Penyakit menahun adalah salah satu masalah kami keluarga asli Jawa ini, yaitu mudik. Alasan pertama kebutuhan mengisi liburan anak-anak, kedua, yang paling penting mencari makanan kampung hehehe.
Yang pertama sih bisa dilakukan tanpa pikir panjang, karena ... ya sekedar jalan-jalan mengisi liburan para precil yang sudah mulai gampang protes kalau bapak mereka kelamaan kerja. Nah yang kedua ini harus dipikirkan masak-masak. Maklum tempatnya kan banyak jadi harus ada pengaturan waktu, tempat yang harus dikunjungi, bujet dab perut (maklum usia bertambah sehingga jenis dan jumlah yang dapat ditolerir menjadi terbatas).
Karena belum bisa cuti, saya manfaatkan hutang libur yang sebelumnya sehingga ada cukup waktu untuk melesat ke Madiun. Lho kok Madiun? Ya namanya sudah nggak punya orang tua kandung, akhirnya keluarga mertualah yang jadi sasaran tujuan. Oh ya jangan salah, cukup waktu artinya bukan seminggu apalagi dua minggu; itu hanya empat hari ya empat hari. Pokoke cukup untuk memenuhi dua hal itu tadi.
Lupakan alasan yang pertama, karena kewajiban suddah dipenuhi dengan pemenuhan yang kedua hehehe. Makanan kampung bagi saya lebih sophisticated daripada makanan modern alias yang banyak ditemui di rumah makan, restoran dan mal. Walaupun sudah banyak makanan kampung yang masuk mal, dijual di restoran dan hotel, rasanya kok ya lebih afdhol makan makanan kampung di tempatnya.
Anda bisa bayangkan dijual di pinggir jalan, dalam bentuk kaki lima atau rumah makan dengan dinding gedek (bambu yang dianyam), dan masak mungkin jarang cuci tangan. Tapi rasanya dan atmosfernya itu lho....hmm...irreplaceable. Tapi kalau dipikir-pikir ini bukan sekedar rasa di lidah, tetapi juga di hati dan memori. Ada relung-relung benak yang terisi oleh ingatan betapa menyenangkannya menikmati makanan kampung di tempat asalnya. Yaaach...romantisme masa lalu kira-kira.
Makanan yang saya incar adalah jajanan pasar di Pasar Kawak Madiun, Pecel Madiun Edi dan Bakso 77. Sekali lagi makanan-makanan itu bisa ditemui dengan mudah di Jakarta atau kota besar lainnya, tetapi kok ya masih lebih enak kalau menikmatinya dari tempat asalnya. Misalnya Pecel Edi yang berisi nasi, sayur, siraman saus kacang, rempeyek yang disajikan (nah ini mungkin bedanya) di pincukan daun pisang. Pelengkapnya ada telur mata sapi, daging empal, telur balado atau jerohan goreng. Sama kan? Terus baksonya ya sama, wong cuma glundungan bakso sebesar telur ayam dan somay. Demikian pula jajanan pasarnya: kue bugis, nagasari, pastel, dsb. Sama lagi kan?
Tapi kok rasanya menurut saya (mungkin bertambah dengan romantisme masa lalu) kok ya lebih enak. Tak percaya? Coba deh, hehehe.
Rasa makanan menurut saya sangat subyektif. Ada pengaruh-pengaruh internal dan eksternal, budaya bahkan pengetahuan. Contohnya makanan Jawa Tengah yang bernuansa manis tentu dianggap tidak enak oleh penduduk non-Jawa Tengah. Alhasil saya tidak pernah percaya pada acara-acara wisata makanan yang disajikan oleh banyak tv dan dilabeli mak nyusss. Bagi saya itu hanya sekedar pengetahuan. Pengalaman menikmati makanan dan rasa makanan adalah dua hal yang berbeda.
Oleh sebab itu pulang kampung bagi saya tetap menjadi ritual menarik, karena ada perjalanan nostalgia dan menjelajah masa lalu melalui makanan-makanan kampung.
indi
This blog contains my thoughts about everything. I like absorbing events, problems, situations and share them to everyone.
Monday, December 29, 2008
Sunday, December 21, 2008
Kisah Sedih di Hari Ibu
Seorang anak menangis di pelukan ayahnya, sementara ibunya berusaha menarik sang anak. Sejurus kemudian sang anak menjambak rambut ibunya dan berseru: Tidak mau, tidak mau! Aku lebih suka bersama papa. Mama jahat! Itulah tayangan yang mengawali program kami di Senin pagi ini tepat pada Hari Ibu. Disaksikan puluhan pasang mata, sepasang suami isteri (kabarnya sudah bercerai) memperebutkan anak ketiga mereka di sekolah sang anak di Semarang.
Ingatan saya menerawang jauh ke masa kecil saya. Sebagai anak kolong (sebutan bagi anak anggota ABRI sekarang TNI), saya tidak memiliki kemewahan bertemu alm. bapak dalam waktu yang cukup. Selain kerap berpindah tugas, beliau pun wafat saat saya masih berusia 13 tahun. Waktu yang cukup lama untuk membongkar kembali ingatan itu. Salah satu yang saya ingat adalah betapa bapak yang fotonya gagah terbaring lunglai akibat stroke karena darah tinggi. Saya membayangkan betapa beliau pasti kehilangan kebanggaan menjadi kepala rumah tangga yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan keluarga. Kemudian tampillah ibu saya mengurusi kami semua berenam sebelum beliau terbaring sakit dan wafat 17 tahun lalu.
Kasih sayang dan jerih payah mereka berdua membuat saya merasa tidak berguna karena saya tidak sempat membahagiakan mereka saat ini. Saya bisa membayangkan betapa mereka bahu membahu untuk memastikan anak-anak mereka mendapat makanan yang cukup, pakaian yang baik, sekolah yang lancar dan masa depan terjamin. Walau bapak tidak sampai membangun dinding keberhasilan anak-anaknya secara tuntas, minimal ia telah memastikan dinding itu berdiri secara kokoh dan ke arah yang tepat. Sementara ibu membuat dinding itu penuh dekorasi keindahan dalam budi pekerti dan kebaikan.
Kembali ke tayangan tadi, saya kemudian mengasihani sang anak yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak. Sedikitnya Rafael demikian nama nak itu mengalami dua kerugian. Pertama ia mengalami trauma batin akibat menjadi bahan rebutan kedua orang tua kandungnya. Alih-alih harus melindungi sang anak dari buruknya dunia, keduanya justru menunjukkan bahwa mereka adalah sumber bencana bagi sang anak. Bahkan diperlukan dua
ibu guru untuk membuat sang anak merasa aman. Kedua sang anak secara tidak langsung tertekan oleh lingkungan yang menyaksikan betapa kedua orang tuanya bukan orang tua yang bijaksana dalam menyelesaikan persoalan. Ia akan menjadi bahan gunjingan lingkungan baik yang simpati maupun yang menyakiti.
Sedikitnya saya mengetahui dua rumah tangga yang tercabik dan berujung pada perceraian serta perebutan hak asuh anak. Satu yang menjadi tamu dialog program kami dan satu lagi rekan sejawat saya di kantor.
Tamu dialog kami seorang bintang sinetron menyatakan sudah enam tahun mengusahakan agar anaknya jatuh ke pangkuannya. Dua hasil pengadilan baik di tingkat awal maupun banding memenangkannya. Suaminya tidak puas mengajukan kasasi dan hasilnya masih menunggu. "Hebatnya", walau putusan bersifat serta merta, yang artinya sang anak harus dikembalikan kepada sang ibu, eksekusi tetap tak dapat dilakukan. Sang suami dan keluarganya menghilangkan jejak sang anak agar ibunya tak dapat memeluknya lagi.
Satu kasus lagi serupa tapi tak sama. Rekan saya harus menempuh ratusan kilometer untuk dapat bertemu buah hatinya dan menemukan sang putri yang berusia 6 tahun menyebutnya sebagai tante. Teman saya itu tak dapat berbuat banyak, walau pengadilan memutuskan hak asuh anak ia menangkan. Penyebabnya ia tak dapat melawan kekuatan mantan suami yang seorang aparat negeri ini.
Dua kasus itu memiliki latar belakang dan proses yang sama sebelum bermuara pada perceraian dan rebutan anak; yaitu kekerasan dalam rumah tangga. Suami kerap berlaku ringan tangan dan kaki terhadap isteri. Perlakuan sebagai sansak hidup ini perlahan membuat isteri yang dipercaya berasal dari tulang rusuk kaum pria tidak lagi merasa terlindungi dan percaya pada suaminya.
Namun sialnya di hampir sebagian besar kasus perebutan anak menyebabkan sang anak menjadi korban atau obyek. Seorang psikolog menyatakan kemampuan verbal yang belum sempurna menyebabkan anak tidak dapat menyuarakan kata hati yang layak diperhitungkan. Pertanyaan berikutnya, di mana hak anak dalam kasus ini? Seorang pejabat Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak memiliki hak di antaranya untuk merasa aman, mendapat pendidikan untuk masa depannya dan hak bermain. Di antara ketiga hak itu anak-anak korban perceraian mungkin hanya memperoleh satu atau paling banyak dua. Yang pasti ia akan tidak aman karena kedua orang tuanya berseteru dan mengabaikan rasa amannya.
Pikiran saya kembali menerawang puluhan tahun lalu. Pernah saya melihat bapak ibu saya bertengkar di hadapan kami anak-anak, karena masalah orang ketiga. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah saya merasa betapa rumah saat itu kehilangan kenyamanan. Untunglah pertengkaran itu tidak sampai berlanjut ke tingkat yang lebih buruk, namun tetap saja saya bisa merasakan betapa anak-anak kehilangan kepercayaan bila sesuatu terjadi pada orang tua mereka.
Saya tidak mau hal itu terulang pada anak-anak saya sekarang. I promise.
indi
Ingatan saya menerawang jauh ke masa kecil saya. Sebagai anak kolong (sebutan bagi anak anggota ABRI sekarang TNI), saya tidak memiliki kemewahan bertemu alm. bapak dalam waktu yang cukup. Selain kerap berpindah tugas, beliau pun wafat saat saya masih berusia 13 tahun. Waktu yang cukup lama untuk membongkar kembali ingatan itu. Salah satu yang saya ingat adalah betapa bapak yang fotonya gagah terbaring lunglai akibat stroke karena darah tinggi. Saya membayangkan betapa beliau pasti kehilangan kebanggaan menjadi kepala rumah tangga yang bisa menjamin keamanan dan kenyamanan keluarga. Kemudian tampillah ibu saya mengurusi kami semua berenam sebelum beliau terbaring sakit dan wafat 17 tahun lalu.
Kasih sayang dan jerih payah mereka berdua membuat saya merasa tidak berguna karena saya tidak sempat membahagiakan mereka saat ini. Saya bisa membayangkan betapa mereka bahu membahu untuk memastikan anak-anak mereka mendapat makanan yang cukup, pakaian yang baik, sekolah yang lancar dan masa depan terjamin. Walau bapak tidak sampai membangun dinding keberhasilan anak-anaknya secara tuntas, minimal ia telah memastikan dinding itu berdiri secara kokoh dan ke arah yang tepat. Sementara ibu membuat dinding itu penuh dekorasi keindahan dalam budi pekerti dan kebaikan.
Kembali ke tayangan tadi, saya kemudian mengasihani sang anak yang baru duduk di bangku taman kanak-kanak. Sedikitnya Rafael demikian nama nak itu mengalami dua kerugian. Pertama ia mengalami trauma batin akibat menjadi bahan rebutan kedua orang tua kandungnya. Alih-alih harus melindungi sang anak dari buruknya dunia, keduanya justru menunjukkan bahwa mereka adalah sumber bencana bagi sang anak. Bahkan diperlukan dua
ibu guru untuk membuat sang anak merasa aman. Kedua sang anak secara tidak langsung tertekan oleh lingkungan yang menyaksikan betapa kedua orang tuanya bukan orang tua yang bijaksana dalam menyelesaikan persoalan. Ia akan menjadi bahan gunjingan lingkungan baik yang simpati maupun yang menyakiti.
Sedikitnya saya mengetahui dua rumah tangga yang tercabik dan berujung pada perceraian serta perebutan hak asuh anak. Satu yang menjadi tamu dialog program kami dan satu lagi rekan sejawat saya di kantor.
Tamu dialog kami seorang bintang sinetron menyatakan sudah enam tahun mengusahakan agar anaknya jatuh ke pangkuannya. Dua hasil pengadilan baik di tingkat awal maupun banding memenangkannya. Suaminya tidak puas mengajukan kasasi dan hasilnya masih menunggu. "Hebatnya", walau putusan bersifat serta merta, yang artinya sang anak harus dikembalikan kepada sang ibu, eksekusi tetap tak dapat dilakukan. Sang suami dan keluarganya menghilangkan jejak sang anak agar ibunya tak dapat memeluknya lagi.
Satu kasus lagi serupa tapi tak sama. Rekan saya harus menempuh ratusan kilometer untuk dapat bertemu buah hatinya dan menemukan sang putri yang berusia 6 tahun menyebutnya sebagai tante. Teman saya itu tak dapat berbuat banyak, walau pengadilan memutuskan hak asuh anak ia menangkan. Penyebabnya ia tak dapat melawan kekuatan mantan suami yang seorang aparat negeri ini.
Dua kasus itu memiliki latar belakang dan proses yang sama sebelum bermuara pada perceraian dan rebutan anak; yaitu kekerasan dalam rumah tangga. Suami kerap berlaku ringan tangan dan kaki terhadap isteri. Perlakuan sebagai sansak hidup ini perlahan membuat isteri yang dipercaya berasal dari tulang rusuk kaum pria tidak lagi merasa terlindungi dan percaya pada suaminya.
Namun sialnya di hampir sebagian besar kasus perebutan anak menyebabkan sang anak menjadi korban atau obyek. Seorang psikolog menyatakan kemampuan verbal yang belum sempurna menyebabkan anak tidak dapat menyuarakan kata hati yang layak diperhitungkan. Pertanyaan berikutnya, di mana hak anak dalam kasus ini? Seorang pejabat Komisi Perlindungan Anak Indonesia menyatakan anak memiliki hak di antaranya untuk merasa aman, mendapat pendidikan untuk masa depannya dan hak bermain. Di antara ketiga hak itu anak-anak korban perceraian mungkin hanya memperoleh satu atau paling banyak dua. Yang pasti ia akan tidak aman karena kedua orang tuanya berseteru dan mengabaikan rasa amannya.
Pikiran saya kembali menerawang puluhan tahun lalu. Pernah saya melihat bapak ibu saya bertengkar di hadapan kami anak-anak, karena masalah orang ketiga. Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah saya merasa betapa rumah saat itu kehilangan kenyamanan. Untunglah pertengkaran itu tidak sampai berlanjut ke tingkat yang lebih buruk, namun tetap saja saya bisa merasakan betapa anak-anak kehilangan kepercayaan bila sesuatu terjadi pada orang tua mereka.
Saya tidak mau hal itu terulang pada anak-anak saya sekarang. I promise.
indi
Monday, December 1, 2008
Shabu-shabu vs Bogana
Ini adalah istilah yang bisa bikin orang merinding atau kenyang. Yang pertama adalah karena barang haram alias narkotika. Sedang yang kedua adalah makanan khas Jepang. Itulah yang kami nikmati saat akhir pekan lalu.
Tidak mudah untuk memutuskan makan di rumah makan Jepang bersama keluarga. Masalahnya, saya terbiasa untuk makan karya nyonya rumah untuk shabu-shabu. Ya, saya rasa, shabu-shabu karya isteri saya patut diacungi jempol (hehehe Anda yidak boleh ngiri atau protes, lagu pula siapa lagi yang bisa memuji kalau bukan suaminya).
Akhir pekan lalu, saya anggap keluarga kami sudah biasa makan di kawasan BSD, Tangerang; jadi saatnya untuk menjelajah kawasan kuliner lainnya. Jadilah kami mengarah ke Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tujuannya restoran Jepang. Sumpah, saya belum punya referensi restoran Jepang kecuali di Mal Kelapa Gading, Jakarta Timur.
Rada ngeri juga kalau saya diprotes para precil dan ibunya jika saya gagal memuaskan mereka. Maklum saya berpromosi gencar untuk membawa mereka makan siang dengan gaya berbeda.
Dimulai dengan kesulitan mendapatkan parkir. Kami berputar-putar untuk mendapatkan ruang. Setelah hampir satu jam, ada tempat di Basement 3. Jauuuh di bawah tanah. Fiuuuh, saya masih bisa menyelamatkan muka, karena para pengikut setia hampir putus asa.
Keliling punya keliling, kami temukan Shabu-Tei di lantai 3. Tapi...ini yang repot. Antreee...padahal waktu sudah menunjukkan pk 14 WIB. Perut sudah teriak-teriak, kaki sudah gemetar dan kerongkongan sudah mengering. Rapat singkat menyepakati untuk mencari tempat lain. Eh, ketika kami mau beranjak, satu demi satu mereka yang berbaris di depan kami beranjak pergi. Saya beranikan untuk maju ke kasir. Ada seorang pria paruh baya menemui kami. Akhirnya, horeee... kami diminta menunggu sekitar 5 menit untuk menyiapkan dan membersihkan meja untuk kami berempat.
Shabu-shabu untuk dua orang, seporsi tempura sayuran, dua porsi sushi ayam dan salmon serta minuman adalah makanan yang rasanya begitu banyak dan belum pernah kami pesan sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, semua tandas. Konstituen saya sukses menandaskan semua makanan itu. Bahkan si kecil minta lagi seporsi Banana Split. Ckckck...
Enak, tapi kantung juga mengurus dengan segera. Tapi karena diniati ya sudahlah. Untungnya ada diskon, karena pakai kartu kredit, ada potongan 25%. Lumayanlah.
Masih soal makanan, rapat rutin saya awal minggu di kantor kami buka dengan makan siang. Wah, menunya berbeda dan boleh juga. Biasanya, kalau tidak masakan Padang, ya Gado-gado. Kali ini yang tersedia adalah Nasi Bogana . Nasi campur dari Tegal Jawa Tengah ini dibungkus dengan daun pisang tersembunyi di balik kotak berukuran sedang.
Bagi perut saya yang tidak besar, ukuran nasi Bogana ini sangat tepat. Pas untuk menghalau rasa lapar, namun tidak sampai kekenyangan. Kasihan buat rekan-rekan saya yang biasa gembul. Jadinya mereka harus menambah beberapa gelas air minum untuk mengenyangkan perut. Masalahnya mereka tidak bisa tambah, karena jumlah nasi yang sesuai peserta rapat.
Kesamaan dari kedua jenis makanan itu adalah sama-sama memuaskan lidah dan perut saya. Akhirnya saya teringat kriteria makan enak karya saya sendiri. Saya simpulkan ada 3 kriteria makan enak, yaitu:
1. Makanlah saat lapar. Seorang bijak menyebutkan, lauk terbaik saat makan adalah rasa lapar itu sendiri. Makanan pasti jadi sangat nikmat. Namun rasa makanan seberapapun mahalnya akan tidak memuaskan bila perut Anda sudah kenyang dan perut mulai menolak tambahan lagi.
2. Makanlah bersama teman, kerabat, orang yang Anda cintai. Amsal Salomo menulis, betapa enaknya makan bersama saudara tanpa disertai perbantahan. Bayangkan betapa tidak enaknya makan sendirian atau bersama musuh.
3. Nah, ini yang paling penting. Makan bila dibayari alias gratis. Hehehe. 2 hal di atas tambah gratisa. Hmmmmm. Endang bambang.
Setuju?
indi
Tidak mudah untuk memutuskan makan di rumah makan Jepang bersama keluarga. Masalahnya, saya terbiasa untuk makan karya nyonya rumah untuk shabu-shabu. Ya, saya rasa, shabu-shabu karya isteri saya patut diacungi jempol (hehehe Anda yidak boleh ngiri atau protes, lagu pula siapa lagi yang bisa memuji kalau bukan suaminya).
Akhir pekan lalu, saya anggap keluarga kami sudah biasa makan di kawasan BSD, Tangerang; jadi saatnya untuk menjelajah kawasan kuliner lainnya. Jadilah kami mengarah ke Pondok Indah, Jakarta Selatan. Tujuannya restoran Jepang. Sumpah, saya belum punya referensi restoran Jepang kecuali di Mal Kelapa Gading, Jakarta Timur.
Rada ngeri juga kalau saya diprotes para precil dan ibunya jika saya gagal memuaskan mereka. Maklum saya berpromosi gencar untuk membawa mereka makan siang dengan gaya berbeda.
Dimulai dengan kesulitan mendapatkan parkir. Kami berputar-putar untuk mendapatkan ruang. Setelah hampir satu jam, ada tempat di Basement 3. Jauuuh di bawah tanah. Fiuuuh, saya masih bisa menyelamatkan muka, karena para pengikut setia hampir putus asa.
Keliling punya keliling, kami temukan Shabu-Tei di lantai 3. Tapi...ini yang repot. Antreee...padahal waktu sudah menunjukkan pk 14 WIB. Perut sudah teriak-teriak, kaki sudah gemetar dan kerongkongan sudah mengering. Rapat singkat menyepakati untuk mencari tempat lain. Eh, ketika kami mau beranjak, satu demi satu mereka yang berbaris di depan kami beranjak pergi. Saya beranikan untuk maju ke kasir. Ada seorang pria paruh baya menemui kami. Akhirnya, horeee... kami diminta menunggu sekitar 5 menit untuk menyiapkan dan membersihkan meja untuk kami berempat.
Shabu-shabu untuk dua orang, seporsi tempura sayuran, dua porsi sushi ayam dan salmon serta minuman adalah makanan yang rasanya begitu banyak dan belum pernah kami pesan sebelumnya. Tapi apa yang terjadi, semua tandas. Konstituen saya sukses menandaskan semua makanan itu. Bahkan si kecil minta lagi seporsi Banana Split. Ckckck...
Enak, tapi kantung juga mengurus dengan segera. Tapi karena diniati ya sudahlah. Untungnya ada diskon, karena pakai kartu kredit, ada potongan 25%. Lumayanlah.
Masih soal makanan, rapat rutin saya awal minggu di kantor kami buka dengan makan siang. Wah, menunya berbeda dan boleh juga. Biasanya, kalau tidak masakan Padang, ya Gado-gado. Kali ini yang tersedia adalah Nasi Bogana . Nasi campur dari Tegal Jawa Tengah ini dibungkus dengan daun pisang tersembunyi di balik kotak berukuran sedang.
Bagi perut saya yang tidak besar, ukuran nasi Bogana ini sangat tepat. Pas untuk menghalau rasa lapar, namun tidak sampai kekenyangan. Kasihan buat rekan-rekan saya yang biasa gembul. Jadinya mereka harus menambah beberapa gelas air minum untuk mengenyangkan perut. Masalahnya mereka tidak bisa tambah, karena jumlah nasi yang sesuai peserta rapat.
Kesamaan dari kedua jenis makanan itu adalah sama-sama memuaskan lidah dan perut saya. Akhirnya saya teringat kriteria makan enak karya saya sendiri. Saya simpulkan ada 3 kriteria makan enak, yaitu:
1. Makanlah saat lapar. Seorang bijak menyebutkan, lauk terbaik saat makan adalah rasa lapar itu sendiri. Makanan pasti jadi sangat nikmat. Namun rasa makanan seberapapun mahalnya akan tidak memuaskan bila perut Anda sudah kenyang dan perut mulai menolak tambahan lagi.
2. Makanlah bersama teman, kerabat, orang yang Anda cintai. Amsal Salomo menulis, betapa enaknya makan bersama saudara tanpa disertai perbantahan. Bayangkan betapa tidak enaknya makan sendirian atau bersama musuh.
3. Nah, ini yang paling penting. Makan bila dibayari alias gratis. Hehehe. 2 hal di atas tambah gratisa. Hmmmmm. Endang bambang.
Setuju?
indi
Wednesday, November 26, 2008
Melindungi Anak-anak
Dalam dua hari, berturut-turut program Apa Kabar Indonesia Pagi menghadirkan persoalan anak-anak; walaupun bukan semua narasumbernya anak-anak. Pertama soal majunya jam sekolah SD, SMP dan SMA di Jakarta mulai awal tahun 2009, peristiwa penculikan dua siswi SD kelas 6 dan pelatihan merakit robot untuk anak-anak. Materi perbincangan saat itu saya nilai begitu dekat dengan kehidupan keseharian orang tua dan anak-anak, walau dalam ruang lingkup yang lebih sempit yaitu Jakarta dan sekitarnya.
Sebuah pengumuman menyentak warga Jakarta. Wakil Gubernur DKI Prijanto menyatakan mulai 2 Januari 2009 jam sekolah dimajukan 30 menit dari pukul 07.00 menjadi 06.30 WIB. Alasannya, jam keberangkatan anak-anak ke sekolah menyumbang kemacetan di Jakarta. Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah DKI menyebutkan sumbangan kemacetan itu mencapai 14 persen, sehingga dinilai adalah penting untuk mengurangi kemacetan melalui jam masuk sekolah.
Jika anak-anak adalah alat atau barang atau benda mati yang sekedar angka statistik mungkin saja mengatur jam masuk sekolah menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Faktanya anak-anak adalah manusia yang mengenal lapar, haus, mengantuk, marah dan kondisi emosional lainnya. Mereka bukan sekedar obyek yang dapat dengan mudah diatur tanpa memperhitungkan kondisi psikologis dan petumbuhan fisik dan mental.
Salah satu alasan penting birokrat pemerintah Jakarta tentang keuntungan berangkat lebih pagi adalah anak-anak yang beragama Islam akan dapat melaksanakan ibadah sholat subuh yang akan meingkatkan keimanan mereka. Selain itu mereka juga dapat menghirup udara segar yang belum terpolusi jika kendaraan belum banyak berlalu lalang di jalan raya.
Namun alasan indah dan cita-cita itu terdengar terlalu muluk. Pertama, birokrat rasanya tidak memperhitungkan beban yang akan ditanggung para pelajar, ketika mereka harus bangun lebih pagi. Mungkin saja (memang masih menggunakan kata mungkin) mereka belum cukup istirahat, karena saat mereka pulang toh mereka akan berhadapan dengan dengan kemacetan sehingga belum tentu cepat sampai ke rumah dan beristirahat. Kemudian, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pelajar sekarang mendapat beban pelajaran yang banyak sehingga secara psikologis keharusan bangun pagi bisa mmebuat mereka lebih lelah (lagi-lagi ini masih kemungkinan). Namun yang ini pasti bukan mungkin, yaitu ketika seorang anak tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk sekolah ia harus berhadapan dengan ketidakpastian memperoleh angkutan umum di jalan raya. Seorang anak dari keluarga mampu dapat beristirahat atau bahkan tidur lagi di mobil, tetapi jika ia dari keluarga tidak mampu, ia harus menunggu angkot atau metromini atau bajaj yang balum tentu dapat dipastikan jadwalnya. Alhasil ia bisa menjadi 'korban' kondisi yang ada.
Kasus kedua adalah tentang penculikan anak kelas 6 SD di Tamansari Jakarta Barat. Dengan iming-iming akan diikutkan lomba menulis indah, seorang wanita paruh baya berhasil membawa Egi dan Nanda. Keduanya sempat mempertanyakan keabsahan ajakan itu, tetapi dengan alasan telah memperoleh ijin dari kepala sekolah sang wanita berhasil memperdaya kedua bocah. Dari Jakarta Barat mereka dibawa ke Mal Kalibata, Jakarta Selatan dan ditinggal di sana setelah kalung emas salah seorang di antaranya diambil. Masih beruntung anak-anak itu hanya diambil perhiasannya, hal yang lebih buruk lagi, mereka dapat diculik dan dijadikan budak, atau pengemis atau pekerja seks.
Banyak orangtua mengajar anak mereka untuk berhati-hati terhadap orang asing. Langkah itu sudah benar, sayangnya belum cukup. Keluguan anak-anak sering dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Seperti kisah di atas, sang penculik menggunakan nama kepala sekolah sebagai alasan yang kemudian dipercaya anak-anak.
Anak-anak rasanya perlu diajak lebih kritis, diperjatikan lebih mendalam dan dilindungi di setiap zona. Mulai dari rumah, jalan hingga sekolah.
Yang terakhir tentang pelatihan merancang robot. Begitu saya melihat beberapa unit robot mainan yang digelar di panggung. Mata saya berbinar (kalau Anda menyaksikan lebih seksama, hehehe. Pati tidak ya). Terus terang di dalam diri saya keinginan menjadi anak-anak terus membara. Itu sebabnya saya senang membaca buku fiksi, komik, melihat dan kadang bermain games. Kembali pada robot tadi, betapa saya menyaksikan betapa dua anak, masing-masing Michael 5 tahun dan Anastasia 9 tahun memiliki keinginan luar biasa untuk menciptakan benda yang lebih dari sekedar mainan.
Michael membuat mainan mobil-mobilan yang rumit dan berbentuk bat-mobile, yaitu mobil Batman sang jagoan. Kemudian Anastasia membuat miniatur portal yang bisa naik turun dengan menggunakan sensor gerak. Anda bisa bayangkan dengan usia semuda itu mereka berhasil menciptakan benda-benda yang sepertinya di luar kemampuan normal anak-anak berusia sama.
Alangkah bersyukurnya kedua bocah itu memperoleh lingkungan yang begitu kondusif sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan seluas-luasnya. Orangtua yang mendukung secara moral dan material. Tempat latihan membuat robot yang berisi tenaga-tenaga muda yang sabar namun mumpuni dalam membimbing. Alhasil kita boleh berharap Michael dan Anastasian akan menjadi dua dari sekian banyak anak-anak yang akan mengharumkan nama bangsa dengan karya-karya yang luar biasa.
Anak-anak identik dengan bersenang-senang dan bermain. Namun di usia merekalah orang tua mendapatkan waktu yang tepat untuk membimbing, membentuk dan mengasah kemampuan mereka hingga sempurna. Namun juga menjadi kewajiban orang tua dan lingkungan untuk melindungi mereka dari pedang jahat orang-orang yang tak bertanggungjawab yang hendak memisahkan mereka dari masa depan dan kehangatan keluarga mereka.
indi
Sebuah pengumuman menyentak warga Jakarta. Wakil Gubernur DKI Prijanto menyatakan mulai 2 Januari 2009 jam sekolah dimajukan 30 menit dari pukul 07.00 menjadi 06.30 WIB. Alasannya, jam keberangkatan anak-anak ke sekolah menyumbang kemacetan di Jakarta. Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Menengah DKI menyebutkan sumbangan kemacetan itu mencapai 14 persen, sehingga dinilai adalah penting untuk mengurangi kemacetan melalui jam masuk sekolah.
Jika anak-anak adalah alat atau barang atau benda mati yang sekedar angka statistik mungkin saja mengatur jam masuk sekolah menjadi salah satu solusi penting untuk mengurangi kemacetan lalu lintas. Faktanya anak-anak adalah manusia yang mengenal lapar, haus, mengantuk, marah dan kondisi emosional lainnya. Mereka bukan sekedar obyek yang dapat dengan mudah diatur tanpa memperhitungkan kondisi psikologis dan petumbuhan fisik dan mental.
Salah satu alasan penting birokrat pemerintah Jakarta tentang keuntungan berangkat lebih pagi adalah anak-anak yang beragama Islam akan dapat melaksanakan ibadah sholat subuh yang akan meingkatkan keimanan mereka. Selain itu mereka juga dapat menghirup udara segar yang belum terpolusi jika kendaraan belum banyak berlalu lalang di jalan raya.
Namun alasan indah dan cita-cita itu terdengar terlalu muluk. Pertama, birokrat rasanya tidak memperhitungkan beban yang akan ditanggung para pelajar, ketika mereka harus bangun lebih pagi. Mungkin saja (memang masih menggunakan kata mungkin) mereka belum cukup istirahat, karena saat mereka pulang toh mereka akan berhadapan dengan dengan kemacetan sehingga belum tentu cepat sampai ke rumah dan beristirahat. Kemudian, sudah menjadi rahasia umum bahwa para pelajar sekarang mendapat beban pelajaran yang banyak sehingga secara psikologis keharusan bangun pagi bisa mmebuat mereka lebih lelah (lagi-lagi ini masih kemungkinan). Namun yang ini pasti bukan mungkin, yaitu ketika seorang anak tidak menggunakan kendaraan pribadi untuk sekolah ia harus berhadapan dengan ketidakpastian memperoleh angkutan umum di jalan raya. Seorang anak dari keluarga mampu dapat beristirahat atau bahkan tidur lagi di mobil, tetapi jika ia dari keluarga tidak mampu, ia harus menunggu angkot atau metromini atau bajaj yang balum tentu dapat dipastikan jadwalnya. Alhasil ia bisa menjadi 'korban' kondisi yang ada.
Kasus kedua adalah tentang penculikan anak kelas 6 SD di Tamansari Jakarta Barat. Dengan iming-iming akan diikutkan lomba menulis indah, seorang wanita paruh baya berhasil membawa Egi dan Nanda. Keduanya sempat mempertanyakan keabsahan ajakan itu, tetapi dengan alasan telah memperoleh ijin dari kepala sekolah sang wanita berhasil memperdaya kedua bocah. Dari Jakarta Barat mereka dibawa ke Mal Kalibata, Jakarta Selatan dan ditinggal di sana setelah kalung emas salah seorang di antaranya diambil. Masih beruntung anak-anak itu hanya diambil perhiasannya, hal yang lebih buruk lagi, mereka dapat diculik dan dijadikan budak, atau pengemis atau pekerja seks.
Banyak orangtua mengajar anak mereka untuk berhati-hati terhadap orang asing. Langkah itu sudah benar, sayangnya belum cukup. Keluguan anak-anak sering dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Seperti kisah di atas, sang penculik menggunakan nama kepala sekolah sebagai alasan yang kemudian dipercaya anak-anak.
Anak-anak rasanya perlu diajak lebih kritis, diperjatikan lebih mendalam dan dilindungi di setiap zona. Mulai dari rumah, jalan hingga sekolah.
Yang terakhir tentang pelatihan merancang robot. Begitu saya melihat beberapa unit robot mainan yang digelar di panggung. Mata saya berbinar (kalau Anda menyaksikan lebih seksama, hehehe. Pati tidak ya). Terus terang di dalam diri saya keinginan menjadi anak-anak terus membara. Itu sebabnya saya senang membaca buku fiksi, komik, melihat dan kadang bermain games. Kembali pada robot tadi, betapa saya menyaksikan betapa dua anak, masing-masing Michael 5 tahun dan Anastasia 9 tahun memiliki keinginan luar biasa untuk menciptakan benda yang lebih dari sekedar mainan.
Michael membuat mainan mobil-mobilan yang rumit dan berbentuk bat-mobile, yaitu mobil Batman sang jagoan. Kemudian Anastasia membuat miniatur portal yang bisa naik turun dengan menggunakan sensor gerak. Anda bisa bayangkan dengan usia semuda itu mereka berhasil menciptakan benda-benda yang sepertinya di luar kemampuan normal anak-anak berusia sama.
Alangkah bersyukurnya kedua bocah itu memperoleh lingkungan yang begitu kondusif sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan seluas-luasnya. Orangtua yang mendukung secara moral dan material. Tempat latihan membuat robot yang berisi tenaga-tenaga muda yang sabar namun mumpuni dalam membimbing. Alhasil kita boleh berharap Michael dan Anastasian akan menjadi dua dari sekian banyak anak-anak yang akan mengharumkan nama bangsa dengan karya-karya yang luar biasa.
Anak-anak identik dengan bersenang-senang dan bermain. Namun di usia merekalah orang tua mendapatkan waktu yang tepat untuk membimbing, membentuk dan mengasah kemampuan mereka hingga sempurna. Namun juga menjadi kewajiban orang tua dan lingkungan untuk melindungi mereka dari pedang jahat orang-orang yang tak bertanggungjawab yang hendak memisahkan mereka dari masa depan dan kehangatan keluarga mereka.
indi
Sunday, November 23, 2008
Mal-ku sayang, mal-ku gemilang
Siapa bilang hari-hari ini adalah saat-saat kelabu di dunia finansial? Bursa dunia boleh jatuh dan nilai tukar Rupiah nyungsep terhadap Dollar AS ke hampir Rp 13.000 per Dollar. Angka pengangguran dikhawatirkan meningkat tahun depan dan para buruh menolak Surat Peraturan Bersama 4 Menteri yang menyatakan kenaikan Upah Minimum Provinsi tidak boleh lebih dari pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6 persen; padahal inflasi sudah sampai ke angka 12 persen. Nyatanya masyarakat masih bisa bergembira ria dan membuang uang.
Pertanyaan dan pernyataan saya itu bisa membuat banyak orang berang. Boleh saja, tetapi saya punya data empiris yang begitu kasat mata. Inilah pengalaman saya.
Berhubung Sabtu kemarin anak sulung saya, Jojo berulangtahun ke 12, kami sekeluarga merayakannya secara sederhana dengan makan bersama. Siang hari sekitar pukul 13, kami menuju Summarecon Mal Square (SMS) di Gading Serpong, Tangerang.
Menuju tempat parkir adalah sebuah perjuangan tersendiri. Padat. Hampir tidak ada ruang kosong untuk memasukkan mobil kecil kami. Mobil berbagai merek dan ukuran memenuhi lahan parkir dai dalam dan luar gedung. Setelah berputar-putar hampir 15 menit, tempat pun terbuka karena sebuah mobil meninggalkan parkiran itu.
Tidak ada tujuan lain kecuali makan, namun yang terpampang di mal itu adalah lautan (mungkin saya berlebihan menggunakan istilah ini) manusia, karena begitu banyaknya pengunjung mal siang itu. Di ruang tengan mal juga ada obralan sepatu dan sandal yang padat calon pembeli atau yang hanya sekedar "window shopping". Wow, seru saya dalam hati. Mana nih krisis yang katanya bikin dunia panas dingin. Kayaknya semua berjalan mulus, karena bisnis di SMS jalan lancar dan orang masih berjubel.
Menurut saya, mal saat ini adalah salah satu ruang publik, yaitu tempat publik berkumpul dan menikmati hari. Nyatanya mal adalah tempat bisnis yang berubah tujuan wisata masyarakat. Hampir di setiap akhir pekan, mal penuh sesak manusia. Mereka bisa berbelanja, cuci mata, makan-makan atau sekedar "see or to be seen".
Mestinya dengan angin krisis yang menerpa seperti sekarang, logikanya akan semakin banyak orang mengurangi konsumsi. Kalau makan, ya "downgrade" jenis makanan dan harganya. Belanja, ya mengurangi jumlahnya, atau memprioritaskan hanya yang sangat penting dan mendesak. Itu berarti kunjungan ke mal berkurang, korelasinya dalah jumlah pengunjung menurun. Betul? Nah, ini. Faktanya? Saya menggeleng.
Anda bisa mendesak saya untuk membuktikan angka penurunan itu. Sialnya saya memang hanya memandang dan tidak menghitung angka dan membandingkannya mulai dari awal sebelum krisis hingga sekarang. Namun (saya nggak mau kalah) selain pengunjung di selasar, di toko-toko yang penuh, tempat makan menjadi salah satu acuan saya. Penuh. Ckckck. Memang luar biasa. Tempat makan yang menurut saya kualitas makanannya biasa-biasa saja laku keras. Jadi siapa bilang orang mengurangi ongkos atau biaya "entertain" diri dan keluarga.
Setelah makan di Jia Noodle, yang menurut kami not bad dan menguras dompet, kami langsung pulang. Hujan menerpa keras kawasan Tangerang. Angin bertiup nyaris menerbangkan payung yang menudungi kami ke tempat parkir kendaraan. Saya teringat sebuah lagu lawas yang juga judul sebuah film "Badai Pasti Berlalu". Yah, badai pasti berlalu. Be optimistic-lah.
indi
Pertanyaan dan pernyataan saya itu bisa membuat banyak orang berang. Boleh saja, tetapi saya punya data empiris yang begitu kasat mata. Inilah pengalaman saya.
Berhubung Sabtu kemarin anak sulung saya, Jojo berulangtahun ke 12, kami sekeluarga merayakannya secara sederhana dengan makan bersama. Siang hari sekitar pukul 13, kami menuju Summarecon Mal Square (SMS) di Gading Serpong, Tangerang.
Menuju tempat parkir adalah sebuah perjuangan tersendiri. Padat. Hampir tidak ada ruang kosong untuk memasukkan mobil kecil kami. Mobil berbagai merek dan ukuran memenuhi lahan parkir dai dalam dan luar gedung. Setelah berputar-putar hampir 15 menit, tempat pun terbuka karena sebuah mobil meninggalkan parkiran itu.
Tidak ada tujuan lain kecuali makan, namun yang terpampang di mal itu adalah lautan (mungkin saya berlebihan menggunakan istilah ini) manusia, karena begitu banyaknya pengunjung mal siang itu. Di ruang tengan mal juga ada obralan sepatu dan sandal yang padat calon pembeli atau yang hanya sekedar "window shopping". Wow, seru saya dalam hati. Mana nih krisis yang katanya bikin dunia panas dingin. Kayaknya semua berjalan mulus, karena bisnis di SMS jalan lancar dan orang masih berjubel.
Menurut saya, mal saat ini adalah salah satu ruang publik, yaitu tempat publik berkumpul dan menikmati hari. Nyatanya mal adalah tempat bisnis yang berubah tujuan wisata masyarakat. Hampir di setiap akhir pekan, mal penuh sesak manusia. Mereka bisa berbelanja, cuci mata, makan-makan atau sekedar "see or to be seen".
Mestinya dengan angin krisis yang menerpa seperti sekarang, logikanya akan semakin banyak orang mengurangi konsumsi. Kalau makan, ya "downgrade" jenis makanan dan harganya. Belanja, ya mengurangi jumlahnya, atau memprioritaskan hanya yang sangat penting dan mendesak. Itu berarti kunjungan ke mal berkurang, korelasinya dalah jumlah pengunjung menurun. Betul? Nah, ini. Faktanya? Saya menggeleng.
Anda bisa mendesak saya untuk membuktikan angka penurunan itu. Sialnya saya memang hanya memandang dan tidak menghitung angka dan membandingkannya mulai dari awal sebelum krisis hingga sekarang. Namun (saya nggak mau kalah) selain pengunjung di selasar, di toko-toko yang penuh, tempat makan menjadi salah satu acuan saya. Penuh. Ckckck. Memang luar biasa. Tempat makan yang menurut saya kualitas makanannya biasa-biasa saja laku keras. Jadi siapa bilang orang mengurangi ongkos atau biaya "entertain" diri dan keluarga.
Setelah makan di Jia Noodle, yang menurut kami not bad dan menguras dompet, kami langsung pulang. Hujan menerpa keras kawasan Tangerang. Angin bertiup nyaris menerbangkan payung yang menudungi kami ke tempat parkir kendaraan. Saya teringat sebuah lagu lawas yang juga judul sebuah film "Badai Pasti Berlalu". Yah, badai pasti berlalu. Be optimistic-lah.
indi
Wednesday, November 19, 2008
Grafologi
Mulai saat ini saya berjanji (ini sebetulnya salah satu beban, karena yang lama pun belum terpenuhi) untuk selalu menuliskan kesan saya terhadap tamu-tamu dialog saya di Apa Kabar Indonesia Pagi.
Tidak pernah terpikir untuk menyelesaikan persoalan kejiwaan dengan hal-hal di luar diskusi berupa curhat atau dialog. Hari ini salah satu tamu dialognya adalah seorang psikolog yang khusus menangani para kliennya dengan tulisan. Artinya klien ia suruh menulis, tulisannya dianalisa dan diberi saran atau terapi juga dengan cara menulis. Aneh kan? Minimal bagi saya hal itu tidak masuk diakal. Ini adalah lanjutan dari dialog sehari sebelumnya, yang kami anggap kurang cukup waktu walau menarik.
Mbak Shinta, Sang psikolog itu bertutur kata lembut yang rasanya tipikal wanita penyabar. Jilbab yang digunakannya menambah kesan anggun. Yang menarik kalimat-kalimatnya meluncur dengan lugas seperti berbicara pada anak-anak sekolah.
Bersama seorang anak autis berusia 14 tahun dan ibunya, sang psikolog menggambarkan betapa grafologi berhasil menyelesaikan banyak masalah psikologi. Irsyad demikian nama sang anak di masa kecilnya digambarkan tidak dapat menulis, berbicara dan tidak mau menatap mata lawan bicara. Dari tulisannya, menurut Mbak Shinta tidak menggambarkan kepribadian yang bertumbuh. Setiap kata berukuran sama, tidak berjarak, dan seperti cakar ayam.
Setelah melalui terapi selama hampir setahun, lewat perbandingan jenis tulisan sebanyak tiga buah, Irsyad mengalami kemajuan. Ia mau menatap lawan bicara lebih lama, berbicara lebih panjang dan dapat duduk tenang. Tulisan-tulisannya sudah berbeda. Ukuran, jarak dan kejelasan tulisannya sudah terlihat.
Grafologi, menurut psikolog lulusan Amerika itu digunakan untuk meyelami kepribadian seseorang. Hal ini terlihat dari bentuk tulisan, ukuran, kejelasan huruf dan kata-katanya serta cara penulisannya. Secara umum area menulis dibagi menjadi tiga zona, yaitu atas, tengah dan bawah. Bagian atas, contohnya huruf k, l, h dan d seperti halnya bagian kepala menunjukkan imajinasi. Zona tengah, contoh huruf a, c yaitu badan adalah kawasan materialistik dan bagian bawah. Sedangkan daerah bawah seperti untuk huruf g, j, dan y menggambarkan kekokohan diri dan nafsu.
Seseorang yang memiliki keseimbangan diri haruslah mampu mengekspresikan dirinya dalam bentuk tulisan yang mencakup ketiga area. Jika tidak, salah satu area tidak akan terlingkupi dalam setiap huruf yang digoreskan. Di situlah masalahnya, sehingga cara penyelesaiannya pun diarahkan dengan menulis secara tepat sesuai zona-zona yang seharusnya.
Saya sempat mengkritisi ilmu itu, dengan mempertanyakan penerapannya pada bentuk tulisan yang dibuat-buat terutama pada tulisan indah. Shinta menyatakan tulisan boleh dibuat-buat, tetapi ada goresan-goresan yang menjadi ciri yang tidak bisa dibohongi. Ya untuk itu perlu sekolah khusus. Itu bedanya dengan sekolah psikologi biasa.
Shinta mmpersilakan teman-teman yang bersedia tilisannya dianalisa, termasuk saya. Yang membuat saya bangga, tulisan saya dikomentari sebagai gambaran orang yang tegas, detil dan to the point alias nggak mau bertele-tele (Asyiiik, kayaknya emang sih, hehehe). Beramai-ramailah kami mengantre tulisan untuk dikomentari.
selesai acara, saya meminta nomor telepon sang psikolog, karena saya pikir boleh juga nih anak-anak saya diteliti kondisi emosionalnya. Maklum anak-anak itu tidak pernah dalam kondisi seperti saya kecil yang penuh perjuangan. Apalagi si perempuan kecil buah hati saya, yang keras kepribadiannya, maunya menang sendiri dan sering menantang orang tuanya, tetapi cengeng dan kolokan. Mungkin berguna pula untuk Anda.
indi
Tidak pernah terpikir untuk menyelesaikan persoalan kejiwaan dengan hal-hal di luar diskusi berupa curhat atau dialog. Hari ini salah satu tamu dialognya adalah seorang psikolog yang khusus menangani para kliennya dengan tulisan. Artinya klien ia suruh menulis, tulisannya dianalisa dan diberi saran atau terapi juga dengan cara menulis. Aneh kan? Minimal bagi saya hal itu tidak masuk diakal. Ini adalah lanjutan dari dialog sehari sebelumnya, yang kami anggap kurang cukup waktu walau menarik.
Mbak Shinta, Sang psikolog itu bertutur kata lembut yang rasanya tipikal wanita penyabar. Jilbab yang digunakannya menambah kesan anggun. Yang menarik kalimat-kalimatnya meluncur dengan lugas seperti berbicara pada anak-anak sekolah.
Bersama seorang anak autis berusia 14 tahun dan ibunya, sang psikolog menggambarkan betapa grafologi berhasil menyelesaikan banyak masalah psikologi. Irsyad demikian nama sang anak di masa kecilnya digambarkan tidak dapat menulis, berbicara dan tidak mau menatap mata lawan bicara. Dari tulisannya, menurut Mbak Shinta tidak menggambarkan kepribadian yang bertumbuh. Setiap kata berukuran sama, tidak berjarak, dan seperti cakar ayam.
Setelah melalui terapi selama hampir setahun, lewat perbandingan jenis tulisan sebanyak tiga buah, Irsyad mengalami kemajuan. Ia mau menatap lawan bicara lebih lama, berbicara lebih panjang dan dapat duduk tenang. Tulisan-tulisannya sudah berbeda. Ukuran, jarak dan kejelasan tulisannya sudah terlihat.
Grafologi, menurut psikolog lulusan Amerika itu digunakan untuk meyelami kepribadian seseorang. Hal ini terlihat dari bentuk tulisan, ukuran, kejelasan huruf dan kata-katanya serta cara penulisannya. Secara umum area menulis dibagi menjadi tiga zona, yaitu atas, tengah dan bawah. Bagian atas, contohnya huruf k, l, h dan d seperti halnya bagian kepala menunjukkan imajinasi. Zona tengah, contoh huruf a, c yaitu badan adalah kawasan materialistik dan bagian bawah. Sedangkan daerah bawah seperti untuk huruf g, j, dan y menggambarkan kekokohan diri dan nafsu.
Seseorang yang memiliki keseimbangan diri haruslah mampu mengekspresikan dirinya dalam bentuk tulisan yang mencakup ketiga area. Jika tidak, salah satu area tidak akan terlingkupi dalam setiap huruf yang digoreskan. Di situlah masalahnya, sehingga cara penyelesaiannya pun diarahkan dengan menulis secara tepat sesuai zona-zona yang seharusnya.
Saya sempat mengkritisi ilmu itu, dengan mempertanyakan penerapannya pada bentuk tulisan yang dibuat-buat terutama pada tulisan indah. Shinta menyatakan tulisan boleh dibuat-buat, tetapi ada goresan-goresan yang menjadi ciri yang tidak bisa dibohongi. Ya untuk itu perlu sekolah khusus. Itu bedanya dengan sekolah psikologi biasa.
Shinta mmpersilakan teman-teman yang bersedia tilisannya dianalisa, termasuk saya. Yang membuat saya bangga, tulisan saya dikomentari sebagai gambaran orang yang tegas, detil dan to the point alias nggak mau bertele-tele (Asyiiik, kayaknya emang sih, hehehe). Beramai-ramailah kami mengantre tulisan untuk dikomentari.
selesai acara, saya meminta nomor telepon sang psikolog, karena saya pikir boleh juga nih anak-anak saya diteliti kondisi emosionalnya. Maklum anak-anak itu tidak pernah dalam kondisi seperti saya kecil yang penuh perjuangan. Apalagi si perempuan kecil buah hati saya, yang keras kepribadiannya, maunya menang sendiri dan sering menantang orang tuanya, tetapi cengeng dan kolokan. Mungkin berguna pula untuk Anda.
indi
Saturday, November 8, 2008
Durian Medan
Saat itu tidak ada yang lebih menyebalkan daripada tidak bisa berlibur setelah seminggu penuh bekerja ekstra padat. Itulah yang terjadi pekan ini. Lima hari penuh saya harus bekerja pagi-pagi buta hingga malam tiba atau lebih dari dua belas jam. Jumat kemarin saya sudah berencana untuk tidur nikmat selepas pulang sore hari. Namun apa lacur menjelang sore perintah itu datang (sebetulnya salah sendiri). Saya bertanya pada atasan tentang wakil kantor yang akan dikirim menghadiri pernikahan rekan kami di Medan Minggu siang. Saya menanyakan hal itu, karena tidak ada tanda-tanda pengiriman orang dan semua perhatian tertuju pada siaran langsung rencana eksekusi pelaku Bom Bali I Amrozi cs. Ups, I am wrong. Perintah itu langsung turun kepada saya saat itu juga. You, he said, go!
Mata yang saat itu separuh menutup karena serangan kantuk segera membuka lebar. Gua? Tanya diri dalam hati. Wah sial neh (lagi-lagi dalam hati). Langsung saya bayangkan kapan mata ini enak terpejam di atas bantal dan kasur nan empuk dilingkari lengan-lengan halus isteri dan anak-anak. Harapan pulang agak siang pun batal. Saya harus mengurus tiket dan berkas-berkas wawancara, karena ada beberapa pelamar yang akan mengisi sebuah posisi di biro Medan.
Wait wait wait, saya langsung teringat satu hal yang membuat pikiran saya lebih tenang menyambut tugas itu. Medan, bung. Ada yang sulit ditemukan di Jakarta pada hari-hari ini, yang banyak dan berharga murah dan pasti enak. Bukan bika ambon, bukan bolu meranti yang berlemak itu. Yesss dureeeennnn!!!!!!
Sudah terbayang protes belahan jiwa saya saat ia mendengar suaminya akan pergi lagi akhir minggu. Bayangkan untuk yang ketiga ia tak ada di rumah karena keluar kota. Ckckckc. Suami macam apa saya ini. Apa mau dikata, lha wong suaminya masih orang gajian dan bawahan. Belum termasuk protes precil-precil yang sudah mulai tahu minta jatah jalan-jalan akhir minggu. Ya terpaksa ada janji-janji manis sepulang dari Medan.
Sabtu dinihari, saya meluncur ke bandara. Usaha untuk mendapatkan pesawat yang lebih siang tidak berhasil. dengan Batavia air di penerbangan pertama saya meninggalkan Jakarta. Praktis tidak ada masalah selama penerbangan. Atau saya mungkin tidak sadar, karena begitu duduk saya tidak lagi merasakan apa-apa alias tidur pulas sampai pesawat hampir mendarat.
Setelah mendarat dan beristirahat dua jam di hotel saya dijemput untuk mewawancarai empat pelamar. Di tengah-tengah wawancara itu, tawaran yang paling saya tunggu pun datang. Salah seorang staf di biro menanyakan makanan untuk saya. Langsung saya jawab: durian. Loh, kok makan durian? Bukannya makan nasi dulu? No way, kalau makan nasi dulu pasti saya tak mampu menghabiskan durian yang akan dibelikan. Lalu kalau makan durian dulu, kasihan nasinya yang akan dibeli. Jadi hanya durian.
Akhirnya setelah wawancara selesai, saya digiring ke belakang kantor. Pertama yang tercium adalah bau khas durian yang menyengat. Langsung saya yakin pasti mantap rasanya. Kemudian yang terlihat adalah setumpuk duren seukuran bola kaki. Ckckck. Ini namanya luarrr biasa.
Tak sampai hitungan detik, saya ambil sebuah durian untuk saya injak. Beberapa teman kaget dengan perilaku saya. Kenapa tidak pakai pisau. Saya yakinkan mereka, jika durian ini baik ia akan mudah terbuka saat diinjak. Benar, dalam dua hentakan terbukalah durian itu. Terpampang rangkaian daging putih yang kering, harum, dan ketika saya cukil sedikit, hmmm manissss rasanya.
Saya adalah penggemar durian. Dalam setiap kesempatan pulang kampung ke Madiun di akhir tahun, saya akan menyempatkan diri berburu durian sampai ke Ponorogo. Bagi saya durian kampung jauh lebih eksotis daripada durian monthong yang sebesar semangka. Durian yang katanya dari Thailand itu walaupun berbiji kecil dan berdaging tebal, bagi saya telalu kering, manisnya kurang tajam dan tak cukup menggugah selera.
Durian Medan disebut-sebut selalu tersedia sepanjang tahun. Kemudahannya ditemui di kota Medan membuat banyak penggemar durian akan selalu menyempatkan diri menikmati buah tropis ini setiap berkunjung ke Medan.
Namun saya menyesal tidak memiliki pengetahuan untuk mengenali jenis-jenis durian yang saya nikmati. Hanya ada rasa manis, ngarak (jika sudah muncul rasa pahit akibat daging buahnya mengalami fermentasi), dan hambar. Akibatnya saya tidak bisa menunjukkan durian macam apa yang paling baik dikonsumsi.
Rasanya kita bisa berbagi informasi bila membicarakan buah yang satu ini guna menambah pengetahuan.
indi
Mata yang saat itu separuh menutup karena serangan kantuk segera membuka lebar. Gua? Tanya diri dalam hati. Wah sial neh (lagi-lagi dalam hati). Langsung saya bayangkan kapan mata ini enak terpejam di atas bantal dan kasur nan empuk dilingkari lengan-lengan halus isteri dan anak-anak. Harapan pulang agak siang pun batal. Saya harus mengurus tiket dan berkas-berkas wawancara, karena ada beberapa pelamar yang akan mengisi sebuah posisi di biro Medan.
Wait wait wait, saya langsung teringat satu hal yang membuat pikiran saya lebih tenang menyambut tugas itu. Medan, bung. Ada yang sulit ditemukan di Jakarta pada hari-hari ini, yang banyak dan berharga murah dan pasti enak. Bukan bika ambon, bukan bolu meranti yang berlemak itu. Yesss dureeeennnn!!!!!!
Sudah terbayang protes belahan jiwa saya saat ia mendengar suaminya akan pergi lagi akhir minggu. Bayangkan untuk yang ketiga ia tak ada di rumah karena keluar kota. Ckckckc. Suami macam apa saya ini. Apa mau dikata, lha wong suaminya masih orang gajian dan bawahan. Belum termasuk protes precil-precil yang sudah mulai tahu minta jatah jalan-jalan akhir minggu. Ya terpaksa ada janji-janji manis sepulang dari Medan.
Sabtu dinihari, saya meluncur ke bandara. Usaha untuk mendapatkan pesawat yang lebih siang tidak berhasil. dengan Batavia air di penerbangan pertama saya meninggalkan Jakarta. Praktis tidak ada masalah selama penerbangan. Atau saya mungkin tidak sadar, karena begitu duduk saya tidak lagi merasakan apa-apa alias tidur pulas sampai pesawat hampir mendarat.
Setelah mendarat dan beristirahat dua jam di hotel saya dijemput untuk mewawancarai empat pelamar. Di tengah-tengah wawancara itu, tawaran yang paling saya tunggu pun datang. Salah seorang staf di biro menanyakan makanan untuk saya. Langsung saya jawab: durian. Loh, kok makan durian? Bukannya makan nasi dulu? No way, kalau makan nasi dulu pasti saya tak mampu menghabiskan durian yang akan dibelikan. Lalu kalau makan durian dulu, kasihan nasinya yang akan dibeli. Jadi hanya durian.
Akhirnya setelah wawancara selesai, saya digiring ke belakang kantor. Pertama yang tercium adalah bau khas durian yang menyengat. Langsung saya yakin pasti mantap rasanya. Kemudian yang terlihat adalah setumpuk duren seukuran bola kaki. Ckckck. Ini namanya luarrr biasa.
Tak sampai hitungan detik, saya ambil sebuah durian untuk saya injak. Beberapa teman kaget dengan perilaku saya. Kenapa tidak pakai pisau. Saya yakinkan mereka, jika durian ini baik ia akan mudah terbuka saat diinjak. Benar, dalam dua hentakan terbukalah durian itu. Terpampang rangkaian daging putih yang kering, harum, dan ketika saya cukil sedikit, hmmm manissss rasanya.
Saya adalah penggemar durian. Dalam setiap kesempatan pulang kampung ke Madiun di akhir tahun, saya akan menyempatkan diri berburu durian sampai ke Ponorogo. Bagi saya durian kampung jauh lebih eksotis daripada durian monthong yang sebesar semangka. Durian yang katanya dari Thailand itu walaupun berbiji kecil dan berdaging tebal, bagi saya telalu kering, manisnya kurang tajam dan tak cukup menggugah selera.
Durian Medan disebut-sebut selalu tersedia sepanjang tahun. Kemudahannya ditemui di kota Medan membuat banyak penggemar durian akan selalu menyempatkan diri menikmati buah tropis ini setiap berkunjung ke Medan.
Namun saya menyesal tidak memiliki pengetahuan untuk mengenali jenis-jenis durian yang saya nikmati. Hanya ada rasa manis, ngarak (jika sudah muncul rasa pahit akibat daging buahnya mengalami fermentasi), dan hambar. Akibatnya saya tidak bisa menunjukkan durian macam apa yang paling baik dikonsumsi.
Rasanya kita bisa berbagi informasi bila membicarakan buah yang satu ini guna menambah pengetahuan.
indi
Subscribe to:
Posts (Atom)