Tuesday, July 7, 2015

Tempat Berkesan


Dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, ada dua lokasi yang paling saya ingat. Memori saya terisi penuh dengan hal-hal khas dari kedua tempat itu. Yang pertama adalah Seattle, AS dan kedua Sindangraja di Sukabumi, Jawa Barat.

Bukan karena di luar negeri atau di Amerika, kota Seattle menjadi pilihan pertama tempat favorit saya. Rasanya ada banyak alasan yang bisa saya kemukakan untuk mendukung pilihan itu. Setiap mengunjungi sebuah daerah asing, terutama untuk jangka panjang, saya menyempatkan diri berkeliling, baik dengan kendaraan umum atau berjalan kaki.

Walaupun hampir 4 tahun lalu, rasanya seperti baru kemarin saya mengunjungi kota Seattle. Setiap sudut kota mudah terbayang di benak. Cuacanya yang sejuk (walaupun masuk musim gugur yang biasanya dapat menggigilkan saya jika di negara empat musim lainnya) memudahkan saya berjalan di waktu malam atau dini hari.

Ya, saya senang menelusuri jalan-jalannya yang berbukit. Kota itu tidak besar (dibanding Surabaya bahkan), sehingga dengan berjalan kaki pun dengan mudah sudut-sudut kota terjangkau. Dalam satu pandangan, kita bisa melihat pegunungan, laut (tepatnya teluk) dan dataran. Three in one.

Salah satu tujuan favorit saya adalah pasar ikan. Hoho, jangan pikir ini seperti pasar ikan atau tempat pelelangan ikan di Indonesia. Jauh! Bersih lorong-lorongnya, tanpa bau amis pula. Bahkan yang paling seru, beberapa pedagang menawarkan dagangan berupa ikan segar atau hewan laut lainnya dengan gaya yang atraktif. Baik dengan gerak tubuh ataupun dengan teriakan-teriakan yang mengundang.

Belum lagi ada obyek wisata yang mengingatkan saya pada film romantik Sleepless in Seattle yang dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan; namanya The Needle. Bentuknya seperti menara TVRI di Senayan, tetapi lebih tinggi dan cara melihatnya adalah dari perbukitan. Indah.

Yang juga tak terlupakan adalah desa Indian bernama Tilicum Village. Tempat ini dicapai dengan menggunakan ferry penyeberangan selama sekitar 30 menit. Sebetulnya yang tersisa hanyalah karya masa lalu berupa barang-barang lawas dan diorama, tetapi pengunjung dapat membayangkan kejadian masa lalu itu melalui sebuah sandiwara di panggung dengan tata cahaya dan suara yang lumayan untuk kelas pertunjukan biasa. Hebatnya turis menikmati itu sambil makan-makanan khas Indian dan salmon panggang yang nikmat dan all you can eat. Saya sampai tambah dua kali makan salmon itu, karena endang bambang (enak banget).

Lalu bagaimana dengan tempat di Indonesia?

Banyak tempat bagus di tanah air beta. Namun untuk terbilang berkesan harus ada yang menyentuh perasaan. Nah yang itu baru saja saya rasakan ketika saya dan teman-teman menggarap program Suara Keadilan akhir Juli 2010. Tempatnya relatif dekat saja dengan Jakarta, yaitu Sukabumi. Namun jangan salah, ini bukan kota Sukabumi, tetapi di sebuah desa bernama Sindangraja.

Sebelumnya, produser saya hanya menyatakan tempatnya 15 km dari Sukabumi. Tidak jauh saya pikir. Tetapi ia menambahkan, bahwa perjalanan itu menggunakan mobil berpenggerak empat roda. Lho. Hati ini jadi bertanya-tanya atas informasi itu.

Faktanya: buseettt.

Dari Sukabumi setelah makan mie ayam sehat buatan istri saya, kami berkendara dulu sekitar 30 km dengan jalan menanjak dan berkelok. Jalan itu sempit dengan aspal yang sudah mengelupas di sana-sini. Setiap berpapasan dengan mobil lain semuanya harus melambatkan kendaraan dan berhati-hati melintas jika tidak ingin senggolan atau masuk jurang.

Nah di sebuah kawasan kebun teh, pergantian kendaraan dilakukan. Kami tinggalkan mobil yang kami gunakan dari Jakarta dengan sebuah LandRover tahun 1980. Kokoh. Tangguh. Pengendaranya adalah kontributor kami di Sukabumi. Di situlah ia membuka alasan mengapa kendaraan berpenggerak 4 roda diperlukan. Yaitu berbatu, menanjak dengan kemiringan tajam, sempit dan kadang berlumpur. Dari tempat itu hingga Sindangraja tujuan kami jaraknya 15 km. Itulah jarak yang disampaikan rekan saya. Wah bonus yang 30 km tadi itu, pikir saya.

Lalu dimulailah perjalanan yang mengesankan itu.

Terik matahari siang kalah oleh sejuknya udara. Namun hati ini deg-degan ketika mobil mulai bergerak. Bahkan pada 100 meter pertama. Lebar jalan hanya untuk 1 mobil, batu-batu sebagai landasan jalan berukuran minimal sebesar bola kaki menikung ke kiri dan ke kanan. Di beberapa bagian, sang pilot LandRover harus berhenti untuk berancang-ancang sebelum melintasi kubangan lumpur atau tanjakan berkemiringan sekitar 45 derajat (atau kurang ya? Pokoknya miring banget deh).

Praktis keindahan kebun teh milik Goal Para (kata pak kades setempat pada suatu kesempatan) terabaikan. Kami semua harus berpegangan di dinding mobil jika tidak ingin terjatuh dari tempat duduk akibat guncangan mobil.

Sekitar satu jam perjalanan itu kami tempuh dengan gerakan tak keruan tanpa henti. Hingga akhirnya kami sampai tujuan di desa yang dimaksud. Anda bisa bayangkan perjalanan kami turun dari tempat itu setelah urusan liputan selesai. Mungkin analoginya seperti naik rodeo di atas seekor kuda gila yang mabuk dan seorang kejam melecuti kuda itu dengan semena-mena.

Perjalanan yang mengesankan, karena itu adalah bagian negara saya. Warga desa Sindangraja pasti harus bersusahpayah jika harus mengurus kegiatan mereka ke kota besar; ke rumah sakit, berbelanja atau sekolah. Di sana baru ada sebuah sekolah dasar, sehingga untuk pendidikan lanjut para remaja harus memiliki punggung, pinggang dan pantat baja melawan guncangan di jalan.

Ya Tuhan, betapa dua tempat seperti kutub itulah yang saya ingat. Pertama karena kenyamanannya dan kedua karena ketidaknyamanannya. Yang pertama saya ingin kunjungi atau bahkan saya tinggali, tetapi yang kedua, di negara sendiri, saya tidak ingin ke sana lagi selama infrastrukturnya masih seperti itu.

MUDIK LAGI

(urusan pribadi hingga masalah nasional)

Tak terasa sebentar lagi Jakarta akan lengang. Jutaan jiwa dalam beberapa hari meninggalkan ibu kota ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, bahkan keluar Jawa. Bisa jadi mudik Lebaran adalah peristiwa tahunan yang biasa. Namun jika kita berbicara masalah hati dan emosi, tetaplah ada keluarbiasaan yang sangat terasa, ketika keluarga-keluarga menggunakan berbagai jenis kendaraan melintasi jalan-jalan penghubung kota2 menuju kampung halaman.

Saya belum pernah terlibat dalam arus mudik. Baik sebagai peliput di lapangan, apalagi menjadi mudiker (peserta mudik, hehehehe). Namun saya bisa membayangkan, betapa ada banyak rasa campur aduk. Mulai dari persiapannya, di jalan hingga sampai tujuan. Perasaan bersemangat, cemas, emosional dan tentu kebahagiaan memenuhi dada semua mudikers.

Semasa SMA (sekitar 30 tahun lalu), saya pernah melakukan perjalanan Jakarta-Surabaya menggunakan kereta Gaya Baru Malam. Saya lupa apakah saat itu menjelang Lebaran atau tidak, tetapi yang pasti kereta sangat penuh. Saya mendapat tempat berdiri di depan wc sejak Pasar Senen, Jakarta hingga Semarang, ketika sejumlah penumpang kereta turun dan ruang gerak lebih lega. Total selama sekitar 6 jam perjalanan itu, hampir tidak ada ruang gerak. Para pemudik berdesak-desakan.

Rupanya sejak beberapa jam sebelum berangkat, rebutan tempat telah terjadi. Tidak mendapat kursi, berarti lantai dan ruang di antara kursi diisi. Diduduki. Bayangkan panasnya udara. Jangan lupa, saat itu kereta rakyat tanpa AC hanya kipas angin dan jendela yang terbuka lebar. Bayangkan pula berbagai jenis bau campur aduk. Bau makanan, parfum, minyak angin, keringat bahkan kentut dalam satu gerbong kereta minim ventilasi.

Soal bau rasanya masih bisa diabaikan. Sebagai penumpang kereta (walau penumpang gelap, bayar di atas ke kondektur saat pemeriksaan karcis), saya sangat dongkol pada pedagang asongan. Hampir tidak ada saat tenang. Setiap saat akan terdengar tahu...tahu, sprit...sprit (sprit bukan sprait loh), plus langkah-langkah kaki di antara manusia yang berjuang memperoleh ruang duduk, tidur, jongkok atau berdiri. Ugh! Yahhh, namanya mencari sesuap nasi. Nggak apa-apa deh. Mereka, para pedagang itu, juga punya hak mengais uang kecil di antara mudikers. Toh, sepengetahuan saya tidak ada yang protes. Saya juga hanya bisa menggerutu dalam hati. Sungguh masyarakat Indonesia penuh toleransi.

Ketika kedua mertua masih hidup sampai lima tahun lalu, kami sekeluarga minimal setahun sekali berkendara dari Jakarta ke Madiun menjenguk mereka. Jalur Pantura adalah satu-satunya opsi perjalanan. Tidak ada jalur Selatan. Walau tidak pernah ikut arus mudik, perjalanan itu pun bukan perkara mudah. Menuju pintu tol Cikampek, persaingan dengan bus malam, truk dan sesama kendaraan pribadi relatif ketat. Lalu perjuangan berikut menembus jalan berlubang di Karawang hingga Subang. Indramayu relatif menawarkan kelancaran. Namun kami pernah terjebak berjam-jam di kawasan Ajibarang. Saat itu tengah malam. Karena tidak juga bergerak, mesin saya matikan dan tidur. Rasanya tidak lama, namun saat terbangun karena mobil diketuk orang yang meminta kami bergerak, jam seingat saya menunjukkan sekitar pukul 3 pagi.

Itu kesulitan saat peristiwa non-mudik. Bayangkan saat ribuan kendaraan pemudik baik roda dua, roda empat hingga roda 6 berada di tempat yang sama dan pada jam yang sama. Sementara ukuran jalan tidak bisa dimelarkan. Andai pula di tengah kesulitan itu, anak kita yang berusia di bawah 7 tahun mengatakan; pak, mau pipis.Ugh!

Hari ini, 7 Juli 2015, sebuah kendaraan niaga terguling di Tol Cipali. Tujuh orang meninggal di tempat. Ya, Tuhanku. Itu adalah kecelakaan kesekian kali sejak jalan tol tersebut dibuka untuk umum sebulan sebelumnya dengan jumlah korban terbanyak.

Mudik belum lagi dimulai, tetapi hati ini trenyuh mendengar kabar itu. Apakah itu akan menjadi korban terakhir, atau akan bertambah saat arus pemudik meningkat minggu-minggu ini.

Sudah cukup kesulitan saat memeras keringat untuk mencari sesuap nasi dan membawa kegembiraan waktu kembali ke kampung halaman. Jangan tambah kesulitan itu dengan ketidakhati-hatian di perjalanan yang membawa malapetaka. Mudik adalah perjalanan sarat emosi, tetapi tujuan mulianya jangan dinodai. Dengan apapun.

Selamat mudik, selamat sampai tujuan, selamat bergembira. Selamat Lebaran

Wednesday, March 6, 2013

Pemilukada: Tugas vs Makan-makan

Wisata kuliner itulah yang ada di benak ketika saya mendapat tugas berkeliling ke beberapa daerah mempersiapkan program debat pemilukada untuk tv tempat saya bekerja. Sejak akhir 2012, saya harus mengunjungi Bandung, Makassar, dan Medan. Yang pasti tidak hanya sekali, dalam kurun waktu 4 bulan saya berulangkali ke kota-kota tersebut. Sepertinya tukang parkir dadakan bandara Soekarno Hatta bisa hafal wajah saya (hahahaha, ge er banget yah?)

Sambil menyusun baju ke dalam ransel (biasanya memang cuma bawa ransel karena cuma 3 hari bepergian) saya seringkali menyusun akan makan ke mana di kota tujuan. Bayangkan kerja belum tetapi tujuan isi perut sudah jelas. Untung saja bos saya tidak tahu isi benak saya tersebut. Hahahaha. Tapi yang penting kerjaan beres, kan?

Mungkin di antara Anda ada yang lebih tahu tujuan lokasi makan yang seru di Bandung, Makassar dan Medan. Namun buat saya ada tempat-tempat yang memuaskan. Kaki lima tentunya. Rasa lebih nendang, harga tak membuat isi dompet melayang.

Di Bandung, saya akan berkunjung ke Dago. Ada sebuah warung berukuran sedang yang jualan utamanya yoghurt dan peuyeum bakar. Manisnya cukup di lidah saya yang sudah berhati-hati dengan gula dan lemak karena faktor U. Oh ya, kalau kembali ke Jkt pun saya menyempatkan diri untuk beli oleh-oleh di sekitar BTC. Di sini saya menyukai cheese stick dan pisang coklatnya. Seorang pelayannya pun menarik untuk dilihat dan diajak ngobrol.

Panassssss!!! Itulah yang terasa di Makassar terutama di siang hari. Namun makanan yang paling menarik bagi saya adalah Coto pedas di warung pengap di sekitar Pelabuhan Nusantara. Huaahhhh. Keringat dan desisan kepedasan di mulut menyertai setiap suapan coto yang gurih dan gigitan ketupat.  Sedangkan di malam hari, ikan bakar rica-rica adalah hidangan yang asik untuk mengisi perut. Ada satu jenis hidangan ikan yang saya temukan dan segera menjadi kesukaan saya. Ikan kudu-kudu namanya. Yang khas dari ikan ini adalah kulitnya keras seperti cangkang, namun dagingnya cukup lembut dan kenyal. hanya saja tidak sekenyal tongkol atau tuna.

Ikan kudu ini sepertinya dibelah dengan gergaji (masak sih?) mengingat kerasnya si cangkang sebelum dibakar. Saya menyukainya bila separuh badan dibumbu rica dan separuhnya bumbu manis. Hmmm. Apalagi durinya pun sedikit sehinggga tidak sulit untuk dinikmati.

Kalau di Medan, maka sup sumsum dan durianlah tujuan saya. Wuiihhh itu makanan pantangan buat mereka yang kadar kolesterolnya  dan darah tinggi. Tapi bayangkanlah lembutnya sumsum yang disedot menggunakan sedotan setelah disiram kuah gurihnya. Sluuurppp. Hmmmmm. Setelah itu sisa-sisa daging yang menempel di tulang sapi nan besar itu sayang untuk dilewatkan.

Kalau soal durian, tentu Ucok Durenlah tujuannya. 24 jam sehari dan sepanjang tahun dengan duren lokal yang manis, legit serta sedikit pahit. Monthong sih lewaaattt. Tak cukup dua butir duren sebesar kepala yang terbuka untuk memuaskan lidah ini. Setelah itu duren di kotak menjadi sasaran. Rp. 300 ribu untuk oleh-oleh keluarga di rumah yang juga jago makan duren.

Pemilukada adalah acara bagi rakyat untuk memilih siapa pemimpin di kota/kabupaten atau provinsinya. Setiap 5 tahun mungkin bisa berganti. Tetapi urusan lidah, saya mohon maaf untuk tetap menyukai makanan-makanan lokal sampai tubuh ini tak mampu menanganinya.

Salam kuliner
Indi


Saturday, October 16, 2010

Eksotisme Tana Toraja (3) Kepercayaan

Walau hanya dua hari tinggal di sebuah keluarga besar di Tana Toraja, saya mendapat begitu banyak informasi yang begitu banyak. Saya memerlukan waktu cukup banyak untuk memilah apa yang ingin saya bagikan kepada Anda dari informasi dan pengalaman itu.

Saya batasi tulisan ini pada hal-hal yang dipercayai keluarga yang saya tinggali. Tampaknya keluarga ini memiliki sejarah panjang di Tana Toraja. Salah satunya tercatat lewat usia salah satu dari selusin lumbung yang ada, yang diklaim dibangun pada abad 18. Kayunya kasar, keras, tapi tampak sudah termakan cuaca, sehingga warna aslinya memudar. Demikian juga atapnya yang terbuat dari susunan bambu dan bukan rumbia atau sirap.

Keluarga besar ini memang sudah menganut agama Kristen, tetapi masih ada warna adat dan sisa kepercayaan lama dalam aktifitas kesehariannya. Sekali lagi tulisan ini tidak menilai benar salah sebuah aktifitas, tetapi hanya mencatat fakta yang ada.

Kawasan tempat saya menginap bernama Batu Kianak, 10 km dari Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara dengan perjalanan mendaki.

Nama tempat ini memiliki sejarah yang berbau kepercayaan tertentu. Saya diperlihatkan sepetak tanah berpagar besi berukuran 3x3 m. Di dalam pagar terdapat sesemakan dan sebatang pohon beringin berukuran sedang. Namun bukan benda itu yang menjadi pusat perhatian. Berjajar di bawah beringin itu ada beberapa baru seperti tonggak atau sisa batang cor untuk pondasi bangunan. Warnanya memperlihatkan kalau batu-batu itu berusia tua. Ada bekas lumut dan jamur serta aus oleh cuaca.

Yang jelas terlihat ada lima tunggul batu yang berukuran berbeda-beda. Batu tertinggi sekitar setengah meter, Tertinggi kedua beberapa centimeter lebih rendah dan tiga lainnya hanya belasan centimeter. Karena ukuran inilah disebutkan batu ini merupakan keluarga. Yang tinggi adalah pasangan ayah ibu dan tiga anak-anaknya. Disebutkan pada hari-hari tertentu, terutama pada bulan purnama, batu baru akan muncul berukuran kecil, yang disebut sebagai anak baru. Oleh sebab itu namanya adalah batu kianak atau batu beranak.

Tidak hanya itu, pada hari-hari tertentu pula, terutama menjelang adanya upacara entah kelahiran atau kematian, akan muncul ular-ular berukuran besar di sekitar batu dan pohon beringin itu. Masyarakat di sekitar itu masih memercayai kehadiran ular dan batu-batu tersebut memiliki arti penting untuk keselamatan mereka. Sehingga mereka tidak berani mengganggu ular atau merusak situs tersebut.

Kepercayaan masyarakat setempat terhadap hal-hal magis juga tercermin pada rumah adat atau tongkonan dan lumbung mereka. Salah satunya adalah pembangunan lumbung yang harus menghadap ke Selatan dan adanya ukiran-ukiran tertentu yang boleh dan tidak boleh ada di dinding bangunan. Sayang sekali saya tidak berkesempatan menggali lebih dalam tentang makna arah dan ukir2an itu, karena narasumber saya yang juga tidak memiliki informasi cukup.

Dua hari benar-benar tidak cukup untuk menggali keeksotisan Tana Toraja. Padahal saya juga ingin berbagi informasi tentang hal-hal itu. Sebutkan saja kubur dari batu serta sistem sosial di masyarakat.

Semoga suatu hari saya berkesempatan kembali ke tanah yang penuh keindahan dan misteri itu.

Tuesday, October 12, 2010

Eksotisme Tana Toraja (2) Nilai Kerbau

Tubuh itu besar. Berkilat. Kuat. Sorot matanya tajam. Seolah tidak percaya akan maksud siapapun yang mendekat. Namun ia tidak mampu bergerak. Tak berdaya. Hidungnya terikat oleh seutas tambang yang tertambat di sebuah pohon.

Hewan itu adalah seekor kerbau dengan berat sedikitnya 150 kg. Ia dipersiapkan untuk upacara adat di Tana Toraja. Dikorbankan entah untuk upacara pernikahan, pindah rumah atau kematian.

Bagi masyarakat Tana Toraja, ini yang saya tangkap, kerbau memiliki tempat tertentu jika tidak dapat dibilang istimewa. Upacara adat seakan tidak lengkap tanpa korban kerbau.

Namun kerbau untuk korban berbeda dengan kerbau biasa. Tidak semua kerbau dapat dijadikan korban. Pertama-tama ia harus berkelamin jantan. Tanpa cacat. ukuran ekornya lebih panjang dari lutut belakang. Itu kriteria umum. Ada yang lebih berharga dari sekedar kerbau seperti itu. Kira-kira demikian; kerbau berciri di atas harganya beberapa puluh juta rupiah. Nah yang kelas istimewa bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Nah ini ciri yang mahal. Kerbau belang, yaitu berwarna kulit hitam dan putih kemerahan, dan kerbau yang dikebiri (ini berarti sang kerbau tidak mampu membuahi kerbau betina). Kerbau kebiri memiliki ciri bertanduk besar dan melengkung indah). Kerbau jenis ini sekali lagi bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bayangkan harga sebuah mobil niaga kelas menengah di Indonesia.

Perhatian saya tertuju pada seorang penggembala kerbau belang yang kami temui di sebuah sungai di belakang tempat tinggal kami di Tana Toraja.

Pria itu berusia 40an. Bertubuh sedang cenderung kurus. Ia menuntun seekor kerbau belang yang beratnya kira-kira 3 kali tubuhnya, ke air yang mengalir dengan batu-batuan di dasarnya. Setelah melepas sang kerbau berendam, ia melepaskan seluruh pakaiannya. Ya, ia telanjang bulat. Perlahan ia mendekati sang hewan dan mandi bersama!

Air itu tidak keruh, tetapi tidak juga jernih. Sisa-sisa hujan semalam membawa lumpur dan tumbuhan atau sampah menuju hilir. Namun hal itu tidak merisaukan sang pria. Diambilnya sikat yang telah dipersiapkan dan dengan teliti ia menyikat tubuh gembalaannya. Setiap centimeter hewan besar itu ia bersihkan, seolah membersihkan benda antik yang tidak boleh ternoda sebutir kotoran pun.

Penghormatan masyarakat Tana Toraja kepada leluhur dan kedisiplinan mereka pada adat membuat saya tertunduk takzim. Saya tidak menggugat besarnya biaya yang harus ditanggung oleh mereka yang hidup saat upacara kematian digelar dan belasan atau puluhan ekor kerbau dikorbankan untuk mengantar orang yang meninggal, tetapi saya kagum oleh ketaatan itu sendiri turun temurun.

Sampai saat ini, beberapa minggu pascakunjungan ke Tana Toraja itu, saya masih tak dapat berhenti mengagumi cara hidup tersebut. Wow, luar biasa keberagaman adat di negeri saya tercinta ini.

Monday, October 4, 2010

Eksotisme Tana Toraja (1) Sabung Ayam

Beke...beke...songkok...songkok...
Itulah seruan yang terdengar mendengung di arena sabung ayam di sebuah kecamatan di Kab. Toraja Utara. Mereka menawarkan taruhan bagi para penggemar adu ayam yang segera berlaga.

Beke (saya tidak tahu tulisan sebenarnya) adalah sebutan untuk pemegang ayam yang menggunakan ikat kepala dari kayu. Sedangkan songkok untuk lawannya yang menggunakan topi caping petani.

Para petaruh itu menawarkan uang untuk menjagokan ayam yang dianggap kuat. Tidak ada uang kecil di sana. Minimal Rp. 50.000 hingga entah berapa. Ketika pertarungan dimulai, kesenyapan datang di arena. Sesekali seruan kagum terdengar: aaahhhh, saat tendangan telak seekor ayam mengenai lawannya. Kurang dari satu menit, pertarungan selesai. Taji logam yang terpasang di kaki masing-masing ayam, salah satunya melesak ke dada lawannya. Uang taruhan berpindah tangan. Ayam yang kalah dibawa ke pejagalan. Ya pejagalan, karena ayam yang belum tentu mati itu dipotong kakinya (yang bertaji) dan diserahkan kepada pemenang. Catat: si ayam itu masih hidup saat kakinya dipotong. Baru kemudian lehernya disembelih.

Tidak ada kata kesempatan kedua kepada ayam yang kalah. Bahkan bila ia hanya melarikan diri tanpa luka, dan tidak mau melakukan pertarungan lagi, tetap kakinya akan dipotong baru lehernya.

Menonton adu ayam di Tana Toraja (foto-foto dapat dilihat di FB saya) membuat bulu kuduk ini merinding. Betapa tidak, saya rasa kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan ikutan yang dianggap penting dari sekian banyak upacara di Tana Toraja.

Walaupun banyak orang menuding sabung ayam ini sebagai judi dan pasti ilegal, tidak menyurutkan minat penggemarnya. Biasanya adu ayam ini mengikuti upacara kematian salah seorang warga setempat.

Menempati sebuah tanah lapang, adu ayam ini bisa digelar sejak pagi hingga malam selama 7 hari sampai sebulan. Ratusan orang duduk di bawah pondok2 darurat yang dibangun sekeliling arena sabung. Semua (kecuali turis, anak-anak dan ibu-ibu) memegang uang taruhan.

Berbeda dari judi yang umum ditemui, taruhan pada sabung ayam di Toraja ini (saya tidak tahu tempat lain) hanya melibatkan dua orang; pemegang beke atau songkok). Mereka saling memercayai untuk transaksi itu.

Menurut perhitungan kasar, dalam sehari perhelatan adu ayam, sedikitnya Rp. 30 juta beredar di sana. Asumsinya: ada 300 pengunjung yang masing-masing memegang uang Rp. 100.000. Sensasional kan?


Wednesday, September 22, 2010

Friday, September 17, 2010

Mada, Gadis Kecil di Ambon

Wajah itu enak dilihat. Matanya penuh semangat. Senyumnya selalu mengembang, walau tak ada pembeli kue yang ia tawarkan. Itulah perhatian saya terhadap Mada. Ya, itulah namanya setelah kami berkenalan beberapa saat di sebuah restoran cepat saji di kota Ambon petang ini.

Perkenalan kami penuh warna. Saat itu hari sudah gelap. Tak ada sisa sinar mentari, walau jam tangan saya baru pukul 6 Waktu Indonesia Timur. Awan menggayut sejak pagi di langit kota.

Perut yang baru terisi kerapu bakar masih belum terpuaskan. Sehingga bersama empat kawan sekerja yang habis membuat program Suara Keadilan, saya ajak mereka makan es krim di sebuah restoran cepat saji di sebelah hotel tempat kami menginap.

Sambil bersendagurau menikmati perbincangan ngalor ngidul itu, saya melihat ke tangga masuk restoran. Di sana ada seorang gadis kecil berjualan roti goreng di dalam sebuah toples besar. Bajunya lusuh. Rambut diikat seperti ekor kuda hanya dengan karet gelang.

Ia tidak menjajakan dagangannya secara agresif, laiknya seorang pedagang. Tetapi tatapan dan senyumannya mengiringi setiap pengunjung restoranyang keluar atau masuk, seolah berkata belilah kue ini, atau saya akan mati kelaparan.

Sejurus saya perhatikan tak ada orang yang tertarik untuk menghampiri dan membeli kuenya. Tetapi rasanya senyum itu tak lepas dari wajahnya.

Mungkin ia sadar atas perhatian saya, karena tatapan kami beberapa kali bertemu dan ia pun tersenyum. Sampai satu saat, ia mendatangi meja kami.

Om, mau beli roti? Tawarannya membuat kami menggeleng, karena toh kami baru makan ikan bakar dan sedang menikmati kudapan restoran cepat saji itu. Tapi sekali lagi, yang membuat saya lebih tertarik adalah senyuman manisnya yang tidak hilang atas penolakan kami.

Entah atas dorongan apa, saya bertanya: kamu sudah makan? Ia hanya menggeleng perlahan. Kamu mau saya belikan makanan? Tawaran saya berlanjut. Ia mengangguk juga dengan perlahan, plus senyum manisnya.

Setelah mengangsurkan uang agar ia bisa memilih sendiri makanan yang dikehendaki, ia tinggalkan kami ke pemesanan. Sepeninggalnya, sempat terpikir bahwa ia akan berlalu dan tak kembali. Saya sudah siap dengan kemungkinan itu, walau pasti akan membuat kecewa. Obrolan pun kami teruskan dan tak memedulikannya lagi.

Namun hampir 10 menit kemudian, ia kembali dengan nampan makanannya, dan mengembalikan sisa uang kembalian. Wow, saya kagum dan tersenyum menyambutnya.

Sambil menikmati setiap suapan ayam gorengnya, ia tak henti2nya berterima kasih. Dalam perbincangan itu, saya kian mengaguminya. Mada, demikian panggilannya. Walaupun ia mengatakan marganya, saya memilih untuk merahasiakannya dari Anda. Ia berjualan roti goreng buatan ibunya, selepas bersekolah sore hari di kelas 5 sebuah SD negeri di Ambon.

Lalu untuk apa uangnya, tanya saya penuh rasa ingin tahu. Membeli buku, jawabnya sambil mengunyah nasi pulen yang mungkin jarang ia temui. Bagaimana dengan pekerjaan ayahmu, tanya salah seorang teman. Ia bekerja di sebuah restoran tidak jauh dari tempat kami makan.

Dari perbincangan itu mengalirlah sebuah kisah yang menggugah hati. Seharusnya kisah itu sedih tentang perjuangan anak kecil membantu perekonomian keluarga. Sebuah pengingkaran atas hak anak-anak, yaitu belajar dan bermain. Namun dari mulut Mada, kisah itu begitu ringan dan indah; seperti sebuah kisah perjuangan seorang pahlawan dalam mengatasi masalah remeh temeh. Tak ada kesedihan atau penyesalan, hanya semangat dan kegembiraan. Padahal ia harus berjualan hingga tengah malam, sebelum dijemput pulang salah seorang kakaknya, yang juga seorang pekerja di sebuah restoran.

Perbincangan setengah serius itu diselingi keberanian Mada menebak daerah asal kami. Ada yang asal Manado, Cina dan Jawa sebutnya sambil menunjuk kami satu persatu. Ia bahkan menyebut saya parlente (ya ia menyebut saya parlente bukan perlente) dan orang kaya karena melihat foto istri dan anak-anak saya di ponsel. Dengan berani ia menyebut pernah melihat saya sebelumnya (ini membuat heran, apakah ia juga menonton berita). Ketika saya tanya di mana ia melihat saya, jawabannya mengejutkan sekaligus menggelikan: sopir oto (baca: angkot). Meledaklah tertawa kami, hingga membuat seisi restoran itu melihat ke meja kami.

Kami pun berpisah, karena tubuh telah lelah untuk melanjutkan perbincangan. Mada kami tinggalkan dengan ayam gorengnya yang belum juga habis dan setoples besar roti goreng di bawah kakinya.

Pertemuan dengan Mada di sebuah petang di kota Ambon mengajarkan sesuatu, minimal untuk saya, yaitu berkekurangan tidak harus ditanggapi dengan berat hati. Walaupun Mada masih berusia sekitar 10 atau 11 tahun, yang berarti belum banyak mengalami kepahitan hidup, setidaknya ia menunjukkan semangat dalam menjalankan hari-harinya walau tanpa fasilitas dan keistimewaan.

Tuhan berilah Mada kesempatan untuk menggapai mimpinya suatu saat.

Thursday, August 26, 2010

Pengalaman Suara Keadilan

Ada beberapa keuntungan besar setelah saya pegang program Suara Keadilan, yang tayang setiap Selasa pk 19.30-20.30 WIB (jangan lupa tvOne ya).

Pertama: Saya berhadapan dan berbincang dengan orang-orang yang tersisih. Merasakan kesulitan dan beban mereka, saya diingatkan untuk dapat berbuat lebih pada sekeliling. Terutama yang berkekurangan dan tidak beruntung. lebih dari itu, saya terpanggil untuk membantu melalui profesi ini. Sebut saja ibu Lely, yang 12 tahun tak berhasil mengurus pensiun suaminya sejak ia wafat tahun 1998. Perempuan sepuh itu harus menghidupi tiga putranya seorang diri, tanpa pemasukan lain. Usahanya mengurus pensiun itu selalu gagal dengan berbagai alasan. Surat yang dikirimkan ke atasan suaminya, menteri di departemennya, bahkan presiden tak berjawab. Untunglah setelah tayangan tersebut, sebuah jawaban dari PT Taspen datang. Semoga pekerjaan Suara Keadilan bermanfaat.

Kedua: Banyak kasus terjadi di luar Jakarta. Akibatnya saya berkeliling terus. Setidaknya seminggu 2 atau 3 hari keluar kota. Perjalanan itu membawa pengalaman luar biasa. Salah satunya adalah mengetahui betapa luasnya, beragamnya dan jauhnya perbedaan kota yang saya kunjungi dengan Indonesia.

Pengalaman menarik pertama di kota Sukabumi. Kota yang hanya berjarak sekitar 100 kilo meter dari Jakarta itu menunjukkan betapa tidak meratanya pembangunan di Indonesia. Jalanan sempit, macet, berlubang. Apalagi yang menuju tempat liputan. Hanya bertatahkan batu2an besar, berlumpur, minim penerangan, menanjak dan berliku.

Pengalaman menarik kedua adalah kota Purwokerto. Saya menemukan kedamaian di kota ini. Walaupun perjalanan ke kota itu melalui jalur selatan melelahkan dan menjemukan, praktis semua itu hilang saat merasakan hawa sejuk dan ketenangan kota. Ramai tapi tidak terlalu macet, dan banyak makanan yang enak.

Kota ketiga adalah Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Saya membayangkan yang namanya ibu kota provinsi pasti tumbuh besar penuh fasilitas dan keramaian, karena tingkat perekonomian baik. Tapi saya lupa. Ini bukan di Jawa. Kendari sudah lebih jauh dari Jakarta. Akibatnya akses menuju kemodernan kian sulit. Kota ini indah. Di kota tua ada sebuah dataran tinggi yang langsung berhadapan dengan pelabuhan. Tapi ada daya, keindahan itu tak tersingkap sepenuhnya. Bahkan ada permukiman di tengah kota, yang aksesnya harus melalui jalan setapak, licin, dan mendaki. Sulit ditempuh. Motor pun tidak mudah memasukinya. Padahal di tempat itu sedikitnya ada beberapa belas rumah.

Sekali lagi, saya pikir inilah sebuah bentuk ketidakadilan. Saya yang tinggal di ibu kota negara dengan mudah melakukan banyak hal. Begitu mudah pergi ke banyak tempat. Namun kemudahan itu tak didapat saudara-saudara saya di luar Jakarta.

Salam keadilan

Wednesday, August 4, 2010

Tempat Berkesan

Dari sekian banyak tempat yang pernah saya kunjungi, ada dua lokasi yang paling saya ingat. Memori saya terisi penuh dengan hal-hal khas dari kedua tempat itu. Yang pertama adalah Seattle, AS dan kedua Sindangraja di Sukabumi, Jawa Barat.

Bukan karena di luar negeri atau di Amerika, kota Seattle menjadi pilihan pertama tempat favorit saya. Rasanya ada banyak alasan yang bisa saya kemukakan untuk mendukung pilihan itu. Setiap mengunjungi sebuah daerah asing, terutama untuk jangka panjang, saya menyempatkan diri berkeliling, baik dengan kendaraan umum atau berjalan kaki.

Walaupun hampir 4 tahun lalu, rasanya seperti baru kemarin saya mengunjungi kota Seattle. Setiap sudut kota mudah terbayang di benak. Cuacanya yang sejuk (walaupun masuk musim gugur yang biasanya dapat menggigilkan saya jika di negara empat musim lainnya) memudahkan saya berjalan di waktu malam atau dini hari.

Ya, saya senang menelusuri jalan-jalannya yang berbukit. Kota itu tidak besar (dibanding Surabaya bahkan), sehingga dengan berjalan kaki pun dengan mudah sudut-sudut kota terjangkau. Dalam satu pandangan, kita bisa melihat pegunungan, laut (tepatnya teluk) dan dataran. Three in one.

Salah satu tujuan favorit saya adalah pasar ikan. Hoho, jangan pikir ini seperti pasar ikan atau tempat pelelangan ikan di Indonesia. Jauh! Bersih lorong-lorongnya, tanpa bau amis pula. Bahkan yang paling seru, beberapa pedagang menawarkan dagangan berupa ikan segar atau hewan laut lainnya dengan gaya yang atraktif. Baik dengan gerak tubuh ataupun dengan teriakan-teriakan yang mengundang.

Belum lagi ada obyek wisata yang mengingatkan saya pada film romantik Sleepless in Seattle yang dibintangi Tom Hanks dan Meg Ryan; namanya The Needle. Bentuknya seperti menara TVRI di Senayan, tetapi lebih tinggi dan cara melihatnya adalah dari perbukitan. Indah.

Yang juga tak terlupakan adalah desa Indian bernama Tilicum Village. Tempat ini dicapai dengan menggunakan ferry penyeberangan selama sekitar 30 menit. Sebetulnya yang tersisa hanyalah karya masa lalu berupa barang-barang lawas dan diorama, tetapi pengunjung dapat membayangkan kejadian masa lalu itu melalui sebuah sandiwara di panggung dengan tata cahaya dan suara yang lumayan untuk kelas pertunjukan biasa. Hebatnya turis menikmati itu sambil makan-makanan khas Indian dan salmon panggang yang nikmat dan all you can eat. Saya sampai tambah dua kali makan salmon itu, karena endang bambang (enak banget).

Lalu bagaimana dengan tempat di Indonesia?

Banyak tempat bagus di tanah air beta. Namun untuk terbilang berkesan harus ada yang menyentuh perasaan. Nah yang itu baru saja saya rasakan ketika saya dan teman-teman menggarap program Suara Keadilan akhir Juli 2010. Tempatnya relatif dekat saja dengan Jakarta, yaitu Sukabumi. Namun jangan salah, ini bukan kota Sukabumi, tetapi di sebuah desa bernama Sindangraja.

Sebelumnya, produser saya hanya menyatakan tempatnya 15 km dari Sukabumi. Tidak jauh saya pikir. Tetapi ia menambahkan, bahwa perjalanan itu menggunakan mobil berpenggerak empat roda. Lho. Hati ini jadi bertanya-tanya atas informasi itu.

Faktanya: buseettt.

Dari Sukabumi setelah makan mie ayam sehat buatan istri saya, kami berkendara dulu sekitar 30 km dengan jalan menanjak dan berkelok. Jalan itu sempit dengan aspal yang sudah mengelupas di sana-sini. Setiap berpapasan dengan mobil lain semuanya harus melambatkan kendaraan dan berhati-hati melintas jika tidak ingin senggolan atau masuk jurang.

Nah di sebuah kawasan kebun teh, pergantian kendaraan dilakukan. Kami tinggalkan mobil yang kami gunakan dari Jakarta dengan sebuah LandRover tahun 1980. Kokoh. Tangguh. Pengendaranya adalah kontributor kami di Sukabumi. Di situlah ia membuka alasan mengapa kendaraan berpenggerak 4 roda diperlukan. Yaitu berbatu, menanjak dengan kemiringan tajam, sempit dan kadang berlumpur. Dari tempat itu hingga Sindangraja tujuan kami jaraknya 15 km. Itulah jarak yang disampaikan rekan saya. Wah bonus yang 30 km tadi itu, pikir saya.

Lalu dimulailah perjalanan yang mengesankan itu.

Terik matahari siang kalah oleh sejuknya udara. Namun hati ini deg-degan ketika mobil mulai bergerak. Bahkan pada 100 meter pertama. Lebar jalan hanya untuk 1 mobil, batu-batu sebagai landasan jalan berukuran minimal sebesar bola kaki menikung ke kiri dan ke kanan. Di beberapa bagian, sang pilot LandRover harus berhenti untuk berancang-ancang sebelum melintasi kubangan lumpur atau tanjakan berkemiringan sekitar 45 derajat (atau kurang ya? Pokoknya miring banget deh).

Praktis keindahan kebun teh milik Goal Para (kata pak kades setempat pada suatu kesempatan) terabaikan. Kami semua harus berpegangan di dinding mobil jika tidak ingin terjatuh dari tempat duduk akibat guncangan mobil.

Sekitar satu jam perjalanan itu kami tempuh dengan gerakan tak keruan tanpa henti. Hingga akhirnya kami sampai tujuan di desa yang dimaksud. Anda bisa bayangkan perjalanan kami turun dari tempat itu setelah urusan liputan selesai. Mungkin analoginya seperti naik rodeo di atas seekor kuda gila yang mabuk dan seorang kejam melecuti kuda itu dengan semena-mena.

Perjalanan yang mengesankan, karena itu adalah bagian negara saya. Warga desa Sindangraja pasti harus bersusahpayah jika harus mengurus kegiatan mereka ke kota besar; ke rumah sakit, berbelanja atau sekolah. Di sana baru ada sebuah sekolah dasar, sehingga untuk pendidikan lanjut para remaja harus memiliki punggung, pinggang dan pantat baja melawan guncangan di jalan.

Ya Tuhan, betapa dua tempat seperti kutub itulah yang saya ingat. Pertama karena kenyamanannya dan kedua karena ketidaknyamanannya. Yang pertama saya ingin kunjungi atau bahkan saya tinggali, tetapi yang kedua, di negara sendiri, saya tidak ingin ke sana lagi selama infrastrukturnya masih seperti itu.

Wednesday, January 27, 2010

Mie Ayam dan Semangat

Terletak di sudut sebuah ruko di dekat Pasar Modern Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, sebuah warung mie ayam berdiri. Belum dua minggu sang pemiliknya menjalankan bisnisnya. Dari hari ke hari sang pemilik beserta dua pegawainya menunggu pembeli. Namun yang datang masih dapat dihitung dengan jari. Harapan untuk menangguk untung belum terlihat, karena harga jualnya di bawah rata-rata para pesaingnya yang sudah tersebar di sekelilingnya. Keberanian menekan harga itu tak lepas dari harapannya untuk segera meraih perhatian, padahal harga-harga bahan baku mie seperti ayam, bumbu dan mie itu sendiri merangkak naik.

Business is not easy, however it is challenging. Berusaha memang tidak mudah, tetapi layak untuk diusahakan dengan seluruh daya upaya, kreatifitas, tenaga, air mata bahkan darah (lebay dotcom). Sementara persaingan adalah bumbunya.

Orang (termasuk saya) seringkali terpana melihat keberhasilan seseorang atau sebuah lembaga bisnis. Dengan sedikit rasa iri saya memuji dan menelan ludah membayangkan betapa nikmatnya orang itu dalam menjalani hidup. Rumah indah, mobil mewah, makanan enak, berwisata ke tempat-tempat jauh dan eksotis dan sebagainya. Namun orang seperti saya sering lupa, bahwa ia pun tidak serta merta mendapatkan semua itu. Tidak tahu kalau kekayaan dan keberhasilan itu merupakan warisan atau hasil undian.

Kemudian kekaguman saya seringkali bertambah setelah mendengar kisah sukses orang-orang itu diraih melalui perjuangan berat, berliku penuh onak dan berbatu. Kisah kegagaln yang terjadi berulang-ulang merupakan warna utama dari banyak kisah keberhasilan. Semuanya itu menegaskan bahwa berusaha merupakan nafas manusia itu sendiri jika ia ingin hidup.

Berhenti berusaha, berhenti mencoba, berhenti berkreasi dan menyerah adalah penutup episode seorang manusia. Yang hasilnya berupa kematian atau penyesalan seumur hidup.

Jika saya adalah pemilik mie ayam yang saya kisahkan di awal tulisan ini, saya tidak akan berhenti berinovasi, berkreasi dan memperbaiki penampilan warung saya, rasa mie ayam saya serta mendahulukan kepuasan pelanggan. Jika masih gagal, saya akan tetap berusaha di hal lain, di tempat lain dengan etos serupa.

SEMANGAT!!!!

Tuesday, December 22, 2009

Tahun Baru Tahun Berinvestasi

Ada pertanyaan penting, namun terdengar klise di setiap penghujung tahun, yaitu: Apa yang akan Anda buat di tahun depan? Klise, karena banyak orang menanyakan dan membicarakannya di sekitar bulan November dan Desember. Keluarga, teman, kekasih, bisa muncul dengan pertanyaan itu. Penting, karena itulah gambaran atau mungkin resolusi yang akan kita kerjakan di tahun depan.

Lalu bagaimana jawabannya? Saya bayangkan jawabannya bisa berlembar-lembar kertas folio atau bahkan berhari-hari bicara. Tergantung Anda ingin melakukan apa. Namun saya membayangkan ada hal spesifik yang bisa saya sarankan. Melihat apa yang terjadi di tahun-tahun belakangan, tantangan mendatang dan kecenderungan untuk selalu bergerak maju, maka saya mengusulkan INVESTASI sebagai rencana di tahun depan.

Investasi=uang? Ya dan tidak.

Ya, karena hampir semua kegiatan kita berhubungan dengan atau membutuhkan uang. Pakaian yang baik untuk bekerja atau bersosialisasi perlu dibeli. Kendaraan untuk memperlancar bisnis perlu uang untuk dibeli atau diservis. Itu semua investasi agar kegiatan kita terkelola dengan lebih baik. Ya, investasi butuh uang. Tentu saja uang untuk ditanamkan di pengembangan bisnis, pasar saham, pasar uang dsb. Itu pasti juga investasi.

Namun ada investasi yang tidak butuh uang, yaitu kesehatan. Seberarapun kemampuan finansial Anda, tak akan mampu berkembang atau dinikmati tanpa tubuh yang sehat. Penyakit adalah salah satu momok dalam kehidupan manusia. Ribuan tahun manusia memerangi penyakit, mencari obat, vaksin, dan penawar agar kehidupan lebih bermakna.

Faktanya, penyakit tak juga hilang, bahkan kalau dapat saya sebut berkembang baik jenis maupun kualitasnya. Sebut saja flu babi, TBC, dan AIDS. Belum termasuk penyakit yang timbul akibat pola hidup dan penuaan usia.

Investasi di bidang kesehatan sesungguhnya hampir tidak membutuhkan uang. Anda cukup menerapkan pola hidup yang seimbang. Bangun pagi-pagi, hiruplah udara segar, berolahraga, minum air putih (beli juga sih, tapi murah kan?), makan-makanan bergizi (boleh sederhana, tetapi gak perlu yang mahal), bekerja tanpa stress, dan tidur yang cukup (jangan begadang kata Rhoma Irama jika tidak penting banget). Apalagi kalau tidak pakai rokok dan alkohol. Hmmmm.
Investasi murah, tetapi menjadi landasan investasi lanjutan maupun beraktifitas di tahun baru.

Jika keduanya digabungkan, maka yang kita dapatkan adalah hidup senang, sehat dan panjang umur. Bagaimana?

Monday, November 16, 2009

Iklim

Hujan deras bertubi-tubi mengguyur Jakarta dan sekitarnya dalam seminggu terakhir. Kawasan tempat kami tinggal di Barat Jakarta sedikitnya sudah tiga kali diterpa angin kencang dan hujan lebat. Sejumlah pohon dan papan reklame bertumbangan. Untung saja (mudah-mudahan betul-betul untung) belum ada laporan rumah yang roboh.

Memang tidak seperti Filipina atau Meksiko yang diguncang badai pada sebulan lalu hingga menyebabkan seratusan orang meninggal dunia dan kerugian material triliunan rupiah. Setidaknya kondisi di Jakarta banyak orang was-was. Apalagi pada Jumat malam lalu hujan di penghujung minggu, seolah menghentikan aktifitas di ibukota. Jalan-jalan protokol macet akibat genangan air di mana-mana. Banyak orang kehilangan waktu saat menembus jalan dan hujan.

Saya tidak membicarakan manajemen lalu lintas dan drainase Jakarta, karena toh banyak orang sudah memprotesnya. Saya hanya ingin berbagai informasi tentang iklim, karena hal itulah yang saya peroleh dalam lawatan saya ke Brasil dua pekan lalu.

Perubahan iklim, itulah yang ditakui para pemerhati lingkungan menyusul meningkatnya suhu dalam beberapa tahun terakhir sebagai akibat efek rumah kaca. Berbicara dengan penggiat lingkungan, seperti Greenpeace yang bersifat internasional, maupun lokal seperti Imap dan Imazon, saya seperti digugah dari ketidakpedulian terhadap bumi yang sekarat. Saya menggunakan istilah itu untuk menggambarkan betapa planet biru yang kita diami ini dieksploitasi besar-besaran tanpa waktu yang cukup untuk memperbaiki diri.

Ketika manusia berhasil secara ekonomi, maka ia akan cenderung membutuhkan sumber daya yang kian besar. Makanan, air, bahan bakar dan ruang. Untuk memenuhinya ia akan mengusahakan baik legal maupun ilegal. Secara individual ataupun kelompok. Ketika kondisi di sekitarnya sudah tidak mampu lagi mendukung, ia akan bergerak lebih jauh hingga akhirnya mencari di tempat-tempat yang belum terjamah seperti kawasan hutan. Belum lagi dengan pertambahan penduduk yang nyaris tidak terkontrol di negara-negara miskin dan berkembang, alam kian lelah memberikan apa yang dimilikinya dalam bentuk tanah, air, mineral dan tumbuhan.

Sialnya, manusia yang egois dan serakah hanya bisa meminta dan mengambil. Mereka tidak pernah berpikir bagaimana mengembalikan atau berbagi dengan makhluk hidup yang lain. Hasilnya lingkungan hidup tereksploitasi, terdegradasi, tergerus.

Efek rumah kaca adalah salah satu konsekuensinya. Penggunaan secara masif bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) ditambah dengan berkurangnya jumlah tumbuhan yang mengolah gas karbon hasil pembuangan bahan bakar itu dituding menjadi penyebabnya.

Gas karbon yang kelewat banyak di atmosfir mencegah panas dari matahari dibuang ke luar angkasa. Akibatnya panas berputaran di atas kita menghangatkan udara. Kalau cuma di atas Jakarta bisa kita tangani dengan penyejuk udara. Sialnya lagi, udara panas sampai pula di kutub Selatan tempat es abadi berada. Es itu pun mencair. Jika yang mencair dalam jumlah besar permukaan laut pun meningkat dan pantai-pantai serta pulau-pulau tenggelam.

Tidak itu saja. Panas di atmosfir kita menyebabkan perubahan cuaca secara drastis. Para peneliti lingkungan yang berbincang dengan saya dan teman-teman di Brasil menyatakan betapa hujan bisa meningkat drastis, tetapi musim kering menjadi panjang. Badai mudah terbentuk. Banjir dan gurun pasir bertambah.

Semua itu boleh jadi terdengar seperti kisah di film. Belum terjadi. Masih jauh mungkin. Tetapi pencitraan satelit yang saya lihat rasanya bukan main-main. Gambaran itu sangat nyata. Dan saya khawatir karenanya.

Awal Desember 2009, sebuah konferensi iklim digelar di Kopenhagen, Denmark. Masa depan dunia akan dibicarakan di sana. Secara pribadi saya harap-harap cemas akan hasil yang ditelurkan, karena banyak orang yang bersikap skeptis tentang ramalan para pemerhati dan peneliti lingkungan. Yang saya tahu, anak dan cucu saya berhak melihat orang utan, komodo dan berjalan-jalan di hutan dengan udara yang bersih. Harapan itu mungkin bisa saya gantungkan pada para pejabat pemerintahan yang berkumpul di kota itu termasuk pejabat dari Indonesia.

Sekembalinya ke Jakarta, dada saya kembali terasa sesak. Padahal paru-paru ini dengan mudah menghirup udara segar di Sao Paulo, Brasilia ataupun Belem, yang terletak di muara sungai Amazon. Namun saya tetap mencintai kota ini, Surabaya tempat lahir saya dan Indonesia, tanah tumpah darah saya. Betapapun buruknya kondisi alamnya. Dan saya berjanji akan mengubahnya dari hidup saya, keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya.

indi

Thursday, November 12, 2009

Sao Paulo

Matahari terik, tetapi suhu udara tak lebih dari 25 derajat Celcius. Mobil ber-CC kecil dan sedang bergerak teratur, dengan kecepatan sedang dalam rangkaian panjang. Di sebelah kiri jalan, dalam jalur yang tetap bis kota berjalan rapi. Tak ada asap hitam mengepul dari knalpot. Orang-orang bergerombol di halte, bukan di perempatan jalan. Tertib.

Itulah gambaran sekilas kondisi lalu lintas kota Sao Paulo, salah satu kota besar di Brasil, selain Rio de Janeiro dan Brasilia ibukota negara itu.

Berpenduduk sekitar 11 juta jiwa, membuat kota itu berpotensi pada berbagai masalah sosial seperti Jakarta, terutama kemacetan. Tetapi empat hari di kota itu pada awal November, tidak membuat saya risau dengan transportasi. Bahkan pada jam-jam sibuk, yaitu pagi dan sore hari, lalu lintas yang padat tidak membuat kota itu terisi kemacetan. Kendaraan yang saya tumpangi masih dapat berjalan di antrian. Tidak berhenti kecuali di lampu merah.

Kesimpulan saya mungkin terlalu cepat, karena hanya empat hari mengamati. Namun demikian, praktis saya tidak menemui hambatan bergerak di jalan-jalan di kota itu, walaupun harus menempuh perjalanan dari ujung kota ke ujung lainnya.

Dari pengamatan singkat itu saya menyimpulkan juga beberapa hal yang membuat kemacetan menjadi barang langka.
Pertama: manajemen kota yang tidak meletakkan pusat perdagangan dan aktifitas massal lainnya di satu atau dua titik. Saya menemukan paling tidak ada 5 titik aktifitas utama berupa perkantoran, mal, pusat perdagangan dan hiburan yang tersebar di berbagai sudut kota. Dengan itu berarti warga Sao Paulo tidak perlu berbondong-bondong ke satu titik untuk beraktifitas. Bandingkan dengan Jl. Sudirman, dan Thamrin di Jkt atau Jalan Basuki Rahmat di Surabaya. Terbayang kan macetnya bila jam-jam sibuk?

Kedua: manajemen transportasi, yang mengandalkan angkutan massal berupa bis dan metro. Jalur bis dan metro yang tersedia ke berbagai penjuru kota memudahkan warga kota hilir mudik. Tanpa angkot dan metro mini yang bikin macet plus menyebarkan gas buangan dengan semena-mena.

Ketiga: sikap dan tingkah laku pengemudi. Rasanya saya harus belajar kesabaran dan disiplin pada kota Sao Paulo. Saya tidak pernah melihat satupun kendaraan yang saling serobot atau keluar jalur yang tersedia. Tidak ada jalan yang diciptakan hanya dua jalur, kemudian menjadi tiga jalur kendaraan saat jam-jam sibuk. Teratur orang bergerak pada jalurnya, walau kondisi padat sekalipun. Klakson pun jarang terdengar dari kendaraan yang meminta jalan. Kebetulan pula, sepeda motor, dapat dihitung dengan jari. Alhasil, semua pasti bergerak walau perlahan.

Kembali ke Jakarta, saya tetap mencintai negeri ini. Hanya saja, saya membayangkan kapankah waktunya ibukota ini ramah tidak hanya lingkungan tetapi juga pengguna jalan.

MRT atau mass rapid transport atau alat transportasi massal memang sudah didengang-dengungkan bertahun-tahun lalu oleh otoritas Jakarta. Tetapi baru bus trans-Jakarta yang berjalan. Itupun belum semua koridor terlayani. Kereta atau metro dalam kota pun baru tiang-tiangnya yang berdiri dan kini besinya berkarat termakan cuaca. Jumlah kendaraan terutama sepeda motor bertambah dengan cepat tidak sebanding dengan panjang dan jumlah jalan.

Hemmmm...

Andaikan kota ini seperti Sao Paulo, mungkin saja penduduknya akan lebih hebat bermain sepakbola dari tim Samba dan lebih cantik dan ganteng daripada pemain sinetron telenovela.

Andaikan....


indi

Tuesday, September 29, 2009

Menghargai Hidup

Kisah ini sebenarnya terjadi sebelum Lebaran lalu, tetapi rasanya baru kemarin saya alami dan ingin saya bagikan pada semua orang. Pengalaman ini semoga membuat saya lebih bijaksana dan menghargai betapa berharganya hidup itu.

Di suatu Rabu malam, sepulang siaran Debat saya mengalami kejadian ini. Bermobil di jalan yang hampir lengang di Jakarta, saat sebagian besar umat Muslim bertarawih, adalah saat yang menyenangkan bagi penggemar kecepatan. Hampir sepanjang jalan dari kawasan Cawang, Jaktim hingga Tangerang, saya bisa menekan gas mobil 1500 cc hingga speedometer berkisar di angka 140 km/jam.

Saya membayangkan angka itu bisa lebih besar lagi bila yang saya kendarai adalah mobil bertenaga besar. Apalagi udara malam terasa sangat segar menyeruak dari jendela mobil yang saya buka separuh. Mata yang lelah seharian diajak melek dan membaca ikut berkonsentrasi menyerap informasi di jalanan yang berganti dengan cepat.

Dalam waktu kurang dari 30 menit, saya hampir tiba di kawasan BSD (biasanya saya tempuh hampir 1 jam). Keluar dari jalan tol Pondok Aren-BSD, saya tidak juga mengurangi kecepatan. Bahkan saat ada sebuah sepeda motor "memberi perlawanan" saya salip dengan gagah perkasa.

Namun, saya tak menyadari bahaya yang menunggu di muka.

Jalan itu sepi, menikung, dan agak gelap. Di kiri-kanannya terdapat beberapa warung makan yang sudah tutup, karena hari telah malam. Hanya sebuah restoran Padang yang buka 24 jam, yang masih beroperasi. Itu pun dengan penerangan yang tidak cukup untuk menerangi seluruh kawasan.

Situasi ini membuat saya tetap menekan pedal gas dalam-dalam, walau rumah hanya berjarak kurang dari 1 kilometer. Apalagi perasaan hangat masih terasa, saat meninggalkan sang motor yang tidak juga mau mengalah.

Apa lacur, dengan kecepatan sekitar 100 km per jam, saya harus menghadapi sebuah sepeda motor, yang memotong jalan. Dalam hitungan detik, saya melihat ada tiga orang di atas motor tersebut. Tanpa lampu, dan tanpa helm, melintas pelan mengabaikan kondisi jalan.

Saya sadar konsekuensinya bila saya tidak segera mengambil keputusan drastis. Nyawa adalah taruhannya.

Lampu besar saya mainkan. Tidak ada perubahan laju motor tersebut. Klakson saya tekan keras-keras menandai sebuah kendaraan berlalu dengan cepat memohon jalan. Tak ada reaksi. Refleks, saya membuang kemudi ke kanan menghindari benturan.

Berhasil!

Ah, tidak!

Rasanya putaran kemudi saya begitu ekstrim untuk menghindari tabrakan, tetapi laju mobil yang kencang membuat bagian belakang masih memiliki momentum dan...brak!

Benturan. Gesekan. Suara keras. Sambil berusaha menguasai olengnya mobil, saya berpikir. Mati! Ketiga orang itu mati!

Ketika mobil stabil, saya segera menepikan mobil. Orang-orang berdatangan, karena mereka pasti mendengar suara klakson, decitan rem dan ban, serta suara benturan.

Entah kenapa, saya merasa tenang. Tidak gugup, tetapi juga tidak khawatir, walaupun saya merasa pasti ada korban akibat tabrakan tadi. Di sana-sini saya mendengar teriakan orang menghujat saya dan mobil yang telah menyebabkan kecelakaan. Puluhan orang mengelilingi mobil dan pengemudi sepeda motor. Tanpa mengetahui permasalahannya, saya mendengar teriakan meminta pertanggungjawaban atas tabrakan itu. Beruntunglah ada sejumlah orang yang mengenal saya dan menjamin keselamatan saya.

Perlahan saya mendekati kerumunan orang yang mengelilingi sepeda motor dan ketiga orang tadi. Saya bersiap melihat orang berlumuran darah, luka parah bahkan meninggal.

Ya, Tuhan! Tidak ada yang terluka, bahkan segores pun tidak. Ketiga orang yang baru saja keluar dari masjid bertarawih itu sehat wal afiat. Selain ban motor yang hampir tak berbentuk, praktis tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan.

Kejadian itu mengajar satu hal pada saya. Berkendaralah dengan baik. Tidak hanya bermobil, tetapi juga bersepeda motor. Pada kasus saya pribadi, mengemudi dengan kecepatan tinggi meningkatkan kemungkinan kecelakaan. Seberapapun hebatnya Anda di belakang setir, tetap tidak dapat mengontrol sepenuhnya kendaraan yang melaju di jalan raya bukan lintasan balap. Setiap orang memang berhak memperlakukan kendaraannya sesuka hati, namun ketika kita menggunakan fasilitas publik, kita harus menghormati pengguna lain dan mematuhi peraturan. Dengan itu, kita menghargai nyawa yang Tuhan telah titipkan.

Oh ya, persoalan tabrakan sudah kami selesaikan baik-baik. Selain mengganti kerusakan di motor itu (pemiliknya adalah penjaga rel kereta di Serpong, Tangerang), kami saling meminta maaf dan memaafkan.

Terima kasih Tuhan, atas hidup yang Kau berikan.
indi

Friday, September 25, 2009

Monas

Harapan untuk mengunjungi salah satu bangunan ciri khas Indonesia, yaitu Monumen Nasional akhirnya kesampaian. Seumur-umur saya belum pernah ke monumen hebat itu, walau sudah sering melewati, melihat dan mengedit beritanya. Hanya saja kunjungan itu menyisakan duka di batin, karena menyaksikan kondisi di lingkungan Monas yang sulit untuk dijadikan kebanggaan karena berbagai kekurangannya.

Atas desakan para jagoan(baca: isteri dan anak-anak) saya, akhirnya ada waktu untuk berkeliling Jakarta beberapa hari lalu. Mumpung ibukota masih lengang karena ditinggal mudik jutaan penduduknya.

Berangkat pagi-pagi dari gubuk kami di BSD (sekitar 20 km di selatan Jakarta), praktis tidak ada halangan selama di perjalanan. Lengang, udara segar dan sedikit berkabut. Itulah gambaran jalan tol BSD-Bintaro dan jalan di Kebayoran Lama. Hanya 30 menit, yang kami butuhkan untuk sampai di Bundaran HI dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Bisa dibayangkan betapa nikmatnya lalu lintas Jakarta saat itu.

Setelah sempat menggoda rekan-rekan yang siaran Apa Kabar Indonesia di Bundaran HI, kami melaju ke Monas. Inilah tujuan utama libur hari itu. Betapa tidak. Hampir semua teman saya dan teman anak-anak saya sudah mencicipi kunjungan ke monumen yang didirikan atas perintah Presiden Soekarno tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian.

Cuaca belum lagi panas, ketika mobil kami parkir di pelataran parkir resmi Monas di IRTI (berhadapan dengan Balai Kota). Calon pengunjung relatif bisa dihitung dengan jari, yang bergerak menuju monumen berkepala emas itu. Tak banyak mobil yang parkir dan hanya sebuah bus pariwisata di sana.

Menyusuri pelataran udara menyapa segar, dengan matahari mengintip di balik rerimbunan daun di taman. Mestinya saya puas dengan kondisi ini, tetapi apa daya mata ini tertumbuk pada sampah yang berserakan.

Sebuah tempat sampah terguling dan isinya berupa sisa-sisa makanan menyebar. Bungkus mie siap saji teronggok bersama puntung rokok dan plastik minuman. Tidak ada petugas kebersihan saat itu. Saya berpikir sampah belum dibersihkan karena saat itu belum jam kerja.

Kian dekat ke bangunan luar biasa itu, cuaca kian cerah (baca: panas). Pepohonan hanya tersedia di taman, yang berjarak 100 meter lebih dari tugu raksasa itu. Di sana hanya ada beberapa tanaman yang kami gunakan untuk berteduh sementara. Taman di pelataran Monas sebenarnya indah, tetapi yang ada hanyalah rerumputan yang menguning dan tanaman hias yang meranggas. Ada memang banyak bunga bangkai (Raflesia Arnoldii), tetapi itu terbuat dari semen.

Menunggu hampir 20 menit, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Bersama beberapa keluarga lain kami di pintu Selatan tak tahu harus menunggu berapa lama, karena penjaga parkir menyebutkan Monas dibuka pukul 8.30 WIB. Saat itu jam tangan sudah 8.20 WIB. Tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Tidak ada tanda-tanda bagian informasi atau petunjuk arah.

Di tengah kebingungan dan keheranan karena tidak adanya bantuan, seorang penjual air minum yang kebetulan pernah melihat wajah saya sebelumnya, menunjukkan pintu masuk. Tempatnya di seberang, katanya. Jadi kami harus berjalan memutari Monas ke pintu utara dan masuk dari terowongan. Atau bisa menunggu mobil gandeng.

Wah, informasi terakhir membuat saya bingung (jawabannya saya dapatkan setelah meninggalkan Monas beberapa jam sesudahnya). Sebagai kepala rombongan, saya putuskan kami berjalan.

Wuihhh!!! Masih pukul 8.30 tetapi matahari mamancar dengan kekuatan penuh. Mateng neh muka. Tidak ada awan, peneduh, pepohonan atau apapun yang dapat dijadikan perlindungan dari kehangatan sang raja siang. Kami berjalan mengelilingi sisi Barat sekitar 500 meter. Lumayan.

Sesampai pintu utara, rasanya tidak ada lagi petunjuk. Di atas tangga Monas tampak sejumlah pekerja mengepel, tetapi terlalu jauh untuk ditanya bagaimana kami bisa masuk. Tidak hanya rombongan BSD ini, tetapi ada pula kelompok lain yang terpaku di pinggir pagar. Sekali lagi tak ada petugas di sana.

Cuaca kian panas. Tidak ada penghalang sinarnya ke bumi. Kelompok orang mulai menyemut ke obyek wisata di jantung kota Jakarta.

Ah di sana! ada papan kecil yang berjumlah dua buah kalau saya tidak salah. Ukurannya kenapa sih tidak dibikin besar? Apa ruginya kalau bisa 1 m X 1,5m? Rasanya tidak akan mengganggu keindahan taman raksasa ini.

Memasuki lorong menuju Monas. Saya melihat sudah banyak orang di sana. Anak-anak dan kaum perempuan mendominasi. Saya yakin tidak ada yang berpakaian perlente atau wangi. Panas dan pengap membuat bau keringat menguar memenuhi terowongan yang kurang cukup dingin, walau sudah terdengar deru pendingin ruangan di atas.

Antrean tiket masuk sudah mengular. Dari 4 loket yang tersedia, hanya dua yang buka. Dalam hati saya mencari alasan mengapa dua loket lain tidak digunakan: masih banyak petugas yang cuti, toh masih suasana Lebaran. Beberapa kali saya mendengar petugas menolak uang dengan pecahan besar Rp. 100.000 dan Rp. 50.000. Mereka beralasan belum ada kembalian. Ckckck. Tak ada persiapan ya? Akibat penolakan itu antrean tersendat, karena calon pengunjung mencari pecahan lebih kecil tetapi tidak mau meninggalkan antrean. Huaaahhhh!!! Beruntung uang pecahan Rp. 50.000 saya tidak ditolak, mungkin karena petugas mengenal wajah saya (hehehe ada untungnya juga).

Kondisi lebih nyaman saat kami masuk ruang diorama, karena lega dan udara yang dingin. Berbeda dengan suhu di luar.

Puas berkeliling di ruang sejara itu, dan mengenalkan sejarah kepada para punggawa, saya mengajak mereka ke puncak. Nah, ini perjuangan yang lain.

Mengantre tiket dan mengantre lift naik adalah dua hal berbeda, tetapi sama-sama melelahkan. Dari dua loket penjual tiket lift, hanya satu yang beroperasi. Antrean kembali mengular. Demikian juga antrean ke lift. Lebih panjang lagi. 25 menit untuk mendapat tiket. 1 jam untuk sampai ke lift. Itu adalah perjuangan yang luar biasa. Saya pandang barisan di belakang, wah, ternyata terus memanjang.

Memasuki lift adalah sebuah kenyamanan yang lain. Bisa dibilang itu adalah langkah terakhir sebelum menikmati Jakarta dari puncak tertinggi di Jakarta.

Puas melihat-lihat, termasuk menggunakan teropong berharga Rp. 2000 per 90 detik, kami turun kembali. Tidak terlalu lama menunggu lift yang sama yang akan membawa kami ke bawah. Sekeluarnya dari cawan Monas, saya menyaksikan antrean itu bahkan kian panjang. Kalau sebelumnya hanya sekitar 25 meter, maka kini lebih panjang lagi. Bisa 100 meter (dua baris). Berapa jam antrean paling belakang dapat sampai ke puncak. Saat itu waktu baru menunjukkan pk. 11.00 WIB. Waktu buka Monas tinggal 4 jam lagi.

Dimulai kembali perjalanan yang sama. Melewati terowongan yang masih belum cukup dingin di tengah aliran manusia. Di sana-sini saya melihat penjual cindera mata miniatur Monas dari bambu dengan harga antara Rp. 5000 sampai Rp. 25.000 per buah. Namun saya tidak tertarik untuk membeli.

Panas yang kian menyengat kembali menyapa sekeluarnya kami dari terowongan. Antrean lain tampak di sana. Antrean apa? Ooooh itu dia. Dua buah mobil gandeng beriringan menepi. Dibatasi rantai-rantai, ada tiga lajur antrean yang memudahkan pengunjung naik ke mobil. Di atas mobil, kami menunjukkan karcis naik ke puncak yang berwarna hijau untuk dewasa dan putih untuk anak-anak. Dan kami pun meluncur ke tempat masuk, di tempat kami parkir mobil.

Berpandang-pandangan dengan isteri, tanpa suara kami bersepakat untuk tidak akan lagi ke Monas. Cukup sudah petualangan hari itu. Panas, lelah, berkeringat, bau, tanpa tambahan informasi yang berarti membuat Monas tidak cukup untuk menarik kami kembali di lain waktu.

Entah jika pemerintah DKI atau pusat memperbaiki fasilitas monumen kebangsaan negara, yang ada di depan hidung Istana Negara dan Balai Kota di tahun-tahun mendatang, hal itu bisa saja kami pertimbangkan lagi. Tapi jika tidak, maaf deh, TIDAK.

indi

Maaf Lahir Batin

Ijinkan saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H. Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin.

Tuesday, July 21, 2009

Tragedi

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah

Dua baris lirik lagi Panggung Sandiwara-nya God Bless mengisi batok kepala saya berulangkali, saat saya melihat peristiwa-peristiwa besar dalam sebulan terakhir. Tidak tahu kenapa justru lagu itu yang terngiang bukan lagu Ebiet G Ade atau Mbah Surip.

Sejak kampanye pemilihan presiden diikuti dengan pencontrengan dan perhitungan suara, saya menangkap nuansa yang berwarna-warni dari aktifitas politik saat itu. Belum selesai haru biru protes tim sukses capres 1 dan 3, bom mengguncang Jakarta. Korban tewas dan luka terserak tak berdaya dengan wajah-wajah panik mereka yang selamat menghiasi layar kaca dan koran-koran. Terakhir saya melihat sendiri beberapa korban bom Marriott dan Kedubes Australia 6 dan lima tahun lalu. Terselip di antaranya kisah si Tegar dari Caruban Madiun. Bocah 4 tahun itu kakinya putus terlindas kereta api ulah bapak tirinya. Sang bapak tiri, yang tidak puas atas penolakan isterinya (ibu Tegar) untuk bersetubuh membawa Tegar ke rel kereta api dan hingga kereta mnghancurkan kaki kanan Tegar. Trenyuh hati ini menyaksikan tubuh-tubuh yang cacat, termasuk ketakutan yang tak juga pupus akibat trauma saat itu.

Rasanya bumi kita tercinta ini seperti panggung sandiwara yang nyata. Cerita itu mudah berubah untuk setiap aktor dan aktrisnya di skala mikro dan terlebih di skala makro yang mengubah nasib banyak orang. Satu demi satu peristiwa bermunculan menjadi perhatian publik internasional berubah secara cepat dan drastis dalam hitungan hari, sehingga menafikan arti kisah sebelumnya. Media segera mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak karena adanya persitiwa baru yang lebih dramatis.

Sebagai produser (yang kadang-kadang mengarahkan aktor di panggung siaran tv) saya merasa puas dengan sandiwara (baca: peristiwa) yang tengah berlangsung. Seru, dramatis, penuh emosi, masif dan penuh kejutan. Bahkan kalau bicara komersial, saya ingin hal seperti ini terjadi setiap hari, karena rating berita akan tinggi.

Namun apa daya saya masih orang biasa yang cenderung sentimentil bila lihat penderitaan orang. Para korban bom, keluarga mereka dan mereka yang membawa cacat seumur hidup akibat bom bertahun-tahun lalu menimbulkan pertanyaan besar untuk sang sutradara panggung sandiwara besar bernama hidup di bumi ini.

Apa tujuan ia menciptakan kisah yang penuh tragedi bagi sekelompok orang bahkan kelompok yang besar bernama negara? Mengapa ia membuat peran dengan aktor-aktris yang berada di kutub berbeda dalam hal ideologi, nasib dan tindakan? Berapa lama kisah ini akan dimainkan? Bagaimana akhir dari kisah ini?

Bersyukurlah orang yang beriman, yang tetap tabah menahan cobaan tanpa harus kritis terhadap pembuat kisah. Hanya saja tidak semua orang mampu menanggung efek kejadian itu. Tidak sedikit yang patah dan kehilangan semangat menghadapi kisah yang dramatis dan tragis tersebut. Apa yang harus mereka perbuat.

Saya terus terang tidak tahu harus berbicara apa terhadap para aktor-aktris tersebut. Saat saya bertemu dengan korban Marriott 6 tahun lalu, yang tubuhnya penuh luka parut akibat luka bakar mayor, lidah ini terlipat dan mulut terkunci. Tapi mudah-mudahan mereka bisa membaca keprihatinan saya atas penderitaan mereka.

Sebagai aktor lain di panggung sandiwara di bumi ini, saya memang tidak terlibat langsung dengan kisah bom Jakarta. Namun saya sadar kisah tragis itu bisa saja terjadi pada saya dan keluarga, pada Anda dan keluarga dalam bentuk lain, setiap saat, di mana saja.

Be prepared!
indi

Tuesday, July 14, 2009

Kutagih Janjimu

Bahasanya tentu tidak seperti itu, tetapi dengan gaya yang berbeda; yaitu ketika anak bungsu saya Diva Josephina menagih janji saya untuk memasang internet. Bulan lalu sambungan Speedy di rumah saya putus, karena lambat dan tagihannya kurang masuk akal. Sejak itu, anak-anak tidak lagi dapat mengakses mainan, obrolan atau mengerjakan tugas yang menggunakan internet.

Adapun saya berjanji pada anak-anak untuk memasang sambungan baru segera setelah saya memperoleh provider internet terbaik. Sialnya, hehehe, sampai hari ini belum ada tanda-tanda pilihan itu jatuh pada siapa. Akhirnya muncullah kalimat yang baik itu: Kutagih janjimu.

Banyak orang bilang janji adalah utang, jadi harus dibayar atau janji harus ditepati. Namun sialnya bagi banyak orang lainnya janji bisa hanya sekedar janji. Janji adalah kata-kata tanpa makna yang keluar dari mulut untuk menyenangkan orang untuk sesaat saja dan kemudian terlupakan seiring perjalanan waktu.

Menjelang pemilu legislatif dan presiden, kita dijejali janji-janji setiap hari. media cetak dan elektronik penuh kampanye berisi rencana-rencana yang akan dikerjakan bila si calon duduk di kursi yang diinginkan. Bahkan ada pula yang bersedia membuat kontrak politik berisi hal-hal yang akan dilakukan kemudian ditandatangani.

Nah, sekarang pemili sudah selesai. Orang-orang yang akan duduk di kursi legislatif dan eksekutif sudah diketahui. Artinya, kita masyarakat baik yang memilih atau tidak memilih berhak menagih janji yang sudah disampaikan saat mereka berkampanye.

Sialnya, apakah rakyat masih ingat apa yang dijanjikan itu? Adakah dari kita yang mencatat butir-butir yang akan dikerjakan calon pemimpin kita? Saya, terus terang tidak. Andaikan semua masyarakat Indonesia tidak ada yang ingat atau mencatat, bagaimana mereka bisa ditagih? Hehehe apalagi bila mereka tipe pelupa alias tidak ingat akan janji-janji yang sudah digembar-gemborkan.

Sebuah pepatah Cina menyebutkan: sekali kata terucap tujuh ekor kuda tak dapat menariknya kembali. Artinya, setiap janji yang keluar memiliki konsekuensi berat yang tidak dapat dilupakan dan diabaikan. Hanya orang yang tidak memiliki harga diri saja yang akan mencederai janji yang pernah terucap.

Adakah para pemimpin dan calon pemimpin kita orang-orang yang memiliki harga diri yang akan merealisasikan janji mereka tanpa harus ditagih. Yah minimal jangan kayak saya yang harus selalu ditagih anak-anak saya untuk memasang internet.

Semoga.
indi

Thursday, July 9, 2009

Contreng (Centang)

Sudah dua hari ini kuku saya tidak indah (hehehe...emangnye pernah?). Warna ungu akibat tinta itu belum hilang. Walaupun begitu saya tetap bangga menggunakan hak pilih. Jujur saja, belum pernah saya sebangga ini saat memberikan suara.

Jago saya memang kalah. Tetapi saya puas melihat ia bertarung dengan segenap tenaga, hati dan kemampuan. Tidak banyak orang yang berani menghadapi lawan di gelanggang, walau ia tahu betapa kuatnya pesaing. Hanya sedikit orang yang mau berusaha, walau secara matematis kecil kemungkinan ia akan keluar sebagai pemenang.

Dalam sebuah pertandingan, seorang pemenang pasti memperoleh kemuliaan di atas pecundang. Tetapi bagi orang sportif, hasil akhir hanyalah bonus, karena proses memiliki peran penting untuk mengukur gagah tidaknya seorang kontestan.

Pemilihan presiden memang bukan pertandingan sepakbola, catur atau tinju. Intelektualitas, gaya kepemimpinan dan program yang baik adalah modal untuk meraih kepercayaan publik. Di sinilah letak keandalan para kontestan beradu strategi dalam mengampanyekan citra dan kehebatan mereka masing-masing. Jika publik percaya terhadap komoditas yang ditawarkan, itulah yang mereka "beli" (baca: contreng) pada 8 Juli lalu.

Itulah yang saya lakukan. Saya puas dengan gaya, program, retorika seorang capres, sehingga saya mencontreng fotonya dan pasangannya. Setttt.... Tutup... Cemplung...Celup. Selesai.

Saya tidak mempedulikan jago saya akan menang atau tidak. Tidak penting menurut saya. Saya juga tidak kecewa ketika hitung cepat semua lembaga survei memenangkan calon lainnya. Bahkan pada setiap perbincangan dengan teman (tidak di blog ini) saya mengumumkan siapa yang saya pilih sambil mengangkat kelingking saya.

Kalaupun saya siaran dengan membicarakan ketiga pasang capres cawapres, mengumumkan, mengkritisi, membuat lelucon tentang aktifitas kampanye itu hanya sebuah pekerjaan. Pilihan saya tidak mempengaruhi pemilihan kata dan kerangka berpikir saya. Kepuasan saya adalah ketika saya memberikan suara pada orang yang saya percayai dapat memimpin negeri ini lima tahun lagi. Pilihan dan pekerjaan adalah dua hal berbeda.

Terus terang saya menunggu lima tahun lagi adakah orang yang seperti jago saya. Saya rindu pribadi seperti itu muncul dan memimpin negeri ini. Bukan berarti saya tidak suka warga negara yang sedang memimpin sekarang, tetapi lebih karena saya merasa cocok dengan jago saya.

Memang juga tidak ada jaminan jago saya akan dapat memimpin negeri ini seperti Superman dan menyelesaikan semua masalah dengan lebih cepat dan lebih baik, tetapi sekali lagi saya nyaman dengan apa yang ia tawarkan pada saya pribadi.

Anyway, pencontrengan (yang tepat pencentangan) sudah selesai. Perhitungan di KPU sedang berlangsung. Hasilnya rasanya akan sama dengan hasil perhitungan cepat (quick count) seperti yang lalu-lalu. Selamat untuk yang menang dan selamat pula untuk yang kalah karena Anda telah menjadi kontestan dan negarawan yang luar biasa bagi negeri ini.

indi