereka bermain air, berseluncur, mencari kerang dan bersantai di bawah rimbunnya pepohonan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada negatifnya: infrastruktur pendukung di obyek wisata itu sangat kurang. Di antaranya adalah: hotel dan rumah makan tua dan sedikit, jalan banyak rusak, banyak pengemis dan penjaja dagangan yang tidak tertata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebalkannya para penjaja dagangan dan pengemis terasa, saat sayadan isteri beristirahat di bibir pantai. Satu kata yang berulangkali terucap adalah kata 'tidak'. Kami terus terang sampai bosan mengicapkan penolakan atas tawaran ikan asin, layang-layang, otak-otak, pijat, tikar, pisang dan nasi bungkus. Cape deh. Kami tak sempat menikmati pantai dan keindahannya, karena tak henti-hentinya mereka datang menawarkan dagangan dengan suara memelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari bergulir, matahari meredup di ufuk barat. Pesanan ikan bakar kami datang. Hmmm baunya sedap menguar membuat perut berontak. Di bawah sinar bulan setengah purnama, kami berempat menyantap tiga ekor ikan baronang dan kakap besar-besar penuh nafsu. Diiringi musik debur ombak yang mengalun ritmis, rasanya itulah makanan ternikmat yang pernah kami santap. Pedasnya sambal kecap dan terasi bercampur dengan gurihnya daging empuk nan harum serta minuman kelapa muda langsung dari batoknya, ahh indah sekali malam itu. Pantai Carita kami kan datang lagi. Semoga saat itu, pantaimu terjaga dan tetap indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2528155096355809496?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2528155096355809496/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2528155096355809496&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2528155096355809496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2528155096355809496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/07/ke-laut-bag-2.html' title='Ke Laut (bag-2)'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7652390519780020659</id><published>2008-07-14T04:39:00.000-07:00</published><updated>2008-07-14T05:20:16.303-07:00</updated><title type='text'>Ke Laut (bag-1)</title><content type='html'>Jangan salah mengartikan judul "ke laut" dengan sebutan yang umum  terdengar saat ini bila  seseorang tidak menyukai sebuah permintaan atau  pernyataan. Ke laut memang benar-benar ke laut, yaitu saat saya dan keluarga menikmati liburan di akhir pekan lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini:&lt;br /&gt;Belum pernah saya menikmati keindahan laut yang benar-benar dalam konteks berwisata. Sebagai seseorang yang dibesarkan di lingkungan TNI AL (almarhum bapak saya seorang marinir), laut adalah bukan barang aneh. Bapak pernah punya kapal penangkap ikan yang awaknya secara rutin mengirim hasil tangkapan berupa ikan, rajungan, cumi dan udang ke rumah kami. Selama beberapa tahun sewaktu saya siswa SD, rumah pun hanya seratus meter dari bibir Laut Jawa. Setiap hari Minggu pagi, saya selalu berenang di laut yang tenang, biru dan jernih. Namun, saya belum pernah berwisata ke pantai. Itulah masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang akhir liburan sekolah lalu, kedua anak saya (termasuk ibunya) memprotes kepada jenderal rumah tangga ini, alasannya saya tidak pernah mengajak mereka berlibur. Kerja, kerja, dan kerja; itulah keluhan mereka terhadap saya. Yang terakhir saya menghabiskan waktu dengan berkeliling le beberapa daerah selama hampir dua minggu untuk membuat program debat pilkada (program tv di kantor saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sebuah keluhan yang tidak boleh diabaikan. Bisa repot kalau ibunya anak-anak ikut dalam demo anti-jenderal diikuti para precil yang mulai lantang menyuarakan aspirasi mereka. Setelah menghitung kemampuan finansial (maklum semua pos pengeluaran telah terukur) saya putuskan untuk pergi ke laut. Masalahnya kalau ke gunung cukup sulit untuk mencari tempat yang enak. Ke Bandung pun kemacetan menjadi hantu yang mengancam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari hotel atau penginapan ternyata tidak mudah. Di internet juga tidak banyak situs yang menyediakan informasi tentang penginapan di Anyer dan Carita, Banten. Memang Hotel Sol Elite Marbella mudah diakses, tetapi harga kamar per malamnya, amboi, bukan level saya. Entah saya yang tidak 'gape' mengorek isi perut Google dan Yahoo,  atau  karena memang karena tidak  ada informasi hotel di pinggir kedua pantai itu, saya pun menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah ada teman yang menginformasikan hotel Wira Carita. Mungkin karena putus asa, saya mengiyakan untuk memesan tempat di sana. Pokoke berlibur sesuai permintaan para kawula di rumah. Dengan harga Rp. 440.000 per malam, saya mendapat kamar di hotel itu dengan pemandangan laut. Kamarnya dijanjikan besar dengan kapasitas untuk empat orang. Hmmm 'not bad' lah. Anda tahu, anak saya yang besar (anak saya cuma dua orang, seperti di foto)  tidak antusias dengan  keputusan  jenderalnya ini.  Habis, ia lebih suka ke gunung; adem katanya (kalau masalah dingin kan bisa pake AC, ya kan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Jumat pagi selepas siaran, saya langsung pulang. Beruntung para bos saya murah hati. Mereka tidak protes saat saya membolos langsung berangkat ke Carita. Hehehe padahal saya belum tiga bulan bekerja di sini. Thank you, guys.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Carita relatif tidak ada hambatan. Saya memberi apresiasi terhadap pengelola jalan tol Jakarta-Merak yang berusaha memperlebar, memperhalus dan meningkatkan keamanan penggunanya. Walaupun di beberapa tempat ada perbaikan jalan dan mengganggu kelancaran, secara umum langkah itu saya nilai positif untuk jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini yang justru membuat kami puyeng. Pengetahuan saya tentang Pantai Carita begitu minim. Perjalanan yang mestinya sudah mulai membangun kebersamaan di antara kami justru  menambah  kepala nyut-nyutan.  Masalahnya,  si kecil, cewek, yang cerewet itu  tak henti-hentinya  memprotes, kenapa tidak segera sampai. Jawaban saya yang berusaha meredam protesnya tak jua berhasil. Pakai pendekatan kekuasaan juga sama saja. Ibunya ikut merengut. Hahaha. Inilah tim yang tidak solid saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sudahlah. Anggap saja itu bumbu penyedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas tiga jam saya melihat plang Wira Carita. Nahhhh itu dia!!! Saya bersorak sebagai bentuk pelepasan rasa puas yang mendera selama itu. Laut, here we come.....!!!!&lt;br /&gt;(nanti sambung lagi ya. udah malam neh, saya pulang dulu)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7652390519780020659?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7652390519780020659/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7652390519780020659&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7652390519780020659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7652390519780020659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/07/ke-laut-bag-1.html' title='Ke Laut (bag-1)'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7467443382942693920</id><published>2008-07-07T09:20:00.000-07:00</published><updated>2008-07-07T09:59:40.336-07:00</updated><title type='text'>Makan Enak</title><content type='html'>Bagi saya nama Nyoto memiliki arti penting. Bukan saja artinya yang memang menunjukkan kenyataan hidup yang harus kita hadapi, tetapi nama itu berarti makan enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya. Nun jauh di pojok Surabaya sebelah Barat, saya dikenalkan seorang temapn tempat makan yang sederhana, tetapi bercitarasa mantap. Tepatnya sewaktu saya mengabdi di tempat lama dan bertugas di Kota Pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang penganut Kristen Advent yang puritan dengan makanan, daging bukanlah pilihan utama makanan saya. Namun begitu diajak menikmati makanan bernama kare kambing Pak Nyoto, saya melupakan sejenak pilihan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dibilang tidak ada yang istimewa dari rupa tempat makan itu. Panas, berdebu, sempit dan pengap. Terletak di pinggir jalan besar dan berdekatan dengan Kantor Imigrasi Surabaya Barat membuat warung tersebut benar-benar tidak higienis. Saya cukup toleran dengan tempat makan yang tidak higienis asal enak; dan inilah tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat makanannya pun Anda mungkin bisa mengerenyitkan dahi. Betapa tidak. Kare kambing Pak Nyoto berisi makanan yang full lemak. Bagi pengidap asam urat dan kolesterol serta penyakit jantung disarankan untuk berpikir ulang untuk menyantapnya. Di dalam kotak kaca etalase hidangan, terpampang usus, limpa, otak, torpedo (kemaluan kambing), hati, paru dan kikil. Hebatnya, semua digoreng (entah minyak gorengnya sudah berapa kali digunakan). Kita bisa memilih apa isi kare kita; sejenis, dua jenis atau campur semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktis hanya potongan jeroan itu isi mangkuk yang akan disantap. Dengan siraman kuah kare yang merah tanpa santan dan potongan kucai, kare kambing siap disantap. Oh ya kucuran air jeruk tak lupa ditambahkan serta sekepyur irisan bawang goreng. Bila ingin berbeda rasa, tersedia kecap dan sambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Campuran inilah yang membuat saya menyukai kare kambing yang jauh dari menyehatkan tersebut. Dalam setiap kesempatan ke Surabaya saya akan mengunjungi sang maestro kare kambing di tepi Surabaya. Seperti pada hari ini 7 Juli 2008, secara khusus saya mengajak dua teman untuk mengunjungi Pak Nyoto, walau dari tengah kota Surabaya di tengah hari bolong (saya khawatir torpedonya sudah habis jika lewat jam makan siang). Sampai-sampai sang supir taksi pengantar kami berceletuk: makan saja kok jauh-jauh mas? Kayak nggak ada makanan lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dipikir-pikir, pertanyaan tersebut masuk akal. Sedemikian tergila-gilanyakah saya pada makanan tersebut? Masak cuma karena jeroan saya harus menyisihkan waktu, tenaga, uang yang tidak sedikit untuk menikmatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menurut saya sangat penting dalam menikmati makanan. Selain rasa dan harga yang menjadi pertimbangan terbesar, sikap penjual dalam melayani pelanggan menurut saya berperan cukup signifikan. Adakah calon pembeli mendapat pelayanan baik dan bersahabat ketika ia hendak mengeluarkan uang pembeli makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya rasa, aura keramahan Pak Nyoto selalu menarik ingatan bila ingin makan di Surabaya. Sesaat setelah masuk warung yang padat manusia, saya menyapa sang juragan dengan suara sedikit keras. Begitu tahu kalau saya yang memanggil, kontan ia dan isteri menyambut dengan teriakan yang jauh lebih keras. Rasanya seluruh warung bergetar oleh kehangatan sambutannya pada kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya yang berlumur minyak karena memotong jerohan diulurkan untuk menjabat saya. Guncangannya mantab dan disertai guyonan khas orang Surabaya. Inilah yang jarang saya temui jika makan di restoran bersih, mahal dan ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa enak dan harga mahal pasti biasa. Rasa enak berharga murah mungkin jarang ditemui. Tetapi sepertinya lebih jarang lagi bila ada makanan seperti kare kambing yang berharga hanya 10 ribu rupiah yang berisi banyak, enak, serta disertai keramahan yang betul-betul hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What a food. It's worth to try.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7467443382942693920?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7467443382942693920/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7467443382942693920&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7467443382942693920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7467443382942693920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/07/makan-enak.html' title='Makan Enak'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4052062840995042917</id><published>2008-07-06T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-07-06T08:36:57.963-07:00</updated><title type='text'>Malas</title><content type='html'>Penyakit yang satu ini hampir selalu menjangkiti saya jika harus mengerjakan hal-hal yang saya anggap penting, tetapi tidak cukup penting (you know what I mean lah). Itulah yang terjadi pada  saya akhir-akhir ini, tepatnya pada blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membuat situs ini akhir tahun lalu, saya tidak ingin bercanda atau main-main. Tidak pernah terlintas untuk mengabaikannya. Bahkan saya berjanji untuk memperbaruinya minimal seminggu sekali. Kenyataannya, saya terakhir mengunjungi "bayi" ini dua pekan lalu. Berarti saya tidak menepati janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilkada adalah penyebabnya. TV tempat saya bekerja telah memproklamirkan diri sebagai TV Pemilu. Penyelenggaraan pilkada di beberapa provinsi kemudian menjadi program "appetizer" sebelum "main course" yaitu Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden. Tiga provinsi secara berturutan menyelenggarakan pilkada yaitu NTB, Bali, dan Jawa Timur dalam waktu seminggu. Ckckck. Jadilah saya dan teman-teman berkeliling ke daerah-daerah itu. Sebelumnya pun saya harus berkutat dengan pembuatan program yang menyita waktu hingga berjam-jam. Situs ini akhirnya menjadi korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika dipikir-pikir sebetulnya ada lho waktu untuk membuka internet walau hanya beberapa menit dan mengetik pikiran saya dalam beberapa paragraf. Ya itu tadi, dengan alasan lelah saya mengabaikannya. Kayaknya kata malas yang paling tepat untuk menggambarkan tindakan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berulangkali saya melakukan tindakan serupa, yaitu menunda pekerjaan. Salah satunya adalah masalah kartu kredit. Oktober tahun lalu, saya dan isteri sepakat untuk menambah kartu kredit, yaitu HSBC setelah berbelanja di Hypermart. karena tertarik dengan program gratis belanja senilai tertentu dan iuran gratis setahun, saya mendaftar pada staff kartu kredit itu. Setelah melalui berbagai uji (baik isian formulir maupun verifikasi faktual ke rumah) kartu kredit saya disetujui. Namun saya memutuskan untuk tidak mengaktifkannya, karena ternyata program belanja gratis itu tidak ada lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mendongkolkan lima bulan kemudian muncul tagihan iuran tahunan. Wah apa lagi ini pikir saya. Lha wong belum setahun kok sudah ada tagihan yang katanya gratis. Nah ini dia penyakit saya, yaitu saya menunda-nunda mempertanyakan tagihan itu. Sebulan kemudian muncul lagi tagihan serupa. Serunya, ada lagi tagihan untuk keterlambatan pembayaran iuran tahunan itu. Mendongkolkan memang. Tapi saya saya lagi, yaitu kembali saya menunda-nunda untuk menelepon. Baru dua minggu lalu saya menelepon customer service HSBC untuk membatalkan kartu sebagai bentuk protes atas tagihan beruntun yang menurut saya tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, saya yang juga sekretaris jemaat GMAHK CPBSD Tangerang menunda sebuah pekerjaan yaitu memproses perpindahan beberapa anggota jemaat yang keluar atau masuk. Sudah hampir empat bulan, tetapi belum ada yang beres, karena saya terus menunda dengan alasan-alasan yang masih diterima akal, tetapi sudah kelewatan lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus-kasus ini menunjukkan betapa buruknya penyakit malas saya. Memang belum memberikan dampak negatif, tetapi keputusan untuk menunda-nunda penyelesaian sebuah masalah hanya akan memperbesar persoalan. Akhirnya saya sendiri seringkali kehilangan momentum untuk menyelesaikan persoalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kasus Situsindi, malam ini saya memutuskan harus mengisi dan memperbaruinya. Walaupun mengantuk karena belum cukup tidur setelah melintasi Bali dan pesisir Jawa Timur, saya berusaha membayar janji dan mulai mengisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, jika Anda memiliki persoalan yang harus ditangani segera...kerjakanlah. Suatu saat Anda pasti bersyukur karena tidak menunda pekerjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4052062840995042917?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4052062840995042917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4052062840995042917&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4052062840995042917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4052062840995042917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/07/malas.html' title='Malas'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5467733949064890158</id><published>2008-06-08T19:51:00.000-07:00</published><updated>2008-06-09T03:33:24.607-07:00</updated><title type='text'>Melewati Malam di Semarang</title><content type='html'>Perut ini melilit karena rasa lapar, setelah hampir empat jam didera emosi saat mengerjakan Debat Antarcalon Gubernur Jawa tengah Kamis malam pekan lalu. Belum lagi kaki yang rasanya enggan diajak berdiri begitu semua tayangan dinyatakan selesai. Betul-betul malam itu tim kami tidak hanya berusaha menampilkan tampilan yang menarik di panggung, tetapi juga di layar kaca; alhasil pikiran dan tubuh habis diperas. Boro-boro makan besar, ngemil pun tak sempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menunjukkan pk 23 lebih sedikit, ketika kami beramai-ramai meninggalkan hotel untuk mencari tempat makan. Sekitar 20 orang berbondong-bondong keluar dari Gumaya Tower Hotel di kawasan Kranggan Semarang menyusuri jalan yang lengang. Pucuk dicinta di sepanjang jalan tampak berderet penjual sate ayam dengan format lesehan. Berhubung tidak mungkin lagi untuk berwisata kuliner di tengah malam itu, kami pun menyiapkan diri untuk mengunyah sate ayam yang biasanya sebesar lalat (alias kecil-kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keramahan ala Jawa Tengah, Pak Slamet (namanya saya tahu dari bentangan kain butut di depan angkringnya) mempersilakan kami untuk duduk. Kebetulan tempatnya yang paling luas daripada penjual sate ayam yang lain. Sambil menunggu sate ayam yang tengah dibakar, saya memesan minuman jeruk manis panas, sekedar untuk menenangkan jeritan si perut. aya mencuri lihat sate ayam yang dibakar. Wuih....ukurannya kok lebih generous dibandingkan sate ayam yang saya biasa saya temui. Paling tidak potongannya sebesar ukuran jempol kaki saya (pasti lebih gede dari kelingking kan). Mantap neh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekitar 10 menit (maklum yang dibakar banyak sekali), datanglah sepiring sate ayam dengan potongan lontong bersiram bumbu kacang. Hmmmm...the smell is good pikir saya. Mencoba untuk tidak memberi penilaian dini, saya pikir bau enak itu muncul karena perus saya yang sangat lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah ritual makan sate dimulai. Mula-mula saya lihat dulu satenya. Betul besar-besar potongannya. Trus saya menemukan adaya berwarna kuning kehitaman, berbentuk bulat. Aneh. Biasanya daging ayam tidak seperti itu. Ternyata telur muda dan potongan ati. Tanpa mencelupnya ke bumbu kacang, saya menggigit telur itu. Bau sangit karena terbakar membuat sensasi yang lain. Enak. Setelah itu baru bumbu kacang, bawang dan potongan cabai rawit menyusul hingga menjadi perpaduan yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sate ayam berukuran besar itu membuat saya tidak dapat menghabiskan seluruhnya. Hanya 10 tusuk sate daging, ati dan telur yang ludes. Nyam...nyam...nyam. Gelontoran air jeruk manis yang sudah tidak lagi panas membuat perut harus berkonsolidasi lebih ketat. Ini nikmat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah menyampaikan hipotesis kepada beberapa teman tentang enak-tidaknya makanan. Makanan menjadi enak bila: &lt;br /&gt;1. Makanan itu dimakan saat kita lapar (bayangkan betapa tidak enaknya makanan bila kita kenyang. Walaupun pemasaknya adalah koki terkenal, makanan buatannya pasti kita tolak bila perut terisi penuh)&lt;br /&gt;2. Kita makan dengan orang yang kita senangi (baik kekasih, atau sahabat). Saya membayangkan, sop buntut Hotel Borobudur yang kondang itu pasti terasa seperti batu kerikil, bila kita memakannya bareng musuh atau orang yang tidak kita sukai.&lt;br /&gt;3. Kita tidak perlu membayar satu peser pun alias gratis. Ini sih semua orang mau hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sate ayam yang saya makan di pinggir jalan Kranggan itu memenuhi tiga kriteria tadi. Yaitu saya makan saat lapar, makan bersama teman-teman yang baik dan asik, dan makan dibayari kantor. Anyway, asik kok sate ayam Pak Slamet itu. Saya belum pernah menemui sate ayam yang terbuat dari telur muda dan potongan ati yang guede-guede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun wisata kuliner di Semarang batal (saya harus kembali ke Jakarta Jumat siang, setelah beli oleh-oleh yang wajib yaitu lumpia dan moaci), sate ayam malam itu boleh menjadi catatan lain jika berkunjung lagi ke Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5467733949064890158?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5467733949064890158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5467733949064890158&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5467733949064890158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5467733949064890158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/06/melewati-malam-di-semarang.html' title='Melewati Malam di Semarang'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2571387236203562185</id><published>2008-06-04T15:37:00.000-07:00</published><updated>2008-06-04T17:36:42.650-07:00</updated><title type='text'>Pilkada 2</title><content type='html'>Memang hebat para tokoh yang berani mencalonkan diri sebagai pemimpin kepala daerah. Hitung-hitungannya, tokoh itu harus memiliki visi, berani memimpin masyarakat yang heterogen, dan yang kini harus diperhitungkan adalah memiliki uang untuk membiayai kampanyenya. Yang terakhir ini benar-benar bergizi, karena uang yang dikeluarkan tentu tidak sedikit mulai dari membayar tim sukses, membuat atribut kampanye, memberi setoran ke partai pendukung, hingga memberi oleh-oleh pendukung kampanye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang-orang dengan jenis itu mudah ditemui juga. Toh orang berpunya pasti bervisi dan bisa memimpin (kalau tidak dari mana ia memperoleh hartanya). Masalahnya, dalam sebuah kampanye seorang kandidat harus mampu menyatakan semua program yang diusungnya sejelas mungkin agar publik mendapatkan figur pemimpin yang dapat dipercaya; dalam hal ini tidak semua orang berani dan mampu berbicara di sebuah forum terbuka. Apalagi sampai diadu macam Obama vs Clinton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua nama yang terakhir begitu mewarnai persaingan calon presiden Partai Demokrat AS. Walaupun belum sampai menentukan presiden, keduanya bertarung sedemikian rupa sehingga publik sendiri (termasuk kubu Republik) mendapat suguhan yang seru dan mencekam. Dalam setiap kesempatan debat keduanya adu kepiawaian berbicara dan olah pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penikmat dan pelaku pertelevisian, saya merasa terpuaskan dengan aksi keduanya di panggung yang sama. Inilah bentuk terbaik menurut saya, untuk menakar seberapa mampu seorang calon pemimpin meyakinkan konstituennya bahwa ialah figur terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mengalihkan pandangan ke dalam negeri, saya  kembali ke dunia nyata. Inilah Indonesia yang saat ini harus bergelut dengan persoalan-persoalan mendasar sehingga belum mampu bagi seorang calon pemimpin mengadu argumentasinya secara terbuka melawan kandidat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan minggu di awal Juni ini, stasiun tv tempat saya bekerja menyelenggarakan penyampaian visi misi kandidat gubernur Jawa Tengah bersama KPU setempat. Rencananya, kami membuat setiap pasangan calon beradu visi, misi dan program secara terbuka, tanya jawab dan berdebat. Sayang seribu sayang rencana itu tinggal rencana. KPU menolak usulan kami dengan alasan ada peraturan pemerintah yang melarangnya. Hal itu ditegaskan lagi saat tim kami bertemu lengkap dengan tim sukses seluruh calon. Mereka kembali menegaskan penolakan atas rencana crossfire (saling adu argumen secara terbuka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu saya berpikir benarkah masyarakat akan mendapat sajian program terbaik dari para calon atau tengah dibodohi karena mereka tidak mendapat ujian dari lawan politik. Taruhlah memang ada panelis yang membedah setiap pernyataan kandidat, tetapi ada kecenderungan panelis menempatkan diri bukan sebagai lawan, tetapi sebagai akademisi yang berhati-hati untuk tidak dipandang berpihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah saya berlebihan bila berharap kita memiliki kultur terbuka dalam mencari calon pemimpin seperti di Amerika? Tidakkah cara itu merupakan salah satu cara terbaik menyimak gagasan dan cara penyampaian yang baik sekaligus mendapatkan janji terbuka tentang apa yang akan dilakukannya jika seseorang memimpin. Banyak orang bilang kultur masyarakat Indonesia tidak seperti itu (seperti yang disampaikan salah satu anggota tim kampanye satu calon di Semarang), sehingga dikhawatirkan akan timbul kesan buruk di akar rumput. Kalaupun seperti itu, mengapa kita tidak mulai mengubahnya? Membuat semua calon membuka diri akan jauh lebih baik daripada sekedar menyampaikan program searah yang sukar diuji. Jangan sampai kita membeli kucing dalam karung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2571387236203562185?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2571387236203562185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2571387236203562185&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2571387236203562185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2571387236203562185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/06/pilkada-2.html' title='Pilkada 2'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8573869062084655524</id><published>2008-06-01T19:20:00.000-07:00</published><updated>2008-06-01T19:51:51.920-07:00</updated><title type='text'>Kekerasan</title><content type='html'>Dua pekan lalu saya berdialog secara imajiner dengan Bapak saya almarhum. Dalam pembicaraan yang saya kutip dan saya masukkan ke blog ini adalah betapa Bapak merisaukan kekerasan yang terjadi di negeri ini. Keprihatianan itu mencuat, karena saat memperjuangkan kemerdekaan betapa perbedaan suku, agama, ideologi dan status sosial tidak pernah dipersoalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi saat ini sungguh memprihatinkan. Indonesia seolah terpisah oleh garis batas yang begitu jelas, tegas.  Kepercayaan seseorang atau sekelompok orang disampaikan kepada pihak lain dalam bentuk atribut, unjuk rasa dan publikasi. Yang lebih gila, kelompok yang tidak sepaham dengan kepercayaan itu dengan mudahnya diberangus, ditindas, dizolimi atas nama agama dan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Nasional, salah satu simbol kebanggan negeri ini menjadi saksi tindak kekerasan FPI terhadap sekelompok orang (bahkan sebagian besar perempuan dan anak-anak) Minggu, 1 Juni. Dengan alasan berpegang pada peraturan yang melarang ajaran kelompok tertentu, FPI merasa berhak mengayunkan kepalan, kayu, dan pemukul lainnya terhadap massa yang notabene tidak siap berkonfrontasi secara fisik (secara ideologis siapa tahu?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun TV tempat saya bekerja dalam sebulan terakhir menayangkan program Debat. Seperti namanya, program ini berisi pro-kontra sebuah pemikiran dalam konteks mengetahui argumentasi pihak lawan. Namun berbeda dengan program dialog lainnya yang menerapkan adanya moderator yang tak berpihak, dua pembawa acara program ini memosisikan diri sebagai pendukung ide yang berseberangan. Setelah tiga episode, Debat secara jelas menunjukkan kepada publik keinginan kami bahwa bangsa Indonesia dapat menyampaikan pokok pikiran dengan keras tanpa harus sakit hati atau bahkan berbenturan fisik. Hal itu terbukti dengan ucapan keras, wajah serius kalau tidak dapat disebut garang, dan teriakan. Namun semua itu diakhiri dengan wajah riang, dan saling bersalaman di antara seluruh peserta program.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada kekerasan atas nama kelompok tertentu, saya  merasa tindakan-tindakan tersebut  sudah keterlaluan.  Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikenal toleran, ramah dan  egaliter secara perlahan berubah menjadi sektarian, pemarah dan antiperbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali saya melihat (karena terekam kamera televisi dan ditayangkan), tindakan kelompok-kelompok sejenis begitu mudah beraksi. Seolah mereka berada di atas hukum dalam menerapkan sanksi bagi kelompok lain yang tidak sejalan dengan mereka.  Pertanyaan kemudian: di mana polisi? Sampai kapan polisi berdiam diri dengan hanya bermain kata: kami akan menindak pelaku kekerasan namun tanpa bukti? Apakah polisi tidak berani? Atau mungkinkah polisi tidak berani, karena kelompok-kelompok itu mendapat  beking dari orang dengan pangkat tertentu? Di mana keadilan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan adalah sebuah anugerah Yang Maha Kuasa. Ciptaan-Nya yang beragam menunjukkan betapa luasnya pandangan Beliau terhadap alam semesta. Mengapa kita mengebiri pandangan itu dengan alasan yang begitu dangkal; agama. Bukankah hanya Dia yang berhak menghakimi, karena kita pun tak luput dari dosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8573869062084655524?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8573869062084655524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8573869062084655524&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8573869062084655524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8573869062084655524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/06/kekerasan.html' title='Kekerasan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-7080588440249652058</id><published>2008-05-26T02:31:00.000-07:00</published><updated>2008-05-26T03:14:57.083-07:00</updated><title type='text'>Liburan</title><content type='html'>Satu bulan. Itulah hitungan kasar waktu libur anak-anak sekolah di penghujung tahun ajaran. Yang terbayang di kepala, bagaimana mengisi waktu libur anak-anak (terutama kedua anak saya) agar menyenangkan, sekaligus konstruktif dan terarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila uang cukup, segalanya tampak mudah. Kirim mereka dan ibunya ke tempat-tempat yang oke, beri uang jajan dan inapkan di hotel berkelas. Beres. Tapi kalau karyawan seperti saya, tentu hal itu masalah besar. Apalagi harga BBM baru 'berontak'. Belum selesai mengirit penggunaan bensin, masalah sekolah (karena dua-duanya naik ke jenjang yang lebih tinggi) baru selesai dengan susah payah, kini urusan liburan turut bikin pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spesifik anak-anak saya tidak pernah usul untuk berlibur ke tempat-tempat tertentu. Tetapi melihat aktifitas mereka yang hanya berkutat di depan playstation dalam beberapa hari terakhir ini (maklum sekolah mereka sudah habis, sambil menunggu pengumuman ujian mereka libur), rasanya ada yang tidak benar. Belum lagi beberapa teman membawa mainan berupa kartu yang membuat anak-anak itu duduk berjam-jam bermain kartu yang tidak jelas juntrungannya (bapaknya tidak mengerti mainan kartu Yu Gi Oh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding pengalaman liburan saya tiga puluh tahun lalu. Berhubung bapak saya juga bukan orang berada, maka saat liburan panjang selalu saya isi dengan bermain bersama teman-teman sepermainan. Namun rasanya tiap hari permainan itu selalu berbeda. Hari ini ngobak (berenang di rawa), lalu bermain petak umpet, mencari burung, mencuri buah jamblang/juwet Pak Haji, main layangan dan seabreg petualangan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang hilang dari kegiatan anak-anak kota jaman sekarang; minimal di lingkungan tempat tinggal kami di BSD, Tangerang. Ketiadaan lahan kosong, jenis mainan yang tersedia dan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap aktifitas anak-anak. Rumah dan ruko menjamur di lingkungan kami, sehingga anak-anak tidak memiliki ruang gerak untuk beraktifitas seseru jaman saya dulu. Paling-paling mereka hanya bisa main bola di areal seadanya atau bersepeda. Kemudian sangat jarang terdapat tanaman yang eksotis seperti jamblang, kesemek atau rambutan. Paling-paling yang tersisa kini hanya kersen atau seri; itupun banyak anak yang dilarang orang tuanya memakan buah makanan burung. Yang membuat trenyuh adalah mainan anak-anak sekarang didominasi mainan elektronik, seperi PS, HP dan komputer. Tidak ada lagi gobak sodor, demprak, gala asin atau petak umpet. Anak-anak menjadi individualistis dan minim aktifitas fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi sulit untuk memperkenalkan kedua anak saya dengan mainan yang saya kenal saat kecil dulu. Ada sih keinginan, tetapi waktu yang habis di kantor dan jalan selama 5 hari seminggu membuat waktu libur begitu berharga untuk dibuang dengan bermain (enaknya tidur). Alhasil anak-anak bermain tanpa orang tua (egois yach kedengarannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompromi yang juga beresiko saat mengisi liburan adalah dengan mengajak mereka ke mal. Tapi yach begitulah, tetap menghabiskan uang untuk makan dan bermain, serta membuat mereka hedonis dan konsumtif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat saya inilah pilihan yang tidak mudah untuk membuat anak-anak berlibur tenang, asyik sekaligus konstruktif dan edukatif. Mungkin ada di antara Anda yang bisa berbagi pengalaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-7080588440249652058?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/7080588440249652058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=7080588440249652058&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7080588440249652058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/7080588440249652058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/liburan.html' title='Liburan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6026712328526935410</id><published>2008-05-23T03:43:00.000-07:00</published><updated>2008-10-31T02:09:44.536-07:00</updated><title type='text'>Ujian nasional</title><content type='html'>Tidak ada yang membuat anak saya lebih gembira daripada memegang kembali Playstationnya saat ini. Praktis dalam dua bulan terakhir, ia dipisahkan dari benda yang membuatnya berkhayal memiliki kemampuan super dan mengalahkan para penjahat. Ibunya, istri saya, menyembunyikan benda itu, agar ia dapat berkonsentrasi menghadapi ujian nasional sekolah dasar. Dan kini, ia bebas memainkannya karena ujian telah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak saya memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ia tidak khawatir menghadapi apapun, baik ulangan, ujian, lomba, bahkan publik. Beberapa kali ia kedapatan mencuri-curi membaca komik atau main game; padahal ketika dites ibunya, banyak hal yang ia tak mampu jawab. Ck ck ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari menjelang ujian nasional adalah saat yang paling membosankan. Hampir setiap hari ia mengulang-ulang pelajaran. Di beberapa kesempatan, kami berdua mengajaknya ke toko buku hanya untuk mencari soal-soal sebagai bahan latihan. Belum lagi kemudian dengan materi-materi tambahan dari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyaksikan ia mengerjakan latihan, saya berpikir, benarkah apa yang kami orang tuanya buat, yaitu menekan bocah yang tumbuh remaja ini (oh ya, tinggi anak saya yang pertama ini sudah lewat dari ibunya) untuk belajar setiap hari dengan mengabaikan waktu main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami, saya, orang tuanya begitu khawatir ia tidak lulus ujian. Bayangkan, usaha yang dilakukan selama setahun, akan gagal hanya dengan soal yang dikerjakan dalam waktu 90 menit (ada tiga pelajaran yaitu BI, Matematika dan IPA). Rasanya tidak adil, karena masa depan seorang siswa ditentukan oleh soal buatan orang atau lembaga yang tidak mengetahui kekuatan atau kelemahan sehari-harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya orang yang percaya, bahwa ujian diperlukan untuk mengukur tingkat keberhasilan seorang pelajar. Namun saya juga harus mempertimbangkan proses belajar mengajar selama rentang waktu tertentu sebelum mengambil sebuah keputusan agar hasilnya adil dan teliti. Namun sejak Depdiknas mencanangkan Ujian Nasional untuk SD tahun 2008, saya rasa pemerintah terlalu ambisius untuk membuat standar pendidikan siswa di seluruh Indonesia. Padahal efektifitas Ujian Nasional SMU dan SMP belum dapat mencerminkan keberhasilan yang diinginkan (setidaknya saya belum mengetahui ada evaluasi tentang hal itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pemerintah sudah mempertimbangkan efek psikologis untuk anak-anak yang tertekan karena orangtua masing-masing khawatir mereka tidak lulus? Sudahkah mereka mempertimbangkan betapa banyaknya waktu anak-anak yang terbuang untuk tidak menikmati masa kecil mereka ganti waktu belajar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah iklan sabun deterjen memperlihatkan betapa ada anak SD tertidur saat belajar Matematika. Ia sempat menuliskan hitung-hitungan di atas sapu tangan tanpa sadar. Sewaktu mengerjakan soal di kelas, ia terlihat begitu tertekan dan mengeluarkan sapu tangan yang sama untuk mengelap peluh yang mengucur di dahi. Kemudian tampak sang guru merebut sapu tangan itu dengan tujuan untuk membuktikan si anak mencontek. Kenyataannya sapu tangan itu telah bebas dari tulisan karena kehebatan si sabun yang diiklankan dan sebagai gantinya ada tulisan (kalau tidak salah) "ingin pintar jangan mencontek". Selamatlah anak itu. Tanpa membicarakan si sabun, saya mengangkap gambaran betapa tertekannya si anak, saat belajar sampai tertidur saat belajar. Betapa lelah lahir dan batinnya bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ujian telah selesai. Anak saya kembali menemukan dunianya yang terabaikan. Pengumuman masih dua minggu lagi. Saya pun pasrah menunggu apa pun hasilnya. Bagaimanapun pemerintah sudah memutuskan dan saya tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa dan meminta anak saya bekerja sebaik-baiknya. Semoga anak saya dan anak Anda baik di SD, SMP maupun SMU yang mengiktui Ujian Nasional dapat lulus dan meraih cita-cita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6026712328526935410?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6026712328526935410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6026712328526935410&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6026712328526935410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6026712328526935410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/ujian-nasional.html' title='Ujian nasional'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5460666428731519857</id><published>2008-05-21T22:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-22T23:00:07.052-07:00</updated><title type='text'>Aduh, negeriku!</title><content type='html'>Ada apa dengan negaraku? Pertanyaan ini timbul dalam dialog imajiner saya dengan almarhum bapak saya. Sebagai pejuang Angkatan '45, saya yakin beliau merasa miris melihat kondisi negara yang ia perjuangkan kemerdekaannya, belum lagi menikmati kemerdekaan lahir batin.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pertanyaan bapak itu, saya tidak dapat menjawab. Tepatnya, saya tertegun beberapa lama untuk menemukan kata-kata yang tepat. Bagaimanapun saya hidup di era ini dan sedikit banyak tindak tanduk saya turut mewarnai kehidupan di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa minggu terakhir ada begitu banyak kejadian luar biasa di dunia dan negara kita.  Harga minyak dunia melonjak drastis hingga 135 dollar AS per barrel (angka pada 21 Mei 2008). Pemerintah Indonesia panas dingin, karena APBN-P hanya menggunakan asumsi 95 dollar AS per barrel. Tidak ada yang bisa menjamin harga minyak dunia akan berhenti di angka tersebut. Keputusan untuk menaikkan harga BBM bersubsidi tidak serta merta diamini setiap lapisan masyarakat. Demo menolak kenaikan harga BBM meluas. Terakhir, Istana lambang pusat pemerintahan negeri jamrud katulistiwa ini dilempar bom molotov sebagai bukti kemarahan mahasiswa. Kontan aparat keamanan meradang dan bertindak keras. Sejumlah mahasiswa dipukuli dan ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan negaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala BIN menuduh seorang mantan menteri menjadi dalang demo antikenaikan BBM. Kok masih ada tuduh menuduh era orde baru? Demikian tanya banyak orang pintar negeri ini. Bukan masalah benar atau salah dalam menyampaikan aspirasi, tetapi mengapa harus ada tuduh menuduh? Toh, saat ini orang bebas berpendapat. Namun memang ada aksi yang membuat panas beberapa orang di pemerintahan. Atau mungkin beberapa orang paranoid dengan kemungkinan pengambilalihan kekuasaan oleh orang-orang tertentu. Yah, seperti mengail di air keruh begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan negaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah guru di Medan dan Sulawesi Selatan diperiksa polisi karena didugamembantu para muridnya dalam mengerjakan soal ujian nasional. Tidak dapat dimungkiri di sekolah-sekolah gurem di luar Jawa terutama, ujian nasional adalah momok yang menakutkan. Mereka tidak memiliki fasilitas untuk dapat mempermudah para murid kelas akhir lulus ujian. Tidak ada buku, pengajar dan fasilitas lain agar si anak percaya diri melewati ujian yang hanya sekali namun menentukan kelulusan. Tetapi sampai Densus 88, sebuah satuan antiteror Polri diturunkan menangkap guru yang melanggar itu, adalah sebuah hal yang luar biasa. Mungkinkah pelanggaran hukum para guru setara dengan kegiatan terorisme?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ada dengan negaraku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin isteri saya berbelanja keperluan dapur di Pasar Modern BSD. Ia terkejut saat membeli tempe. Bukan karena harganya naik (setelah harga baru akibat kenaikan harga kedele), tetapi karena harganya tetap Rp. 4000 per lempeng. Harga itu mencengangkan, karena harga barang lain perlahan tapi pasti naik dan tidak pernah berhenti (apalagi turun). Memang cuma Rp.100 sampai seribu rupiah untuk sayur mayur dan telur, tetapi secara psikologis mengganggu pikiranya dalam mengatur uang belanja yang belum berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan negaraku? Mungkinkah ini karena salah dua pejuang dan negarawannya meninggalkan negeri yang aku perjuangkan dan pertahankan kemerdekaannya dari Belanda, PKI dan Permesta? bapak bertanya sambil matanya menerawang ke langit yang tak berbatas. SK Trimurti dan Ali Sadikin adalah dua orang yang sangat kuhormati, apalagi Bang Ali pernah menjadi komandanku saat aku menjadi anggota KKO (sekarang Marinir). Mungkinkah negara ini kehilangan panutan? Ia kembali bertanya sambil menghela nafas. Di sebelahnya, ibuku hanya bisa menepuk-nepuk bahunya mencoba menenangkan dan memberi dukungan. Mungkin ibu juga berusaha memberi keyakinan pada bapak, bahwa anaknya bersama isteri dan anak-anak mereka (cucu-cucunya) akan baik-baik saja bersama negara yang ia cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya, Yudyanus Soedibyo wafat 25 tahun lalu, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP. Sedang ibu, Muji Rahayu menyusul beliau 18 tahun lalu, beberapa waktu sebelum saya meraih gelar sarjana di Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan imajiner Bapak begitu sederhana namun sukar dijawab. Bagaimana tidak; negeri yang merdeka lebih dahulu dari Malaysia dan sama-sama terpuruk dengan Thailand saat krisis ekonomi tahun 1998, belum juga berlari dan berdiri sejajar dengan keduanya. Apalagi dibandingkan dengan Singapura yang sebesar tahi lalat dibandingkan negeri kita yang besar laksana raksasa. Begitu banyak persoalan yang perlu dijawab dengan kerja keras tanpa pamrih, dengan menghilangkan batas agama, suku dan golongan. ego pribadi dan kelompok harus diberantas agar kita dapat berdiri tegak dan diperhitungkan di mata dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak juga Ibu, jawab saya perlahan dalam perbincangan imajiner itu, negeri ini sudah menderita sejak jaman Belanda, Jepang hingga saat ini. Namun percayalah, masih banyak orang yang bersedia membaktikan diri untuk memajukannya tanpa pamrih. Yakinlah anakmu ini dan keluarganya ada di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Kebangkitan Nasional Indonesiaku.&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5460666428731519857?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5460666428731519857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5460666428731519857&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5460666428731519857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5460666428731519857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/aduh-negeriku.html' title='Aduh, negeriku!'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6137549129936547457</id><published>2008-05-18T19:48:00.000-07:00</published><updated>2008-05-18T21:14:49.178-07:00</updated><title type='text'>BBM</title><content type='html'>Hari-hari ini akan jadi menarik untuk diperhatikan. Bangsa Indonesia menunggu acara penting yang mempengaruhi kelangsungan hidup mendatang (cieeee, bisa aja nggak segitu-gitu amat). Harga BBM naik! Yang ditunggu banyak orang sejak awal bulan Mei, tetapi tak jua muncul. Padahal secara psikologis hal itu sudah mengganggu keuangan banyak keluarga Indonesia. Harga barang-barang yang sudah naik sejak Lebaran tahun lalu (bulan Oktober) tak pernah lagi turun. Dan sekarang kebingungan masyarakat dimanfaatkan sejumlah orang untuk menaikkan harga tanpa alasan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja harga telur. Istri saya yang kebetulan suka masak (tidak jago sekali, tapi lumayanlah) begitu dongkol mengetahui posisi harga telur di pasar. Masih teringat petrtengahan tahun 2007, angka itu bertengger di Rp. 7000 per kg, tetapi kini rasanya kok tidak mau turun dan malah naik ke Rp. 14.000 per kg. Kebetulan saya dan anak-anak yang gemar makan kue buatan ibunya, harus mengurangi pesanan. Dulu istri biasa membuat kue dua kali seminggu, tetapi kini paling banter sekali dalam dua minggu. Maklum, sekali bikin ia bisa membutuhkan dua kilogram telur, belum termasuk tepung terigu yang harganya juga tidak rasional, margarin yang harganya sudah mencapai dua kali lipat dan gula pasir (yang satu ini masih dapat ditoleransi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah gambaran betapa gamangnya banyak keluarga karena kepastian yang tidak kunjung datang. sampai kapan halini berlangsung kita masih menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumor memang sudah beredar. Harga baru BBM akan diumumkan pekan depan. Nah ini kian dekat, kenapa? Karena sejak kemarin (Minggu 18 Mei, Pertamina Jakarta sudah membatasi pembelian bensin premium maksimal Rp. 75.000 untuk mobil dan Rp. 15.000 untuk motor. Kemudian mulai 15 Mei, program konversi minyak tanah (mitan) dinyatakan selesai. Artinya tidak ada lagi mitan berharga Rp. 2400 per liter. Yang ada, pembeli mitan harus mencarinya ke SPBU dengan harga Rp. 8000 per liter. Saya bayangkan masih banyak orang yang belum dapat gas dan tidak punya uang cukup untuk beli gas (karena nggak bisa ngecer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan betapa saya harus mengurangi jatah makan siang di kantor, untuk menekan pengeluaran. termasuk program diet sih, karena perut saya sudah demikian membesar susah kecilnya hehehe&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6137549129936547457?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6137549129936547457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6137549129936547457&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6137549129936547457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6137549129936547457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/bbm.html' title='BBM'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-2060942925802823667</id><published>2008-05-11T21:31:00.001-07:00</published><updated>2008-05-11T21:31:53.082-07:00</updated><title type='text'>Pak SBY dan Om Bill</title><content type='html'>Lega rasanya saat wajah Bill Gates muncul di layar televisi pada 8 Mei 2008. Persiapan, tarik menarik kepentingan dan masalah keamanan yang muncul sejak usulan ini disetujui begitu banyak. Sampai 7 Mei malam ijin untuk menayangkan kuliah umum raja Microsoft asal AS itu tak juga keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari undangan untuk meliput kuliah salah satu orang terkaya dunia yang dating ke Indonesia dua minggu sebelumnya. Kami hanya memandangnya sebagai sebuah liputan yang besar tetapi tidak luar biasa. Namun pandangan itu menjadi berbeda, ketika saya diajak bos saya untuk menemui panitia pengundang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kami ditawari untuk meliput seluruh kegiatan Bill dan Presiden SBY pada tanggal 9 Mei. Tentu saja kami mengiyakan, karena pastilah pertemuan itu bermakna besar bagi negeri ini. Bayangkan, orang nomer 1 di negeri berpenduduk 200 juta lebih ini bertemu dengan orang terkuat perusahaan raksasa software  dunia. Wow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun perjalanan menuju siaran itu tidaklah mulus (saya tidak pernah berpikir ada yang selalu mulus dan lancer dalam mengerjakan setiap tugas, karena masalah adalah tantangan). Pertama kami harus berhadapan dengan persiapan internal. Banyak sekali peralatan dan tenaga yang dibutuhkan untuk menyiarkan pertemuan tersebut. 10 kamera dengan 10 kameraman, bayangkan! Itu belum termasuk audioman, transmisi, editor, perkabelan dan PD. Oh ya produsernya dua orang termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budget! Nah ini yang luar biasa. Tidak ada urusan dengan rating, karena orang Indonesia sepertinya lebih suka menonton sinetron, film atau lawak (riset AGB Nielsen Media Research  menunjukkannya). Untuk program yang kayaknya bakal sepi rating ini, kami mengajukan budget yang lumayan banyak. Namun kami yakin prestise bida diraih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang merepotkan adalah pendaftaran kru. Ada tiga kelompok yang semua berkepentingan di acara tersebut. Pertama Kadin sebagai penyelenggara, kedua pihak istana, yang harus menjaga keamanan Pak Presiden, dan ketiga Microsoft sebagai “pemilik” Bill Gates. Nah, tugas saya menghubungi ketiga pihak itu lumayan menguras tenaga, karena banyak orang yang harus dihubungi. Sampai malam terakhir saya dikejar-kejar atasan (dia juga dikejar-kejar boss tertinggi, yang ingin memastikan anak buahnya siap di acara tersebut) dengan pertanyaan apakah semua orang sudah siap dengan tanda pengenal. Untungnya teman-teman di Kadin bersedia menjawab pertanyaan saya yang cenderung memaksa dengan lemah lembut (mungkin bos Kadin dan pemilik perusahaan tempat saya bekerja orangnya sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang paling ribet. Tidak pernah ada kata ok yang jelas untuk penyiaran Om Bill Gates dan Pak SBY. Malam hari 12 jam menjelang kegiatan, perintah  itu belum turun. Pemilik berulang-kali menelepon atasan saya untuk membicarakan itu. Keputusan sementara adalah jalan terus sampai ada tuntutan dari pihak Microsoft (setelah acara saya bertemu PR Microfot Indonesia, ia bilang ada aturan internal untuk Bill Gates yaitu tidak boleh siaran langsung). Sambil melihat pemasangan panggung dan alat siaran, kami bertemu dengan staf Setneg. Kebetulan saya sudah beberapa kali berhubungan dengan salah seorang di antaranya. Mulailah lobi dan persuasi agar teman-teman setneg bersedia mendukung siaran langsung dan meminta Presiden mengijinkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa! Pernyataan dari pihak istana siaran langsung ok! Ini yang kami butuhkan untuk memuluskan jalannya siaran esok hari. Kemudian atasan saya memerintahkan teman-teman di kantor untuk menjalankan tulisan pemberitahuan adanya siaran langsung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan senang karena ijin istana hanya  berlangsung lima menit. Setelah itu sebuah sms pemilik kepada wapemred menyebutkan adanya protes dari Microsoft. Kontan, tulisan itu dicabut dan ijin istana seolah tidak bermakna. Alasannya, Bill Gates dan Microsoft adalah orang yang ditunggu bukan Presiden. Kepala ini menjadi cenat-cenut. Bayangan ketidakberhasilan siaran langsung adalah sebuah kegagalan dari upaya yang dicanangkan sejak seminggu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi keputusan pada pukul berapa siaran langsung itu ditayangkan adalah sebuah keputusan sulit. Mengapa? Jadwal kedatangan Presiden ke acara simpang siur! Bill Gates dipastikan tetap pada rencana yaitu pukul 8 WIB tiba di JCC, tetapi waktu Presiden datang belum dapat dikonfirmasi. Bagian Programming dan Marketing berulangkali meminta kepastian yang sulit dipenuhi. Akhirnya dengan keberanian ditetapkanlah pukul 9.30 WIB acara dimulai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kegalauan dan ketidakpastian, saya pulang sekitar pukul 23.30 WIB. Udara malam yang dingin membuat kepala ini bertambah berat. Kaki pun sulit dibuat melangkah, karena sudah lebih dari 19 jam saya bekerja hari itu. Sesampai di rumah, tak ada lagi keinginan untuk membersihkan diri. Cukup dengan ganti baju, cuci muka dan kaki, saya langsung merebahkan diri di kasur yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidur pun bukan perkara mudah. Berbagai pikiran berkecamuk, tentang bagaimana bila ada pihak-pihak yang tidak menyetujui siaran langsung esok dan memerintahkan kami untuk mematikan semua peralatan. Terasa singkat rasanya tidur ini, karena saya segera terbangun mendengar dering telpon. Perintahnya saya harus siaran pagi harinya untuk menggantikan teman yang dinilai lebih penting berada di JCC. Siap! Namanya bawahan, perintah harus dijalankan dengan sebaik-baiknya terutama bila Anda adalah orang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah gontai dan mata berat, pukul 5 saya meluncur ke pusat Jakarta untuk siaran di studio di sebuah pusat perkantoran. Cukup hanya sepertiga dari seluruh satu setengah jam program, saya tinggalkan program dan menuju JCC. Saya bayangkan betapa beratnya kolega pasangan siaran saya menangani para tamu selama sejam yang tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di lokasi saya mendapati semua orang sudah siap di posisi. Peralatan terpasang tanpa masalah. Namun tetap belum ada lampu hijau untuk siaran langsung. Pemilik sempat mampir ke ruang siaran dan mengingatkan kami untuk menerapkan strategi “hit and run” saat siaran nanti. Artinya, bila ditegur kami hentikan siaran, bila tidak, siara jalan lagi. Baiklah. Doa pun dilayangkan bersama dengan harapan Tuhan berbaik hati agar kami tak kena masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat pukul 8 WIB, Presiden SBY tiba di pelataran JCC, yang artinya the show will begin immediately. Tak lama kemudian Om Bill datang. Pada saat yang bersamaan kamera dan siaran kami sudah “on”. Terus-terus dan terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang protes? Tidak ada yang datang dan meyuruh penghentian siaran? Wah! This is great, man! Jalan terusss!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhir pidato Om Bill dan Ibu Mari Pangesti, Menteri Perdagangan yang jadi moderator acara, siaran lancar.  Saya berkata dalam hati, apakah semalam ada orang yang begitu paranoid sehingga ada ancaman pelarangan siaran. Nyatanya aman-aman saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peristiwa itu saya dapat pelajaran berharga, yaitu adalah penting untuk percaya diri, siapkan lebih dari satu rencana pendukung bila rencana utama gagal. Yang berikutnya adalah perkokoh kerjasama dengan semua orang dan semua lini. Yang terakhir, jadilah pemimpin kuat agar di bawah Anda memiliki keyakinan dengan siapa Anda bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabik,&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-2060942925802823667?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/2060942925802823667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=2060942925802823667&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2060942925802823667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/2060942925802823667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/pak-sby-dan-om-bill.html' title='Pak SBY dan Om Bill'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4113387815482806872</id><published>2008-05-04T21:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-04T21:23:55.050-07:00</updated><title type='text'>Spirit</title><content type='html'>Waktu menjadi pelajar SMP tahun 1982, saya memiliki kebiasaan naik truk trailer (pengangkut peti kemas) yang kosong tentunya, untuk pulang sekolah. Terletak di perempatan Permai Jakarta Utara, sekolah saya berada di jalur sibuk se Jakarta Utara. Kendaraan pribadi dan umum berebut tempat dengan truk peti kemas yang akan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Kendaraan selalu berjalan lambat di perempatan itu, karena adanya lampu lalu lintas, penuh kendaraan dan anak- sekolah menyeberang (sedikitnya ada tiga sekolah di sekitar tempat itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa teman selalu memanfaatkan truk trailer kosong yang memang berjalan lambat untuk pulang sekolah. Trus kenapa nggak pake kendaraan lainnya? Pertama nggak punya kendaraan pribadi (maklum keluarga bukan orang berpunya), kedua karena nggak punya duit lebih buat naik kendaraan umum (kalau bisa ngirit), ketiga kayaknya ada penyaluran semangat dan keinginan ingin jadi orang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubaran sekolah pukul 13, kami (biasanya berempat: yaitu saya, Yani, Benny dan John) menunggu truk, pas di lampu merah. Oh ya Yani adalah anak orang berada. Ia mau ikut saya dan teman lainnya lebih karena solidaritas. Begitu si truk datang, kami melompat di belakang hampir tanpa memedulikan bahayanya lalu lintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hup, kami saling membantu untuk bisa naik. Dan kalau sudah di atas rasanya luar biasa; kami yang terhebat, saya yang terhebat. Pada bberapa kesempatan, truk yang masih bergerak kami kejar untuk dapat meraihnya dan naik. Bayangkan, panas menyengat, asap mobil dan peluh jadi satu di tubuh kami. Tapi rasanya semua itu hilang jika kami berhasil mencapai truk yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat untuk meraih truk itu rasanya kini saya rasakan kembali saat saya memasuki habitat baru. Sejak April 2008 (namun secara reguler baru Mei 2008) saya menjadi anggota TV baru dengan berbagai kekurangannya. Namun atmosfir yang saya rasakan begitu luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk pimpinan memiliki semangat untuk mendapat perhatian publik yang mengalir ke mana-mana. Alhasil hingga di level bawah semangat itu memompa energi untuk berbuat yang terbaik. Banyak orang baru dari berbagai institusi yang melebur di sini, tetapi rasanya jaket lama itu ditinggalkan dan kini kami semua memiliki label baru yang harus diperjuangkan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat berlari, meraih dinding truk dan melompat ke atas, saya merasakan ada energi dahsyat yang mengalahkan semua rintangan dan tidak takut menghadapi apapun. Perasaan yang sama kurang lebih menyelimuti saya setiap saat saya melangkahkan kaki ke kantor baru saya. Walaupun di sana sini banyak kekurangan yang jauh bila dibandingkan kantor lama saya, semuanya lebur dalam semangat untuk mengejar ketertinggalan dan meraih hasil terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit itu begitu kuat, sehingga mau rasanya saya berada di kantor ini 24 jam sehari untuk membuat karya yang lebih besar dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4113387815482806872?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4113387815482806872/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4113387815482806872&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4113387815482806872'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4113387815482806872'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/05/spirit.html' title='Spirit'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3600636115718270020</id><published>2008-04-27T22:11:00.000-07:00</published><updated>2008-04-27T22:13:28.730-07:00</updated><title type='text'>Kasih Ibu</title><content type='html'>Lihatlah tangan-tangan yang membawa ribuan asa&lt;br /&gt;Merajut kedamaian di setiap geraknya&lt;br /&gt;Menjadikan dirinya sebagai tempat perlindungan bagi anak-anaknya&lt;br /&gt;Dan peraduan yang nyaman untuk suaminya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku, lihatlah masa depan yang terentang&lt;br /&gt;Berbagai kemungkinan tertuang di setiap detik&lt;br /&gt;Namun, janganlah takut wahai anak-anakku&lt;br /&gt;Rumah ini akan selalu menjadi pelabuhanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singgahlah saat engkau payah berjuang&lt;br /&gt;Rebahlah di pundakku saat lututmu goyah&lt;br /&gt;Tidurlah di pangkuanku saat matamu lelah&lt;br /&gt;Anakku, Ibumu takkan berhenti mendoakanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Untuk para Ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Selamat Hari Kartini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3600636115718270020?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3600636115718270020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3600636115718270020&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3600636115718270020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3600636115718270020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/04/kasih-ibu.html' title='Kasih Ibu'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4428210132266443530</id><published>2008-04-15T00:06:00.000-07:00</published><updated>2008-04-15T00:39:30.715-07:00</updated><title type='text'>Pilkada</title><content type='html'>Dalam seminggu terakhir dua provinsi besar mengadakan perhelatan pesta demokrasi lokal. Jawa Barat sudah melaksanakannya 13 April lalu dan Sumut 16 April. Ini tidak main-main, karena yang terpilih akan memimpin sekitar 60 juta jiwa. Sumber daya dan uang yang berputar di kedua provinsi itu memberi kontribusi signifikan bagi Indonesia. Tidak heran media memberi perhatian luar biasa terhadap proses pilkada di kedua provinsi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum jurnalis memberi panggung utama untuk para kontestan. Pada pilkada Jawa barat, hampir semua media cetak nasional menjadikan kemenangan Ahmad Heryawan-Dede Yusuf sebagai laporan utama. Selain Jawa Barat memiliki kedekatan dengan Jakarta pusat segalanya di Indonesia, juga karena kemenangan pasangan berakronim Hade yang mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Sumatera Utara? Kecuali masyarakat Sumatera Utara, mungkin tidak banyak yang mengenal kelima pasangan kandidat. Atau kalaupun ada, nama pasangan Mayjen (Purn.) Triamtomo dan Benny Pasaribu; asing-masing adalah mantan Pangdam I Bukit Barisan dan Anggota DPR. Sehingga banyak orang menjagokan pasangan tersebut untuk menduduki kursi no 1 dan no 2 di Sumatera Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seringkali ramalan tinggal ramalan. Ada hal lain yang tidak terangkum dalam pengambilan kesimpulan, tetapi justru menjadi faktor penentu keberhasilan dalam pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun didukung oleh mesin politik besar yaitu Partai Golkar dan Partai Demokrat, Danny Setiawan gagal menduduki lagi kursi Gubernur Jawa Barat. Sedangkan Agum Gumelar yang pernah menjadi pejabat tinggi TNI dan Menteri Perhubungan didukung PDIP gagal lagi untuk kedua kalinya setelah di pilkada DKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf hanya memiliki dua partai penyokong yang relatif kecil yaitu PKS dan PAN, tetapi berhasil menjadi juara. Banyak orang bilang (perlu penelitian lebih lanjut) keberhasilan keduanya tidak lepas dari nama tenar Dede Yusuf yang kondang sebagai aktor; apalagi mengacu pada keberhasilan Rano Karno menduduki posisi Wakil Bupati Tangerang (tentu saja tetap harus diperhitungkan posisi Bupati Ismet iskandar yang incumbent dan didukung Partai Golkar dan PDIP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa pilkada selalu memberikan kejutan-kejutan. Kecuali kisruh Pilkada Maluku Utara, masyarakat Indonesia kian dewasa dalam menyikapi hasil. Bentrokan horizontal dapat ditekan (jika tidak dapat disebut menghilang), dan menyerahkan berbagai masalah yang timbul ke pengadilan). Bandingkan dengan begitu banyaknya persoalan antarwarga yang kerap pecah di berbagai daerah dalam kurun waktu pascareformasi hingga Pemilu 2004 (maaf data tak ada, dan hanya pengamatan subyektif penulis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan lain yang membuat saya terheran-heran adalah uang yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan pemilu, pilkada dan uang untuk kampanye para kandidat. Triliunan rupiah! Mungkin puluhan triliun rupiah. Waaahh luar biasa. Sebetulnya Indonesia kaya sehingga untuk menyelenggarakan pesta (yang tanpa makan-makan) demokrasi itu kita mengeluarkan uang dari APBN, APBD dan kantung para kandidat begitu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cuma berandai-andai; andai uang sebesar itu untuk memperkuat ekonomi kita dalam bentuk kredit lunak para entrepeneur mikro, dan membuka lapangan kerja, rasanya kita akan semakin nyaman hidup di negeri ini. Tapi apa mau dikata, keputusan para wakil rakyat sudah jelas, harus ada pilkada langsung, ya sudah deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita simak terus pesta demokrasi daerah dan nasional terus menerus di televisi kita, koran kita. Biarkan yang menang bergembira dan penyelenggara pemilihan bersuka karena lancar dengan uang yang kita setorkan ke negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4428210132266443530?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4428210132266443530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4428210132266443530&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4428210132266443530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4428210132266443530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/04/pilkada.html' title='Pilkada'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1738134205008972966</id><published>2008-04-11T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T00:47:00.447-07:00</updated><title type='text'>Berbasah Ria</title><content type='html'>Ini adalah yang keduakalinya saya dicemplungin ke kolam renang. Dongkol karena baju dan celana basah tak ada ganti selama bekerja; senang, karena saya merasa teman-teman peduli dengan kehadiran dan ketidakhadiran saya. Lho kok? Apa hubungan antara dicemplungin dan kepedulian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua hari tidak ngantor (maklum mau pindah jadi males-males gitu), tiba-tiba saja saya ingin melihat teman-teman bekerja. Kan saya masih terdaftar di tempat lama, dan juga saya berencana mengurus persoalan lain ke HRD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah saya ke kantor setelah subuh. Cuaca dingin menyengat. Udara putih oleh kabut musim pancaroba. Jalanan masih sepi dari pengendara. Padahal biasanya sekitar pukul 5 jalan tol Bintaro-JORR sudah ramai dengan mobil dan truk. Mungkin karena habis hujan, sehingga orang masih malas berangkat pagi-pagi. Perjalanan saya lalui dengan cepat, sehingga dalam waktu kurang dari setengah jam saya telah sampai di Senayan City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya teman-teman tengah merencanakan sesuatu bagi Bayu yang berulang tahun hari itu. Tahun lalu, kami menyediakan satu kur muffin berlilin sebagai kejutan setelah siaran berakhir. Kurang lebih hal serupa pun disiapkan. Bedanya, selain ada tart berukuran sedang, juga teman-teman bersiap menceburkannya ke kolam renang. Kami bersiaran dari tepi kolam renang apartemen di Senayan City.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang siaran berakhir, hamper semua teman turun ke tempat Bayu dan Nova cuap-cuap. Saat berita terakhir usai, kami semua menyerbunya. Wajah Bayu memerah dengan mata berbinar senang. Kue pun dipotong di bawah sorot kamera. Dan ucapan selamat mengalir penung keriangan. Namun itu belum berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah komando Nova, kami semua mengejar Bayu untuk dimasukkan ke kolam. Entah karena kurang cepat atau Bayu lebih sigap, ia dapat menghindar dari sergapan. Alhasil gagallah rencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan mangsa membuat massa orang-orang terpelajar dan terdidik ini mata gelap. Tiba-tiba terdengar suara: tak ada Bayu, Indiarto pun jadilah. Lho kok? Iya, dia kan mau pergi, biar ada kenang-kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serentak semuanya menyerbu saya. Tak sempat mengelak, karena masih terkaget-kaget, saya terpegang erat untuk siap dicemplungkan. Masih untung ada yang mengingatkan agar semua hape, dompet dan kunci mobil diamankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk meronta sia-sia belaka. Pertama karena saya kalah banyak, kedua posisi saya terjebak di tepi kolam dan ketiga saya belum melek betul. Setelah memastikan tidak ada barang berharga di kantong, byurr…..saya didorong ke kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduuhhhh…basah deh. Diiringi derail tawa kemenangan teman-teman yang nakal itu, saya keluar dari air. Dingin langsung menyengat tanpa ampun, apalagi di ketinggian Senayan City angina bertiup agak kencang.&lt;br /&gt;Saya teringat peristiwa serupa tiga tahun lalu saat SCTV menyelenggarakan audisi presenter di Malang. Beberapa saat setelah pengumuman pemenang audisi, para finalis lomba beramai-ramai mencebutkan saya ke kolam renang. Sialnya dua hape dan dompet masih ada di kantong. Dengan gegap gempita saya merasakan air kolam tanda kegembiraan dan terima kasih (apa ya?). Jadilah kedua hape itu tewas seketika karena korslet dan surat-surat termasuk uang di dompet benyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi bagi saya ini karena teman-teman mempedulikan kehadiran saya di sisi mereka, sehingga ada perayaan sejenis. Karena bias saja mereka tidak melakukan apa-apa bila saya punya hajat atau ulang tahun, jika saya tidak menjadi teman baik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun kini kunci remote mobil saya korslet terkena tetesan air, saya menganggapnya sebagai hadiah karena teman-teman gembira menjadikan saya kolega kerja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am gonna miss u guys, I really am.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1738134205008972966?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1738134205008972966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1738134205008972966&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1738134205008972966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1738134205008972966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/04/berbasah-ria.html' title='Berbasah Ria'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3424408135381545599</id><published>2008-04-09T17:45:00.001-07:00</published><updated>2008-04-09T18:15:45.387-07:00</updated><title type='text'>Old and New Place</title><content type='html'>Sudah lebih dari seminggu saya tidak ngutak-atik blog. Rasanya seperti ada yang hilang. Pikiran yang bertumpuk tidak tersalurkan; untungnya tidak jadi jerawat. Berbeda jika berhadapan dengan monitor dan mulai menuliskan semua perasaan dan catatan setelah melihat banyak hal setiap hari. Blog ini seperti "pensieve" bagi tokoh-tokoh di buku Harry Potter rekaan JK Rowling. Seperti tempat khusus untuk meletakkan pikiran-pikiran berbentuk benang-benang perak dan yang dapat diambil dengan tongkat sihir dari kepala. Alangkah mudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu lebih saya menyatakan mundur dari pekerjaan lama. Beberapa kali pula saya mengantor ke tempat baru. Ada yang aneh dalam hidup selama seminggu itu. Sebelumnya saya harus melek sepanjang malam selama 5 hari dalam seminggu untuk mengerjakan program berita pagi. Kini tidak lagi. Walaupun masih beberapa kali menggantikan seorang teman siaran, saya tidak harus bergadang. Cukup berangkat subuh dan pulang siang hari. Bahkan dua atau tiga hari, saya tidak ngantor. Hmmm enaknya. Tidur nyaman, bangun pun segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula blog tercinta ini belum sempat tersentuh. Maklum, untuk ngerjainnya kan harus di kantor biar dapat internet gratis, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini ada yang luar biasa. Entah kenapa saya ingin sekali berangkat pagi untuk menemui kolega-kolega yang sebentar lagi menjadi ex-colleagues; walaupun memang ada rencana untuk ke HRD mengurus pengunduran diri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari masih gelap, bahkan kabut tebal di sepanjang perjalanan. Udara dingin menyengat, karena musim pancaroba. Saya tutup jendela mobil tanpamenghidupkan pendingin udara, agar hawa hangat menyegarkan mata yang masih belum mau kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program sudah berjalan setengah jam, saat saya memasuki ruang siaran. Sambutan teman-teman membuat saya terkejut. Layaknya teman lama yang tak pernah terlihat, mereka menyapa. Ah inikah persahabatan sejati? Atau hanya karena mereka tahu akan segera saya tinggalkan. Apapun itu, saya tetap jengah menerimanya. Maklum, selama 15 tahun saya bekerja di perusahaan ini, tidak pernah sekalipun saya memperoleh sambutan sedahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan para produser, membuat saya seperti diingatkan lagi bahwa saya masih rekan kerja. Satu per satu laporan disampaikan baik yang menyenangkan, mengharukan hingga mengesalkan. Hal itu membuat saya berpikir, tidakkah mereka sadar, kalau saya akan meninggalkan mereka sebentar lagi? Yang membuat luka lama teringat kembali adalah sebuah gesekan baru yang timbul antara salah satu produser dan atasan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya karena persoalan berita yang dinilai tidak pas penempatannya, atasan menlis sebuah teguran melalui media yang terbuka. Sang produser tidak puas dengan teguran itu dan menulis jawaban dengan media yang sama. Menurut saya, jawaban sang produser sudah benar dengan mekanisme yang tepat; bahkan teguran sang atasan tidak layak, tanpa mendengar secara langsung dari yang bersangkutan mengapa ada hal yang dinilainya tidak pas. Toh itu bukan sesuatu yang prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bisa saya ingatkan kepada teman produser tadi adalah berhati-hatilah dengan atasan seperti itu. Jangan sampai timbul masalah baru karena tulisan-tulisan yang bisa diinterpretasikan lain, tambah saya. Saya hanya tidak ingin masalah saya terulang kembali, yaitu perseteruan tertutup dengan atasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, akhirnya rekan saya tadi menghapus tulisannya. Padahal tak sedikitpun dorongan saya yang bertujuan untuk menghilangkannya, memperhalusnya lebih tepat. Yah begitulah tidak semua atasan dapat menerima jawaban bawahan yang mungkin lebih benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan di tempat lama ini saya rasa bisa memicu ketidakpuasan para prajurit di lapangan. Proses kreatifitas dalam berkarya bisa terganggu, karena atasan cenderung memasung pikiran-pikiran baru dengan hal-hal yang tidak prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkata dalam hati; jika saya mulai bertugas di tempat baru, I will do everything as wise as possible and treat everyone as high as possible.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3424408135381545599?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3424408135381545599/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3424408135381545599&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3424408135381545599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3424408135381545599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/04/old-and-new-place.html' title='Old and New Place'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1805481018510345404</id><published>2008-03-30T17:12:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T18:58:50.970-07:00</updated><title type='text'>Pindah kerja</title><content type='html'>Tidak pernah saya mengambil keputusan seberat ini sebelumnya, selain saat mengajukan lamaran ke pacar saya. Pindah kerja. Berat, karena pertimbangan keamanan masa depan yang dipertaruhkan. Adakah jaminan pekerjaan baru lebih baik, langgeng dan memberikan perlindungan finansial?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan saya yang sekarang tidak jelek, bahkan termasuk bergengsi untuk ukuran pekerja televisi. Menjadi produser eksekutif berarti menjadi penguasa langsung terhadap satu atau dua buah program. Hingga level tertentu arahan saya sama seperti fatwa MUI yang harus diikuti; jika tidak haram hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu kesempatan saya melihat sebuah berita yang sedang dikerjakan produser saya. Berita itu memiliki kriteria baik untuk ditayangkan. Gambar dan wawancara yang memadai. Namun saya melihat berita itu memiliki kekurangan dalam hal data. Produser tersebut saya perintahkan untuk mencari reporter pembuat berita dan redaktur yang mengeditnya. Kedua orang yang dicari tidak dapat dihubungi; hp mereka inaktif. Maklum hari sudah menjelang dinihari, sehingga bisa saja mereka kelelahan dan ingin tidur yang enak, sehingga hp pun dimatikan. Melihat perkembangan itu, saya meminta berita ditunda penayangannya hingga data lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu masalah kewenangan. Fasilitas yang saya terima pun bagus. Gaji yang memadai, kendaraan tersedia, tunjangan-tunjangan yang cukup, dan bonus tahunan yang rutin membuat tidak ada alasan bagi saya untuk berlelah-lelah mencari tambahan atau kerja yang lain di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja ada satu hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam membuat seseorang puas di sebuah tempat kerja. Atmosfer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua proses kerja berjalan baik, ketika semua orang mengetahui tugas-tugasnya, ketika atasan dan bawahan terikat hubungan yang saling mengerti, sudah barang tentu aktifitas akan mulus setiap saat. Pastilah tidak ada yang beres 100 persen, apalagi berhubungan dengan banyak orang. Gesekan dan benturan pasti terjadi; di tempat manapun persoalan pasti ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna menghadapi perosalan gesekan antarpersonal, saya siapkan mental dan maaf. Maaf kalau berhadapan dengan kolega dan mental kalau bermasalah dengan bos. Nah saya sudah nggak tahan lagi. Repot kalau berhadapan dengan dua pilihan kalau bermasalah dengan bos: Kamu mengalah atau kamu kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini saya mengalah. That's it , I had enough. Saya lebih baik mundur daripada masa depan saya terganggu dan perusahaan serta teman-teman pun kena imbasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ada satu hal penting yang saya bisa saksikan. Tangan Tuhan nyata dalam kasus saya ini. Dalam tiga tahun terakhir saya praktis memiliki banyak waktu alias menganggur dan bekerja malam hari yang berarti ritme hidup saya terganggu. Namun saya masih percaya Tuhan akan memberi yang terbaik buat saya. Akhirnya kesempatan itu datang. At the right time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some old friends called me and ask me if I want to join them. The price is good and the facility as well. However, I believe the environment is better, cause I know them. Yes, I said. Oh God, this is your way, I could not wish any better than this.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear friends, never leave God behind in any situation. He'll always be on your side.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1805481018510345404?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1805481018510345404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1805481018510345404&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1805481018510345404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1805481018510345404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/pindah-kerja.html' title='Pindah kerja'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1694395046785257466</id><published>2008-03-24T05:41:00.000-07:00</published><updated>2008-03-24T05:48:14.813-07:00</updated><title type='text'>Break Free</title><content type='html'>I'm free....free...&lt;br /&gt;Ikatan itu kini melonggar, lepas, putus&lt;br /&gt;Tak ada lagi yang mengungkungku dalam jaring berduri&lt;br /&gt;Aku akan berlari, melompat, menari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm free...free...&lt;br /&gt;Kau tak boleh mengikatku lagi&lt;br /&gt;Kan kuatur hidupku dalam kerangka yang kurangkai sendiri&lt;br /&gt;Wahai dunia sambutlah orang merdeka, satu lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian lama kuikuti aturan yang tak pernah kusukai&lt;br /&gt;Terjerat tak berdaya dalam ruang yang sempit tanpa nurani&lt;br /&gt;Angin segar bawa kekuatan agar ku dapat berontak bergerak&lt;br /&gt;Selamat tinggal masa lalu, selamat datang masa depan di tempat baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang bebas&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1694395046785257466?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1694395046785257466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1694395046785257466&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1694395046785257466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1694395046785257466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/break-free.html' title='Break Free'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8649747863399447392</id><published>2008-03-19T17:22:00.000-07:00</published><updated>2008-03-19T18:02:54.502-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Libur oh libur</title><content type='html'>Pernahkah Anda berpikir kemana enaknya mengisi liburan, yah baik liburan akhir tahun, pergantian tahun ajaran(liburan sekolah) atau tanggal merah yang berderet seperti tgl 19-20 (Kamis dan Jumat) Maret 2008 (pasti plus Sabtu dan Minggu). Kalau punya uang enaknya yang jauh sekalian kan? Ke luar negeri misalnya. Tapi dengan uang cekak pun ke luar negeri juga nggak terlalu susah, asal mau sedikit ketat mengatur pengelaran, karena beberapa perusahaan penyelenggara perjalanan dan badan turisme negeri jiran punya paket murah. Singapura dan Malaysia paling sering membuat acara yang seru untuk menjadi konsumsi orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik untuk dicermati dalam hal kerapnya muncul iklan paket kunjungan wisata ke negara tetangga. Singapura memiliki paket weekend dan Malaysia pandai mengemas liburan berderet karena menyamakannya dengan kegiatan balap mobil Formula 1 Sepang. Wah!!! Biayanya pun terdengar masuk akal, yaitu berkisar di angka 200 dollar AS per orang, dan itu termasuk perjalanan dan menginap dua malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk orang yang berambisi besar untuk dapat mengajak keluarga berlibur ke mancanegara. Selain ingin membahagiakan keluarga, saya juga sering diprotes isteri dan anak-anak; mereka bilang saya bolak-balik ke luar negeri jalan-jalan sendiri tidak ajak-ajak. Alasan mendapat tugas kantor sudah sangat kuat, tetap saja mereka bertiga merengut kalau saya berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang memang akan selalu jadi masalah jika kita mau jalan-jalan ke luar negeri atas biaya sendiri plus sekeluarga lagi. Selain pesawat dan akomodasi, yang bikin repot juga adalah fiskal. Untuk empat orang sudah di depan mata Rp. 4 juta hanya untuk fiskal. Oleh sebab itu guna menekan biaya, sistem paket sudah pasti layak dipertimbangkan. Memang jadwal perjalanan akan sangat ketat dan melelahkan, tetapi yang penting ke luar negeri, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh tapi jangan kira saya akan segera berangkat, lha wong itu masih angan-angan. Sampai saat ini uang untuk fiskalnya saja belum cukup, apalagi untuk biaya paket per orang. Paling tidak sampai pertengahan tahun 2008 saya masih harus melunasi uang gedung, uang seragam dan uang buku anak-anak. Kedua anak saya masuk sekolah ke tingkat lebih tinggi secara berbarengan. Yang besar masuk SMP dan adiknya masuk SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau saya ngomong ke luar negeri bareng keluarga, itu masih nanti. Alias kapan-kapan kalau ada duitnya. Semoga Anda lebih beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8649747863399447392?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8649747863399447392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8649747863399447392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8649747863399447392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8649747863399447392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/libur-oh-libur.html' title='Libur oh libur'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-3699555332785272754</id><published>2008-03-18T14:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-18T15:03:40.981-07:00</updated><title type='text'>Adamair wer ewer ewer</title><content type='html'>Tidak pernah tersirat di benak saya untuk menjadi saksi mata jatuh-bangunnya sebuah maskapai penerbangan di tanah air. Dari hanya Garuda dan Merpati (mungkin tambah Mandala) seingat saya waktu kecil (tiga puluh tahun lalu) kemudian berkembang menjadi belasan maskapai yang saya pun terkaget-kaget mengetahui nama barunya. Kini sebuah maskapai yang menyediakan tiket murah harus merelakan ijinnya dicabut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya terbang sekitar tahun '75 (saya ingat masih kelas tiga SD) rasanya begitu mendebarkan melintasi pulau Jawa dari Jakarta ke Surabaya. Berangkat subuh ke Kemayoran, bersama kedua orang tua dan kakak, saya sempat terheran-heran melihat dan melalui pintu otomatis yang bisa buka-tutup sendiri. Selama penerbangan saya tidak terlalu ingat karena masih mengantuk dan segera jatuh tertidur. Hanya menjelang pendaratan telinga ini begitu sakit karena perbedaan tekanan di saluran pendengaran dengan lingkungan luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian waktu mulai bekerja di kantor sekarang, saya dan beberapa teman seringkali bolak-balik terbang Jakarta-Surabaya dengan Garuda. Rasanya saat itu sekitar awal tahun 90-an tiket masih terbilang murah, sehingga kantor tidak keberatan menyediakan yiket pesawat. Saya beberapa kali mengutil peralatan makan, yang terbuat dari logam (tidak seperti sekarang dari plastik biar murah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saat krismon melanda tahun 1998-2000, tiket pesawat langsung melonjak tajam. Kantor pun sangat berhati-hati mengijinkan pegawainya menikmati burung besi; hanya level jabatan tertentu dan urgensi tugas yang diijinkan menggunakannya. Betapa sepinya bandara pada masa itu, karena banyak orang tidak berani menggunakan pesawat yang tiketnya luar biasa mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara perlahan kondisi membaik (mungkin yang tepat istilahnya adalah teradaptasi). Masyarakat dapat menerima kondisi yang ada dan bisnis pun bergulir kian kencang. Garuda dan Merpati mulai mendapat teman bahkan pesaing baru. Lion Air hadir dengan konsep penerbangan murah, sehingga banyak orang berbondong-bondong terbang dengan pesawat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai terheran-heran dengan keberanian maskapai singa itu, muncul warna ngejreng yang berani bermain di angkasa, walaupun tidak memiliki sejarah terlibat usaha penerbangan. Dengan kuning jingga yang mencolok, AdamAir (sepertinya ini yang tepat penulisannya bukan Adam Air) melambung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosep murah meriahnya membuat lebih banyak alternatif orang bepergian dengan pesawat. Tak dapat makan minum di angkasa tak apa-apa, yang penting cepat sampai, murah dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah yang terakhir ini tampaknya menjadi persoalan. Entah apa yang terjadi, karena dalam kurun waktu empat tahun berulang kali AdamAir mengalami kecelakaan. Mulai dari salah terbang, karena peralatan navigasinya ngadat di atas Flores, nyemplung di perairan Selat Makassar, patah punggung pesawat di Surabaya, hingga yang terakhir ngesot di bandara Hang Nadim Batam pertengahan Maret 2008. Belum lagi ada info pesawat AdamAir pernah hampir tabrakan dengan sebuah pesawat Lion Air di atas Surabaya, karena ada persoalan dengan kaca kabin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang gemar klenik, peristiwa-peristiwa ini tentu enak diteliti dengan kacamata non-natural. Jangan-jangan tidak pernah diruwat dan didoakan waktu pelepasan pesawat pertamanya. Pokoknya macam-macam spekulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di atas semuanya, kasus AdamAir menjadi sebuah tonggak baru untuk memperbaharui perjalanan bisnis penerbangan Indonesia. Jangan pernah main-main dengan keselamatan manusia (baca penumpang pesawat). Kalau tidak ya jadi AdamAir wer ewer ewer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-3699555332785272754?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/3699555332785272754/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=3699555332785272754&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3699555332785272754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/3699555332785272754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/adamair-wer-ewer-ewer.html' title='Adamair wer ewer ewer'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4286441848964444304</id><published>2008-03-17T07:36:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T08:29:43.207-07:00</updated><title type='text'>Buswae</title><content type='html'>Tidak ada kedongkolan yang lebih besar sebagai penduduk Jakarta pada pagi dan sore hari selain....terjebak kemacetan. Bagi saya yang bekerja seperti kalong dan mendapat privilese ke kantor lancar tanpa macet, berkeliaran saat matahari bertahta adalah sebuah kengerian. Terpanggang matahari di tengah udara pengap oleh asap di tengah-tengah lautan kendaraan bermotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya diundang menjadi pembicara di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat. Sebetulnya tidak pagi sih, tepatnya pukul 11 WIB. Dengan alasan ingin bersantai di perjalanan, saya tinggal "gerobak Jepang" yang telah mengantar saya lebih dari lima tahun di rumah dan naik bus Trans BSD jurusan BSD-Ratu Plaza. Saya membayangkan enaknya memejamkan mata sejenak di dalam bus menikmati perjalanan sekitar satu setengah jam untuk kemudian bangun dengan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus terisi padat dengan manusia berbagai macam. Namun satu yang menyenangkan, semuanya wangi. Wah ini memang perjalanan yang menyenangkan. Setelah melaju lancar di jalan tol Serpong - Bintaro, perjalanan itu berubah menjadi melelahkan. Harapan untuk rileks tidak terlaksana. Menjelang kawasan Pondok Indah, bus dihadang oleh rangkaian kendaraan yang mengular dengan padat. Mata ini yang sebelumnya setengah terpejam langsung terbuka lebar, karena ingin melihat macetnya lalu lintas yang sebegini dahsyat. Wooo, begini to, namanya macet di Hari Senin, maklumlah saya sudah lupa rasanya kena macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ini masih dilanjutkan dengan Bus Trans Jakarta. Nah kalau yang ini jauh lebih menyenangkan, karena belum banyak mobil yang melaju di jalur three in one sepanjang Jalan Sudirman-MH Thamrin. Alhasil saya bisa lebih cepat sampai di tujuan, walaupun pinggang masih pegal setelah duduk lama di bus pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan sesi yang sulit sekaligus menyenangkan di hadapan staf humas yang antusias pada sekitar pukul 18.00 WIB, saya pun harus kembali ke habitat asli di pusat perbelanjaan di Senayan. Kebetulan tempat saya bicara tidak jauh dari halte busway; cukup jalan lima menit saya sudah masuk ke antrean calon penumpang yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah lagi neh, pikir saya. Bagaimana tidak, saya berhadapan dengan dua kondisi yang membuat hati saya ciut. Di hadapan saya ada puluhan rekan penunggu bus premium Trans Jakarta. Rupanya bus program peninggalan Gubernur Sutiyoso belum menjemput mereka setelah sekian lama, sehingga terbentuk antrean ini. Penyebabnya terjawab dengan situasi di jalan raya, yaitu lagi-lagi macet, dan kendaraan merayap secepat gerakan ulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai komuter sekaligus pekerja media, saya tahu dan mengapresiasi usaha Sutiyoso dan Fauzi Bowo dalam mengatasi kemacetan lalu lintas di ibu kota. Sebut saja pembangunan underpass atau fly over (dua sebutan yang malas dicari padanan dalam Bahasa Indonesianya: terowongan dan jalan layang) di beberapa tempat yang sering menjadi biang kemacetan seperti Kebayoran Lama dan Cawang. Juga pembangunan jalur busway baru sampai Koridor XI (sampai sekarang saya tidak hapal daerah-daerah mana yang dilalui Koridor I-XI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin Anda sependapat dengan saya, bahwa negeri ini tidak kekurangan orang pintar untuk dapat menemukan solusi persoalan menahun Jakarta ini. Tapi kok bukannya tambah ringan perjalanan menuju dan melintasi Jakarta malahan kian hari kian berat dan susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya ada satu pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada pengelola negeri ini atau daerah, yaitu apakah mereka pernah berpikir untuk mengintegrasikan semua usulan solusi yang ada. Penyelesaian yang terpadu dengan memasukkan setiap faktor penyelesai masalah adalah hal yang tidak pernah terlihat. Sebut saja masalah bus pengumpan yang tidak kunjung terselesaikan, jumlah bus Trans Jakarta yang masih jauh dari cukup, belum lagi rencana Monorel yang tiangnya sudah dibuat di beberapa kawasan, kini hanya jadi monumen besi beton yang mencoklat karena karat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu muncul dua wacana untuk mendukung pengaturan jumlah mobil yang masuk Jakarta. Di antaranya adalah melalui nomor polisi genap dan ganjil yang masuk bergantian, kemudian kendaraan luar Jakarta yang hendak masuk harus membayar retribusi, juga menyiapkan mass rapid transport sepanjang jalur Blok M-Kota. Wah ususl-usul yang brilian dan layak bisa menyelesaikan masalah kemacetan. Namun lagi-lagi masalah yang ada tidak diselesaikan secara integral sehingga wacana itu cenderung seperti rumput yang baru tumbuh di tengah terik matahari; tumbuh kemudian mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin sekali lagi, pasti para pemimpin kita punya kebijaksanaan yang di atas rata-rata masyarakatnya. Hanya masalahnya mesti berapa lama saya menunggu kebijaksanaan itu muncul pada waktunya. Huaaaahheeemmmm bisa mengantuk saya menunggu. Tidak hanya jam ukurannya tapi bisa lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4286441848964444304?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4286441848964444304/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4286441848964444304&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4286441848964444304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4286441848964444304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/buswae.html' title='Buswae'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-5184226050960751465</id><published>2008-03-11T11:59:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T12:33:46.852-07:00</updated><title type='text'>Waduhh!!!</title><content type='html'>Sudah lama saya tidak ngutak-atik blog terkasih ini. Sebetulnya bukannya malas, tetapi ogah bergerak (sama kaleee....). Maklum pekerja keras seperti saya (hehehe...) harus kerja malam pulang pagi dan siang molor melulu; sampai-sampai isteri saya protes. Dia bilang suamiku memang ada di rumah, tetapi pikirannya di alam mimpi terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjalani siang hari di rumah, dalam dua mingu terakhir isteri saya memandori tukang membuat kolam air mancur. Jangan bayangkan air mancurnya segede air mancur Bundaran HI. Hanya kecil saja, cum untuk terdengar bunyi kricik-kricik seperti sungai yang mendatangkan kedamaian di hati. Memang tidak tanggung-tanggung sih, dua buah sekaligus! Satu di luar dan satu lagi di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri saya memang tipe maju tak gentar dan pantang menyerah. Walau rumah sebesar kandang burung yang penting harus tersedia kolam dan taman (mungkin sudah jadi obsesi). Setelah menimbang-nimbang biaya yang perlu disisihkan, akhirnya proyek raksasa itu jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu tukang yang dipekerjakan. Ia masih muda, murah senyum dan cekatan. Yang mengherankan, walaupun tubuhnya kurus dan kecil, ia mampu menggali lubang kolam dengan cepat. Praktis hanya sehari ia membuat lubang berukuran satu setengah kali satu setengah meter dengan kedalaman setengah meter. Padahal ia harus menebang pohon yang lumayan gede dengan tanah yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penebangan pohon itu sebetulnya juga menyedihkan saya. Setelah dicekoki berita-berita pemanasan global dan penghijauan bumi, saya menjadi hati-hati untuk sembarangan menghilangkan tanaman. Nah, di depan rumah ada pohon klengkeng yang sudah cukup besar. Namun ia tidak kunjung berbuah, walau akarnya sudah hampir merusak dinding rumah. Akhirnya dengan berat hati, ia pun harus menyerahkan kehidupannya demi keamanan pemilik rumah yaitu kami sekeluarga dan kehadiran kolam air mancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuatan kolam itu pun praktis tanpa desain yang matang. Walaupun sudah beberapa kali membuka referensi buku dan majalah interior, kami pun menyesuaikannya dengan angan-angan dan imajinasi sendiri. Sialnya, bahasa dan keinginan kami terutama isteri tak langsung dapat dimengerti oleh tukang cekatan itu. Walaupun jadi dalam waktu kurang dari seminggu, ternyata air tak dapat mengalir baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cek punya cek, ternyata selain dinding kolam yang bocor, pompa yang sudah kami beli dengan harga aduhai karena kekuatan semprotnya besar, patah di bagian ujungnya. Rupanya tukang tersebut tidak sabar mengerjakan semua tugasnya. Si dinding diteploknya dengan semen dan cat tanpa menguji ulang kekuatan dan kekeringannya. Sedangkan pompa ia tarik sekeras tenaga tanpa memperhitungkan kekuatan komponennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ia masih berusaha memperbaiki pekerjaannya beberapa kali, tetapi dengan metode tambal sulam hasilnya tak seindah yang dibayangkan. Setelah sekian lama hampir dua minggu, akhirnya proyek bernilai em-eman itu (bukan m dari kata miliar tetapi eman-eman atau sayang sekali dalam bhs jawa) akhirnya mangkrak. Si tukang memperoleh proyek yang besar dan ia meninggalkan sang kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku yang penuh semangat itu masih berusaha menilai seberapa mampu ia menangani sang kolam. Namun akhirnya ia menyerah. Kemarin ia menyimpan sang pompa yang bernilai aduhai itu ke museum. Kemudian perkakas yang sempat ia gunakan untuk mengutak-atik kolam ia rapikan dan masuk ke dalam kotak. That's it! I'm done, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduhh!!! Harapan untuk mendengar kemericik air tertunda. Saya sendiri tak mampu menanganinya, lha wong kalau siang banyak molornya. Yah tunggu dulu deh, sampai sang tukang kembali dan uang terkumpul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-5184226050960751465?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/5184226050960751465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=5184226050960751465&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5184226050960751465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/5184226050960751465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/waduhh.html' title='Waduhh!!!'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4781287775031739300</id><published>2008-03-03T06:45:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T06:53:26.237-08:00</updated><title type='text'>Hangatnya Malam</title><content type='html'>dengarlah keceriaan di panggung seni&lt;br /&gt;empat musisi ceria memainkan alat musik&lt;br /&gt;ha..hi..ho..hu..&lt;br /&gt;empat..tiga..dua..satu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerah langit bermandikan sinar bintang&lt;br /&gt;gemerisik angin menebar aroma bunga cempaka&lt;br /&gt;hai..yo..cihui..ahhh..&lt;br /&gt;delapan..tujuh..enam.lima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;suara itu menyeruak gendang telingaku&lt;br /&gt;bawakan riak cinta nirwana&lt;br /&gt;kuhirup segarnya madu tembang nan menawan&lt;br /&gt;kuingin hangatnya membara di dada&lt;br /&gt;selalu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(elegi malam di summarecon mal serpong)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4781287775031739300?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4781287775031739300/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4781287775031739300&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4781287775031739300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4781287775031739300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/03/hangatnya-malam.html' title='Hangatnya Malam'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4649151727332219923</id><published>2008-02-25T03:57:00.000-08:00</published><updated>2008-02-25T04:09:53.785-08:00</updated><title type='text'>GAYA HIDUP</title><content type='html'>Hi, all&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saya, duduk di tengah-tengah  taman SMS, Summarecon Mal Serpong, sebuah mal di Jakarta Barat. Cuaca sore ini enak sekali, karena saya berada di udara terbuka. Mendung tampak menggantung di beberapa bagian langit, namun angin berembus tenang. Hujan tampaknya tidak bakan turun dalam waktu dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil membuka laptop dan “browsing internet” saya mengedarkan pandangan saya berkeliling. Rasanya ada yang menarik dari wajah-wajah yang saya lihat. Tempat yang saya duduki adalah sejenis wadah orang kota berduit untuk menghabiskan uang dan waktu. Kongkow-kongkow, makan-minum dan main internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan saya ada sepasang suami isteri berusia paruh baya. Mereka tampak menikmati perbincangan ditemani penganan kecil. Di seberang sana seorang pria duduk sendiri menikmati setiap hirupan asap rokoknya. Dua gelas bir yang satu kosong dan yang lain terisi separuh terletak di hadapannya. Di ujung barisan tempat duduk saya, sekelompok remaja bersenda-gurau dengan hangatnya. Tidak perlu ada makanan dan minuman cukup materi yang seru, yang akan menjadi santapan mereka sore ini. Tak henti-hentinya kaum hawa berpenampilan rapi baik sendiri, maupun berkelompok berjalan ke depan dan belakang saya. Aroma parfum menebarkan kenyamanan berpadu dengan wangi kopi Arabica dan makanan hangat yang menggugah selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam situasi inilah saya berada. Di sini waktu seolah berhenti. Tidak ada ketergesa-gesaan, tak terlihat wajah murung. Semua rileks, tenang dan nyaman. Di udara menggantung musik jazz dengan irama sedang, menebarkan kesan ceria. Ia seperti berada di ruang dan waktu yang berbeda sama sekali dengan hiruk pikuk kota besar di luar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya melangkah masuk kawasan ini, seolah saya memasuki sebuah kotak tidak kasat mata yang melindungi isinya dari pengaruh eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan cuaca meredup. Matahari tak lagi garang menyinarkan kekuatannya, terhalang oleh belahan bumi di sebelah barat. Awan tebal kian erat melingkupi atmosfer, nyaris tak memberi kesempatan kepada sisa-sisa cahaya keemasan memeluk permukaan bumi. Lampu-lampu di taman mal ini satu per satu menyala. Cahayanya membentuk rangkaian bunga dan pohon yang meliuk-liuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa sudah lebih dari dua jam saya di sini. Rasanya ini salah satu tempat terbaik yang saya bisa temukan. Saya bukan pecinta mal. Kalaupun sering ke mal, saya biasanya mengajak anak-anak makan, ke toko buku atau mengantar isteri berbelanja. Jadi tidak pernah saya menjadikan mal sebagai tujuan utama bersantai. Tapi yang satu ini berbeda. Saya menikmati kesendirian dan kenyamanan di tengah suasana mal. Kalaupun ada yang mengganggu saat ini adalah gigitan nyamuk. Rasanya mereka dapat berpesta pora dengan giat, karena praktis lingkungan yang mendukung. Remang-remang, dingin, banyak pohon dan tubuh-tubuh yang tidak banyak aktifitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4649151727332219923?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4649151727332219923/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4649151727332219923&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4649151727332219923'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4649151727332219923'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/02/gaya-hidup.html' title='GAYA HIDUP'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-1667731323244355186</id><published>2008-02-17T07:36:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T08:06:25.190-08:00</updated><title type='text'>New Office</title><content type='html'>Rasanya tidak ada bedanya pindah ke kantor baru seperti sekarang ini. Secara fisik kami memasuki orbit kaum berada di pusat Jakarta (maklum Senayan City &lt;em&gt;j&lt;/em&gt;e, tempat pria wanita berbusana tertib dan bermandikan parfum), tetapi faktanya tempat kami berkantor khususnya redaksi saya) masih amburadul. Aduuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan Anda diijinkan masuk ke kantor kami, saya yakin kalimat ini yang akan Anda ucapkan; &lt;em&gt;bener neh&lt;/em&gt;, ini stasiun tv yang katanya &lt;em&gt;numero uno&lt;/em&gt;? Lho apa pasal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan (saya ajak anda mulai dari redaksi) studio belum ada, infrastruktur siaran masih amburadul, &lt;em&gt;software&lt;/em&gt; pendukung belum terpasang dengan lengkap (itupun sering mati tiba-tiba) dan listrik beberapa kali &lt;em&gt;byar pet&lt;/em&gt;. Tak lupa juga Anda bisa melihat penyelesaian ruang rapat yang sering mengepulkan debu karena prosesnya belum tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus Anda bisa melongok ruang IT. Di beberapa perusahaan, departemen IT menempati ruang steril, bebas debu, teratur sesuai dengan penggunaannya. Namun di sini, ck ck ck seperti gudang. Ketika mencari petugas untuk membereskan komputer saya yang flu kena debu, saya melihat ruangan departemen ini tidak lebih baik dari tempat saya bekerja. Ya sudahlah biarkan mereka membereskan persoalan dalam negeri, &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; mereka akan repot membantu saya karena fasilitas pendukung masih berantakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini yang seru. Jantung sebuah media penyiaran adalah &lt;em&gt;master control&lt;/em&gt; yang mengatur lalu lintas isi siaran baik sinetron, berita, film, talk show, musik sampai iklan. Nah jantung kami ini mungkin seperti jantung Frankenstein alias tambal sulam. Kabel bersliweran (bayangin kalau orang tersandung kabel itu. Orangnya bisa benjol dan kabel siaran lepas; kebayangkan?), peralatan tersambung seadanya &lt;em&gt;pokoke&lt;/em&gt; siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai kondisi ini, saya merasa perusahaan tempat saya ini hebat betul. Dengan situasi darurat seperti ini, &lt;em&gt;kok ya&lt;/em&gt; bisa jawara (menurut lembaga pemeringkat) andaikan sudah dibereskan dengan canggih, pasti di atasnya jawara atau nomer nol. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya memikirkan perkara lain. &lt;em&gt;Lha wong&lt;/em&gt; &lt;em&gt;kayak gini&lt;/em&gt; aja sudah hebat, buat apa pemilik repot-repot memperbaiki kan ngabisin dana, tenaga dan waktu. &lt;em&gt;Mending&lt;/em&gt; duitnya untuk beli pulau atau perusahaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Welah&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;don't be so nyinyir and nyindir gitu, man.&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Positive thinking lah&lt;/em&gt;. Mungkin ada persoalan berat lain yang perlu ditangani sehingga penyelesaian fasilitas dan gedung di kantor ini menjadi tertunda-tunda. Kan para petinggi memiliki kebijakan yang mengayomi seluruh kawulo alitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan fasilitas pendukung seringkali menjadi perdebatan seru antara atasan dan bawahan. Atasan menilai namanya pendukung yang bukan persoalan primer jadi bisa dinomorduakan karena ada hal lain yang dianggap lebih penting, toh dengan kondisi &lt;em&gt;ad hoc&lt;/em&gt; bisa jalan. Namun bawahan merasa fasilitas pendukung akan membuat proses pengerjaan tugas menjadi lebih mudah, dan hasilnya toh untuk kemajuan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang berada di level tengah, saya merasa kedua belah pihak perlu berempati terhadap masing-masing pihak. Gunakan cara pandang dari sudut masing-masing. Mungkin kesenjangan pengertian yang ada akan bisa terjembatani. Toh, sekali lagi semuanya untuk kemajuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace,&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-1667731323244355186?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/1667731323244355186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=1667731323244355186&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1667731323244355186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/1667731323244355186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/02/new-office.html' title='New Office'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4229306401025131865</id><published>2008-02-08T03:31:00.000-08:00</published><updated>2008-02-08T03:32:43.815-08:00</updated><title type='text'>SEKALI LAGI BANJIR</title><content type='html'>Hi all,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya semua orang Jakarta lagi pada gemes sama gubernurnya sekarang ini. Bagaimana tidak, kalau sebelumnya yang namanya banjir cuma dikenal istilah lima tahunan atau muncul lima tahun sekali, eh dalam dua tahun berturut-turut Jakarta terendam dengan gegap gempita. Serunya lagi pada awal tahun baru ini, jalan tol ke arah Bandara Soekarno-Hatta seperti lautan dan jalan protokol menjadi danau karena hujan beberapa jam saja pada Jumat, 1 Februari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah gubernur menjadi satu-satunya pihak yang layak disalahkan karena daerah pemerintahannya kebanjiran? Saya tidak menyalahkan Anda bila namanya segera disebut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimanapun saat ia berkampanye sebagai calon gubernur ia pasti mengetahui salah satu persoalan krusial yang harus dibenahi di ibu kota adalah banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin membuka perspektif lain dalam mengelola persoalan banjir di Jakarta. Waktu saya melihat kembali buku IPS anak saya yang duduk di kelas VI, ada termaktub masalah lingkungan temasuk banjir. Dinyatakan di sana penyebab banjir di antaranya adalah penggundulan hutan, pendangkalan sungai dan berkurangnya resapan air terutama di kota-kota besar. Membaca ini pikiran saya segera melayang ke mal-mal di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya dalam beberapa tahun terakhir pembangunan di Jakarta berfokus pada pembuatan pusat perbelanjaan baru; memang saya tidak memiliki data riil, tetapi saya bisa sebutkan berdirinya Senayan City, Pacific Place, Plaza EX, ITC Permata Hijau, WTC Mangga Dua dan masih banyak lagi. Kehadiran tempat-tempat tersebut memang menyenangkan untuk cuci mata, tetapi jangan lupa, biasanya bangunan bertingkat membutuhkan tempat parker yang besar. Kerimbunan pepohonan yang dapat menampung air hujan pun menjadi korban. Semen, paving block dan aspal mengganti akar-akar dan tanah. Akibatnya saat hujan turun air tidak sempat lagi meresap ke dalam tanah, dan banjir pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bertanggung jawab terhadap pemberian ijin pembangunan mal dan gedung-gedung tadi? Tentu saja pemerintah daerah. Namun naïf kalau sekedar menyalahkan pemda, karena pihak pembangunnya pun tidak memiliki wawasan lingkungan. Dengan menutupi seluruh tanah kosong dengan lapisan yang tidak menyerap air berarti pengusaha dan pembangun mengabaikan perannya dalam pencegahan banjir di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi di sini peran pemerintah untuk menegakkan usaha-usaha pencegahan banjir sangat penting. Sudahkan pengusaha property diwajibkan untuk menyediakan lahan untuk serapan air? Sudahkan ada penegakan hukum yang kuat dan adil terhadap pelanggar peraturan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dalam memastikan ketersediaan daerah serapan air di tengah maraknya pembangunan di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan parkir adalah faktor penting untuk kelancaran bisnis. Anda dapat merasakan betapa tidak menyenangkannya bila sebuah tempat usaha tidak memiliki tempat parkir. Tidak hanya itu, tempat parkir yang nyaman akan memastikan konsumen datang dan datang lagi. Pemikiran ini ternyata hanya satu dari banyak sisi kebutuhan masyarakat kota besar. Adalah elok bila lahan parkir juga menyisakan tanah kosong dengan tumbuhan hijau. Tidak hanya mobil-mobil dapat tempat berlindung, air hujan pun dapat tertampung dan udara segar selalu tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai pengusaha ikutlah dalam menyediakan tempat untuk menampung air hujan agar banjir di ibu kota bisa terkurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4229306401025131865?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4229306401025131865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4229306401025131865&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4229306401025131865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4229306401025131865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/02/sekali-lagi-banjir.html' title='SEKALI LAGI BANJIR'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6619347790293481855</id><published>2008-01-30T10:57:00.000-08:00</published><updated>2008-01-30T11:35:04.987-08:00</updated><title type='text'>Pindahan</title><content type='html'>Hi all,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah ada satu keluarga yang merasa rumah yang ditinggali sudah tidak lagi memadai untuk menampung lima orang penduduknya. Sang ayah kemudian memutuskan untuk membeli rumah baru yang lebih besar, dan lebih indah. Anggota keluarga lainnya, karena tidak memiliki hak suara sebesar kepala rumah tangga hanya bisa mengikuti perintah. Padahal di kompleks yang mereka tinggali selama ini memberi semua kedamaian, ketentraman dan kenyamanan hidup. Hubungan antarkeluarga berlangsung akrab dan manis. Hampir tidak ada perselisihan besar yang timbul. Percikan-percikan masalah sih biasa terjadi yang dapat segera dipadamkan dengan kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa mau dikata, pemegang mandat memiliki hak prerogatif yang berkuasa penuh untuk menentukan masa depan biduk rumah tangga. Jadilah keluarga itu pindah ke sebuah lingkungan yang lebih mewah dengan rumah luks dan sejumlah satpam penjaga pintu gerbang kompleks. Rasanya hampir semua rumah tangga akan menginginkan adanya tempat tinggal yang terbaik, ternyaman, dan terindah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ternyata tidak semudah itu mencabut akar pohon sebuah keluarga dari tempat tinggal lamanya dan menempatkannya ke tempat baru. Suka atau tidak tempat yang sudah ditinggali memiliki ikatan emosional dan material yang cukup sulit untuk dilepas. Secara material, banyak benda yang harus dipindahkan, dan cukup berharga untuk dibawa. Untuk memindahkannya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang relatif besar. Mulai dari menginventaris barang yang harus dibawa, memilah yang masih layak untuk dibawa, kemudian membungkus, memisahkan sesuai dengan peruntukan dan sifat benda (mudah pecah dan tidak tentu harus berbeda penanganannya). Jangan lupa, setelah sampai di tujuan benda-benda itu harus dibuka, ditata dan disesuaikan dengan kebutuhan tempat yang ada. Bisa-bisa saja menjadi tidak berguna, karena terlihat tidak pas dengan kondisi. Yang tidak kalah penting, untuk usung-usung pasti perlu biaya. Kalau mau mudah pesan perusahaan spesialis pindahan. Pesan langsung diurusi secara paripurna. Kalau mau ngirit yang ngepak sendiri, angkut sendiri bongkar dan atur sendiri. Itupun pasti tetap butuh kendaraan yang minum bahan bakar tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan dan kehebohan itulah yang kini sedang dilakukan SCTV karena kami akan pindah ke gedung baru. Tempat yang baru diyakini lebih mewah, modern, dan representatif karena berada di kompleks perbelanjaan kelas 1: Senayan City, Jakarta Selatan. Opo ora hebat. Seperti halnya ilustrasi di atas. Pemilik perusahaan yang suaranya bak fatwa MUI tidak dapat ditolak menginginkan kami pindah untuk kesekian kalinya. Padahal kantor lama di Gatot Subroto jaksel ini tidak jelek-jelek amat. Di pusat kota, tengah-tengah sehingga mudah dicapai dari Jakbar, Jaktim, Jakut apalagi Jaksel. Belum lagi masih banyak faktor pendukung yang memudahkan aktifitas di tempat lama ini. Tapi ya sudahlah, lha wong kepala keluarga sudah bilang gitu, apa yang bisa anak buah lakukan. Ya manut mawon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apakah pemilik uang pernah berpikir, apakah pindah-pindahan tidak akan merugikan dari segi uang, waktu dan tenaga? Lha wong ada hampir 1000 orang bedol desa, dengan perangkat alat penyiaran berteknologi tanggi yang tidak murah harganya usung-usung ke tempat yang ternyata juga belum siap menampung. Bayangkan, berapa mahal ongkos sosial, dan ekonomi pindah-pindahan ini. Ck ck ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, dengan kepindahan ini, berarti SCTV sudah enam kali bertukar tempat baik dari Surabaya ke Jakarta maupun di seputar Jakarta. SCTV praktis menjadi satu-satunya stasiun tv di Indonesia yang paling sering berkeliling mencari tempat paling enak untuk memutar sinetron-sinetron dan beritanya. sayang sekali pemilik kami tidak pernah berusaha mengusulkan pencataan rekor pindah ke Museum Rekor Indonesia atau MURI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, sejak awal Februari 2008, sampai 30 tahun mendatang, kami akan menempati satu menara khusus di kompleks Senci (baca sensi singkatan dari Senayan City). Kami akan siaran dengan latar belakang Jakarta dari ketinggian sekitar 20 meter dari atas tanah. Peralatan lebih modern dengan pengamanan yang lebih ketat (jangan harap karyawan tak ber id card bakal diperbolehkan masuk, walaupun dia presenter yang mau siaran). Namun jangan coba-coba tanya berapa uang yang dikeluarkan untuk sewa dan membiayai semuanya. Saya memang tidak tahu. Yang pasti gaji saya 100 tahun tidak akan cukup untuk membayarnya. Yah, itulah harga yang harus dibayar demi harapan untuk mendapatkan kenyamanan, prestise dan kelebihan-kelebihan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau anda berjalan-jalan, baik sekedar cuci mata atau shopping anda di Senci, mungkin akan melihat saya ikut menikmati kenyamanan pusat perbelanjaan itu. Tapi pasti anda akan sulit menemukan saya nongkrong di tempat-tempat rendezvous di sana entah itu cafe atau restoran, karena  bisa-bisa uang belanja bulanan yang harus saya setor ke rumah  ikut larut menjadi makanan atau minuman yang hanya ternikmati selama beberapa jam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindah oh pindah.&lt;br /&gt;Indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6619347790293481855?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6619347790293481855/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6619347790293481855&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6619347790293481855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6619347790293481855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/pindahan.html' title='Pindahan'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6700524563394704310</id><published>2008-01-27T20:31:00.000-08:00</published><updated>2008-01-27T21:11:29.486-08:00</updated><title type='text'>Pak Harto 2</title><content type='html'>Mengantuk sekali mata ini, ketika sebuah sms masuk ke hpku. Pak Harto meninggal? Wah, repot nih. Saya yang notabene kerja di pemberitaan kok keduluan orang awam. Sambil menunda menjawab pesan itu, sontak kuhidupkan tv. Tepat pukul 13.20 WIB, Minggu 27 Januari 2008, saya mendapat info yang mengagetkan. HM Soeharto meninggal. Lho? Bukankah beberapa hari sebelumnya kesehatan mantan presiden ini diberitakan mengalami kemajuan? Sudah makan biskuit, ventilator atau alat bantu pernafasan sudah dilepas, siap-siap makan berat dan infeksi di beberapa bagian sudah membaik. Kok? Saya hanya menjawab sms rekan saya dengan satu kata: benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat kalimat seorang teman. Ia bilang orang Jawa percaya seseorang yang sakit lama dan kemudian membaik merupakan penanda ia akan meninggal dunia. Walau saya juga orang Jawa, saya tidak merasa memiliki kepercayaan itu. Apalagi pekerjaan saya membutuhkan nalar, berbasis informasi dan ilmu pengetahuan dan bukan hal-hal supranatural. Tidakkah yang dialami Soeharto merupakan penegas kepercayaan itu? Saya berkilah, itu kan hanya satu kasus dari sekian ribu kematian setiap hari yang tidak dapat didata dan diambil kesimpulan secara statistik. Tetapi ada yang tidak dapat sayamungkiri, bahwa saya menemukan beberapa kass serupa. Seseorang yang membaik dari jeratan penyakitnya yang kronis kemudian meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lulusan Fakultas Farmasi sebuah Universitas negeri di Surabaya, saya mengenal betul ilmu kesehatan dan obat-obatan (tapi jangan bilang-bilang ya IPku cuma untuk lulus saja). Seseorang yang menderita penyakit multi organ seperti Pak Harto (jantung, paru-paru dan ginjalnya tidak berfungsi) dapat dibilang tinggal menunggu waktu. Apalagi paru-parunya secara rutin terisi cairan karena ginjalnya tidak dapat membuang cairan bekas. Susah bernafas dan racun menumpuk itulah konsekuensi yang dialaminya. Tetapi itu berita seminggu sebelumnya. Dapat dibayangkan betapa mengherankannya ketika beberapa hari kemudian penguasa orde baru itu menalami perbaikan yang signifikan. tekanan darah yang lemah menjadi meningkat, nafas membaik dan kesadarannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan yang merebak bukan lagi berbasis pengetahuan, tetapi klenik. Soeharto memiliki jimat, pegangan atau ageman, sehingga nyawanya belum mau meninggalkan raga. Sekali lagi, hal-hal ilmiah tidak lagi bisa menjawab kenyataan ini, walaupun saya tidak mendapat informasi langsung dari dokter yang menanganinya. Hal-hal supranatural menjadi jawaban pamungkas yang menghentikan debat ala warung kopi dari orng-orang yang berpengetahuan medis seadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu orang Indonesia dikenal dekat dengan hal-hal adi kodrati. Pernahkah anda memerhatikan bunga yang ditabur di perempatan jalan? Juga kebiasaan memendam ari-ari di dekat rumah yang kemudian diberi lampu. Di Bali secara rutin pagi dan petang, masyarakatnya membawa sesajen berupa bunga, biskuit dan beras untuk diletakkan di tempat-tempat tertentu. Di masyarakat tertentu, ada sebuah kebiasaan untuk memberikan sesajen pada waktu-waktu khusus bagi makhluk=makhluk tak kasat mata; baik roh leluhur maupun penunggu tempat-tempat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menghadapi persoalan-persoalan berat, banyak kelompok orang yang menggunakan jasa mereka yang dianggap berkemampuan linuwih. Seseorang yang tak kunjung dapat pacar atau pekerjaan, ia berkonsultasi secara gaib dengan makhluk yang dianggap mendiami sebuah goa, pohon, makam atau benda-benda yang dikeramatkan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk kebudayaan ini tidak otomatis hilang di tengah melajunya peradaban manusia. Thailand, negara tetangga kita dikenal sebagai salah satu negara yang cepat mengalami perbaikan ekonomi dibandingkan Indonesia. Teknologi mereka terutama di bidang pertanian jauh melampaui negeri kolam susu seperti nusantara ini. Namun faktanya banyak orang yang masih memercayai dukun-dukun, ilmu santet dan kekuatan gaib sebagai pegangan untuk menyelesaikan persoalan modern mereka. Saat Thaksin Shinawat mendapat tantangan luas karena lawan politiknya menuduh ia korupsi, ia meminta bantuan banyak dukun untuk memperkuat posisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat dunia sedang terjebak dalam situasi ambigu. Di satu sisi kemajuan teknologi dan peradaban begitu cepat bergerak, di sisi lain karena banyak persoalan tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, banyak orang tenggelam dalam kegiatan klenik dan gaib. Ingatkah anda bahwa hampir setiap akhir tahun, cenayang, peramal dan "orang pintar" kebanjiran order untuk menolong orang-orang menghadapi tahun baru? Di manakah kepercayaan diri, nalar dan keberanian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak adil menghakimi orang yang memercayai sesuatu di luar hal-hal nyata. Bisa saja itulah kepercayaan yang sudah mendarahdaging sebagai produk pendidikan dan kebudayaan. Namun saya berpikir akan lebih parah bila kebiasaan yang ditoleransi itu menjadi tidak terkendali dan mengambil alih semua pikiran akal sehat yang seharusnya digunakan setiap waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percayalah kita mendapat anugerah otak yang lebih hebat dari segala benda yang ada. Tidak hanya dalam melakukan kalkulasi tetapi juga kebijaksanaan untuk dapat mengukur baik dan benar sebuah langkah dan menalar sebuah persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace&lt;br /&gt;Indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6700524563394704310?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6700524563394704310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6700524563394704310&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6700524563394704310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6700524563394704310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/pak-harto-2.html' title='Pak Harto 2'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-8860007159663103344</id><published>2008-01-23T15:54:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T16:44:52.035-08:00</updated><title type='text'>Bahasaku Bahasamu</title><content type='html'>Ketika mendengarkan beberapa laporan di televisi swasta dalam negeri, saya menjadi teringat guru Bahasa Indonesia SMP dulu. Betapa tidak, tata bahasa dan istilah yang dipergunakan tidak mencerminkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Beliau, guru saya itu sangat keras dalam mengajarkan penggunaan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya adalah frasa ini: Simpati Berdatangan kepada Pak Harto (ini berhubungan dengan laporan Pak Harto yang dirawat di RSPP). Sekilas tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun jika ditelaah lebih jauh, tentu saja simpati bukan kata benda yang dapat dijadikan subyek di kalimat tersebut. Akan lebih tepat jika simpati diubah menjadi rasa simpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tadi hanya salah satu dari sekian banyak kalimat yang tidak berkaidah baik dan benar. Pekerja TV hanya menggunakan 'rasa' dalam berbahasa seperti dalam kalimat becakap-cakap. Mungkin orang bisa mengerti arti yang dimaksud, permasalahannya televisi (khusus berita)adalah media pembelajaran pula dalam banyak hal. Itu sebabnya tidak hanya orang bisa mengerti apa yang dimaksud tetapi dapat mengetahui apa yang benar, baik informasi, gambar maupun tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah kian banyak orang tidak peduli dengan tata bahasa, dengan alasan bahasa adalah salah satu alat berkomunikasi. Sedangkan inti komunikasi adalah tercapainya pengertian antara dua pihak atau lebih dalam bertukar informasi. Itu sebabnya muncul bahasa isyarat dan bahasa tarsan. Bahkan yang menarik (ini degradasi atau kejeniusan) muncullah bahasa 'slank' atau kita mengenalnya sebagai bahasa preman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat saya duduk di bangku SMA, 22 tahun lalu, ada sebuah bahasa preman (prokem) yang saya dan beberapa teman gunakan sebagai penanda komunitas juga bahasa rahasia. Bahasa itu sebenarnya sederhana saja, yaitu penyisipan 'in' di setiap suku kata. Contohnya kata kamu menjadi kina minu, kemudian gua menjadi ginu ina. Mudah kan?&lt;br /&gt;Bahasa ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bahasa prokem yang muncul di setiap generasi. Bagi anda yang berusia di atas 30 tahun mungkin anda teringat kata-kata: beceng, gokil, bokap, nyokap, dan bokis. Bagi yang tidak mengetahuinya, arti kata-kata itu adalah: pistol, gila, bapak, nyak (ibu), dan bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu mucul bahasa kaum 'melambai' atau bahasa kaum waria, karena tampaknya merekalah yang memulai dan memasyarakatkannya. Makarena untuk makan, pelita hati untuk pelit dan caca marica pengganti cuci mata atau cari-cari (yang menarik hati baik barang atau orang) adalah beberapa kata  yang mereka gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat kebanyakan, bahasa itu bisa menarik, karena pergaulan mereka bisa berjalan mulus. Saya sendiri tidak keberatan menggunakan istilah-istilah itu. Selain unik, saya pun bisa memasuki komunitas-komunitas 'rahasia' sebagai bahan informasi/berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah sekian lama menggunakannya, saya rasa saya mulai kehilangan sentuhan berbahasa yang baik dan benar. Bukannya mau sok-sokan, tetapi berbahasa yang tepat memastikan penyampaian informasi sesuai dengan apa yang dimaksud, tidak ada dualisme arti yang bisa menyinggung lawan bicara atau pihak-pihak yang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya berlebihan dalam menginginkan penggunaan bahasa yang baik dan benar? Apalagi jika anda mendengar perbincangan saya dengan anak-anak saya, anda bisa terheran-heran, karena kalimat-kalimat saya sesuai "text book". SPOK (saya juga heran selalu memakai ini). Tiba-tiba saya hawatir, anak-anak saya selalu berbicara resmi dalam setiap kesempatan. Bayangkan betapa teman-temannya, yang masih berusia 10-12 tahun merasa ia bukanlah teman bermain tetapi pejabat negara bertubuh cilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin orang tidak sependapat dengan cara saya mengajarkan cara berbahasa kepada anak-anak saya dan orang di sekitar, karena dianggap berlebihan. Tetapi saya tahu, orang-orang tersebut mengerti benar maksud saya dan guru Bahasa Indonesia SMP saya akan memberi nilai baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;indi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-8860007159663103344?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/8860007159663103344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=8860007159663103344&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8860007159663103344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/8860007159663103344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/bahasaku-bahasamu.html' title='Bahasaku Bahasamu'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-531011744510696040</id><published>2008-01-22T10:31:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T10:54:35.652-08:00</updated><title type='text'>The Price</title><content type='html'>This morning I went to the market. What I found was surprising, although I have already knew, but still I was shocked. The price of vegetables, fishes, meats, even tempe raised more than 20 percents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember 30 years ago, when I was a teenager, I could buy a piece of cracker (kerupuk) with only Rp. 5,-. But now, I have to pay Rp. 1000 for the same cracker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhaps It's not fair to compare the two situations. They are all different! The problem is (this is what some people think) I am so upset in all what hapened this days.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's count one by one, starts with oil price two years ago; how Indonesian people shocked  because SBY JK administration raised the price more than 20 percents. Then it was followed with kenaikan harga sembako. You know, poor people in this country jump more than 10 percents.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Could it be hapened again today? Do you remember how the oil cooking price raised last year even before Lebaran? And then tempe, flour, tofu and so on. The worst happens when our gaji raised but not that fast.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I never stops thinking how housewives have to struggle in making food for their families in such situation. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu". The Kolam Susu" lyrics are very nice back then. Only this time, I think, Koes Plus must revise the lyrics, because it is not up to date. There is an ocean because of the flood, the pond of mud. The bait and net are not enaough for us. Someone has to be a corruptor to have an easy and prosperous life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Life might be not easy in Indonesia, but you should not give up. There always be hopes and light beyond this hard life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace&lt;br /&gt;Indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-531011744510696040?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/531011744510696040/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=531011744510696040&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/531011744510696040'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/531011744510696040'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/price.html' title='The Price'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-4847484344252488905</id><published>2008-01-20T14:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T16:53:13.289-08:00</updated><title type='text'>Tilang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Hi, all. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar mengendarai mobil atau motor tanpa STNK adalah sebuah kesalahan. Namun bila STNK yang anda buat tidak juga kelar, tampaknya tak ada pilihan untuk tidak menggunakan kendaraan apalagi itu satu-satunya. Sementara kondisi memaksa kita, jarak jauh, tengah malam, untuk menggunakan kendaraan itu. Pasti berabe jika anda bertemu polisi dan ada razia, tanpa bisa menunjukkan STNK asli. That's what happened to me last night.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was on the way to my office when the time showed 2.09 AM. It was a cold morning, with the wind blowed quite hard. Saat yang masih enak untuk bergelung di tempat tidur, tapi saya harus bertugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobil tua yang membawa saya bergerak penuh suara mengiuk melintasi jalan dari BSD Tangerang menuju Jl. Pakubuwono Jaksel, ketika razia polisi terlihat di depan. I knew this situation will happen every morning, baik razia resmi yang melibatkan puluhan polisi maupun tidak resmi, karena hanya beberapa polisi berpangkat bintara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa enggan menyerang, ketika polisi bernama Handoko (saya lihat tulisan di dadanya) menyuruhku menghentikan kendaraanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat pagi. Tolong surat-surat anda", ia menyapa sambil memintaku menunjukkan SIM dan STNK.&lt;br /&gt;"Ini SIM. Tetapi STNK berupa fotokopi karena masih dalam proses pengurusan". saya memberikan surat-surat yang diminta.&lt;br /&gt;"Wah, anda bisa ditilang dan mobil ditahan karena STNK tidak sah".&lt;br /&gt;"Maaf, tetapi apa yang bisa saya perbuat? Bekerja dini hari sedangkan STNK sudah 3 bulan diurus belum selesai." Saya berargumen.&lt;br /&gt;"Kalau begitu kita menghadap atasan". Memang dilema buat sang abdi negara, karena di satu sisi ia harus melaksanakan tugas, di sisi lain ia tidak suka berargumentasi dengan seorang pegawai perusahaan penyiaran seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan menuju sang atasan nun jauh di sana, saya melihat berkeliling. Banyak pula yang harus berurusan dengan aparat dalam razia ini, karena macam-macam alasan. Entah karena STNK seperti saya, tak ada SIM atau peralatan kendaraan yang tidak lengkap. Waduh, how inconvenient to have problem with a policeman in the morning like this, I said to myself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanya seorang pria paruh baya, yang saya kira atasan Handoko, si polisi.&lt;br /&gt;Sambil mengangsurkan SIM dan foto kopi STNK saya, Handoko menyampaikan permasalahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada identitas anda?" tanyanya penuh curiga kepada saya.&lt;br /&gt;Saya pun mengangsurkan kartu nama (biasanya saya banggakan kartu nama itu karena tercantum jabatan yang lumayan bergengsi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak segera menerima kartu nama itu.&lt;br /&gt;"Kartu identitas," desaknya.&lt;br /&gt;"Maaf kartu itu dipakai untuk mengurus STNK, jadi saya tidak memegangnya saat ini", saya berkilah (ini tipu-tipu, karena kartu saya tergantung di meja kerja saya di kantor).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda, tidak mudah untuk meyakinkan sang pejabat polisi mengingat tidak ada foto di kartu nama, cuaca gelap (lampu remang-remang di atas jalan) dan semua orang lelah (pastilah). Namun sekali lagi saya berkeras menyatakan ini semua bukan kesalahan saya (bukankah saya berniat baik, dengan membawa SIM, foto kopi, sopan dan berniat menyelesaikan secara hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena bosan berargumentasi dengan saya, akhirnya sang pejabat polisi menyerahkan surat-surat saya dengan tekanan untuk segera menyelesaikan pengurusan STNK. Plus ancaman tidak ada jaminan kelonggaran bila razia dilakukan oleh tim yang lebih lengkap dan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perjalanan ke kantor, saya berpikir betapa tidak enaknya menjadi polisi (apalagi yang berpangkat rendah). harus bekerja keras tanpa kenal waktu, dengan gaji rendah. Harus menghargai hirarki, tetapi juga harus berhati-hati dengan orang-orang yang memiliki akses ke atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur saya bekerja di tempat saya sekarang ini. Gaji so pasti, kemudahan banyak serta seabrek hal yang membuat hidup ini berwarna. Thank God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-4847484344252488905?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/4847484344252488905/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=4847484344252488905&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4847484344252488905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/4847484344252488905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/tilang.html' title='Tilang'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3470269092557548627.post-6198756722438746392</id><published>2008-01-17T12:28:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T12:41:40.006-08:00</updated><title type='text'>My thoughts</title><content type='html'>Rabu, 2008 Januari 16&lt;br /&gt;&lt;a name="718669344916546355"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2008/01/tahukah-tempe.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Tahukah tempe?&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hi all,Salah satu makanan kesukaan saya adalah tempe sambel. Panas, berminyak, pedas dan wangi kemangi serta kencur. Di pagi hari, nasi panas dan tempe adalah sarapan yang sering saya minta ke "mein mevrouw".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana saja, makanan itu membuat perut cukup kenyang dan lidah saya yang sangat njawani ini harus bisa merasakan ketajaman hidangan yang ada. Sarapan a la orang Jakarta seperti bubur ayam, lontong sayur atau mie ayam bukan pilihan utama saya. Bahkan kalau lagi malas lihat makanan yang ada pada saat makan siang atau malam, tempe goreng, tahu goreng dan telur kalau ada, dapat dengan mudah saya kunyah dan telan. Dengan kebiasaan itu saya benar-benar terpukul karena hilangnya dua main course itu, akibat produsen tahu dan tempe mogok bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melambungnya harga kedelai dan ketidakmampuan pemerintah menangani komoditas itu menjadi alasan penghentian produksi. Menghilangya tempe dan tahu dalam 3 hari terakhir menjadi salah satu puncak kejengkelan saya sebagai rakyat kecil. Bayangkan, istri saya mengeluh harga tepung melonjak hampir 100 persen. Kemudian minyak goreng sudah berbulan-bulan enggan turun tahta. Belum lagi anak-anak minta susu yang harganya hampir tak terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan lalu pemerintah juga berancang-ancang mengurangi subsidi bensin dan minyak tanah dengan alasan kenaikan harga minyak dunia. Untung hal itu belum jadi. Andaikan terealisasi kita bisa membayangkan betapa bola salju kenaikan harga akan menghantam kita semua sampai babak belur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang harus disalahkan karena situasi ini? Yang paling mudah kita salakan saja pemerintah. Kita kan sudah pilih dan menggaji mereka dari uang pajak, jadi wajar dong kalau mereka harus bekerja keras dan lebih keras untuk membuat senang rakyat; minimal tidak bikin susah. Itu yang paling mudah! Hanya saja tidak adil kalau semua beban itu kita bebankan pada pemerintah. Bagaimana pun kita memiliki andil untuk terlibat di dalamnya. Eit jangan marah dulu. Mari kita lihat persoalannya. Berbagai persoalan di sekitar kita sedikit banyak melibatkan setiap individu. negara kita dikenal sebagai surga koruptor sehingga apapun usaha untuk membuat maju negeri ini terganjal oleh aksi-aksi orang-orang brengsek itu. Tetapi mari teliti dulu siapa koruptor itu. Ada berbagai jenis korupsi; uang, waktu, dan kesempatan. Rasanya kita pernah melakukannya. Dengan menggunakan waktu kerja untuk bisnis sendiri bukankah kita sudah korupsi? Namun seringkai kita permisif terhadap korupsi non-uang. Akibatnya hal itu terjadi berulang-ulang dan kian besar, kian luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setiap kita semakin tidak peduli terhadap kejahatan kecil-kecil, lama-lama kita membiarkan kejahatan besar. Akibatnya semakin mudah negara ini dipermainkan oleh penjahat-penjahat besar. Padahal kita punya banyak uang yang dapat digunakan untuk mengatasi persoalan-persoalan anggaran belanja negara yang bisa memudahkan kehidupan rakyat kecil. Sialnya uang itu masuk ke kantong orang-orang tertentu dan kita orang kecil cukup gigit jari, karena tahu dan tempe tidak ada lagi di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 2008 Januari 14&lt;br /&gt;&lt;a name="1077326570530118014"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2008/01/pak-harto.html"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;Pak Harto&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zDnbfiaAl1c/R4v150rqBYI/AAAAAAAAAAg/QScgW7w83Ac/s1600-h/thumb.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hi all,I don't think this situation ever happened in the other part of this world. Journalists gathered in front of a hospital waiting for every second of a former president's sicknes; in this case Soeharto as the second president of Indonesia. Even though I am working for one of 10 broadcasting companies in Indonesia as a journalist, still, I think the coverage is too much.There were live reports, analysis, comments, that I think, took too much time and rooms in public spaces.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The other hand, there were so many problems happened surround us; the prices of households, foods raised more than 30 % as the industries reacted on the raise of oil price. Tuition fee of new schools raised in race Floods everywhere, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is almost 2 weeks since Soeharto was taken to Pertamina Hospital in Jakarta. We spent 24 hors a day to watch him not only in hospital but also in Cendana where Soeharto lives in case of bad something happened to him.The worst day came two days ago, when Soeharto in a critical situation. The doctor said the chance for him to live was only 50:50. There was a lung failure because of too much liquid in his lungs, and also the heart swallowed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The newsroom was in red alert. Everyone was urged to stay awake in the office 24 hours. Oooh, It seemed that my boss was in panic or she was just want to show her power in controlling her subordinates. You know we have been in this business for over 1o years, and had dealing with situation more than once, so I think the emergency management is already in our blood.The problem is, I think we never consider the need of the viewers. So far we just played the game based on our assuption that the situation has news value.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I have experiences in dealing with viewers choice. When a story runs more than 3 days with major coverage and without more development, the people start to get bored.I know there is no law in rating and share, because people attention and needs may change in minutes. But, what I mean here, let's step back for a while and review it calmly.I think there will be more fair and interesting steps to be done since there are more events surround us. The steps might be more useful for the viewers and the people.What do you think?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 2008 Januari 13&lt;br /&gt;&lt;a name="4003528034519291525"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2008/01/barriers.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;BARRIERS&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hi all,I promised to write as soon as possible about everything. In fact I missed all that. Uh I am so sorry. Eventually, here I am. There were many things happened (as usual), however they all came one by one without delaying.After finishing my duty as chairman of a commitee in my church, I had my annual leave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was good, ummm not good enough actually. There was flood! Can you imagine? I and my familiy had to spend more hours to travel Jakarta-Madiun. Heavy rain and flood, bad road, traffic jam.Nevertheless, I was happy to leave my job behind. It was great not to think all pressures (my headache comes every Wednesday when weekly ratings issued). Oh come on, they are all past now. Let's think about present time, ok? Ok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You know what's bothering me? Now? Waiting in uncertainty. Why is that? Soeharto. It is a name of a great person. A hero, a leader, a strong man. Not only in the past, but you can trace his power until now. But what can a living creature can do against time? Nothing. You will loose at the end. This thing happens too for Soeharto. He is lying powerless on a bed. His life depends on instruments hanging around him.But you protest: It's got nothing to do to you. Soeharto is a lot bigger than you. Oh yeahh. It has something to do to me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We journalists put our eyes on him, because his sickness. We keep asking each other whether his time is nigh. We don't want our competitor take an advantage because of our inadvertence. All of our sources, instruments, persons, everything are in position to broadcast the D-day lively. Red alert! I keep wondering in my mind, do all people care about this dissonance broadcasting business. Half of me said Yes! Indeed, absolutely no doubt on that. But the other half is not sure about that.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It said Seharto is the past, people need something real like food, job and education, sometimes entertainment.Sure, there will be no exact answer on that question. All I have to do is do what my superior told me about. I am not in a position to refuse the order. That's what bothering me.Thank you for reading and listening my thought.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peace,indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 2007 Desember 13&lt;br /&gt;&lt;a name="5780766961315426296"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2007/12/pressure.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Pressure&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan kuterima di tengah tidurku yang nyaman siang itu (maklum kalong, kerja malam, pagi sampai siang balas dendam dengan bantal guling). My boss sent me an sms. Programmu jatuh ratingnya tulis beliau. Adalah hal biasa bila rating dan share sebuah program tv naik turun seperti roller coaster. Tetapi sms itu menandakan ada yang tidak beres dengan perolehan pada hari sebelumnya. Mungkin hasilnya di luar batas toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms itu membuatku termenung. Apakah saya sudah mengerjakan semua tugas saya dengan baik? Hal ini kembali memicu pertanyaan banyak orang: Apakah "nilai" pekerjaan membuat program tv dapat diakui hanya oleh besar kecilnya rating? Is it fair to use such a tool?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia televisi bagiku seperti bumi dan langit yang terperangkap dalam sebuah bentuk. Sebagai penonton, saya menikmati kenyataan dan ketidaknyataan sekaligus. Dengan minuman ringan di tangan, pisang goreng dan "leyeh-leyeh" di kasur, saya bisa menikmati tayangan tv. Bahkan saya bisa memaki, memuji, menilai aksi panggung seorang bintang dan kualitas teknisnya tanpa harus terbeban secara psikologis. Namun di saat yang sama, saya adalah seorang pekerja yang mencari penghidupan dengan memproduksi berita televisi. Praktis tidak ada saat tenang ketika sebuah program disiapkan. Presenter, gambar, audio, tulisan di layar dan seabrek aspek teknis dan non-teknis adalah hal-hal yang harus disiapkan secara sempurna agar rating bagus; lebih bagus dari tv tetangga. Hebatnya itu adalah pekerjaan 7/24/365, atau tujuh hari seminggu selama setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saya sampai pada tahap 'mblokek'. Itu adalah istilah bagi situasi perut yang kelewat kekenyangan hingga mau muntah. Mengerjakan program tv bagi saya seperti mendekati perempuan cantik. Bagaimana tidak. Kita tidak pernah dapat menentukan bentuk pendekatan yang tepat untuk menundukkan hati sang wanita. Cara pendekatan kepada yang satu belum tentu sama efeknya kepada yang lain. Perlu kreatifitas dan deg-degan. Itu seninya.Namun ada saat, ketika saya tidak lagi dapat menemukan asyiknya membuat program....Ah saya akan teruskan cerita saya besok, karena saya harus miting (bukan mencekik) tapi meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stay in touch.&lt;br /&gt;indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 2007 Desember 10&lt;br /&gt;&lt;a name="976135169573692969"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2007/12/perjalanan.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Perjalanan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hi all,Ada yang berbeda dalam perjalananku ke kantor hari ini. Mobil tua yang sudah menemaniku bertahun-tahun sedang tidak enak badan, sehingga kuistirahatkan di bengkel. Naik bis Trans BSD adalah pilihanku. Dingin, nyaman, bisa tidur lagi. Satu setengah jam dari BSD Tangerang ke Gatot Subroto Jakarta Selatan, dapat kumanfaatkan untuk istirahat.Namun harapan untuk bisa "berkontemplasi" di jalan tidak terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu pukul 10.15 WIB, bis penuh. Kok aneh? Apa orang-orang ini seperti saya yang jam bekerjanya bukan jam kantor? Karena kulihat wajah-wajah mereka bukan orang sekolahan atau ibu rumah tangga bagi yang wanita. Mungkin mereka adalah pemilik perusahaan yang lagi tidak suka menggunakan sedan mewah untuk bekerja pikirku. Sesaknya bis membuat perjalanan menjadi tidak nyaman. Wah, ACnya juga tidak cukup menyebar rasa dingin. Apalagi sinar matahari mulai menghangat di luar sana. Tetapi belum itu saja tantangannya. Duduk di sebelahku adalah seorang pria setengah baya yang begitu aktif berkomunikasi. Tidak cukup hanya berbicara setengah suara di kepadatan penumpang bis, ia bisa dibilang setengah teriak untuk berbicara dengan "counterpart-nya". Hmmm. Yang hebat ponselnya pun sebentar-sebentar ikut "berteriak" menyampaikan keinginan untuk berbicara dengan sang pria karena panggilan dari seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas jalan tol BSD-Bintaro, bis merayap di tengah kemacetan Jalan Metro Pondok Indah. Di sana-sini memang pengecoran jalan untuk busway sudah hampir selesai. Tetapi di beberapa bagian jalan terdapat batu-pasir, sisa-sisa aspal yang terbongkar masih bergeletakan. Bis berbadan gemuk panjang ini harus bersaing dengan metro mini, sedan mewah, angkot dan sepeda motor untuk bersaing melaju di jalan yang tinggal dua jalur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Brengsek!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar makian dari bapak di sebelahku. Rupanya pikirannya sama denganku yaitu mendongkol dengan lalu lintas yang tidak segera lancar. Mungkin tendernya bakal menguap bila ia tidak sampai di tujuan tepat waktu pikirku. Berhubung aku tidak memiliki target waktu, aku masih bisa menahan mulut ini untuk tidak mengumpat.Mungkin ini waktu yang tepat untuk mencuri tidur; toh masih cukup lama untuk sampai di akhir tujuan di Ratu Plaza Sudirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huaaaa!!! Pondok Indah, ma! Nggak mau Plaza Senayan!" Seorang anak laki-laki kecil, yang mungkin baru berusia 6 tahun merengek kepada mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya waahh lumayan mengejutkan, sehingga kantukku segera menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sssssttt. Plaza Senayan, karena mama ada urusan", sang mama membujuk anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak mau. Pondok Indah", balas sang anak dengan keras kepal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa pikirku. Anak seusia itu sudah bisa membedakan dengan jelas dua pusat perbelanjaan di Jakarta yang dikenal berkelas. Aku membandingkannya dengan anak-anakku. Rasanya si anak kecil jauh lebih canggih. Aku geleng-geleng.Selepas Pondok Indah, bis dengan lancar melintasi Kebayoran Lama. Bahkan lima belas menit kemudian kami sudah memasuki Pakubuwono dan Sudirman. Menguap sudah kesempatan untuk tidur nyaman. Namun menarik juga untuk melihat kejadian di dalam bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 2007 Desember 09&lt;br /&gt;&lt;a name="3377255468422393918"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2007/12/challenges.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Challenges&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_zDnbfiaAl1c/R1yaI68iBWI/AAAAAAAAAAY/WHTZqEpse-g/s1600-h/Blue+hills.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hi all,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How's your weekend? I had a good one; sleep all day (hahaha). Take a rest after a full and exhausted week with meeting, arguing and working. Actually it was not a whole day rest, because I spent a whole day of worship on Sabbath day (Saturday). And on Sunday, my children asked me to go out for a little vacation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, I promise to tell you what happened in the meeting last week and here it is. My TV where I work has problem with one of its news program. You know rating don't you? Yea the rating is very low, so the rescue must be done.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What I never understood is the way decision was made. Within just a few days after I wrote an evaluation, some people got replaced. I didn't think my boss would act that fast, because I believe the persons who worked for the program has done perfectly. It's just a misperception in reading the market and the competitors did well. Also, the mistake belonged to the bosses, because it's them who drove the program in such a way.&lt;br /&gt;I am sorry for what had happened especially to my friends who has been replaced without any explanation. Of coures, they are still here, but in different positions without pride (they've been counted as loosers).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After all the business is business. We have to move on in any condition; new persons elected and reformed. I know every eyes in this office are watching me and my team, waiting for what are we gonna do or waiting for our fall. I am not afraid nor worry. I am not afraid of challenges. I believe in working together in a fun atmosphere.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do you believe in someone's ability? I do, and I will never dropped that. Trust, opportunity, guidance and confidence are the things that someone needs to perform well.&lt;br /&gt;Enough with the meeting. I have a plan to have annual leave this weekend; a trip to Madiun. What I am waiting for this trip is driving and sight seeing. Oh it was an excited experience to drive for mor than 15 hours from Jakarta to Madiun, East Java. Exhausting but exciting. But not as last year of a year before, when we drove straight to Madiun, my wife proposed us to stop at a certain city and have a pleasure for a while.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's a good suggestion anyway. We never stopped in Cirebon, Pekalongan or Semarang more than just 30 minutes. Oh, I can hardly wait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's work with energy in a good spirit but have a vacation to refresh your ideas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis, 2007 Desember 06&lt;br /&gt;&lt;a name="8928947475901012992"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://yourperfectblog.blogspot.com/2007/12/sleepy-but-happy.html"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Sleepy but happy&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Dec 8, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hi all,&lt;br /&gt;It was a great day! My wife had her birthday party yesterday. We (I, my wife and our two children) celebrated it with a dinner. Perhaps the place is not a special one (Pizza Hut, hahaha) but the best thing was we were happy. We ate a lot, even my wife who has a special task to control her weight (hmmmm). The night fell very fast, we could hardly realize that the place was almost close when our meal still flows in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OOOh I had to wake up early morning (actually this is my real job) to go to the office. When most of the west Indonesians are still having their warm and nice bed. But please don't think I was too lazy too wake up, it's just my eyes uuhhh so heavy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There will be a meting today, because my tv program (the program that I supervise) need to be changed. It must be a tough job. Many people with many ideas with only one program. However, I am glad to work with my team now. They are so eager, full of ideas, flexible and also creative (nothing you want more).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, I will tell you what happen on the meeting later on. I am sleepy but happy and full of energy to start the day (by the way it's week end). Enjoy your life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;indi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3470269092557548627-6198756722438746392?l=situsindi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://situsindi.blogspot.com/feeds/6198756722438746392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3470269092557548627&amp;postID=6198756722438746392&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6198756722438746392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3470269092557548627/posts/default/6198756722438746392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://situsindi.blogspot.com/2008/01/my-thoughts.html' title='My thoughts'/><author><name>Indiarto Priadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10262048758722422074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp3.blogger.com/_JZM8AMZ3eNs/R4--dJxu1VI/AAAAAAAAAAs/Ud2R8hLJMIY/S220/DSC00889.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
