Hi, all
Inilah saya, duduk di tengah-tengah taman SMS, Summarecon Mal Serpong, sebuah mal di Jakarta Barat. Cuaca sore ini enak sekali, karena saya berada di udara terbuka. Mendung tampak menggantung di beberapa bagian langit, namun angin berembus tenang. Hujan tampaknya tidak bakan turun dalam waktu dekat.
Sambil membuka laptop dan “browsing internet” saya mengedarkan pandangan saya berkeliling. Rasanya ada yang menarik dari wajah-wajah yang saya lihat. Tempat yang saya duduki adalah sejenis wadah orang kota berduit untuk menghabiskan uang dan waktu. Kongkow-kongkow, makan-minum dan main internet.
Di hadapan saya ada sepasang suami isteri berusia paruh baya. Mereka tampak menikmati perbincangan ditemani penganan kecil. Di seberang sana seorang pria duduk sendiri menikmati setiap hirupan asap rokoknya. Dua gelas bir yang satu kosong dan yang lain terisi separuh terletak di hadapannya. Di ujung barisan tempat duduk saya, sekelompok remaja bersenda-gurau dengan hangatnya. Tidak perlu ada makanan dan minuman cukup materi yang seru, yang akan menjadi santapan mereka sore ini. Tak henti-hentinya kaum hawa berpenampilan rapi baik sendiri, maupun berkelompok berjalan ke depan dan belakang saya. Aroma parfum menebarkan kenyamanan berpadu dengan wangi kopi Arabica dan makanan hangat yang menggugah selera.
Di dalam situasi inilah saya berada. Di sini waktu seolah berhenti. Tidak ada ketergesa-gesaan, tak terlihat wajah murung. Semua rileks, tenang dan nyaman. Di udara menggantung musik jazz dengan irama sedang, menebarkan kesan ceria. Ia seperti berada di ruang dan waktu yang berbeda sama sekali dengan hiruk pikuk kota besar di luar sana.
Ketika saya melangkah masuk kawasan ini, seolah saya memasuki sebuah kotak tidak kasat mata yang melindungi isinya dari pengaruh eksternal.
Perlahan cuaca meredup. Matahari tak lagi garang menyinarkan kekuatannya, terhalang oleh belahan bumi di sebelah barat. Awan tebal kian erat melingkupi atmosfer, nyaris tak memberi kesempatan kepada sisa-sisa cahaya keemasan memeluk permukaan bumi. Lampu-lampu di taman mal ini satu per satu menyala. Cahayanya membentuk rangkaian bunga dan pohon yang meliuk-liuk.
Tak terasa sudah lebih dari dua jam saya di sini. Rasanya ini salah satu tempat terbaik yang saya bisa temukan. Saya bukan pecinta mal. Kalaupun sering ke mal, saya biasanya mengajak anak-anak makan, ke toko buku atau mengantar isteri berbelanja. Jadi tidak pernah saya menjadikan mal sebagai tujuan utama bersantai. Tapi yang satu ini berbeda. Saya menikmati kesendirian dan kenyamanan di tengah suasana mal. Kalaupun ada yang mengganggu saat ini adalah gigitan nyamuk. Rasanya mereka dapat berpesta pora dengan giat, karena praktis lingkungan yang mendukung. Remang-remang, dingin, banyak pohon dan tubuh-tubuh yang tidak banyak aktifitas.
This blog contains my thoughts about everything. I like absorbing events, problems, situations and share them to everyone.
Monday, February 25, 2008
Sunday, February 17, 2008
New Office
Rasanya tidak ada bedanya pindah ke kantor baru seperti sekarang ini. Secara fisik kami memasuki orbit kaum berada di pusat Jakarta (maklum Senayan City je, tempat pria wanita berbusana tertib dan bermandikan parfum), tetapi faktanya tempat kami berkantor khususnya redaksi saya) masih amburadul. Aduuh!
Andaikan Anda diijinkan masuk ke kantor kami, saya yakin kalimat ini yang akan Anda ucapkan; bener neh, ini stasiun tv yang katanya numero uno? Lho apa pasal?
Bayangkan (saya ajak anda mulai dari redaksi) studio belum ada, infrastruktur siaran masih amburadul, software pendukung belum terpasang dengan lengkap (itupun sering mati tiba-tiba) dan listrik beberapa kali byar pet. Tak lupa juga Anda bisa melihat penyelesaian ruang rapat yang sering mengepulkan debu karena prosesnya belum tuntas.
Trus Anda bisa melongok ruang IT. Di beberapa perusahaan, departemen IT menempati ruang steril, bebas debu, teratur sesuai dengan penggunaannya. Namun di sini, ck ck ck seperti gudang. Ketika mencari petugas untuk membereskan komputer saya yang flu kena debu, saya melihat ruangan departemen ini tidak lebih baik dari tempat saya bekerja. Ya sudahlah biarkan mereka membereskan persoalan dalam negeri, toh mereka akan repot membantu saya karena fasilitas pendukung masih berantakan.
Nah ini yang seru. Jantung sebuah media penyiaran adalah master control yang mengatur lalu lintas isi siaran baik sinetron, berita, film, talk show, musik sampai iklan. Nah jantung kami ini mungkin seperti jantung Frankenstein alias tambal sulam. Kabel bersliweran (bayangin kalau orang tersandung kabel itu. Orangnya bisa benjol dan kabel siaran lepas; kebayangkan?), peralatan tersambung seadanya pokoke siaran.
Dari berbagai kondisi ini, saya merasa perusahaan tempat saya ini hebat betul. Dengan situasi darurat seperti ini, kok ya bisa jawara (menurut lembaga pemeringkat) andaikan sudah dibereskan dengan canggih, pasti di atasnya jawara atau nomer nol. Luar biasa.
Tapi saya memikirkan perkara lain. Lha wong kayak gini aja sudah hebat, buat apa pemilik repot-repot memperbaiki kan ngabisin dana, tenaga dan waktu. Mending duitnya untuk beli pulau atau perusahaan lain.
Welah, don't be so nyinyir and nyindir gitu, man. Positive thinking lah. Mungkin ada persoalan berat lain yang perlu ditangani sehingga penyelesaian fasilitas dan gedung di kantor ini menjadi tertunda-tunda. Kan para petinggi memiliki kebijakan yang mengayomi seluruh kawulo alitnya.
Persoalan fasilitas pendukung seringkali menjadi perdebatan seru antara atasan dan bawahan. Atasan menilai namanya pendukung yang bukan persoalan primer jadi bisa dinomorduakan karena ada hal lain yang dianggap lebih penting, toh dengan kondisi ad hoc bisa jalan. Namun bawahan merasa fasilitas pendukung akan membuat proses pengerjaan tugas menjadi lebih mudah, dan hasilnya toh untuk kemajuan perusahaan.
Sebagai orang yang berada di level tengah, saya merasa kedua belah pihak perlu berempati terhadap masing-masing pihak. Gunakan cara pandang dari sudut masing-masing. Mungkin kesenjangan pengertian yang ada akan bisa terjembatani. Toh, sekali lagi semuanya untuk kemajuan bersama.
Peace,
indi
Andaikan Anda diijinkan masuk ke kantor kami, saya yakin kalimat ini yang akan Anda ucapkan; bener neh, ini stasiun tv yang katanya numero uno? Lho apa pasal?
Bayangkan (saya ajak anda mulai dari redaksi) studio belum ada, infrastruktur siaran masih amburadul, software pendukung belum terpasang dengan lengkap (itupun sering mati tiba-tiba) dan listrik beberapa kali byar pet. Tak lupa juga Anda bisa melihat penyelesaian ruang rapat yang sering mengepulkan debu karena prosesnya belum tuntas.
Trus Anda bisa melongok ruang IT. Di beberapa perusahaan, departemen IT menempati ruang steril, bebas debu, teratur sesuai dengan penggunaannya. Namun di sini, ck ck ck seperti gudang. Ketika mencari petugas untuk membereskan komputer saya yang flu kena debu, saya melihat ruangan departemen ini tidak lebih baik dari tempat saya bekerja. Ya sudahlah biarkan mereka membereskan persoalan dalam negeri, toh mereka akan repot membantu saya karena fasilitas pendukung masih berantakan.
Nah ini yang seru. Jantung sebuah media penyiaran adalah master control yang mengatur lalu lintas isi siaran baik sinetron, berita, film, talk show, musik sampai iklan. Nah jantung kami ini mungkin seperti jantung Frankenstein alias tambal sulam. Kabel bersliweran (bayangin kalau orang tersandung kabel itu. Orangnya bisa benjol dan kabel siaran lepas; kebayangkan?), peralatan tersambung seadanya pokoke siaran.
Dari berbagai kondisi ini, saya merasa perusahaan tempat saya ini hebat betul. Dengan situasi darurat seperti ini, kok ya bisa jawara (menurut lembaga pemeringkat) andaikan sudah dibereskan dengan canggih, pasti di atasnya jawara atau nomer nol. Luar biasa.
Tapi saya memikirkan perkara lain. Lha wong kayak gini aja sudah hebat, buat apa pemilik repot-repot memperbaiki kan ngabisin dana, tenaga dan waktu. Mending duitnya untuk beli pulau atau perusahaan lain.
Welah, don't be so nyinyir and nyindir gitu, man. Positive thinking lah. Mungkin ada persoalan berat lain yang perlu ditangani sehingga penyelesaian fasilitas dan gedung di kantor ini menjadi tertunda-tunda. Kan para petinggi memiliki kebijakan yang mengayomi seluruh kawulo alitnya.
Persoalan fasilitas pendukung seringkali menjadi perdebatan seru antara atasan dan bawahan. Atasan menilai namanya pendukung yang bukan persoalan primer jadi bisa dinomorduakan karena ada hal lain yang dianggap lebih penting, toh dengan kondisi ad hoc bisa jalan. Namun bawahan merasa fasilitas pendukung akan membuat proses pengerjaan tugas menjadi lebih mudah, dan hasilnya toh untuk kemajuan perusahaan.
Sebagai orang yang berada di level tengah, saya merasa kedua belah pihak perlu berempati terhadap masing-masing pihak. Gunakan cara pandang dari sudut masing-masing. Mungkin kesenjangan pengertian yang ada akan bisa terjembatani. Toh, sekali lagi semuanya untuk kemajuan bersama.
Peace,
indi
Friday, February 8, 2008
SEKALI LAGI BANJIR
Hi all,
Rasanya semua orang Jakarta lagi pada gemes sama gubernurnya sekarang ini. Bagaimana tidak, kalau sebelumnya yang namanya banjir cuma dikenal istilah lima tahunan atau muncul lima tahun sekali, eh dalam dua tahun berturut-turut Jakarta terendam dengan gegap gempita. Serunya lagi pada awal tahun baru ini, jalan tol ke arah Bandara Soekarno-Hatta seperti lautan dan jalan protokol menjadi danau karena hujan beberapa jam saja pada Jumat, 1 Februari lalu.
Benarkah gubernur menjadi satu-satunya pihak yang layak disalahkan karena daerah pemerintahannya kebanjiran? Saya tidak menyalahkan Anda bila namanya segera disebut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimanapun saat ia berkampanye sebagai calon gubernur ia pasti mengetahui salah satu persoalan krusial yang harus dibenahi di ibu kota adalah banjir.
Saya hanya ingin membuka perspektif lain dalam mengelola persoalan banjir di Jakarta. Waktu saya melihat kembali buku IPS anak saya yang duduk di kelas VI, ada termaktub masalah lingkungan temasuk banjir. Dinyatakan di sana penyebab banjir di antaranya adalah penggundulan hutan, pendangkalan sungai dan berkurangnya resapan air terutama di kota-kota besar. Membaca ini pikiran saya segera melayang ke mal-mal di ibu kota.
Rasanya dalam beberapa tahun terakhir pembangunan di Jakarta berfokus pada pembuatan pusat perbelanjaan baru; memang saya tidak memiliki data riil, tetapi saya bisa sebutkan berdirinya Senayan City, Pacific Place, Plaza EX, ITC Permata Hijau, WTC Mangga Dua dan masih banyak lagi. Kehadiran tempat-tempat tersebut memang menyenangkan untuk cuci mata, tetapi jangan lupa, biasanya bangunan bertingkat membutuhkan tempat parker yang besar. Kerimbunan pepohonan yang dapat menampung air hujan pun menjadi korban. Semen, paving block dan aspal mengganti akar-akar dan tanah. Akibatnya saat hujan turun air tidak sempat lagi meresap ke dalam tanah, dan banjir pun terjadi.
Siapa yang bertanggung jawab terhadap pemberian ijin pembangunan mal dan gedung-gedung tadi? Tentu saja pemerintah daerah. Namun naïf kalau sekedar menyalahkan pemda, karena pihak pembangunnya pun tidak memiliki wawasan lingkungan. Dengan menutupi seluruh tanah kosong dengan lapisan yang tidak menyerap air berarti pengusaha dan pembangun mengabaikan perannya dalam pencegahan banjir di ibu kota.
Sekali lagi di sini peran pemerintah untuk menegakkan usaha-usaha pencegahan banjir sangat penting. Sudahkan pengusaha property diwajibkan untuk menyediakan lahan untuk serapan air? Sudahkan ada penegakan hukum yang kuat dan adil terhadap pelanggar peraturan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dalam memastikan ketersediaan daerah serapan air di tengah maraknya pembangunan di ibu kota.
Lahan parkir adalah faktor penting untuk kelancaran bisnis. Anda dapat merasakan betapa tidak menyenangkannya bila sebuah tempat usaha tidak memiliki tempat parkir. Tidak hanya itu, tempat parkir yang nyaman akan memastikan konsumen datang dan datang lagi. Pemikiran ini ternyata hanya satu dari banyak sisi kebutuhan masyarakat kota besar. Adalah elok bila lahan parkir juga menyisakan tanah kosong dengan tumbuhan hijau. Tidak hanya mobil-mobil dapat tempat berlindung, air hujan pun dapat tertampung dan udara segar selalu tersedia.
Wahai pengusaha ikutlah dalam menyediakan tempat untuk menampung air hujan agar banjir di ibu kota bisa terkurangi.
indi
Rasanya semua orang Jakarta lagi pada gemes sama gubernurnya sekarang ini. Bagaimana tidak, kalau sebelumnya yang namanya banjir cuma dikenal istilah lima tahunan atau muncul lima tahun sekali, eh dalam dua tahun berturut-turut Jakarta terendam dengan gegap gempita. Serunya lagi pada awal tahun baru ini, jalan tol ke arah Bandara Soekarno-Hatta seperti lautan dan jalan protokol menjadi danau karena hujan beberapa jam saja pada Jumat, 1 Februari lalu.
Benarkah gubernur menjadi satu-satunya pihak yang layak disalahkan karena daerah pemerintahannya kebanjiran? Saya tidak menyalahkan Anda bila namanya segera disebut untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimanapun saat ia berkampanye sebagai calon gubernur ia pasti mengetahui salah satu persoalan krusial yang harus dibenahi di ibu kota adalah banjir.
Saya hanya ingin membuka perspektif lain dalam mengelola persoalan banjir di Jakarta. Waktu saya melihat kembali buku IPS anak saya yang duduk di kelas VI, ada termaktub masalah lingkungan temasuk banjir. Dinyatakan di sana penyebab banjir di antaranya adalah penggundulan hutan, pendangkalan sungai dan berkurangnya resapan air terutama di kota-kota besar. Membaca ini pikiran saya segera melayang ke mal-mal di ibu kota.
Rasanya dalam beberapa tahun terakhir pembangunan di Jakarta berfokus pada pembuatan pusat perbelanjaan baru; memang saya tidak memiliki data riil, tetapi saya bisa sebutkan berdirinya Senayan City, Pacific Place, Plaza EX, ITC Permata Hijau, WTC Mangga Dua dan masih banyak lagi. Kehadiran tempat-tempat tersebut memang menyenangkan untuk cuci mata, tetapi jangan lupa, biasanya bangunan bertingkat membutuhkan tempat parker yang besar. Kerimbunan pepohonan yang dapat menampung air hujan pun menjadi korban. Semen, paving block dan aspal mengganti akar-akar dan tanah. Akibatnya saat hujan turun air tidak sempat lagi meresap ke dalam tanah, dan banjir pun terjadi.
Siapa yang bertanggung jawab terhadap pemberian ijin pembangunan mal dan gedung-gedung tadi? Tentu saja pemerintah daerah. Namun naïf kalau sekedar menyalahkan pemda, karena pihak pembangunnya pun tidak memiliki wawasan lingkungan. Dengan menutupi seluruh tanah kosong dengan lapisan yang tidak menyerap air berarti pengusaha dan pembangun mengabaikan perannya dalam pencegahan banjir di ibu kota.
Sekali lagi di sini peran pemerintah untuk menegakkan usaha-usaha pencegahan banjir sangat penting. Sudahkan pengusaha property diwajibkan untuk menyediakan lahan untuk serapan air? Sudahkan ada penegakan hukum yang kuat dan adil terhadap pelanggar peraturan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dalam memastikan ketersediaan daerah serapan air di tengah maraknya pembangunan di ibu kota.
Lahan parkir adalah faktor penting untuk kelancaran bisnis. Anda dapat merasakan betapa tidak menyenangkannya bila sebuah tempat usaha tidak memiliki tempat parkir. Tidak hanya itu, tempat parkir yang nyaman akan memastikan konsumen datang dan datang lagi. Pemikiran ini ternyata hanya satu dari banyak sisi kebutuhan masyarakat kota besar. Adalah elok bila lahan parkir juga menyisakan tanah kosong dengan tumbuhan hijau. Tidak hanya mobil-mobil dapat tempat berlindung, air hujan pun dapat tertampung dan udara segar selalu tersedia.
Wahai pengusaha ikutlah dalam menyediakan tempat untuk menampung air hujan agar banjir di ibu kota bisa terkurangi.
indi
Wednesday, January 30, 2008
Pindahan
Hi all,
Alkisah ada satu keluarga yang merasa rumah yang ditinggali sudah tidak lagi memadai untuk menampung lima orang penduduknya. Sang ayah kemudian memutuskan untuk membeli rumah baru yang lebih besar, dan lebih indah. Anggota keluarga lainnya, karena tidak memiliki hak suara sebesar kepala rumah tangga hanya bisa mengikuti perintah. Padahal di kompleks yang mereka tinggali selama ini memberi semua kedamaian, ketentraman dan kenyamanan hidup. Hubungan antarkeluarga berlangsung akrab dan manis. Hampir tidak ada perselisihan besar yang timbul. Percikan-percikan masalah sih biasa terjadi yang dapat segera dipadamkan dengan kekeluargaan.
Apa mau dikata, pemegang mandat memiliki hak prerogatif yang berkuasa penuh untuk menentukan masa depan biduk rumah tangga. Jadilah keluarga itu pindah ke sebuah lingkungan yang lebih mewah dengan rumah luks dan sejumlah satpam penjaga pintu gerbang kompleks. Rasanya hampir semua rumah tangga akan menginginkan adanya tempat tinggal yang terbaik, ternyaman, dan terindah.
Namun ternyata tidak semudah itu mencabut akar pohon sebuah keluarga dari tempat tinggal lamanya dan menempatkannya ke tempat baru. Suka atau tidak tempat yang sudah ditinggali memiliki ikatan emosional dan material yang cukup sulit untuk dilepas. Secara material, banyak benda yang harus dipindahkan, dan cukup berharga untuk dibawa. Untuk memindahkannya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang relatif besar. Mulai dari menginventaris barang yang harus dibawa, memilah yang masih layak untuk dibawa, kemudian membungkus, memisahkan sesuai dengan peruntukan dan sifat benda (mudah pecah dan tidak tentu harus berbeda penanganannya). Jangan lupa, setelah sampai di tujuan benda-benda itu harus dibuka, ditata dan disesuaikan dengan kebutuhan tempat yang ada. Bisa-bisa saja menjadi tidak berguna, karena terlihat tidak pas dengan kondisi. Yang tidak kalah penting, untuk usung-usung pasti perlu biaya. Kalau mau mudah pesan perusahaan spesialis pindahan. Pesan langsung diurusi secara paripurna. Kalau mau ngirit yang ngepak sendiri, angkut sendiri bongkar dan atur sendiri. Itupun pasti tetap butuh kendaraan yang minum bahan bakar tidak sedikit.
Kesulitan dan kehebohan itulah yang kini sedang dilakukan SCTV karena kami akan pindah ke gedung baru. Tempat yang baru diyakini lebih mewah, modern, dan representatif karena berada di kompleks perbelanjaan kelas 1: Senayan City, Jakarta Selatan. Opo ora hebat. Seperti halnya ilustrasi di atas. Pemilik perusahaan yang suaranya bak fatwa MUI tidak dapat ditolak menginginkan kami pindah untuk kesekian kalinya. Padahal kantor lama di Gatot Subroto jaksel ini tidak jelek-jelek amat. Di pusat kota, tengah-tengah sehingga mudah dicapai dari Jakbar, Jaktim, Jakut apalagi Jaksel. Belum lagi masih banyak faktor pendukung yang memudahkan aktifitas di tempat lama ini. Tapi ya sudahlah, lha wong kepala keluarga sudah bilang gitu, apa yang bisa anak buah lakukan. Ya manut mawon.
Namun apakah pemilik uang pernah berpikir, apakah pindah-pindahan tidak akan merugikan dari segi uang, waktu dan tenaga? Lha wong ada hampir 1000 orang bedol desa, dengan perangkat alat penyiaran berteknologi tanggi yang tidak murah harganya usung-usung ke tempat yang ternyata juga belum siap menampung. Bayangkan, berapa mahal ongkos sosial, dan ekonomi pindah-pindahan ini. Ck ck ck.
Tahukah Anda, dengan kepindahan ini, berarti SCTV sudah enam kali bertukar tempat baik dari Surabaya ke Jakarta maupun di seputar Jakarta. SCTV praktis menjadi satu-satunya stasiun tv di Indonesia yang paling sering berkeliling mencari tempat paling enak untuk memutar sinetron-sinetron dan beritanya. sayang sekali pemilik kami tidak pernah berusaha mengusulkan pencataan rekor pindah ke Museum Rekor Indonesia atau MURI.
Rencananya, sejak awal Februari 2008, sampai 30 tahun mendatang, kami akan menempati satu menara khusus di kompleks Senci (baca sensi singkatan dari Senayan City). Kami akan siaran dengan latar belakang Jakarta dari ketinggian sekitar 20 meter dari atas tanah. Peralatan lebih modern dengan pengamanan yang lebih ketat (jangan harap karyawan tak ber id card bakal diperbolehkan masuk, walaupun dia presenter yang mau siaran). Namun jangan coba-coba tanya berapa uang yang dikeluarkan untuk sewa dan membiayai semuanya. Saya memang tidak tahu. Yang pasti gaji saya 100 tahun tidak akan cukup untuk membayarnya. Yah, itulah harga yang harus dibayar demi harapan untuk mendapatkan kenyamanan, prestise dan kelebihan-kelebihan lainnya.
Jadi, kalau anda berjalan-jalan, baik sekedar cuci mata atau shopping anda di Senci, mungkin akan melihat saya ikut menikmati kenyamanan pusat perbelanjaan itu. Tapi pasti anda akan sulit menemukan saya nongkrong di tempat-tempat rendezvous di sana entah itu cafe atau restoran, karena bisa-bisa uang belanja bulanan yang harus saya setor ke rumah ikut larut menjadi makanan atau minuman yang hanya ternikmati selama beberapa jam saja.
Pindah oh pindah.
Indi
Alkisah ada satu keluarga yang merasa rumah yang ditinggali sudah tidak lagi memadai untuk menampung lima orang penduduknya. Sang ayah kemudian memutuskan untuk membeli rumah baru yang lebih besar, dan lebih indah. Anggota keluarga lainnya, karena tidak memiliki hak suara sebesar kepala rumah tangga hanya bisa mengikuti perintah. Padahal di kompleks yang mereka tinggali selama ini memberi semua kedamaian, ketentraman dan kenyamanan hidup. Hubungan antarkeluarga berlangsung akrab dan manis. Hampir tidak ada perselisihan besar yang timbul. Percikan-percikan masalah sih biasa terjadi yang dapat segera dipadamkan dengan kekeluargaan.
Apa mau dikata, pemegang mandat memiliki hak prerogatif yang berkuasa penuh untuk menentukan masa depan biduk rumah tangga. Jadilah keluarga itu pindah ke sebuah lingkungan yang lebih mewah dengan rumah luks dan sejumlah satpam penjaga pintu gerbang kompleks. Rasanya hampir semua rumah tangga akan menginginkan adanya tempat tinggal yang terbaik, ternyaman, dan terindah.
Namun ternyata tidak semudah itu mencabut akar pohon sebuah keluarga dari tempat tinggal lamanya dan menempatkannya ke tempat baru. Suka atau tidak tempat yang sudah ditinggali memiliki ikatan emosional dan material yang cukup sulit untuk dilepas. Secara material, banyak benda yang harus dipindahkan, dan cukup berharga untuk dibawa. Untuk memindahkannya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya yang relatif besar. Mulai dari menginventaris barang yang harus dibawa, memilah yang masih layak untuk dibawa, kemudian membungkus, memisahkan sesuai dengan peruntukan dan sifat benda (mudah pecah dan tidak tentu harus berbeda penanganannya). Jangan lupa, setelah sampai di tujuan benda-benda itu harus dibuka, ditata dan disesuaikan dengan kebutuhan tempat yang ada. Bisa-bisa saja menjadi tidak berguna, karena terlihat tidak pas dengan kondisi. Yang tidak kalah penting, untuk usung-usung pasti perlu biaya. Kalau mau mudah pesan perusahaan spesialis pindahan. Pesan langsung diurusi secara paripurna. Kalau mau ngirit yang ngepak sendiri, angkut sendiri bongkar dan atur sendiri. Itupun pasti tetap butuh kendaraan yang minum bahan bakar tidak sedikit.
Kesulitan dan kehebohan itulah yang kini sedang dilakukan SCTV karena kami akan pindah ke gedung baru. Tempat yang baru diyakini lebih mewah, modern, dan representatif karena berada di kompleks perbelanjaan kelas 1: Senayan City, Jakarta Selatan. Opo ora hebat. Seperti halnya ilustrasi di atas. Pemilik perusahaan yang suaranya bak fatwa MUI tidak dapat ditolak menginginkan kami pindah untuk kesekian kalinya. Padahal kantor lama di Gatot Subroto jaksel ini tidak jelek-jelek amat. Di pusat kota, tengah-tengah sehingga mudah dicapai dari Jakbar, Jaktim, Jakut apalagi Jaksel. Belum lagi masih banyak faktor pendukung yang memudahkan aktifitas di tempat lama ini. Tapi ya sudahlah, lha wong kepala keluarga sudah bilang gitu, apa yang bisa anak buah lakukan. Ya manut mawon.
Namun apakah pemilik uang pernah berpikir, apakah pindah-pindahan tidak akan merugikan dari segi uang, waktu dan tenaga? Lha wong ada hampir 1000 orang bedol desa, dengan perangkat alat penyiaran berteknologi tanggi yang tidak murah harganya usung-usung ke tempat yang ternyata juga belum siap menampung. Bayangkan, berapa mahal ongkos sosial, dan ekonomi pindah-pindahan ini. Ck ck ck.
Tahukah Anda, dengan kepindahan ini, berarti SCTV sudah enam kali bertukar tempat baik dari Surabaya ke Jakarta maupun di seputar Jakarta. SCTV praktis menjadi satu-satunya stasiun tv di Indonesia yang paling sering berkeliling mencari tempat paling enak untuk memutar sinetron-sinetron dan beritanya. sayang sekali pemilik kami tidak pernah berusaha mengusulkan pencataan rekor pindah ke Museum Rekor Indonesia atau MURI.
Rencananya, sejak awal Februari 2008, sampai 30 tahun mendatang, kami akan menempati satu menara khusus di kompleks Senci (baca sensi singkatan dari Senayan City). Kami akan siaran dengan latar belakang Jakarta dari ketinggian sekitar 20 meter dari atas tanah. Peralatan lebih modern dengan pengamanan yang lebih ketat (jangan harap karyawan tak ber id card bakal diperbolehkan masuk, walaupun dia presenter yang mau siaran). Namun jangan coba-coba tanya berapa uang yang dikeluarkan untuk sewa dan membiayai semuanya. Saya memang tidak tahu. Yang pasti gaji saya 100 tahun tidak akan cukup untuk membayarnya. Yah, itulah harga yang harus dibayar demi harapan untuk mendapatkan kenyamanan, prestise dan kelebihan-kelebihan lainnya.
Jadi, kalau anda berjalan-jalan, baik sekedar cuci mata atau shopping anda di Senci, mungkin akan melihat saya ikut menikmati kenyamanan pusat perbelanjaan itu. Tapi pasti anda akan sulit menemukan saya nongkrong di tempat-tempat rendezvous di sana entah itu cafe atau restoran, karena bisa-bisa uang belanja bulanan yang harus saya setor ke rumah ikut larut menjadi makanan atau minuman yang hanya ternikmati selama beberapa jam saja.
Pindah oh pindah.
Indi
Sunday, January 27, 2008
Pak Harto 2
Mengantuk sekali mata ini, ketika sebuah sms masuk ke hpku. Pak Harto meninggal? Wah, repot nih. Saya yang notabene kerja di pemberitaan kok keduluan orang awam. Sambil menunda menjawab pesan itu, sontak kuhidupkan tv. Tepat pukul 13.20 WIB, Minggu 27 Januari 2008, saya mendapat info yang mengagetkan. HM Soeharto meninggal. Lho? Bukankah beberapa hari sebelumnya kesehatan mantan presiden ini diberitakan mengalami kemajuan? Sudah makan biskuit, ventilator atau alat bantu pernafasan sudah dilepas, siap-siap makan berat dan infeksi di beberapa bagian sudah membaik. Kok? Saya hanya menjawab sms rekan saya dengan satu kata: benar.
Saya teringat kalimat seorang teman. Ia bilang orang Jawa percaya seseorang yang sakit lama dan kemudian membaik merupakan penanda ia akan meninggal dunia. Walau saya juga orang Jawa, saya tidak merasa memiliki kepercayaan itu. Apalagi pekerjaan saya membutuhkan nalar, berbasis informasi dan ilmu pengetahuan dan bukan hal-hal supranatural. Tidakkah yang dialami Soeharto merupakan penegas kepercayaan itu? Saya berkilah, itu kan hanya satu kasus dari sekian ribu kematian setiap hari yang tidak dapat didata dan diambil kesimpulan secara statistik. Tetapi ada yang tidak dapat sayamungkiri, bahwa saya menemukan beberapa kass serupa. Seseorang yang membaik dari jeratan penyakitnya yang kronis kemudian meninggal dunia.
Sebagai lulusan Fakultas Farmasi sebuah Universitas negeri di Surabaya, saya mengenal betul ilmu kesehatan dan obat-obatan (tapi jangan bilang-bilang ya IPku cuma untuk lulus saja). Seseorang yang menderita penyakit multi organ seperti Pak Harto (jantung, paru-paru dan ginjalnya tidak berfungsi) dapat dibilang tinggal menunggu waktu. Apalagi paru-parunya secara rutin terisi cairan karena ginjalnya tidak dapat membuang cairan bekas. Susah bernafas dan racun menumpuk itulah konsekuensi yang dialaminya. Tetapi itu berita seminggu sebelumnya. Dapat dibayangkan betapa mengherankannya ketika beberapa hari kemudian penguasa orde baru itu menalami perbaikan yang signifikan. tekanan darah yang lemah menjadi meningkat, nafas membaik dan kesadarannya kembali.
Pembicaraan yang merebak bukan lagi berbasis pengetahuan, tetapi klenik. Soeharto memiliki jimat, pegangan atau ageman, sehingga nyawanya belum mau meninggalkan raga. Sekali lagi, hal-hal ilmiah tidak lagi bisa menjawab kenyataan ini, walaupun saya tidak mendapat informasi langsung dari dokter yang menanganinya. Hal-hal supranatural menjadi jawaban pamungkas yang menghentikan debat ala warung kopi dari orng-orang yang berpengetahuan medis seadanya.
Sejak dulu orang Indonesia dikenal dekat dengan hal-hal adi kodrati. Pernahkah anda memerhatikan bunga yang ditabur di perempatan jalan? Juga kebiasaan memendam ari-ari di dekat rumah yang kemudian diberi lampu. Di Bali secara rutin pagi dan petang, masyarakatnya membawa sesajen berupa bunga, biskuit dan beras untuk diletakkan di tempat-tempat tertentu. Di masyarakat tertentu, ada sebuah kebiasaan untuk memberikan sesajen pada waktu-waktu khusus bagi makhluk=makhluk tak kasat mata; baik roh leluhur maupun penunggu tempat-tempat tertentu.
Ketika menghadapi persoalan-persoalan berat, banyak kelompok orang yang menggunakan jasa mereka yang dianggap berkemampuan linuwih. Seseorang yang tak kunjung dapat pacar atau pekerjaan, ia berkonsultasi secara gaib dengan makhluk yang dianggap mendiami sebuah goa, pohon, makam atau benda-benda yang dikeramatkan lainnya.
Produk kebudayaan ini tidak otomatis hilang di tengah melajunya peradaban manusia. Thailand, negara tetangga kita dikenal sebagai salah satu negara yang cepat mengalami perbaikan ekonomi dibandingkan Indonesia. Teknologi mereka terutama di bidang pertanian jauh melampaui negeri kolam susu seperti nusantara ini. Namun faktanya banyak orang yang masih memercayai dukun-dukun, ilmu santet dan kekuatan gaib sebagai pegangan untuk menyelesaikan persoalan modern mereka. Saat Thaksin Shinawat mendapat tantangan luas karena lawan politiknya menuduh ia korupsi, ia meminta bantuan banyak dukun untuk memperkuat posisinya.
Masyarakat dunia sedang terjebak dalam situasi ambigu. Di satu sisi kemajuan teknologi dan peradaban begitu cepat bergerak, di sisi lain karena banyak persoalan tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, banyak orang tenggelam dalam kegiatan klenik dan gaib. Ingatkah anda bahwa hampir setiap akhir tahun, cenayang, peramal dan "orang pintar" kebanjiran order untuk menolong orang-orang menghadapi tahun baru? Di manakah kepercayaan diri, nalar dan keberanian?
Memang tidak adil menghakimi orang yang memercayai sesuatu di luar hal-hal nyata. Bisa saja itulah kepercayaan yang sudah mendarahdaging sebagai produk pendidikan dan kebudayaan. Namun saya berpikir akan lebih parah bila kebiasaan yang ditoleransi itu menjadi tidak terkendali dan mengambil alih semua pikiran akal sehat yang seharusnya digunakan setiap waktu.
Percayalah kita mendapat anugerah otak yang lebih hebat dari segala benda yang ada. Tidak hanya dalam melakukan kalkulasi tetapi juga kebijaksanaan untuk dapat mengukur baik dan benar sebuah langkah dan menalar sebuah persoalan.
Peace
Indi
Saya teringat kalimat seorang teman. Ia bilang orang Jawa percaya seseorang yang sakit lama dan kemudian membaik merupakan penanda ia akan meninggal dunia. Walau saya juga orang Jawa, saya tidak merasa memiliki kepercayaan itu. Apalagi pekerjaan saya membutuhkan nalar, berbasis informasi dan ilmu pengetahuan dan bukan hal-hal supranatural. Tidakkah yang dialami Soeharto merupakan penegas kepercayaan itu? Saya berkilah, itu kan hanya satu kasus dari sekian ribu kematian setiap hari yang tidak dapat didata dan diambil kesimpulan secara statistik. Tetapi ada yang tidak dapat sayamungkiri, bahwa saya menemukan beberapa kass serupa. Seseorang yang membaik dari jeratan penyakitnya yang kronis kemudian meninggal dunia.
Sebagai lulusan Fakultas Farmasi sebuah Universitas negeri di Surabaya, saya mengenal betul ilmu kesehatan dan obat-obatan (tapi jangan bilang-bilang ya IPku cuma untuk lulus saja). Seseorang yang menderita penyakit multi organ seperti Pak Harto (jantung, paru-paru dan ginjalnya tidak berfungsi) dapat dibilang tinggal menunggu waktu. Apalagi paru-parunya secara rutin terisi cairan karena ginjalnya tidak dapat membuang cairan bekas. Susah bernafas dan racun menumpuk itulah konsekuensi yang dialaminya. Tetapi itu berita seminggu sebelumnya. Dapat dibayangkan betapa mengherankannya ketika beberapa hari kemudian penguasa orde baru itu menalami perbaikan yang signifikan. tekanan darah yang lemah menjadi meningkat, nafas membaik dan kesadarannya kembali.
Pembicaraan yang merebak bukan lagi berbasis pengetahuan, tetapi klenik. Soeharto memiliki jimat, pegangan atau ageman, sehingga nyawanya belum mau meninggalkan raga. Sekali lagi, hal-hal ilmiah tidak lagi bisa menjawab kenyataan ini, walaupun saya tidak mendapat informasi langsung dari dokter yang menanganinya. Hal-hal supranatural menjadi jawaban pamungkas yang menghentikan debat ala warung kopi dari orng-orang yang berpengetahuan medis seadanya.
Sejak dulu orang Indonesia dikenal dekat dengan hal-hal adi kodrati. Pernahkah anda memerhatikan bunga yang ditabur di perempatan jalan? Juga kebiasaan memendam ari-ari di dekat rumah yang kemudian diberi lampu. Di Bali secara rutin pagi dan petang, masyarakatnya membawa sesajen berupa bunga, biskuit dan beras untuk diletakkan di tempat-tempat tertentu. Di masyarakat tertentu, ada sebuah kebiasaan untuk memberikan sesajen pada waktu-waktu khusus bagi makhluk=makhluk tak kasat mata; baik roh leluhur maupun penunggu tempat-tempat tertentu.
Ketika menghadapi persoalan-persoalan berat, banyak kelompok orang yang menggunakan jasa mereka yang dianggap berkemampuan linuwih. Seseorang yang tak kunjung dapat pacar atau pekerjaan, ia berkonsultasi secara gaib dengan makhluk yang dianggap mendiami sebuah goa, pohon, makam atau benda-benda yang dikeramatkan lainnya.
Produk kebudayaan ini tidak otomatis hilang di tengah melajunya peradaban manusia. Thailand, negara tetangga kita dikenal sebagai salah satu negara yang cepat mengalami perbaikan ekonomi dibandingkan Indonesia. Teknologi mereka terutama di bidang pertanian jauh melampaui negeri kolam susu seperti nusantara ini. Namun faktanya banyak orang yang masih memercayai dukun-dukun, ilmu santet dan kekuatan gaib sebagai pegangan untuk menyelesaikan persoalan modern mereka. Saat Thaksin Shinawat mendapat tantangan luas karena lawan politiknya menuduh ia korupsi, ia meminta bantuan banyak dukun untuk memperkuat posisinya.
Masyarakat dunia sedang terjebak dalam situasi ambigu. Di satu sisi kemajuan teknologi dan peradaban begitu cepat bergerak, di sisi lain karena banyak persoalan tidak bisa dijawab oleh ilmu pengetahuan, banyak orang tenggelam dalam kegiatan klenik dan gaib. Ingatkah anda bahwa hampir setiap akhir tahun, cenayang, peramal dan "orang pintar" kebanjiran order untuk menolong orang-orang menghadapi tahun baru? Di manakah kepercayaan diri, nalar dan keberanian?
Memang tidak adil menghakimi orang yang memercayai sesuatu di luar hal-hal nyata. Bisa saja itulah kepercayaan yang sudah mendarahdaging sebagai produk pendidikan dan kebudayaan. Namun saya berpikir akan lebih parah bila kebiasaan yang ditoleransi itu menjadi tidak terkendali dan mengambil alih semua pikiran akal sehat yang seharusnya digunakan setiap waktu.
Percayalah kita mendapat anugerah otak yang lebih hebat dari segala benda yang ada. Tidak hanya dalam melakukan kalkulasi tetapi juga kebijaksanaan untuk dapat mengukur baik dan benar sebuah langkah dan menalar sebuah persoalan.
Peace
Indi
Wednesday, January 23, 2008
Bahasaku Bahasamu
Ketika mendengarkan beberapa laporan di televisi swasta dalam negeri, saya menjadi teringat guru Bahasa Indonesia SMP dulu. Betapa tidak, tata bahasa dan istilah yang dipergunakan tidak mencerminkan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Beliau, guru saya itu sangat keras dalam mengajarkan penggunaan bahasa.
Salah satu contohnya adalah frasa ini: Simpati Berdatangan kepada Pak Harto (ini berhubungan dengan laporan Pak Harto yang dirawat di RSPP). Sekilas tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun jika ditelaah lebih jauh, tentu saja simpati bukan kata benda yang dapat dijadikan subyek di kalimat tersebut. Akan lebih tepat jika simpati diubah menjadi rasa simpati.
Contoh tadi hanya salah satu dari sekian banyak kalimat yang tidak berkaidah baik dan benar. Pekerja TV hanya menggunakan 'rasa' dalam berbahasa seperti dalam kalimat becakap-cakap. Mungkin orang bisa mengerti arti yang dimaksud, permasalahannya televisi (khusus berita)adalah media pembelajaran pula dalam banyak hal. Itu sebabnya tidak hanya orang bisa mengerti apa yang dimaksud tetapi dapat mengetahui apa yang benar, baik informasi, gambar maupun tulisannya.
Mungkinkah kian banyak orang tidak peduli dengan tata bahasa, dengan alasan bahasa adalah salah satu alat berkomunikasi. Sedangkan inti komunikasi adalah tercapainya pengertian antara dua pihak atau lebih dalam bertukar informasi. Itu sebabnya muncul bahasa isyarat dan bahasa tarsan. Bahkan yang menarik (ini degradasi atau kejeniusan) muncullah bahasa 'slank' atau kita mengenalnya sebagai bahasa preman.
Pada saat saya duduk di bangku SMA, 22 tahun lalu, ada sebuah bahasa preman (prokem) yang saya dan beberapa teman gunakan sebagai penanda komunitas juga bahasa rahasia. Bahasa itu sebenarnya sederhana saja, yaitu penyisipan 'in' di setiap suku kata. Contohnya kata kamu menjadi kina minu, kemudian gua menjadi ginu ina. Mudah kan?
Bahasa ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bahasa prokem yang muncul di setiap generasi. Bagi anda yang berusia di atas 30 tahun mungkin anda teringat kata-kata: beceng, gokil, bokap, nyokap, dan bokis. Bagi yang tidak mengetahuinya, arti kata-kata itu adalah: pistol, gila, bapak, nyak (ibu), dan bisa.
Beberapa tahun lalu mucul bahasa kaum 'melambai' atau bahasa kaum waria, karena tampaknya merekalah yang memulai dan memasyarakatkannya. Makarena untuk makan, pelita hati untuk pelit dan caca marica pengganti cuci mata atau cari-cari (yang menarik hati baik barang atau orang) adalah beberapa kata yang mereka gunakan.
Bagi masyarakat kebanyakan, bahasa itu bisa menarik, karena pergaulan mereka bisa berjalan mulus. Saya sendiri tidak keberatan menggunakan istilah-istilah itu. Selain unik, saya pun bisa memasuki komunitas-komunitas 'rahasia' sebagai bahan informasi/berita.
Namun setelah sekian lama menggunakannya, saya rasa saya mulai kehilangan sentuhan berbahasa yang baik dan benar. Bukannya mau sok-sokan, tetapi berbahasa yang tepat memastikan penyampaian informasi sesuai dengan apa yang dimaksud, tidak ada dualisme arti yang bisa menyinggung lawan bicara atau pihak-pihak yang mendengarnya.
Apakah saya berlebihan dalam menginginkan penggunaan bahasa yang baik dan benar? Apalagi jika anda mendengar perbincangan saya dengan anak-anak saya, anda bisa terheran-heran, karena kalimat-kalimat saya sesuai "text book". SPOK (saya juga heran selalu memakai ini). Tiba-tiba saya hawatir, anak-anak saya selalu berbicara resmi dalam setiap kesempatan. Bayangkan betapa teman-temannya, yang masih berusia 10-12 tahun merasa ia bukanlah teman bermain tetapi pejabat negara bertubuh cilik.
Mungkin orang tidak sependapat dengan cara saya mengajarkan cara berbahasa kepada anak-anak saya dan orang di sekitar, karena dianggap berlebihan. Tetapi saya tahu, orang-orang tersebut mengerti benar maksud saya dan guru Bahasa Indonesia SMP saya akan memberi nilai baik.
Salam,
indi.
Salah satu contohnya adalah frasa ini: Simpati Berdatangan kepada Pak Harto (ini berhubungan dengan laporan Pak Harto yang dirawat di RSPP). Sekilas tidak ada yang salah dengan kalimat itu. Namun jika ditelaah lebih jauh, tentu saja simpati bukan kata benda yang dapat dijadikan subyek di kalimat tersebut. Akan lebih tepat jika simpati diubah menjadi rasa simpati.
Contoh tadi hanya salah satu dari sekian banyak kalimat yang tidak berkaidah baik dan benar. Pekerja TV hanya menggunakan 'rasa' dalam berbahasa seperti dalam kalimat becakap-cakap. Mungkin orang bisa mengerti arti yang dimaksud, permasalahannya televisi (khusus berita)adalah media pembelajaran pula dalam banyak hal. Itu sebabnya tidak hanya orang bisa mengerti apa yang dimaksud tetapi dapat mengetahui apa yang benar, baik informasi, gambar maupun tulisannya.
Mungkinkah kian banyak orang tidak peduli dengan tata bahasa, dengan alasan bahasa adalah salah satu alat berkomunikasi. Sedangkan inti komunikasi adalah tercapainya pengertian antara dua pihak atau lebih dalam bertukar informasi. Itu sebabnya muncul bahasa isyarat dan bahasa tarsan. Bahkan yang menarik (ini degradasi atau kejeniusan) muncullah bahasa 'slank' atau kita mengenalnya sebagai bahasa preman.
Pada saat saya duduk di bangku SMA, 22 tahun lalu, ada sebuah bahasa preman (prokem) yang saya dan beberapa teman gunakan sebagai penanda komunitas juga bahasa rahasia. Bahasa itu sebenarnya sederhana saja, yaitu penyisipan 'in' di setiap suku kata. Contohnya kata kamu menjadi kina minu, kemudian gua menjadi ginu ina. Mudah kan?
Bahasa ini hanyalah salah satu dari sekian banyak bahasa prokem yang muncul di setiap generasi. Bagi anda yang berusia di atas 30 tahun mungkin anda teringat kata-kata: beceng, gokil, bokap, nyokap, dan bokis. Bagi yang tidak mengetahuinya, arti kata-kata itu adalah: pistol, gila, bapak, nyak (ibu), dan bisa.
Beberapa tahun lalu mucul bahasa kaum 'melambai' atau bahasa kaum waria, karena tampaknya merekalah yang memulai dan memasyarakatkannya. Makarena untuk makan, pelita hati untuk pelit dan caca marica pengganti cuci mata atau cari-cari (yang menarik hati baik barang atau orang) adalah beberapa kata yang mereka gunakan.
Bagi masyarakat kebanyakan, bahasa itu bisa menarik, karena pergaulan mereka bisa berjalan mulus. Saya sendiri tidak keberatan menggunakan istilah-istilah itu. Selain unik, saya pun bisa memasuki komunitas-komunitas 'rahasia' sebagai bahan informasi/berita.
Namun setelah sekian lama menggunakannya, saya rasa saya mulai kehilangan sentuhan berbahasa yang baik dan benar. Bukannya mau sok-sokan, tetapi berbahasa yang tepat memastikan penyampaian informasi sesuai dengan apa yang dimaksud, tidak ada dualisme arti yang bisa menyinggung lawan bicara atau pihak-pihak yang mendengarnya.
Apakah saya berlebihan dalam menginginkan penggunaan bahasa yang baik dan benar? Apalagi jika anda mendengar perbincangan saya dengan anak-anak saya, anda bisa terheran-heran, karena kalimat-kalimat saya sesuai "text book". SPOK (saya juga heran selalu memakai ini). Tiba-tiba saya hawatir, anak-anak saya selalu berbicara resmi dalam setiap kesempatan. Bayangkan betapa teman-temannya, yang masih berusia 10-12 tahun merasa ia bukanlah teman bermain tetapi pejabat negara bertubuh cilik.
Mungkin orang tidak sependapat dengan cara saya mengajarkan cara berbahasa kepada anak-anak saya dan orang di sekitar, karena dianggap berlebihan. Tetapi saya tahu, orang-orang tersebut mengerti benar maksud saya dan guru Bahasa Indonesia SMP saya akan memberi nilai baik.
Salam,
indi.
Tuesday, January 22, 2008
The Price
This morning I went to the market. What I found was surprising, although I have already knew, but still I was shocked. The price of vegetables, fishes, meats, even tempe raised more than 20 percents.
I remember 30 years ago, when I was a teenager, I could buy a piece of cracker (kerupuk) with only Rp. 5,-. But now, I have to pay Rp. 1000 for the same cracker.
Perhaps It's not fair to compare the two situations. They are all different! The problem is (this is what some people think) I am so upset in all what hapened this days.
Let's count one by one, starts with oil price two years ago; how Indonesian people shocked because SBY JK administration raised the price more than 20 percents. Then it was followed with kenaikan harga sembako. You know, poor people in this country jump more than 10 percents.
Could it be hapened again today? Do you remember how the oil cooking price raised last year even before Lebaran? And then tempe, flour, tofu and so on. The worst happens when our gaji raised but not that fast.
I never stops thinking how housewives have to struggle in making food for their families in such situation.
"Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu". The Kolam Susu" lyrics are very nice back then. Only this time, I think, Koes Plus must revise the lyrics, because it is not up to date. There is an ocean because of the flood, the pond of mud. The bait and net are not enaough for us. Someone has to be a corruptor to have an easy and prosperous life.
Life might be not easy in Indonesia, but you should not give up. There always be hopes and light beyond this hard life.
Peace
Indi
I remember 30 years ago, when I was a teenager, I could buy a piece of cracker (kerupuk) with only Rp. 5,-. But now, I have to pay Rp. 1000 for the same cracker.
Perhaps It's not fair to compare the two situations. They are all different! The problem is (this is what some people think) I am so upset in all what hapened this days.
Let's count one by one, starts with oil price two years ago; how Indonesian people shocked because SBY JK administration raised the price more than 20 percents. Then it was followed with kenaikan harga sembako. You know, poor people in this country jump more than 10 percents.
Could it be hapened again today? Do you remember how the oil cooking price raised last year even before Lebaran? And then tempe, flour, tofu and so on. The worst happens when our gaji raised but not that fast.
I never stops thinking how housewives have to struggle in making food for their families in such situation.
"Bukan lautan hanya kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu". The Kolam Susu" lyrics are very nice back then. Only this time, I think, Koes Plus must revise the lyrics, because it is not up to date. There is an ocean because of the flood, the pond of mud. The bait and net are not enaough for us. Someone has to be a corruptor to have an easy and prosperous life.
Life might be not easy in Indonesia, but you should not give up. There always be hopes and light beyond this hard life.
Peace
Indi
Subscribe to:
Posts (Atom)